Negeri Orang Baik 2

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 November 2016
Negeri Orang Baik 2

“Di negeri orang baik, rakyatnya banyak yang narsis. Sebagian besar dari mereka berlomba-lomba menjadi orang baik, bahkan koruptor yang akan ditembak mati memiliki satu permintaan sebelum ia meninggalkan bumi, ia ingin berbuat baik”

***

Dua tahun sejak Indra dilantik menjadi presiden, kehidupan Negerinya di dominasi orang-orang baik. Tapi tidak bisa dipungkiri, namanya kejahatan tidak sepenuhnya benar-benar punah. Mereka hanya kehilangan lahan untuk narsis di media massa, melambaikan tangan di depan kamera, mencari dukungan untuk menuntut jaksa, dan membeli hukum untuk meringankan masa tahanannya dipenjara.

Hukum di negeri orang baik berjalan dengan baik, yang jahat tidak terekspos tapi langsung dihukum dengan cara yang diatur oleh undang-undang negara. Penegak hukumnya bukan orang-orang biasa, mereka dipilih karena watak dan kemampuannya dibidang hukum. Mereka dipilih bukan Cuma karena lulus tes sesuai prosedur yang berlaku pada pemerintahan sebelumnya, karena diantara mereka ada yang baru selesai mengabdi disalah satu pondok pesantren, ada juga mantan preman, petani, dan berbagai profesi yang secara penampilan seharusnya tidak cocok dengan jabatan penegak hukum. Ada yang bertato, pake anting, rambut gondrong, dan ada juga yang pake sarung.

Siapa sangka indra memiliki terobosan segila itu, sekalipun gila yang namanya perintah adalah perintah, dan Indra tidak mau ada kata penolakan dalam setiap kebijakan yang sudah diambilnya—kecuali kebijakan itu berdampak tidak baik untuk negerinya.

Negeri orang baik selalu jadi tranding topic di media sosial, menjadi perbincangan hangat di negeri luar, menjadi icon yang melekat di negeri yang Indra pimpin.

Apakah negeri orang baik sudah benar-benar dihuni orang baik, jawabannya tidak. Setiap manusia baik pasti memiliki orang jahat yang mengikuti perkembangannya.

Sejak orang jahat tidak eksis lagi dimedia massa, sejak itu pula orang jahat mulai berpikir, mengasah otak, dan mulai mengajak teman-temannya sesama orang jahat untuk berkumpul, menyatukan kekuatan agar hak orang jahat untuk numpang eksis dimedia massa bisa kembali lagi.

Sesuai kesepakatan bersama, akhirnya Raden Black terpilih sebagai ketua orang jahat, ia adalah rekan kantor Indra ketika masih bekerja di salah satu media massa. Sudah sejak lama ia ingin menghancurkan karir Indra, tapi kesempatan itu belum pernah ia dapat.

Raden Black sesegera mungkin mengumpulkan orang-orang pilihannya. Ada lima orang terpilih dari berbagai bidang yang menurut Raden Black sudah cukup untuk menghancurkan karir Indra. Dua orang bergerak sebagai jasa black campaign di media sosial, dua orang desain grafis, dan satunya adalah sutradara film yang karyanya tidak di beitu dikenal di negerinya.

Dengan kekuatan lima orangnya Raden Black mulai menyusun strategi. Memanfaatkan PILKADA yang dua bulan lagi akan dilaksanakan serentak dinegerinya.

“Kita tidak bisa menyerang langsung objek sasaran kita, kita harus melumpuhkan objek kita dengan cara meruntuhkan kepercayaan rakyat kepada objek tersebut” Raden Black berdiri dengan kemarahan yang tergambar dari raut wajahnya.

“Lantas apa yang akan kita lakukan”

“Apakah tuan sudah memikirkan strateginya”

“Oh tentu, negeri kita ini sangat ragam dengan perbedaan, dan sangat menjungjung tinggi kebhinekaan. Kita gunakan kekuatan negeri ini sebagai senjata untuk melumpuhkan kepercayaan rakyat kepada pemimpinnya”

“Sebentar tuan, maksud tuan kita akan mengadu domba rakyat”

“Ya, keributan yang terjadi akan menguji tindakan pemimpin, kita harus membuat sang pemimpin seperti memakan buah simalakama”

“Caranya”

“Kita harus memojokkan kaum minoritas”

“Maksudnya”

“Buat mereka jadi kaum yang tertindas”

“Loh, bukankah negeri ini sangat melarang keras untuk memberitakan kabar buruk”

“Untuk itulah kita berkumpul disini, kita lawan media massa dengan media massa juga. Kita yang akan membuat berita kita sendiri”

“Kira-kira persoalan apa yang akan kita mainkan”

“Konflik batin, antara politik dan agama”

Perkumpulan orang jahat sudah memainkan taktiknya, mereka memanfaatkan para calon kepala daerah yang kebetulan salah satunya dari kaum minoritas. Mereka membuat selebaran gambar kreatif dengan dalih menolak kaum minoritas jadi pemimpin, dan membuat berita hoax di media sosial tentang keburukan kaum minoritas.

Siapa sangka banyak masyarakat yang terprovokasi oleh berita yang tiba-tiba viral di media sosial. Siapa sangka jutaan rakyat tiba-tiba sepakat untuk berdemonstrasi di depan gedung istana. Siapa sangka negeri yang diakui sebagai negeri orang baik tiba-tiba menjelma negeri yang berisik—suara-suara hujatan bertebaran di angkasa, berceceran dijalan raya, dan terdengar di berbagai negara tetangga. Siapa sangka ini akan terjadi, Indra pun tak menyangka.

Di dalam istana Indra mengumpulkan para mentrinya, mereka mengadakan rapat dadakan untuk menghadapi protes rakyatnya.

“Gila, ini benar-benar gila” Indra marah, para mentri hanya diam, tak ada yang berani bersuara.

“Kemana perginya nurani bangsa ini, kenapa bisa goyah hanya dengan senggolan kecil”

“Pak, ini bukan hanya senggolan kecil, tapi....”

“Tapi apa”

Salah satu mentri yang tadinya menyanggah kembali mengatupkan bibirnya. Ruangan hening, hanya saling tatap antara mentri satu dengan mentri lainnya.

“Maaf, saya terlalu emosi. Ok, begini saja, biar saya yang menghadapi rakyat. Saya akan keluar, menemui mereka dan berkomunikasi dengan mereka”

“Ijinkan kami ikut semua pak”

Semua mentri berdiri, berjalan mengikuti Indra yang hendak menemui rakyatnya.

Indra berdiri di depan rakyat, tapi suara-suara protes masih tajam menyayat, tak ada yang bisa menghentikan suara mereka.

“Jangan biarkan kaum minoritas memimpin negeri ini”

“Jangan biarkan tanah kita di pimpin oleh orang-orang yang tidak pantas”

“Ambil sikapmu pak presiden”

“Kami butuh kepastian”

“Kami butuh suaramu, bukan hanya kehadiranmu”

“Wujudkan keinginan kami, atau kami akan bertindak dengan cara kami sendiri”

Indra mengambil pengeras suara, mecoba menenangkan suara-suara kebencian.

“Apa yang hendak kau sampaikan pak, apa”

“Ayo bicara, kami ingin mendengarnya”

“Stop......! harap tenang terlebih dahulu, mari kita dengar apa yang hendak disampaikan pemimpin kita”

Semua suara seketika senyap, ternyata Raden Black yang mampu meredakan suara itu.

“Apa yang dia sampaikan adalah penentu, apakah dia layak menjadi pemimpin atau tidak”

Mata Raden Black tajam menatap mata Indra.

Indra belum bicara, ia hanya diam memandangi jutaan rakyat yang berdiri di depannya. Dan secara perlahan air mata mengalir, ia menangis tanpa suara, tak ada sesenggukan, hanya air mata yang menetes, hanya air mata.

“Hahaha... lihat pemimpin kita, lihat. Ia hanya bisa menangis, apakah dengan menangis permasalahan ini akan selesai saudara-saudara”

“Tidak”

“Apakah dengan menangis bisa membungkam suara kita”

“Tidak”

“Apakah dengan menangis kita masih mau dipimpin oleh orang seperti dia”

Tak ada jawaban, rakyat diam. Entah apa yang membuat rakyat diam.

“Dia pantas jadi pemimpin”

“Sudah banyak bukti yang kita nikmati”

“Sebab pemerintahannya anak saya bisa sekolah”

“Berobat dirumah sakit sekarang jadi murah”

“Saya juga punya rumah yang layak pakai”

“Anak saya bisa baca tulis”

Kasak kusuk rakyat terdengar samar-samar. Mungkin itulah yang membuat mereka diam.

“Saya menangis, saya menangis, ya... pemimpin kalian menangis”

Awan tiba-tiba mendung, hujan mulai mengguyur, rakyat tidak beranjak dari tempat mereka berdiri, mereka mau mendengarkan apa kata pemimpin mereka.

“Siapa diantara kalian yang tidak menangis ketika melihat ibu kalian sakit, dan rakyat mana yang tega melihat ibu pertiwinya sakit. Siapa diantara kalian yang tidak menangis ketika melihat keluarga kalian bertengkar, dan rakyat mana yang tega melihat saudara setanah airnya saling mencakar”

“Negeri ini adalah rumah kita, dan kalian bersaudara. Keluarga macam apa yang ingin melihat keluarganya sendiri retak. Keluarga macam apa yang ingin menggantikan kedamaian yang dipenuhi canda tawa dengan keangkuhan semata”

“Kita bersaudara sekalipun kita terlahir dengan cara, pemikiran, dan lingkungan yang berbeda. Kita bersaudara atas dasar manusia, kita bersaudara atas dasar menjaga kedamaian dan menjaga keharmonisan dalam berkeluarga”

“Sesama manusia, sesama saudara, mari kita saling mengingatkan jika saudara kita berbuat salah. Bukan malah membesar-besarkan masalah. Apakah diri kita menjadi hina karena di hina, apakah diri kita menjadi sampah karena dikatakan sampah. Tidak, tindakan kita sendiri lah yang menentukan dan yang memantaskan bahwa kita ini memang hina atau sampah”

“Saudaraku sebangsa setanah air, yang pantas memimpin kita bukan karena ia minoritas atau mayoritas, tapi karena iya pantas untuk dijadikan pemimpin yang pas”

“Kalian yang lebih tahu mana yang pantas memimpin kalian, jika tidak pas silahkan jangan memilihnya”

Hujan reda, semua massa kembali pulang kerumahnya.

Sejak saat itu, negeri orang baik kembali menjadi perhatian dunia. Negeri dengan keragaman yang penuh dengan cinta. Mereka bersaudara, mereka sejatinya adalah orang-orang baik.

***

“Di negeri orang baik, rakyatnya banyak yang narsis. Sebagian besar dari mereka berlomba-lomba menjadi orang baik, bahkan koruptor yang akan ditembak mati memiliki satu permintaan sebelum ia meninggalkan bumi, ia ingin berbuat baik”

“Besok cerita lagi ya nek”

“Iya, ayo Indra tidur dulu, besok kan sekolah, biar jadi calon pemimpin yang baik”

Indra kecil memejamkan matanya, ia kembali larut dalam dekapan malam dan cita-citanya untuk menjadi presiden yang baik.

 

Sumenep, 8 November 2016

Link Gambar : Klik disini


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Kekuatan karya ini adalah idenya yang unik dan kreatif, sama dengan keunggulan yang ia tonjolkan dalam cerita sebelumnya, mengingat ini adalah kelanjutan dari cerita sebelumnya yang pernah diunggah beberapa bulan silam. Kreator Rifki Affandi piawai dalam menuangkan imajinasinya dalam ‘Negeri Orang Baik 2’ ini. Bagian yang paling asyik sekaligus memukau adalah Rifki membuat cerita ‘serangan’ ke negeri tersebut secara kekinian, yakni melalui dunia media sosial.

    Hal ini sangat nyata mengingat bukan hal baru media sosial menjadi ranah populer terkait dengan pemilihan daerah di Indonesia. Memasukkan poin ini juga memberikan kritik sekaligus sindiran. Solusi mematahkan serangan ini pun juga unik, yakni Indra, sang presiden, melawannya dengan kelembutan dan kejujuran. Negeri khayalan a la Rifki benar-benar beda.


  • Polisi Bahasa
    Polisi Bahasa
    1 tahun yang lalu.
    di dominasi => didominasi