Bukan Sekedar Pemimpi Ulung

Muhammad Rifki
Karya Muhammad Rifki Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 10 Juni 2017
Bukan Sekedar Pemimpi Ulung

"Bagiku, selama ada kemungkinan terkecil,  apapun akan kulakukan sampai aku benar-benar jatuh dan tak bisa bangun lagi. Ya,  selama masih ada usaha, masih bisa dan belum gagal."

||

Dulu, sewaktu di pesantren aku selalu senang untuk bermimpi serta berkhayal. Mimpi yang mustahil. Khayalan yang seakan tak mungkin terwujud. Bagiku, semua berawal dari mimpi. Tak peduli seaneh apa mimpi itu, selama ada usaha, tentu ada jalan. Termasuk organisasi ini. Bagi kawan-kawanku, ini hanya menjadi lelocon yang (tidak) lucu. Hanya menertawakan. Namun aku tak peduli.

Itu terjadi, ketika aku masih duduk di bangku sekolah kelas 1 aly. Di pesantren, waktu itu sedang ada pemutaran film samurai x. Bagi santri, acara pemutaram film seperti itu merupakan momen berharga untuk melebur kejenuhan di pondok, selingan hiburan selepas belajar kitab-kitab kuning. Tak terkecuali aku. Aku ingat, nama tokoh utama film tersebut bernama Himura Kensin Batosai. Selintas, seusai pulang, nama Himura menari-nari di kepala. Ide itupun muncul. Bahkan, berminggu-minggu ide itu masih betah berlama-lama di kepalaku. Sebuah ide tentang perkumpulan remaja di kampung halaman. HIMPUNAN MUSLIM REMAJA ANJIR.

Sebenarnya, dulu aku juga pernah punya ide serupa, dengan nama REMOSA, REMAJA MOSLEM ANJIR. Tapi itu gagal. Sama sekali tak terwujud. Dan dengan HIMURA  inilah aku ingin mewujudkannya kembali. Dan agenda pertama yang ingin kucapai ialah mengadakan pesantren ramadhan. Namun, sebelum itu, aku harus mengumpulkan anggota organisasi. 

Pesantrenku terletak di Banjarbaru sedang kampung halaman di Anjir. Jarak antara Banjarbaru dan Anjir bukanlah jarak yang dekat. Butuh 2 jam untuk sampai. Belum lagi jika itu benar terjadi, aku harus pulang dan mencari anggota. Tentu saja, harus mendapat izin pulang dulu dari ustadz pesantren. 

Itu terjadi di bulan Juni 2015. Aku (yang masih sosok anak yang teramat pendiam dan pemalu) nekad berkunjung ke Pesantren Nahdlatussalam. Awalnya guru-guru di sana menerima ajakanku dan disambut amat baik. Tapi keesokan harinya, ketika disuruh kembali menghadap ke sana, aku justru dipermalukan. Hingga sejak kejadian itu, aku ingin sekali mengupas wajahku sendiri dan membuangnya ke tempat sampah.

Begitupun sewaktu kembali ke  pondok. Kawan-kawanku justru menambah luka di hati. Olok-olokkan dan tawa mereka meludahiku.

Tapi, aku belum menyerah. Masih ada 10 hari sebelum masuk bulan puasa. Aku masih punya 3 orang yang setia membantu di pesantren, bagiku itu sudah cukup. Sampai kami pulang ke kampung halaman,  rencana itupun telah kususun rapi. Target utama kami adalah sd ku dulu, SD APK II.I. Dengan jumlah anggota tujuh orang yang secara mengejutkan mau ikut berpartisipasi, maka kegiatan pesantren ramadhan milikku sendiri tercapai. Bagiku itu seperti mimpi. Ya, aku seperti masib bermimpi. Karena di sana, aku sendiri yang menjadi seorang pemimpin. Sangat bertolak belakang dengan kehidupanku di pesantren yang cuma dijadikan sarang laba-laba. Mungkin tak ada yang percaya jika aku yang menjadi pemimpin.

Di tahun berikutnya, 2016, ide untuk mengadakan pesantren ramadhan itu muncul lagi. Kali ini kejadiannya persis seperti tahun sebelumnya. Kami hanya butuh 10 hari sebelum bulan puasa untuk mewujudkan acara itu. Namun, apapun bukan masalah. Hingga akhirnya berhasil mengumpulkan anggota sebanyak 28 orang. Belum lagi, akupun berhasil mendapatkan 2 sekolah yang menjadi target tahun itu. Semua berkembang dari tahun sebelumnya. Sebuah pencapaian luarbiasa.

Dan kali ini, mungkin akan menjadi tahun terakhirku di kampung halaman sebelum akan merantaukan diri ke Jakarta. Telah banyak yang kuperjuangkan dan wujudkan dalam organisasi ini. Ada begitu banyak cerita dan cinta. Ya, di tahun 2017, aku benar-benar mewujudkan hal yang dianggap orang lain konyol dan seolah aku hanya seorang pemimpi ulung. Dan ternyata usaha ini tak sia-sia. Kali ini, aku berhasil mengumpulkan 4 sekolah untuk acara pesantren ramadhan dalam sebuah masjid. Mengadakan pawai, yang bagi kampungku, merupakan pawai pertama yang pernah ada. Ya, bagiku yang buta akan pengalaman, ini merupakan mimpi besar yang berhasil kuwujudkan. Mungkin lebih tepatnya, berhasil kami wujudkan. Di sini, aku ingin membuktikan, bahwa selama masih ada harapan kecil, percayalah, kita pasti bisa mewujudkannya.

Tak terasa sudah tiga tahun lamanya organisasi ini kubangun. Himura, sebuah nama asing yang seperti mimpi. Namun mimpi sudah terwujud. Ada banyak cerita dan cinta lahir di sini. Akan selalu ada banyak kenangan terbungkus. Terimakasih untuk teman-teman yang telah mendukungku.

Terimakasih untuk orangtua yang juga telah percaya padaku.

Dan terakhir, terimakasih semuanya. Aku takkan bisa mewujudkannya tanpa kalian semua.

|||

Himura adalah sebuah organisasi keremajaan yang berdomisili di daerah Anjir. Dibentuk pada tanggal 27 Juni 2015. Kegiatan-kegiatan yang biasa dilakukan setiap tahunnya mengadakan pesantren ramadhan dan kajian islami yang dikelola oleh para remaja. Mengingat, kondisi remaja yang saat ini sangat pasif dalam kegiatan keagamaan. Sekarang, jumlah anggota sudah mencapai 38 orang.**

  • view 66