Sampah Metropolitan

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Februari 2016
Sampah Metropolitan

Cak Nobenk, begitulah aku memanggilnya. Lelaki bertampang polos dengan perut lumayan gendut, dan satu lagi, ia humoris. Semenjak aku mengenalnya ia selalu menghadirkan jok lucu pada setiap perbincangan. Hubungan kami bisa dibilang sangat akrab, ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri, sekaligus pelanggan setia.
Kehidupan di duniaku hanya ada pada malam hari, nama Ayu kusandang dengan predikat tertinggi, tak ada yang tak mengenal namaku. Dalam satu malam saja tiga lelaki siap aku layani. Baik muda maupun tua bagiku sama saja, asal mereka siap membayarku dengan harga tertinggi.
Namun seketika duniaku berubah begitu saja, semenjak aku mengenal lelaki itu. Bahkan ia berani membayar melebihi pelanggan sebelum-sebelumnya, dengan syarat aku tidak berpaling darinya. Aku miliknya, seutuhnya.
Anehnya lelaki itu tidak menikmati keindahanku, ia membayarku hanya untuk menemaninya berbincang, itu saja.
Pertamakali berbincang dengannya, aku sudah menduga kalau lelaki itu bukanlah tipe penggila keindahan perempuan. Semenjak itu pula aku perkenalkan nama Fatimah yang entah sudah berapa tahun lamanya kukubur sedalam mungkin.
***
?Hey, malam ini kau harus menemaniku lagi?
?Oke bos, untuk malam ini dan seterusnya akan selalu menjadi malam spesial untukmu, dan tidak dipungut biaya sepeserpun?
?Hahahaha.....?
?Eits, tunggu dulu. Sebagai gantinya, kamu yang harus menghiburku?
Pintu mobil terbuka, sebelum duduk aku pandangi sorot matanya yang nyalang. Tak lama dari itu mobilpun melaju kearah kedai kopi langganan kami. Tempat dimana pertama kali aku berbincang dengannya.
?Ini malam ke tujuh aku mengajakmu ketempat ini?
Tangannya mengambil bungkus rokok disaku kanan celananya.
?Lantas kenapa, kau sudah bosan berbincang denganku?
?Mmm...Tidak lah?
Sebatang rokok ia selipkan di bibirnya.
?Atau...., kau ingin menikmati keindahanku?
?Hehehe..., sebentar dulu?
Ia mulai menyalakan rokoknya.
?Aku sudah siap, untukmu dengan senang hati aku persembahkan keindahanku?
?Aku kan belum selesai ngomong?
Kami sama-sama diam. Hanya ada alunan lagu instrumental, kasak-kusuk perbincangan orang di kedai kopi, dan kepulan asap rokok dari mulutnya.
***
Ia adalah lelaki kedua yang berlaku sopan padaku, berada di dekatnya aku menemukan sesuatu yang sempat hilang. Ya, perasaan kasih sayang. Sejak kecil aku tumbuh di lingkungan kumuh, rumah yang kutempati terletak dibawah jembatan. Berdekatan dengan air kali yang dipenuhi dengan tumpukan sampah. Aku diasuh oleh kedua orang tua betubuh renta, mereka pasangan suami istri yang menemukanku di tong sampah waktu mereka memulung.
Aku selalu mengatakan persetan dengan kehidupan ini. Kehidupan yang katanya diciptakan oleh dzat yang maha adil. Seandainya aku bertemu dengan dzat itu, aku akan mempertanyakan letak keadilan-Nya.
Apakah adil namanya bila aku hanya bisa menyaksikan anak seusiaku waktu itu bisa sekolah, sedangkan aku sibuk mengumpulkan tumpukan sampah. Apakah adil namanya bila aku tak mengenal kedua orang tua kandungku, sementara kedua orang tua renta yang mengasuhku meninggal dengan cara yang menyakitkan.Mereka meninggal pada usiaku yang baru menginjak enam tahun, menjadi korban tabrak lari, ditelantarkan begitu saja. Dimana letak keadilan-Nya.
***
? Maaf, aku tak bermaksud mengajakmu melakukan itu? ia memulai percakapan, setelah satu batang rokoknya habis.
?Lantas? jawabku belum mengerti.
?Apakah menurutmu aku ini orang baik?. Tangannya kembali mengambil sebatang rokok.
?Bisakah kau berhenti merokok?
?Ok? ia letakkan kembali rokoknya. ?Kembali kepertanyaanku tadi, apakah meurutmu aku ini orang baik?
?Kalau melihat dari gerak-gerikmu, sepertinya kamu memang orang baik?
?Tapi kamu belum tahu siapa aku yang sebenarnya?
?Mungkin, tapi menurutku kamu tetap orang baik. Setidaknya kamu baik padaku?
?Ah, kamu bisa aja.?
Kami tertawa bersama.
***
Awalnya aku belum tahu siapa ia sebenarnya. Karena menurutku aku tidak perlu tahu itu. Semua lelaki yang kutemui sama, hanya butuh kesenangan, kenikmatan, dan selesai. Jadi aku tak perlu harus mengetahui latar belakangnya seperti apa, atau profesinya sebagai apa. Mungkin saja diantara mereka adalah tokoh ternama, bisa jadi ada yang pejabat, pengusaha, siswa, mahasiswa, wartawan, polisi, atau bahakan kiyai, siapa tahu.
Setiap malam mereka silih berganti menikmati keindahanku. Jika aku bertemu kembali, mungkin aku sudah lupa pada wajah mereka.
Akan tetapi lainhalnya dengan lelaki itu, ia teramat spesial untuk dilupakan. Siapapun ia, bagiku ia tetap orang baik.
***
?Jika seandainya kau mengetahui siapa diriku yang sebenarnya, apakah kau masih menganggapku orang baik?
Kali ini sepertinya ia serius, tatapan matanya tajam mengarah pada mataku.
?Harus berapa kali aku katakan, bagiku kau orang baik?
?Sebenarnya ini rahasia terbesarku, entah mengapa aku ingin sekali menceritakannya padamu?
?Sebaiknya biarkan cerita itu tetap menjadi milikmu?
?Tapi kau harus tahu?
?Mengapa aku harus tahu?
?Karena aku?? ia berhenti mengucapkan kalimat selanjutnya.
?Aku apa?
?Aku yakin kamu orang yang tepat?
?Hanya itu?
?Ya?
?Ok, lanjutkan ceritamu.?
?Aku adalah buronan polisi, pembunuh, perampok.?
Aku tak tahu harus bicara apa, ia tidak melanjutkan ceritanya. Mungkin ia menunggu agar aku terlihat santai kembali. Ia memahami apa yang bergolak dalam pikiranku. Makanya ia memilih diam, mengambil sebatang rokoknya, menghisapnya dalam-dalam sambil menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, mendongakkan mata keatas, dan menyemburkan asap rokoknya.
***
Seperti yang sudah aku katakan, siapapun ia, bagiku tetap orang baik.
Pada malam itu, setelah ia bercerita tentang siapa dirinya, ia mengajakku pulang. Kami tetap diam, sampai mobil tiba dirumahku, aku turun begitu saja. Tanpa seucap katapun.
Mobil itu melaju kencang meninggalkanku, lebih kencang dari biasanya. Entah apa yang sudah aku lakukan padanya. Bukankah aku sudah berjanji untuk tetap menganggapnya orang baik. Mungkin aku tidak bisa menerima kenyataan, sungguh tidak bisa dipercaya, kalau ia tidak seperti yang aku bayangkan, lelaki sebaik itu ternyata adalah penjahat.
Dua hari berlalu begitu saja, aku tidak lagi mendengar kabarnya. Semenjak malam itu aku banyak menghabiskan waktu hanya dirumah, aku tidak lagi kembali pada dunia malamku.
Ia adalah orang yang menyadarkanku bahwa jadi perempuan terhormat itu indah.
***
?Fatimah?..?
Aku mengenal suara itu, tapi aku belum berani untuk menengok.
?Bagaimana kabarmu?
Ia menghampiriku, masih dengan senyumnya yang dulu, waktu pertamakali kami bertemu.
?Baik, kau sendiri?
?Seperti yang kau lihat, lebih baik dari kemarin?
?Kemana saja selama ini?
?Hey, seharusnya aku yang menanyakan itu. Sebenarnya siapa yang menghilang, aku atau kau?
***
Benar, sesuai yang kukiria, ia menungguku ditempat biasa. Sayangnya aku sudah berjanji untuk tidak kembali pada duniaku itu.
Pertemuan tak sengaja di taman kota pagi itu, mencairkan suasana yang sempat gundah. Aku merasa berdosa padanya, yang bisa kulakukan hanya mengurung diri di kamar. Merenungkan kembali perjalanan hidupku, sampai aku bertemu dengannya. Kadang aku merasa sedih bila mengingat apa yang sudah aku lakukan, tapi kadang pula tertawa ketika mengingat bagaimana cara lelaki itu bercanda.
Menurut pengakuannya, setelah kejadian malam itu ia merasa takut dan serba salah. Takut kalau aku membencinya, bersalah karena tidak langsung meminta maaf padaku. Tapi kalau aku berpikir ulang, sebenarnya aku lah yang harusnya minta maaf. Ia bercerita untuk berbagi, sebagaimana aku bercerita perjalanan hidupku padanya. Aku hanya tidak bisa menerima kenyataan itu.
Malam-malam berikutnya kami kembali berbincang di kedai kopi langganan kami.
***
?Aku menunggu kedatanganmu malam itu?
?Sepertinya itu bukan duniaku lagi?
?Benarkah yang kudengar ini?
?Ya, aku tak mungkin kembali pada dunia itu. Aku ingin berubah?
?Syukurlah, aku senang mendengarnya?
?Bagaimana denganmu?
?Aku, aku sudah lama tidak beroperasi lagi. Semenjak jadi buronan, aku tidak lagi berpikir untuk mengulangi perbuatan bejat itu. Lebih tepatnya, lebih baik aku sembunyi dari kejaran polisi?
?Hahaha....., aku juga senang mendengarnya?
***
Kami sepakat untuk tidak kembali pada dunia kami. Aku diterima bekerja jadi pelayan di kedai kopi tempat biasa kami nongkrong. Sedangkan ia sudah memiliki aktifitas baru, menjadi penulis. Beberapa karyanya di muat di beberapa media, dan buku-bukunya laku di pasaran. Ia menggunakan nama pena agar tidak diketahui identitasnya.
Mengapa tulisannya mudah diterima, alasannya sangat sederhana. Sejak kecil ia sudah gemar membaca dan menulis. Dan setiap tulisannya, tanpa pembaca sadari itu berkaitan dengan kehidupan penulisnnya.
Pekerjaanku sebagai pelayan di kedai kopi tidak menyita waktu kami untuk berbincang bersama. Hanya saja waktunya yang berbeda. Kedai itu tutup pukul dua belas malam, Lina yang tidak lain pemilik kedai itu mengerti akan keinginanku, ia memberiku waktu khusus agar aku tetap bisa berbincang dengannya, tentunya setelah kedai kopi tutup.
Lina tahu kalau setiap malam kami selalu berbincang di kedai kopi miliknya. Kami sempat berbicara bersama, aku pun tak sungkan untuk menceritakan siapa diriku sebenarnya, kecuali tentang kehidupan lelaki yang bersamaku, cukup biar aku dengannya yang tahu.
Mendengar ceritaku, Lina sangat berharap agar aku tidak kembali pada duniaku lagi. Sebab itulah, ia mengajakku untuk bekerja di kedai kopi miliknya. Tidak hanya itu, ia meminjamkanku uang untuk mengontrak rumah baru. Aku berjanji untuk meninggalkan semua masa laluku, termasuk uang yang kuperoleh darinya.
***
?Fatimah, maukah kau mendengarkan satu cerita?
?Cerita apa?
?Apakah kau pernah mendengar cerita tentang lelaki pencuri singkong yang mati terhormat?
?Tidak, itu kisah nyata?
?Soal itu aku belum tahu pasti, aku mendengarnya dari Ayah. Setiap aku mau tidur Ayah selalu menceritakannya padaku?
?Setiap malam, emang tidak bosan?
?Sebenarnya aku yang memintanya?
?Sepertinya menarik, boleh langsung di mulai?
?Ok, dulu dikampung tempat kelahiranku ada satu keluarga yang kehidupannya kurang beruntung. Mereka pendatang baru, dengan satu anak yang brusia dua tahun. Singkat cerita, Pak Rahmad baru di pecat dari tempatnya bekerja. Jadi secara otomatis untuk keperluan makan keluarga itu sangat susah. Pak Rahmad tidak tega melihat anaknya kelaparan, sehingga ia meghilangkan rasa malunya untuk meminta belas kasihan dari tetangganya. Tapi apa yang di dapat, tidak ada satu orang pun yang mau membantunya. Alasannya sama-sama butuh uang.?
Ia menghentikan ceritanya, mengambil sebatang rokok, dan menyulutnya.
?Sampai akhirnya Pak Rahmad nekat untuk mencuri singkong milik perkebunan orang kaya di kampungku. Sebelum melakukan aksinya, ia terlebih dahulu menghampiri anaknya, menemaninya hingga tertidur, dan ia sempat berpesan pada anaknya; Nak, jangan jadi pencuri, pencuri itu jahat, pencuri itu tempatnya di neraka.?
Ia berhenti lagi, menghisap rokoknya, dan melanjutkan ceritanya.
?Melihat anaknya tertidur pulas, Pak Rahmad menghampiri istrinya yang berdiri di belakangnya. Ia pamit untuk mencari uang, dan berjanji akan pulang sebelum anaknya terbangun?
?Singkat cerita Pak Rahmad memulai aksinya. Ia berhasil mengambil beberapa singkok, sesuai kebutuhan keluarganya. Dan balik kerumahnya dengan selamat.?
?Tapi keesokan harinya, setelah keluarga itu baru selesai menyantap singkong rebus. Terdengar teriakan warga dari luar rumahnya. Penjaga kebun secara diam-diam ternyata sudah mengetahui dan mengikuti kemana perginya pencuri singkong itu, dan Pak Rahmad harus menanggung perbuatannya malam itu. Ia di pukuli, di permalukan di depan banyak orang, dan terlebih di hadapan istri dan anaknya.?
?Istri Pak Rahmad tak tega melihat suaminya disakiti, ia memeluk suaminya yang berlumuran darah, menangis di hadapan warga, meminta maaf atas perbuatan suaminya. Suasana di kampungku seketika hening. Hanya terdengar kasak-kusuk pembicaraan warga yang tidak percaya kalau Pak Rahmad adalah pencuri. Mengingat ia adalah orang baik yang rajin pergi ke masjid?
?Dan beberapa warga ada yang menangis saat istri Pak Rahmad bicara. Apa yang sudah kalian lakukan pada suamiku, binatang macam apa kalian ini. Apakah pantas kalian dikatakan manusia jika main hakim sendiri. Suamiku memang salah, tapi sadarkah kalian semua, bukan kemauannya menjadi pencuri, kalianlah yang memaksanya jadi pencuri. Masih ingatkah kalian bagaimana suamiku berusaha meminta bantuan kalian, tapi sama sekali tidak ada yang membantunya. Apakah ada diantara kalian yang masih ingat?
?Nasi sudah jadi bubur, Para warga terlambat menolong Pak Rahmad, ia meninggal dengan senyuman. Dan sempat berbisik pada anaknya; Nak, jangan jadi pencuri, pencuri itu jahat, pencuri itu tempatnya di neraka. Sekalipun anaknya belum mengerti apa yang dikatakan ayahnya, dan belum mengerti mengapa ayahnya di pukuli?
***
Semenjak jadi penulis, perbincangan kami banyak di ambil olehnya. Ia lebih sering bercerita, tentang kisah-kisah yang sebenarnya sudah ia tulis.
Dan ia juga menganjurkan agar aku banyak membaca buku. Sekaligus belajar menulis, katanya.
***
?Sebenarnya aku tidak ingin berpisah darimu?
?Apa maksud perkataanmu?
?Aku akan menyerahkan diri pada polisi, dan ada kemungkinan aku akan dihukum mati?
?Apa?.! Aku belum siap berpisah denganmu?
?Aku juga, tapi mau bagaimana lagi. Aku harus mempertanggung jawabkan perbuatanku. Aku ingin mati terhormat seperti pencuri singkong?
?Aku mohon jangan, aku belum siap?
?Tapi aku sudah siap, aku hanya ingin agar kau bisa melanjutkan tulisanku. Biarkan orang mengenal nama pena itu, lanjutkan perjuanganku.?
***
Nama penanya adalah Putih. Sekarang akulah pemilik nama itu. Ia meninggalkan satu tulisan yang blum sempat ia selesaikan. Judulnya Sampah Metropolitan, awalnya aku tak tahu bagaimana alurnya nanti. Tapi setelah aku membaca, kisah ini menceritakan tentang kehidupanku. Tentang dunia masa laluku
Setelah perbincangan malam itu, ia pamit untuk menyerahkan diri. Tak ada kabar lagi tentangnya. Ia hanya meninggalkan laptopnya sebagai kenang-kenangan, dan satu tulisan yang tak selesai.
***
?Fatimah, kau sudah baca Koran pagi ini?
?Tidak, ada apa Lin?
?Ini kan lelaki yang sering bersamamu?
?Benarkah? aku segera membaca berita di Koran, dan tak bisa berkata lagi, kecuali selamat jalan kekasih.
?Semua sudah terjadi, mengapa kau tak pernah cerita. Tapi kau harus tetap bangga padanya, keluarga korban sudah memaafkan kesalahannya. Biarkan ia pergi dengan tenang?
***
Kami adalah sampah metropolitan. Hidup di kota besar hanya menjadi barang kotor, dan menjijikkan. Tapi jangan biarkan sampah itu hanya di lihat, karena tidak semua sampah mengharapkan dirinya menjadi sampah. Lingkungan yang membentuknya jadi sampah.
Kami hidup saja sudah jadi terpidana, kami hidup dilingkungan sampah, jadi sewajarnya bila kami jadi sampah.
Sampah selamanya tidak akan jadi sampah, sewaktu-waktu ia bisa menjadi barang berharga.
Dan satu lagi pesan yang sempat ia katakana padaku. Sehitam apapun diri seseorang hari ini, bisa jadi ia akan berubah menjadi putih.
Suara tepuk tangan memenuhi ruangan seminar. Aku tidak menyangka kehidupanku akan berubah seperti ini. Ia memang benar, selagi ada kemauan untuk berubah, hitam akan memutih dengan sendirinya.
?Apakah kalian sempat menyatakan cinta, atau hubungan kalian hanya sekedar kakak dengan adik? salah satu peserta seminar melontarkan pertanyaan.
?Jika kalian selesai membaca buku itu, kalian akan mengetahui jawabannya?

?

Malang, 19 Mei 2015
?
Link Gambar :Klik di sini

  • view 194