Seteguk Kopi Hitam Pada Satu Gelas

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Oktober 2016
Seteguk Kopi Hitam Pada Satu Gelas

Pagi ini cuaca masih redup, tidak seperti lima tahun sebelum keberangkatanku ke kota impian. Seperti janji yang harus ditepati, berbalik mundur bukan jawaban untuk menuntaskan persoalan. Diluar gerimis mulai menampakkan wajahnya, ia seperti memanggil hujan untuk menggantikan posisinya. Sementara dikamar kecil ini, aku hanya bisa memandangi lalu-lalang orang lewat jendela, mereka berlarian mencari tempat berteduh. Aku bisa melihat perbedaan wajah-wajah mereka saat hujan benar-benar datang, ada wajah sumringah diwakili anak-anak komplek yang asyik bermain bola, ada wajah marah diwakili oleh bapak berdasi rapi yang bajunya terkena tendangan bola, dan ada wajah murung diwakili oleh diriku sendiri yang wajahnya masih menempel dijendela.

Setiap kali hujan datang wajahku mendadak murung, dulu ada satu kejadian indah yang kulewati saat hujan, tapi kejadian itu tidak bisa terulang kembali, wajar saja bila aku merasa sedih. Aku masih ingat dengan satu perkataan tentang hujan, katanya hujan adalah simbol datangnya rejeki yang sedang dikabarkan Tuhan. Dulu aku percaya dengan perkataan itu, bukan karena rejekinya, tapi karena orang yang berkata tentang hujan. Ya, aku masih ingat itu, ia adalah orang paling pendiam yang hemat dengan kata, tapi sekali berkata itu adalah berkah yang tak terhingga, bagiku.

Aku masih ingat dengan kebiasaannya ketika hujan datang. Ia akan memasak air, mengambil gelas, memasukkan bubuk kopi dan sedikit gula, kadang tanpa gula, dan menuangkan air mendidih dalam satu gelas, ia mengaduknya dengan santai, dan menyajikannya di depanku.

“Minumlah, buat tubuhmu hangat. Rasakan aromanya, rasakan kenikmatannya, rasakan kau berada disuatu masa ketika kelak kau hidup sendiri, tapi kau tetap ingat dengan satu kejadian sederhana ini.”

Kata-kata itu masih jelas, aku merasakan keberadaannya disampingku. Ingatanku seolah terbawa pada suatu masa ketika ia benar-benar ada di depanku, kami berhadapan, tanpa suara. Yang ada hanya suara tegukan kopi hitam dan ia seruput dengan mata layu dalam pandang. Garis keriput menggores setiap lempengan waktu, masih jelas dalam ingatan sewaktu hujan tiba-tiba datang, tepat saat ia akan beranjak untuk pergi merawat bakau.

“Tunggu setelah hujan reda” ucapku setengah berbisik. Ia hanya tersenyum, kemudian pergi melawan dingin menembus batas, selepas burung bermain air, selepas kicau para nelayan, selepas jarak memisahkan antara keinginan dengan kenyataan.

Diluar petir menyambar memainkan kilatnya. Sedikitpun tak membuat ia gentar untuk melawannya. Kupandangi langkahnya tambah jauh, tambah jauh, dan tambah tak terlihat dalam pandanganku. Aku gemetar, dari belakang seorang perempuan memeluk tubuhku dengan senyumnya yang tegar.

“Kau kedalam saja, tak usah kau hiraukan keadaannya, ia pasti baik-baik saja. Di meja sudah kusiapkan segelas kopi hitam kesukaanmu, dan ada singkong rebus”

Aku berjalan mengikuti perempuan itu. Kami banyak bicara tentang cita dan cinta, tapi obrolan kami tidak seasyik obrolanku dengannya. Ia memang hemat dalam bicara, ia tida suka bercerita, tapi ada saja rasa rindu itu, rindu akan suaranya, rindu akan kata bijak yang terselip dalam tingkah nyatanya.

Kunyalakan televisi untuk sekedar hiburan, tayangnnya tak ada yang bisa membuat ketakutanku reda. Tombol remote memindahkan satu channel ke channel lainnya seperti putaran waktu yang tak pernah jenuh untuk bergerak, seperti langkah yang ia tunjukkan, seperti isyarat yang tak mampu kuterjemahkan.

Bosan menonton televisi, aku beranjak kembali kedekat jendela. Tak ada tanda-tanda hujan akan reda, diluar anak-anak sepertinya sudah bosan bermain bola. Tak ada siapa-siapa, sepi. Hujan seolah mengusir mereka, aku rasa hujan sedang ingin menemuiku, aku merasakan panggilan itu. Hujan sengaja mengusir anak-anak komplek, dan orang-orang yang berlalu-lalang sepertinya lebih memilih untuk pulang.

Kuberanikan diri untuk menemuinya, kamarku berada di lantai tiga, dan aku harus turun melewati tangga untuk menemuinya.

Tiga tangga kuturuni dengan perasaan yang tak kumengerti, aku merasa hujan benar-benar memanggilku. Sampai dibawah kubuka pintu, diluar benar-benar sepi. Entah sihir apa yang merasuki tubuhku, aku seperti terseret untuk berdiri dipinggir jalan menikmati guyuran hujan. Aku ingin teriak, tapi tenggorokanku mengelak. Aku ingin bicara, tapi pada siapa. Aku ingin berlari, tapi tak kutemukan tujuan pasti. Aku ingin berdiri, hanya itu yang bisa kulakukan saat ini.

“Kemarilah” Hey, darimana suara itu.

“Lihat di depanmu, aku disini anak muda”

Siapa dia, aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, tapi suaranya sangat khas. Ya, suara itu suara yang sama seperti suara yang kurindukan.

“Apa yang kau lakukan, kemarilah, nikmati hujan ini”

Aku memang ingin bermain dengan hujan, tapi tidak untuk saat ini.

“Jangan ragu, jangan takut, hujan tidak akan membuat tubuhmu lebur”

Sebentar, kemana lelaki itu. Ini benar-benar gila, lelaki yang tak jelas wajahnya sudah tak jelas keberadaannya.

“Ayolah, jangan hanya berdiri di depan pintu. Jangan takut, kau memang tak bisa melihatku, aku adalah suara hatimu, dan kau sering mengabaikanku”

Benar, tapi darimana ia bisa tahu. Ia pasti bohong, mana mungkin ia adalah suara hati. Bukankah suara hati hanya ada dalam diriku, dan suaranya sangat mirip dengan suara yang kurindukan.

“Aku tahu apa yang sedang kau bicarakan, tak usah takut, lawan rasa takutmu, mereka menunggu kedatanganmu. Tapi kau harus menang terlebih dahulu, jangan biarkan mereka melihatmu kalah, setidaknya biarkan mereka melihat perjuanganmu”

“Aku ingin melihatmu, aku ingin berbicara denganmu, aku ingin.....”

“Bermainlah dengan hujan, rasakan kenikmatan dan simbol rejeki Tuhan. Setelah itu aku akan menemuimu, buatkan secangkir kopi hitam untukku”

Untuk memenuhi keinginanku dan untuk memenuhi keinginannya, perlahan langkah kaki berjalan maju kedepan. Dipinggir jalan mataku awas melihat arah sekitar, tidak ada siapa-siapa.

Tanpa kusadari hujan membasahi tubuh dan pakaianku. Wajahku tengadah keatas, sementara kedua tanganku membentang seperti sayap elang yang hendak terbang bebas. Aku berteriak sekeras-kerasnya, kemudian berlari sekencang-kencangnya. Ada energi baru merasuki tubuhku, energi yang mampu meredakan rasa takutku, energi yang mampu mengembangkan senyum indah dibibirku, dan energi yang membawaku pada satu ingatan pada suatu waktu.

“Tak terasa kau tumbuh begitu cepat, sebentar lagi kau akan pergi”

“Bukan pergi, tapi....”

“Tetap saja namanya pergi, kau akan meninggalkan rumah ini kan”

“Tapi aku akan kembali”

“Dan kau akan hidup sendiri, kau akan jadi lelaki, nikmatilah seperti segelas kopi hitam ini”

Ya, percakapan itu adalah percakapan dengannya yang tidak bisa kulupakan.

Tiga hari sebelum keberangkatanku ke kota impian, ia banyak menghentikan aktifitasnya, ia lebih memilih untuk duduk bersamaku menikmati secangkir kopi hitam. Kami tidak banyak bicara, hanya duduk bersama, saling pandang, kemudian tersenyum.

Dua hari sebelum keberangkatanku ia lebih banyak meluangkan waktunya untuk bersamaku. Sore harinya ia mengajakku jalan-jalan ke alun-alun kota. Seperti biasa, ia tidak banyak bicara. Kami berjalan tanpa tujuan pasti, mengelilingi alun-alun, memandangi anak-anak yang bermain air, memandangi remaja yang asyik berfoto, memandangi apa saja yang ada di sekeliling kami. Setelah itu ia mengajakku ke warung terdekat untuk memesan kopi. Secangkir kopi hitam dengan sedikit gula tersaji diantara kami. Kami sengaja hanya memesan satu kopi, bukan karena tidak mampu membeli dua, tapi karena kebiasaan yang tidak bisa kami hilangkan. Untuk apa dua jika satu menyenangkan. Untuk apa dua jika satu menyatukan, sementara dua memisahkan.

Tubuhku menggigil, aku puas bermain hujan. Sudah saatnya ia menemuiku, sudah saatnya ia memenuhi janjinya, sudah saatnya aku tahu siapa dirinya, dan siapa yang memberitahu tentang kenanganku bersama lelaki yang suaranya kurindukan itu. Aku akan segera menemuinya di dalam kamar, dengan secangkir kopi hitam pesanannya, aku yakin ia bukan suara hati.

“Segeralah mandi, aku tidak akan mengingkari janjiku. Aku pasti menemuimu”

Baiklah, aku memang tidak tahu dimana ia berada. Tapi suaranya sangat jelas, ia selalu tahu tentang apa yang ada dalam pikiranku. Aku akan segera tahu siapa dirinya.

Badanku segar kembali setelah tubuhku terguyur air dikamar mandi. Segera kupanaskan air untuk secangkir kopi hitam yang akan membuka segala rahasia tentang lelaki yang tak jelas wujudnya, namun suara itu seperti mengajakku untuk mengingat, menarikku pada satu ingatan pada sosok pendiam yang suaranya selalu kurindukan.

“Secangkir kopi hitam pesananmu sudah kubuat, kemana dirimu, aku menagih janjimu”

“Aku tidak pernah kemana-mana, aku selalu bersamamu. Harus berapa kali kukatakan, aku suara hatimu”

“Karena aku masih waras, mana mungkin aku berbicara dengan suara hati”

“Suara hati berbicara dengan orang waras, bahkan orang tidak waraspun masih ada yang berbicara dengan suara hatinya”

“Ok, lantas apa yang kau inginkan dariku”

“Aku tercipta dari keinginanmu, suaraku adalah suaramu, tapi kau lebih memilih suara-suara lain daripada suara hatimu. Kau terjebak oleh suara ketakutan, takut pada kenyataan, takut bertindak, takut salah, takut kalah. Karena takut itulah kau tidak lagi mengenalku, kau mengabaikan keberadaanku, kau tidak mau lagi mendengarkan suaraku, padahal itu suaramu, suaramu, suaramu, suaramu anak muda, suaramu”

“Aku tidak percaya padamu karena suaramu mirip dengan suara yang kurindukan”

“Suara itu adalah suara yang kau yakini, aku adalah bagian dari suara itu”

“Kau bohong”

“Suara hati tidak pernah bohong, aku bahkan tahu jelas siapa suara yang kau rindukan itu”

“Siapa”

“Ayahmu”

“Darimana kau tahu”

“Suaranya adalah ruh dalam suaraku, suara hatimu”

Ayah, suara yang kurindukan adalah suaranya. Lelaki pendiam itu, suaranya sulit keluar, tapi sekali keluar seperti mengajakku untuk berlayar, menjelajahi kehidupan, menjelajahi lautan berkarang untuk menepi menikmati tegukan secangkir kopi, merasakan pahit manisnya perjuangan.

Didalam kamar ini aku benar-benar sendiri, aku sadar bahwa aku hanya berdialog dengan diriku sendiri. Seperti janji yang harus ditepati, berjalan mundur bukan jawaban untuk menuntaskan persoalan. Waktu itu aku berjanji pada ayah untuk tidak takut pada hujan, aku akan bermain bersamanya, berteriak sekeras-kerasnya dan berlari sekencang-kencangnya. Aku sudah memenuhinya pagi ini. Waktu itu aku berjanji pada ayah untuk berangkat ke kota impian, menuntaskan segala ritual pertapaan, berfoto bersamanya dengan seragam wisuda ketika nama belakangku tertulis gelar sarjana. Aku belum bisa mewujudkannya. Aku hendak pulang dan minta maaf, tapi ia seperti berada dihadapanku, memandangku dengan lekat, menyodorkan secangkir kopi hitam dengan senyum mengembang.

Secangkir kopi hitam ini terus memaksaku untuk mengingat pada satu hari sebelum keberangkatanku ke kota impian. Di depanku ada ayah, ia mulai mengeluarkan suara. Cukup seteguk saja, rasakan kenikmatan kopi hitam ini. cukup sekali saja, sukuri kenikmatan takdir ini. Seteguk kenikmatan akan menjadi candu pada tegukan selanjutnya. Sekali bersukur kau akan menemukan rahasia kehidupan sesungguhnya. Nikmati sisi pahitnya kopi, nikmati kehidupan yang telah kau pilih. Jika cinta tak bertemu dengan luka, cinta itu mungkin masih kecil. Jika mimpimu belum ada yang meremahkan, mimpi itu mungkin masih kecil. Jika hidup yang kau jalani serba mudah, mungkin kau masih anak kecil. Masih kuingat jelas suaramu, suara bergemuruh riuh yang membawaku pada satu ingatan—seteguk kopi hitam pada satu gelas yang kita seruput bersama-sama.

***

(cerita untuk Abd. Latif dan Nursiati, percayalah anakmu akan kuliah lagi dan meraih gelar sarjana)

  • view 365