Pembentukan Karakter Generasi Muda

Pembentukan Karakter Generasi Muda Pembentukan Karakter Generasi Muda

Taufik Ismail, seorang penyair indonesia yang pernah menulis sebuah pepatah china dalam bukunya 'Tirani dan Benteng' berbunyi 'satu gambar sama dengan seribu kata'. Berkaitan dengan itu, bersama kumpulan puisinya memvisualisasi demonstrasi tahun 1966. Pada tahun itulah kecemasan, kesangsian, kebebasan, harapan,  cita-cita dan tekad dipertanyakan. Meneropong lebih jauh permasalahan ini dari tahun 1965 dan 1966, yang akan kita temui adalah cerita-cerita pertentangan dan pergolakan. Jauh di desa-desa, busung lapar telah menjadi darah daging yang tak bisa dipsahkan. Pencengkraman ekspresi disaksikan di seluruh negeri. Ditambah lagi inflasi makin menggila dan harga barang naik saban hari, kian menambah penderitaan warga.

Di waktu, sejak pencanan ga n demokrasi terpimpin dan peluncuran bahan dan  indoktrinasi yang terkenal dengan singkatan maniful usdek (manifestro politik dan UUD 45, sosialisasi Indonesia, demokrasi terpimpin, kepribadian negara) oleh presiden Soekarno pada pidato kenegaraan 1959, yang disusul dengan konsrp Nasakom (nasional, agama, komunis)  yang dipaksakan untuk ditetapkan pada seluruh serta setiap kegiatan bernegara dan bermasyarakat, maka partai komonis indonesia yang sudah lama mengintai-ngintai segera memamfaatkan kesempatan emas itu. Beralih soal ini, maka seorang generasi muda wajib meniru sikap para pahlawan ampera yang berjuang melawan komunis. Tetapi semua saat ini bertolak belakang, sikap yang begitu lesu dan rapuh terhadap perjuangan dan kesiapan untuk masa mendatang bagi generasi muda kian kerap memprihatinkan. Tentu saja, itu karena pembentukan karakter para anak muda saat ini.

Dalam pembentukan karakter, ada tiga macam yang menjadi acuan. Pertama, bakat bawaan, artinya karakter seseorang dan ciri khas seseorang memang dibawa sejak lahir. Namun perlu kita ingat pupa, menurut salah satu penafsiran terhadap ayat dan hadis tentang kejadian manusia, sebenarnya ada bakat sejak lahir yang dimiliki oleh setiap bayi. Bakat itulah yang disebut fitrah, yakni kesucian asal kejadian manusia, yang secara naluriah cenderung kepada yang baik, yang benar, yang indah dan percaya akan keberadaan tuhan yang menciptakannya. Tampaknya dalam terminologi islam, bakat bawaan yang universal ini dapat disebut khuluq, sedangkan bakat bawaan yang khas bagi tiap-tiap pribadi bisa disebut khalq.

Kedua, yang memerangauhi karakter seseorang adalah wawasan pengetahuan. Tak dapat disangkal bahwa pengetahuan tentang yang baik dan yang buruk ini sangat memengaruhi perilaku manusia. Karena itu sejak dulu kala, pendidikan selalu mengajarkan tentang apa yang baik dan apa yang buruk. Menurut Al Ghazali, ada unsur; pengetahuan (ilm), perubahan suasana batin (hal) dan praktek (amal).

Ketiga, yang memengaruhi karakter adalah pengalaman hidup. Yang dimaksud dengan pengalaman adalah perjumpaan langsung seseorang dengan berbagai pengaruh yang sifatnya tidak sekedar intelektual, melainkan juga emosional dan eksistensial. Kehidupan seseorang bersama keluarganya, teman-temanjya bergaul, hingga media informasi dan hiburan yang dikonsumsinya, semua ini memengaruhi pembentukan karakternya.

Februari, 2017

Muhammad Rifki

Pembentukan Karakter Generasi Muda

Karya Muhammad Rifki Kategori Renungan dipublikasikan 23 Februari 2017
Ringkasan
"Bercermin ke masa-masa tahun 1960-an, seharusnya generasi muda adalah penerus yang harus siap untuk masa mendatang. " Sebuah catatan bulan ini, yang tak sengaja berserakan.
Dilihat 23 Kali