Bantengan dan Arwah-Arwah

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Puisi
dipublikasikan 24 Juli 2016
Bantengan dan Arwah-Arwah

pada sore yang mendung, mantramntra doa memilin syair bertabuh gendang, berlenggok letupan gemericik kaki yang menggabungkan ilmu kanuragan dengan tarian arwaharwah.
tepuk tangan membeludak mengundang riuh sesak

kemenyan dupa mengepul merambah pelosok desa
mencari pemilik arwah leluhur Sang Danyangan
"kapan dia tiba" celetuk penonton yang berdiri paling belakang.
semua mata membusur pada setiap gerakan kembangan
tidak mempedulikan sekumpulan anak kecil yang menangis ketakutan

"arwaharwah datanglah" komatkamit sesepuh pembaca mantra
mendekati ubunubun kepala, meniupkan segala resah, merasukkan ruh kedalam jiwa.

dua pemain mulai menggila kerasukan arwah
satu jadi kaki yang satunya lagi jadi kepala
matanya merah memandang segala
mulut terisi bara batangan dupa

tabuhmenabuh mengalun keras irama paduan jidor, gamelan, pengawit, dan nyanyian sinden.
pecut sahutmenyahut dari pamong dan pendekar pengendali nyali.

tibatiba monyetan masuk bersama macanan
sengaja untuk menggaanggu bantengan
tepukan makin gaduh, adegan tambah seru

lihatlah, pertunjukan yang lahir pada jaman Singosari
semenjak Ken Arok berkuasa sampai Indonesia merdeka
hiburan sematamata hanya untuk kesenangan jiwa
bukan untuk diperjualbelikan dengan patungan harga

pada sore yang semakin menua, ritual bantenganpun berakhir sudah
dijaman yang semakin maju, akankah bantenggan tetap utuh?

Gambar Link : Klik Disini