Menjemput Cinta Nabi Bersama Al Falah; Ustadz Naufal (Novel) Bin Muhammad

Muhammad Rifki
Karya Muhammad Rifki Kategori Agama
dipublikasikan 25 Februari 2017
Menjemput Cinta Nabi Bersama Al Falah; Ustadz Naufal (Novel) Bin Muhammad

Senin, 12 Desember 2016 Pada acara maulid nabi di Ponpes Al Falah Putera kali ini, para guru mengundang seorang tokoh habaib untuk mengisi ceramah. Beliau adalah Al Habib Naufal Bin Muhammad Al Aidarus yang juga mengisi ceramah sewaktu acara haul guru bangil. Sosok beliau terbilang masyhur di tanah Jawa yang juga seorang pimpinan majelis ta'lim. Tak hanya itu beliau juga berdakwah bil qalam seperti buku yang beliau terbitkan di bulan Maret, 2015 berjudul SEHARI BERSAMA RASUL. Maka tentu sangat beruntung di waktu yang sangat singkat ini, saya dan juga puluhan santri sepondok Al Falah Putera mendapat kesempatan mendengarkan ceramah beliau yang singkat. Dikarenakan pada jam 11.40 am, beliau harus pergi ke solo, maka pada ceramah kali ini hanya mematuk waktu selama kurang lebih satu jam. Meski begitu, di waktu yang sesingkat itu cukuplah sudah menjentik hati para jamaah yang berhadir tentang betapa sering alfanya untuk bershalawat kepada baginda Nabi Muhammad SAW. Sebelum memulai ceramah, beliau menyampaikan agar menyatukan hati terlebih dahulu. Rasakan di dalam hati sosok nabi itu hadir. Untuk melupakan tentang segala porak poranda duniawi. Lalu beliau pun bertanya dan bercerita banyak tentang betapa pentingnya shalawat. Yah, bahwa sesosok santri sungguh merugi jika dalam sehari pun lupa membaca shalawat. Setidaknya pagi 10 dan sore 10, lantas bagaimana bisa mengaku cinta nabi, jika mengingat beliau pun enggan. Bukankah jika kita mencintai nabi tentulah sering menyebutnya. Jika seseorang itu mencintai nabi, tak peduli serendah apa kedudukan orang itu di dunia, selama dia mencintai nabi, derajatnya tentu akan tinggi. Tengok saja sosok bilal, beliau hanyalah seorang budak hitam. Tapi dia sungguh-sungguh menyatakan cintanya kepada nabi, kerap mengingatkan nabi waktu shalat, bahkan sebab itu kata nabi, suara laangkah kaki bilal telah terdengar di dalam syurga. Bukankah itu hebat. Seandainya amal kita dihitung secara detail, tak ada diantara kita yang akan masuk syurga. Coba hitung saja berapa banyak kesalahan yang kita lahirkan setiap hari. Lantas bagaimana bisa kita masuk syurga? Dekati orang yang dekat dengan Allah. Sebab Allah hanyalah yang membikin sistem bagaimana kita akan ditempatkan. Dan Nabilah yang akan menolong kita nanti. Tapi bagaimana kita mengenal nabi jika kitapun sering melupakannya. Ini ibarat sama dengan orang yang mau bikin ktp tapi terus ditolak kecamatan. Lantas ia pun meminta bantuan langsung ke bupati. Bagaimana mau dekat dengan nabi? Dengan bershalawat, secara unlimited, tanpa batas atau setidaknya 10 pagi dan sore. Seorang penuntut ilmu itu hendaknya punya alasan atau sandaran sumber hukum ketika menyampaikan sesuatu. Dalam cerita beliau, seorang Al Habib Umar pernah bertanya kepada tholibul ilm, " siapa yang seminggu ini ada mimpi nabi?" Nah, mengingat dengan kondisi kita sekarang, mungkin teramat merosot. Jangankan santri mungkin kiai pun belum tentu mimpi nabi. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat. 10 rbu sehari atau lebih, sebab banyak nya shalawat bisa menjadi tolak ukur kecintaan kita terhadap nabi. Beliau juga bercerita tentang sesosok Syeikh Djazuli pengarang kitab Ad Dalailul Khairat, diceritakan bahwa ditengah perjalanan Syeikh Djazuli ingin berwudhu, beliau pun menemukan sumur tetapi tak ada timbanya. Oleh karenanya beliau mencari, sampai tiba-tiba seorang anak kecil datang dan heran. Lalu bertanya, usai itu, anak kecil itu lalu meludahi sumur itu dan ajaib, air yang ada dalam sumur naik. Melihat itu Syeikh Djazuli pun heran dan bertanya amalan apa yang dimiliki anak kecil itu. Lalu dijawablah bahwa ketika dia berjalan ataupun duduk mulutnya tak pernah berhenti untuk bershalawat. Diantara semua cerita Al Habin Naufal di atas mengahsilkan kesimpulan bahwa shalawat adalah amalan penting dan mempunyai faedah yang sangat besar dan luarbiasa. Di akhir ceramahnya, beliau menitip buku kepada muridnya, buku karangan beliau SEHARI BERSAMA RASUL,***

  • view 124