Empat Catatan untuk J&A

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Puisi
dipublikasikan 01 Februari 2016
Empat Catatan untuk J&A

 Catatan 1

 
:lama sudah tak kudengar kabar tentangmu.
 
ingin kubuka lagi kenangan yang lalu
menikmati setiap detik tanpa mengenal titik;
dengung celotehmu dan segala peristiwa yang kita sepakati bersama.

masihkah kau ingat, tentang skenario satu babak yang berulang-ulang.
ceritanya tak mengenal usang, dan kau katakan dalam cuaca yang remang.
"luka ini akan benderang, memanjang, menerjang, dan aku akan tetap jadi sarang"

engkau tak pernah bosan bercerita;
kata-katamu seolah menjelma sabda
yang kubaca antara canda dan air mata.

ingin kubuka lagi kenangan lalu
menikmati setiap detik bersamamu;
sebab yang kubaca hanya rona ketulusanmu

Sumenep, 2015

 
Catatan 2
 
Untukmu, kata-kata merapikan barisan
Menyelipkan salam lewat angin
Yang mengirim dingin; 
Sedingin kotamu pagi ini
Engkaulah yg berjalan dengan diam
Tiba-tiba menegur setiap lekuk tubuhku
Membacakan puisi jiwa:
Sebelum gelora mereda
Untukmu, ayat-ayat kuracik
Dengan bumbu doa;
"tegarlah" desahku.
--Perempuan yang mengeram luka;
Lewat tawa tak terbaca
 
Sumenep, 2015
 
Catatan 3

;sebelum menjauh, ingatlah dengan wajah teduh itu.
Seperti burung yang sering kita lihat;
Kicaunya memanggil ingin
Kepaknya memaksa rasa
Terbangnya indah di angkasa
"kelak jika kau seperti burung, belajarlah membuat sarang" ucapmu sebelum perjamuan sepakat untuk di akhiri.
"jangan lupa pada jalan pulang"
Ah, senyummu terlalu sendu;
Ibu.
 
Sumenep, 2015
 
Catatan 4
 
di kota itu, aku kembali mengingatmu
menapaki segala ingatan yang memudar
cerita-cerita selalu memiliki tanda
ketika masa akrab bersama cinta atau luka
setiap kali kucoba melupakan
bayanganmu selalu menjerit di jendela
saat ku usap; tak ada siapa-siapa
entah itu kau atau bukan
kau pernah berkata;
hidup ini penuh luka, mengobatinya hanya cukup dengan pasrah
benarkah, mungkin ocehanmu terlalu berlebihan
sebab setiap luka adalah penderitaan
jika luka punya obat
pasrah hanya akan membuatnya berkarat
kau berkata lagi;
menerima tidaklah semudah ketika priyai bersabda
ya, di kotamu, aku selalu mengingatmu
menapaki segala ingatan yang memudar
sebelum semuanya benar-benar berpendar
masihkah kau ingat, entahlah.
 
Sumenep, 2015

  • view 179