Cinta Saja (tidak) Cukup

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 September 2016
Cinta Saja (tidak) Cukup

Ini kisah sederhana, kisah yang ingin aku sampaikan pada siapa saja yang merasa membutuhkan, atau siapa saja yang ingin mengetahui cinta itu apa. Aku adalah seorang lelaki yang berusia 61 tahun. Usia yang tidak seharusnya mempersoalkan apa itu cinta. Usia yang lebih tepatnya sudah memikirkan masa tuanya akan dihabiskan dengan melakukan aktifitas yang lebih berguna, bukan lagi membahas persoalan cinta. Tapi mau bagaimana lagi, setidaknya dengan berbagi pengalaman tentang cinta, itu termasuk aktifitas berguna yang aku lakukan.

Hari ini adalah hari kebebasanku dari jeruji sel penjara. Hari dimana aku kembali bebas, dan aku juga akan bercerita bagaimana bisa aku masuk penjara, tidak lupa, ini juga menyangkut persoalan cinta. Aku harap ceritaku ini menjadi bahan perenungan untuk pasangan diseluruh dunia ini, terutama untuk kalian yang sudi mau mendengarkan.

Langsung saja, waktu muda dulu aku juga pernah jatuh cinta. Berbagai cara aku lakukan demi mendapatkan wanita pujaan (tapi dalam tindakan yang baik, bukan menggunakan dukun atau mantra-mantra). Perlu diketahui, cinta yang aku rasakan ketika aku berada dibangku kuliah, bukan SMP, atau SMA seperti kebanyakan terjadi pada masa ini. Bukan karena apa, dulu waktu SMP aku juga menyukai wanita, tapi hanya sekedar suka, dan menghilangkan perasaan gengsi. Katanya kalau sudah punya pacar itu baru resmi dikatakan lelaki, sedangkan yang jomblo mereka akan jadi bahan hinaan. Dan itu ternyata salah, menurutku sih.

Tahu gak, kebanyakan percintaan SMP atau SMA yang mereka ketahui hanya bagaimana mereka menjaga komitmen untuk saling setia, itu saja. Itupun sangat bagus, tapi sayang, ketika aku bertanya pada salah satu anak di sekolah tempat aku mengajar. Oh iya, dulu aku pernah menjadi guru, biar kalian tidak bingung.

“Apakah kau mencintainya?” pertanyaan itu aku ajukan kepada siswa yang memukul pacarnya karena pacarnya sering belajar bersama dengan teman cowoknya.

“Ya iyalah Pak, aku sangat mencintainya, buktinya aku cemburu kalau dia dekat dengan orang lain” jawabnya cukup berwibawa.

“Termasuk kalau dia dekat dengan temannya”

“Bisa jadi, pokoknya dia hanya milikku, dan waktunya harus lebih banyak bersamaku”

“Cinta menurutmu apa sih”

“Bisa membahgiakan pasangannya”

“Apakah dengan cara menjauhkan dari temannya”

“Ya, tidak harus”

“Lantas, yang kamu lakukan”

“Masalahnya teman dia cowok, dan aku cemburu bila dia dekat dengan temannya”

“Berarti kamu tidak percaya pada pasanganmu”

“Percaya sih, tapi aku kan hanya takut”

Untuk sementara pertanyaan kuhentikan sejenak. Kepalaku geleng-geleng tak mengerti.

Sedikit menahan tawa. Kemudian mengalihkan pada pertanyaan lebih serius.

“Apakah kamu punya rencana untuk membina rumah tangga bersamanya”

“Aku kan masih kecil Pak, itu lain hari kalau sudah dewasa, aku kan belum siap”

Yah, begitulah anak remaja saat ini. Banyak yang belum tahu cinta itu apa, yang mereka tahu hanya sekedar saling suka.

***

Kembali keceritaku, waktu itu aku semester tiga dan wanita yang aku incar sudah semester enam. Itulah kegilaan cinta, tidak mau tahu perbedaan usia. Tapi aku sangat mencintainya, dan aku beranikan diri melamar langsung pada orang tuanya. Karena ia meminta bukti keseriusanku.
Awalnya aku ditolak, bukan sama dia, tapi orang tuanya. Maklum, aku orang miskin dan keluarga dia orang mapan.

“Bagiamana mungkin kau bisa membahagiakan anakku, dalam membina rumah tangga, cinta saja tidak cukup”


Kata itu masih aku ingat. Aku sama sekali tidak marah, karena yang dikatakan benar adanya. Dan aku sangat berharap kalau semua orang tua memiliki prinsip yang sama dengan keluarga wanita pujaanku, asalkan jangan sampai merendahkan martabat orang lain.

“Jangan masukkan hati ya, kedua orang tuaku memang keras mendidikku, katanya hidup itu lebih keras. Begitulah cara mereka mencintaiku, dan satu lagi yang harus kamu tahu, mereka tidak pernah memarahiku dengan perkataan atau fisik. Hanya saja mereka mendiamkanku, tidak menganggap aku ada, saat aku melakukan tindakan yang melanggar aturan wajib keluargaku. Sekalipun itu tindakan spele, seperti bangun kesiangan, atau tidak membaca doa sebelum makan. Kamu harus sabar ya, dan mereka membutuhkan bukti keseriusanmu, bukan hanya keberanianmu melamar, tapi apa yang akan kamu berikan untuk membina rumah tangga”

Itu kata wanitaku, aku semakin kagum dan merasa yakin kalau dia adalah jodoh yang ditakdirkan Tuhan untukku.

Singkat cerita, sampai lulus kuliah aku belum bisa mendapatkannya.

“Bagiamana mungkin kau bisa membahagiakan anakku, dalam membina rumah tangga, cinta saja tidak cukup”

Kata itu selalu di ulang-ulang setiap kali aku mencoba melamar wanitaku. Entah sudah berapa kali aku mencoba. Tapi aku tidak pernah putus asa. Dan posisiku saat itu masih menjadi sarjana pengangguran, sedangkan istriku sudah bisa memilki jabatan manager di salah satu bank ternama.

Sampai suatu hari aku kembali mencoba meyakinkan keluarga wanitaku, saat itu bukan aku yang bicara, tapi wanitaku yang berharap agar cinta kami direstui.
Bukan penolakan yang aku terima, melainkan tantangan.

“Baik, kamu sudah dewasa nak, kamu sudah bisa menentukan mana yang terbaik bagi hidupmu. Menjalani rumah tangga tidak cukup hanya bermodal cinta, tapi juga keyakinan, saling percaya satu sama lain. Jika kamu sudah mantap dengan pilihanmu, silahkan lakukan apapun yang kau inginkan. Dan kami hanya butuh satu bukti besarnya cinta kalian, besok kita langsungkan pernikahan. Dan hari ini kamu harus berhenti bekerja, berikan keyakinanmu pada suamimu, kalau ia bisa membahagiakanmu”

“Aku yakin kalau kamu bisa mas”

Wanitaku menyetujui dan aku pun mengangguk.

Seperti kesepakatan yang telah kami buat, istriku mengundurkan diri dari jabatan manager, keesokan harinya pernikahan kami diresmikan. Setelah mendapatkan restu, kami mengontrak rumah sederhana dengan menggunakan sisa uang gaji istriku, aku berjanji nanti uang itu akan aku kembalikan setelah aku mendapatkan pekerjaan.

Keyakinan kami dalam membangun rumah tangga ternyata tidak sia-sia, tiga hari usia pernikahan kami, aku diterima menjadi guru di salah satu sekolah negeri faforit di kota kami. Tidak hanya itu, kemampuan istriku dalam mengolah bisnis ditularkan padaku, aku di berikan motivasi untuk beternak bebek. Pada mulanya aku dan istriku yang mengelolanya, sampai akhirnya bisnis itu besar, dan kami pasrahkan pada orang lain untuk mengurusnya. Kami hanya mengontrol dan menungu hasilnya.

Berlanjut pada usia satu tahu pernikahan kami, usaha bisnisku makin lancar. Setiap satu minggu minimal ada tiga tawaran seminar yang harus aku datangi, kadang bisa setiap hari. Terpaksa profesi guru aku lepas. Dan aku lebih fokus pada tawaran jasa yang membutuhkan semangat dan bagaimana cara membangun bisnis hingga berkembang pesat.

Pada saat itulah awal mula bencana besar bermula. Sebenarnya hal yang sepele, tapi bisa menjadi besar karena satu penyakit. Santai dulu, nanti akan aku kasih tahu penyakitnya itu apa.

***


Waktu itu istriku melahirkan putri pertama kami, sedangkan aku tidak bisa mendampinginya waktu proses kelahiran. Aku sedang berada diluar kota mengisi seminar di salah satu kampus. Sebenarnya istriku melarang agar aku berangkat, tapi aku tetap membantah dengan alasan untuk kepentingan keluarga dan komitmen. Entah mengapa semakin hari aku sering merasa tidak puas dengan apa yang aku miliki, selalu saja kurang dan kurang. Apalagi bila melihat teman-teman membeli mobil baru, aku tidak mau kalah. Aku harus lebih baik dari mereka.

“Baiklah, silahkan berangkat, mungkin uang bisa membuatmu lebih bahagia daripada menemani proses kelahiran anak pertama kita” baru pertama kali istriku berkata kasar padaku.

Aku tidak meresponnya, aku pamit berangkat, dan istriku juga melakukan hal yang sama, kami sama-sama diam. Tidak ada hubungan kontak telepon, tidak ada percakapan apapun sejak kejadian itu.

Jujur saja, sebenarnya bukan karena aku tidak mau mengikuti kemauan istriku, hanya saja aku tidak bisa membatalkan janji begitu saja, bisa jadi aku tidak akan dipercaya lagi. Dan satu lagi, aku pikir kalau anakku tidak akan lahir pada saat aku keluar kota, lagi pula itu hanya sehari. Tapi ternyata firsat seorang Ibu itu lebih tajam dari suami.

***

Aku pikir acara diam-diaman antara aku dan istriku akan segera reda setelah kehadiran putri pertama kami. Dan entah sudah berapa kali pikiranku selalu salah dalam menilai sebuah keadaan.

“Ayolah sayang, sampai kapan kita akan terus begini” suatu malam aku mencoba mengajaknya bicara.

“Sampai kau sadar” jawabnya singkat.

“Sadar, seharusnya siapa yang harus sadar, aku atau kamu. Bukan hanya satu dua kali aku coba sabar menghadapi keegoisanmu, tapi apa. Sama sekali kesabaranku tidak kau hargai.” Aku lepas kontrol, nada bicaraku memojokkan segala kesalahan ada pada istriku.

Istriku tidak lagi melanjutkan, pembicaraan malam itu berakhir dengan suara pertikaian. Itulah yang sering terjadi pada siapapun yang tidak bisa mengontrol diri. Sekalipun niat kita baik, tapi tanpa diiringi kontrol diri, bersiaplah menerima kegagalan. Semoga saja kalian tidak mengalami hal sama denganku.

Lanjut pada cerita, berbagai prasangka mulai timbul dari otakku. Aku tidak menemukan sikap istriku yang dulu pernah aku kenal. Sikap yang selalu mengerti dan mendukung setiap tindakan yang aku lakukan. Istriku mulai berubah, ia seperti menganggap aku tidak pernah ada.

Aku mulai menaruh rasa curiga padanya, jangan-jangan ia hanya mengincar harta kekayaanku saja. Mungkin ia berusaha membuat aku benci padanya, agar aku menceraikannya, kemudian ia bisa mendapatkan hartaku. Karena aku pernah berjanji “jika sampai aku tega menceraikan istri kesayanganku, maka semua harta milikku akan menjadi miliknya” itu bukan hanya omongan belaka, tapi perjanjian tertulis yang aku buat. Ide gila yang sebenarnya tidak diperbolehkan sama istriku. Tapi sekali lagi, itulah kegilaan cinta, demi bukti suatu kepercayaan, apapun dilakukan. Karena aku yakin, perceraian itu tidak akan pernah terjadi.

Sampai pada suatu malam, aku terbangun dari tidur nyenyakku. Dan aku melihat istriku tidak ada disampingku. Tentu saja aku ingin tahu dimana ia berada. Sayup-sayup terdengar sesenggukan, itu pasti berasal dari istriku. Oh iya, anakku sudah berumur satu tahun, tapi konflik antara aku dan istriku belum reda. Kami setiap hari bertemu, tapi tidak lagi bisa akur seperti dulu. Setiap hari kami seperti orang asing yang bicara sekedarnya saja. Tak ada canda, tak ada tawa, hampa.

Aku beranjak dari kasur, berjalan menuju suara sesenggukan itu. Terdengar dari musalla tempat dimana dulu aku selalu salat berjamaah dengannya. Aku mendekati musalla, dan benar ada istriku disana. Aku sengaja berjalan pelan-pelan seperti maling yang masuk rumah orang agar tidak diketahui. Aku melihat ia bersujud lama sekali, sambil sesenggukan. Tangisan yang ia tahan seolah menenjelma runcing duri, dalam menusuk hatiku.

“Tuhan, ampuni hambamu ini yang lupa untuk bermunajat pada-Mu” gumamku dalam hati. Sudah setahun lebih aku mengabaikan salat malam. Dulu waktu aku masih menjadi orang biasa, kebiasaan itu tidak pernah aku lepas. Tapi semenjak harta mudah aku dapatkan, semenjak itu pula aku melupakan-Nya.

Istriku sudah selesai salat, tapi belum menyadari keberadaanku. Aku berdiri disamping musalla.

Dan satu lagi yang membuatku merasa bersalah, ketika istriku berdoa untukku. 

“Ya Allah, cobaan yang Kau berikan ini cukup membuat hambamu tegar, aku rela disalahkan, aku rela diabaikan, tapi jangan sekali-kali Kau hancurkan rumah tangga ini ya Allah. Ini semua salahku, dan aku tidak berani mengakui untuk meminta maaf padanya. Entah sampai kapan aku tetap begini. Yang aku minta hanya satu, persatukan keluarga ini seperti dulu, aku berjanji untuk mengakui kesaahanku ini. Mungkin ia memang benar, aku tidak bisa mengerti kemauannya. Seharusnya aku bisa memahami pekerjaannya, ia sibuk untuk nafkah keluarga, ia sibuk dengan berbagi ilmu untuk orang lain. Mudahkan setiap langkahnya, mudahkan setiap niat baiknya. Tapi berikan pula ia kesadaran untuk memperhatikan keluarganya, permata buah hati yang kau titipkan masih membutuhkan sosok ayah. Jangan sampai ia melupakannya. Pada-Mu lah hambamu ini meminta dan memohon, Amin.”

Aku mendekati istriku, memeluknya dari belakang, meminta maaf atas kesalahan dan prasangka buruk yang aku tuduhkan padanya.

“Sudahlah mas, aku juga salah. Yang paling penting kita sudah bisa akur lagi”

Sebentar dulu, cerita ini belum selesai. Inti pokoknya ada pada cerita selanjutnya.

***

Setelah putri kesayanganku berumur 15 tahun, bencana terbesar dalam hidupku segera terjadi. Empat belas tahun sejak kejadian tempo dulu, kami sudah bisa hidup dalam kedamaian, tak lagi ada pertengkaran, caci maki, atau sejenisnya. Semua berjalan lancar.

Sampai akhirnya pada suatu malam aku mendekati istriku yang terbaring nyenyak dalam tidur. Saat itu jarum jam menunjukkan angka satu, aku baru pulang dari luar kota. Biasa, pertemuan para pebisnis di Jakarta. Satu minggu aku meninggalkan keluargaku. Kali ini aku mendapatkan restu dari istri dan putri kesayanganku. Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama, jika istriku tidak membolehkan, pastinya aku tidak akan pergi. Karena alasannya selalu benar, salah satunya ketika putriku menginginkan liburan bersama. Bagaimanapun keluarga lebih berharga, satu kalimat yang selalu istriku katakan.

Malam itu aku tidak membangunkannya, hanya saja menatap wajahnya, itu saja.

Ada pikiran kotor dalam otakku, ucapan teman-teman waktu dijakarta menggumpal menjadi virus propaganda yang tak bisa aku menghapusnya. secara tidak sadar entah mengapa tiba-tiba aku menceritakan kegundahan yang selama dua tahun aku simpan. Aku tidak pernah menceritakannya pada istriku, aku takut ia salah paham.

Begini, dua tahun sebelumnya kami bertemu dengan Kamil, teman satu kampus dulu. Ia kakak seniorko, lebih jelasnya teman sekelas istriku. Aku juga tahu kalau dulu ia sangat mencintai istriku, tentu saja istriku yang bercerita. Dia sudah berkeluarga, dan kebetulan baru pindah ke kota ini. Pertemuan itu kami rayakan dengan mengundang mereka sekeluarga untuk makan-makan. Tidak ada kecurigaan apapun, kami berbincang yang ringan-ringan, mengenang waktu kuliah dulu, tidak sungkan ia juga menceritakan bagaimana ia ditolak mentah-mentah ketika mencoba menembak istriku. Kami tertawa bersama.

***

Mengenai kegundahan yang aku ceritakan pada teman-temanku adalah saat dimana aku sedikit menyimpan keraguan pada istriku. Sebenarnya aku sudah menepis keraguan itu, buktinya aku samasekali tidak mempermasalahkan keraguanku dengan menceritakannya. Dan kebetulan topik perbincangan waktu itu mengenai kehidupan rumah tangga. Tiga dari temanku dengan santai menjelaskan kalau mereka sudah menceraikan istrinya. Permasalahannya berbeda, hanya saja titik kesalahannya semua sama, ada pada ketidaksetiaan istri mereka masing-masing.

“Istriku hanya memanfaatkanku saja, hartaku ia kuras. Aku cape bekerja, ia dengan santai asik berfoya-foya. Kalau aku tetap bersamanya, bukan cinta yang aku dapatkan, tapi kebangkrutan. Ia sudah tidak mencintaiku lagi”

“Istriku hampir sama, ia juga tidak mencintaiku lagi. Kesuksesan yang aku dapatkan telah membutakan mata batinnya. Ia tidak lagi percaya padaku, setiap hari aku dimaki-maki dengan tuduhan yang bukan-bukan. Katanya aku selingkuh, toh pada kenyataannya, ia hanya ingin cerai denganku. Setelah aku selesai mentandatangani surat perceraian yang ia ajukan, ia dengan santai bilang terimakasih. Dan satu lagi yang perlu kalian tahu, ia menjual semua lahan perkebunanku. Keluguannya membuatku tidak sadar kalau suatu saat ia akan menghianatiku. Dan aku mengiyakan saja saat ia mengatakan kalau surat kepemilikan kebun menggunakan namanya, katanya namanya selalu membawa keberuntungan. Gila…”

“Kalau istriku, ia pergi dengan mantan pacarnya. Hanya itu, aku tak tahu alasannya apa.”
Kami tertawa bersama, menertawakan kehidupan yang terjadi, menganggapnya sebagai lelucon, agar kami tidak terpuruk dalam kubangan masa lalu.

Saat tiba giliranku bercerita, mereka dengan cermat memperhatikan. Ada yang anggguk-angguk, geleng-geleng, dan berbagai ekspresi lainnya. Saat aku minta pendapat, serempak mereka menjawab “Kau harus hati-hati, istrimu perlu dicurigai” kurang lebih semua jawaban mereka sama, dengan nada yang beda tentunya.

Secara tidak sadar, jawaban mereka menjadi propaganda terdahsyat untuk menaruh rasa curiga pada istriku. Saat aku ada diluar kota, setiap lima belas menit aku selalu menelponnya, memastikan dimana ia berada dan dengan siapa.

Parahnya, aku selalu melarang istriku ketika pamit untuk bertemu teman-teman kuliahnya. Sekalipun teman itu wanita, aku selalu saja tidak percaya.

***

Tibalah hari yang membuat hidupku hancur, bukan hanya hidup, tapi bahtera rumah tangga yang kami bangun dengan cinta.

Waktu itu istriku terbaring lemah dirumah sakit, dan tahukah kalian siapa yang membawanya kerumah sakit. Ya, dia Kamil. Aku bahkan tidak tahu mengapa tiba-tiba Kamil bisa tahu kalau istriku jatuh pingsan tak berdaya. Dan bagaimana pula ia bisa tahu, semua kejadian yang menimpa istriku, bahkan penyakit yang tidak aku ketahui. Bukannya bilang terimakasih, aku malah marah padanya. Semua penjelasan yang ia katakan tidak bisa aku terima. Katanya istriku jatuh pingsan dijalan raya, secara tidak sengaja ia melihatnya. Membawanya kerumah sakit, dan dokter menjelaskan tentang penyakit kanker yang di derita istriku.

Bagaimana mungkin semua terjadi dengan tidak sengaja, bagaimana mungkin istriku tidak bercerita tentang penyakitnya, bagaimana mungkin semua terjadi kalau mereka tidak memiliki hubungan. Pikiran kotor itu yang merasuki aksi jahatku. Aku memukulnya sampai berdarah, ia tidak melawan, tanpa pikir panjang aku melemparnya sekuat tenaga. Kepalanya terbentur tembok, ia pingsan, entahlah, pingsan atau mati aku tidak mengetahuinya secara pasti. Semenjak kejadian itu, aku sudah tidak tahu lagi kondisi Kamil dan istriku seperti apa. Aku dipenjara, dan anakku, ia juga tidak pernah mengunjungiku.

***

“Bagiamana mungkin kau bisa membahagiakan anakku, dalam membina rumah tangga, cinta saja tidak cukup”

Masih ingat dengan kata itu, dalam membina rumah tangga, cinta saja tidak cukup.

Cinta tanpa keyakinan hanya akan melahirkan keresahan yang berujung pada kehancuran