Ramadan, Kabarmu adalah Duri

Rifki Affandi M
Karya Rifki Affandi M Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Juni 2016
Ramadan, Kabarmu adalah Duri

Aku masih tak percaya dengan yang kulihat belakangan ini. Berbagai peristiwa yang seharusnya tidak terjadi. Ini tentang praduga manusia mengenai iblis, yang katanya sumber penyebab terjadinya keburukan. Adam adalah manusia pertama yang terkecoh dengan bisikannya, sehingga keturunannya memiliki alasan yang sama ketika melakukan keburukan. Iblis selalu salah di mata manusia, dan aku sempat meyakininya.

“Aku benci iblis, nanti kalau sudah dewasa, aku akan memukulnya”

Kalau ingat kata-kata itu, aku selalu tertawa. Sejak kecil aku di ajari untuk membenci iblis, mengutuknya, menganggapnya biang dari segala masalah.

“Iblis itu mahluk paling celaka, tempatnya kelak di neraka, sebab ia sudah berani berontak pada Tuhan-nya”

Aku masih ingat, itu kata ustadku.

Iblis, benarkah kau seburuk itu.

Jika mengingat peristiwa yang terjadi belakangan ini, sepertinya pradugaku pada iblis harus ditarik lagi. Iblis tidak salah, dan ia bukanlah penyebab segala keburukan. Ya, iblis tidak salah. Itu murni perbuatan manusia.

Aku ingat beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini, dan itu sudah cukup membuktikan kalau iblis tidak selalu salah.

Peristiwa pertama terjadi ketika aku mendatangi pasar takjil di area alun-alun kota. Hari itu seorang nenek berdiri di belakang barisan orang-orang yang sedang membeli kue dan makanan untuk buka puasa. Ia menadahkan tangan berharap ada yang kasihan padanya. Tapi tak juga kulihat seorangpun memperhatikannya. Orang-orang sibuk dengan dirinya sendiri, bahkan pedagangpun sibuk melayani pembeli, mengabaikan kehadiran nenek itu.

Aku berjalan mendekati sang nenek, menyodorkan beberapa lembar uang. Ia meraih tanganku, matanya berlinang, dan berkata “Terimakasih nak, semoga Tuhan membalas kebaikanmu” nenek itu berjalan ke depan kearah pedagang takjil. Membeli beberapa makanan secukupnya.

“Kau jangan terkecoh muka melasnya bung, hari gini mengemis bukan karena tak mampu, tapi sudah jadi profesi” ucap seorang lelaki sambil menepuk bahuku.

“Aku hanya memberi, dan sama sekali aku tak merasa rugi”

“Tapi kalau dibiarkan, ia tambah senang. Dan selamanya jadi pengemis”

“Sudahlah, kapan lagi aku memberi. Mumpung ada kesempatan”

“Ah, kau ini memang susah di nasehati”

“Sebaiknya kita sudahi perbincangan ini, sebentar lagi beduk berbunyi. Dan aku belum membeli takjil”

Lelaki itu pergi,aku segera membeli beberapa kue dan es buah.

Tidak lama beduk berbunyi, tenggorokanku lega setelah minum es buah. Setelah perut terisi, aku melangkah untuk pulang. Dan mataku kembali melihat nenek itu lagi, ia sedang menyuapi anak kecil dengan makanan yang baru ia beli.

Nenek itu melihatku, tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, mungkin tanda terimaksih untuk kedua kalinya. Hari itu, bukan hanya tenggorokanku yang lega, tapi hatiku juga.

Peristiwa ke dua terjadi ketika nongkrong bersama teman kampusku di salah satu warung kopi langganan kami. Malam itu kami asik berbincang seputar tugas kuliah, saling berbagi solusi, dan mengerjakannya bersama. Setelah tugas selesai, kami beralih pada perbincangan apa saja. Kadang bicara politik, sosial, percintaan, atau apa saja yang menurut kami asik untuk di diskusikan.

“Kalian sudah dengar kabar”

“Apa”

“Sumarni”

“Kenapa Sumarni”

“Ia terjaring razia, pada malam pertama Ramadan ia melakukan mesum di kontrakan pacarnya”

“Yang benar”

“Menurut informasi yang kudengar, ia dan pacarnya sudah di keluarin dari kampus”

“Sumarni teman kelas kita?”

“Iya”

Peristiwa lainnya terjadi ketika aku berjalan melewati salah satu sekolah dekat kontrakan. Terlihat anak SMP asik merokok dan es ditangan kirinya. Di sampingnya berjajar tukang becak yang juga merokok. Di sebelahnya terdapat warung makanan yang tertutup kain di depannya, dan lelaki tua seketika keluar dengan mengusap-usap perutnya. Padahal hari itu Ramadan baru masuk hari kedua.

Belakangan ini memang banyak kejadian yang seharusnya tidak terjadi. Bukankah pada bulan Ramadan Iblis sudah tidak bisa menggoda manusia. Lantas, mengapa kejadian itu harus ada setiap tahunnya. Di media massa aku pernah baca, tentang pencopet yang melakukan aksinya, anak muda yang gemar minum miras, dan perjudian di mana-mana.

“Aku benci iblis, nanti kalau sudah dewasa, aku akan memukulnya”

Ah, kata-kata itu, aku sudah tidak bisa lagi menahan tawa bila mengingatnya. Bila dulu aku di ajarkan untuk membenci iblis, sudah saatnya aku membenci diriku sendiri. Sebab musuh terbesar bukanlah iblis, tapi diri sendiri.

***

Malam ini, aku masih mengingat beberapa peristiwa yang terjadi belakangan ini. Sebelum tidur, aku sempatkan membuka akun facebook, menulis status, berbagi keresahan yang kualami.

APA KABAR RAMADAN

Apa kabar ramadan; ramadan selalu suci

Tapi yang kulihat sunyi.

Apa kabar ramadan; ramadan penuh arti

Tapi yang kubaca nyeri.

Apa kabar ramadan; ramadan bulan ampunan

Tapi yang kurasa hanya semboyan.

Apa kabar ramadan; ramadan punya cerita

Dan aku meyakininya.

Apa kabar ramadan; kabarmu adalah duri

Yang kami titi menuju hari fitri.

Selesai munulis, aku posting statusku itu. Yang kudapat hanya beberapa orang menyukai, dan satu komentar 'bagus kawan'. Entah, mereka paham atau tidak.

***