Novel Bersampul Coklat

Muhammad Rifki
Karya Muhammad Rifki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Oktober 2016
Novel Bersampul Coklat

 

Bab terakhir

Ini sudah hampir lembaran terakhir. Bab paling buncu di novel bersampul coklat ini akan tandas kubaca. Tinggal menunggu detik dan menit itu saling hantam dan bertengkar denganku, dan bab terakhir ini akan kulumat habis sedang penantianku duduk di ruang tamu Ponpes Al Falah Putera ini kian disemuti kegelisahan dan ia tak kunjung muncul hingga menit-menit kian bertelor menjadi jam.

Beberapa kali pula lembaran novel ini kumainkan, membaca ulang, bolak-balik, sekedar agar menit-menit penantian ini merangkak lebih cepat sebelum bosan benar-benar menguasaiku. Seharusnya ceritaku dan dia seperti bab terakhir dalam novel bahagia. Happy ending. Bukan seperti cerita hujan yang hanya mengajari untuk menunggu hingga reda atau bahkan tak kunjung reda.

Satpam yang bertugas di depan pagar pesantren sudah beberapa kali pula menyiripkan matanya ke arahku. Melempar satu dan dua pisau yang menyayat dari tatapannya. Aku mengerti, ia mungkin ingin menyuruhku pulang. Tentu saja, sudah hampir separuh hari aku menunggunya di sini, hingga bab terakhir ini akan menjadi sajian yang terhidang menemaniku untuk menikmati senja yang menggauni langit. Sore pun menua, sebelum akhirnya azan magrib muntah, aku harus menemuinya. Paling tidak ucapan perpisahan dan selamat tinggal kulempar untuknya. Memang terdengar menyakitkan, sebagai kado teraklhir dariku sebelum ia akan pergi lama dari Kalimatan untuk kuliah di Pulau Jawa.

Itu tertulis rapi di paling buncu surat yang ia kirimkan tempo hari. Kalimatnya cukup pendek, tetapi cukup sudah menumbuk dada. Ia a-kan per-gi?

Ya, sore ini aku harus menemuinya, untuk terakhir kali, sayang ia belum juga datang menemuiku. Seharusnya ia juga tahu bahwa aku hanya diberi izin hingga sebelum azan magrib untuk keluar pesantren. Akan sangat beresiko jika seorang santriwati melanggar aturan izin dan pulang saat magrib. Ustazdah Habibah tentu akan sangat marah.

Selesai..

Bab terakhir di novel bersampul coklat ini telah usai kutamatkan. Sad ending. Sama seperti aku dan dia, serta penantian ini yang juga berujung sedih.

Ini bab terakhir dalam ceritaku sendiri.

Kau di mana?

 

***

Puisi berparas luka

Aku adalah puisi yang lahir dari rahim kesedihannya. Bait-baitku berbalut airmata yang menyimpan irisan hati. Tuanku itu, sejak mengenal seorang santri di Ponpes Al Falah Putera, hatinya langsung ditumbuhi akar-akar cinta yang kemudian kusut dan lahirlah aku.

Hari-harinya dihabiskan untuk mengurung diri dalam diam serta merenung atau kadang memilih berteman denganku. Santri itu, aku sangat membencinya. Toh, ia yang mengubah tuanku menjadi gadis bermata gerimis. Yang kadang membuatku repot mengerami telor-telor airmatanya.

Bahkan aku juga sering diselipkan dalam surat-surat yang biasa tuanku kirimkan pada santri tak tau diri itu. Bukan apa jawabnya, santri itu malah menertawakanku. Bilang aku adalah puisi yang terlahir cengeng. Namun tuanku tak pernah marah padanya, rasa cinta membuatnya percaya akan banyak hal. Termasuk percaya bahwa santri itu akan membalas perasaannya.

Nihil. Seharusnya aku ingin menasihati tuanku agar tak seperti itu. Buat apa menyukai dan perhatian kepada orang yang sama sekali tak peduli dengan kita. Tetapi aku takut dibilang puisi tak tau diri yang sok tau. Dan tuanku pun tampaknya juga takkan peduli, sebab hatinya terlanjur karam dalam perasaan itu.

Kadang aku kasihan dengan tuanku, yang pada malam hari harus menjadikan surat-surat santri itu sebagai dongeng, sebagai pereda rindu, lantas lalu memungutku untuk dijadikan tisu yang membalut tangisan.

Aku pun kadang menyalahkan diriku sendiri yang berparas luka, siapapun yang membaca bait-baitku hatinya akan terasa teriris sepotong-sepotong. Apalagi tuanku yang berhati rapuh, tapi entah mengapa setiap hari ia tak pernah bosan menuliskanku di buku hariannya.

Tak hanya itu, aku juga kerap ia tulis saat belajar kitab kuning di kelas. Tuanku akhir-akhir ini sering melamun ketika belajar, benaknya sering dihinggapi bayangan tentang santri itu. Dan aku menjadi pelengkap lamunannya, ditulis begitu rapi di belakang sampul kitab. Hingga suatu hari aku kecolongan oleh Ustazdah Habibah.

Tuanku sangat malu, hampir seisi kelas menertawakannya. Ustadzah Habibah yang tau tentang urusan ini lantas menyuruh tuanku untuk berwudhu dan berdamai soal perasaan. Bahwa seorang santriwati tak pantas membuang waktu dan menyibukkan diri dalam masalah cinta.

Dan aku jadi alasan dari cinta yang meracuni pikiran tuanku itu. Sebenarnya Ratih, sahabat tuanku juga sudah sering menasehatinya. Tetapi tuanku bersikap cermin, ia tak peduli apa kata orang, tampaknya tuanku sudah begitu dalam jatuh dalam jurang cinta.

Aku hanya tak tega untuk melihat mata indahnya itu gerimis dan kemudian diruntuhi rinai-rinai kecil. Aku sempat pula membayangkan diriku yang akan bunuh diri, agar tuanku tak lagi menangis ketika bait-baitku mengiris hatinya ketika dibaca.

Namun aku hanyalah puisi berparas luka yang lemah. Kerjaku hanya menyalurkan perasaan-perasaan kalut yang memenuhi kesedihan di hati yang kemudian menghidangkan semangkuk airmata.

Kemaren baru saja satu surat lagi tiba di kamar tuanku, itu dari si santri sialan. Di sana tertulis ia akan pergi mengikuti tes beasiswa kuliah di pulau jawa untuk kemudian akan lama baru kembali ke kalimantan. Memang, santri itu sudah kelas 3 aliyah sedangkan tuanku masih 2 tsanawiyah. Dan itu resiko yang harus ditimpa tuanku karena sudah mencintai orang sepertinya.

Dan tampaknya, aku  lagi-lagi akan  menjadi tisu pembalut tangisnya.

Kumohon, berhentilah menangis..

Aku untukmu

Apa lagi yang bisa kulakukan? Ia tetap saja memilih menjadi gadis bermata gerimis. Wajahnya menyimpan raut-raut puisi luka yang dibasahi airmata.

Ia pun sering bercerita, meluapkan habis, meluruhkan semua kegelisahan hatinya denganku. Dan itu mengharuskanku menjadi badut pengiburnya. Percuma. Ini gara-gara santri sialan itu, andai saja waktu itu, si santri itu tak sok baik memberinya sebuah novel bersampul coklat, gadis itu mungkin takkan seperti ini.

Ya, waktu itu, di sore yang perlahan merangkak tua, saat kami datang dari Pasar Martapura. Jelang akan memasuki pesantren, santri itu menyapanya sok akrab. Memperkenalkan diri dan bercerita bahwa ia merupakan salah seorang penyuka puisi yang dibuat gadis itu. Benar, gadis itu memang pandai membuat puisi. Setiap kata yang keluar dari mulutnya adalah sajak-sajak romansa yang indah. Mungkin itulah pula yang membuatnya punya daya tarik dibanding santriwati lain, ditambah lagi ia mempunyai paras yang cantik, siapapun akan terpesona dengannya.

Lalu santri itu tanpa ragu memberikannya sebuah novel bersampul coklat sebagai hadiah awal perkenalan mereka dan tak lupa ia selipkan selembar kertas berisi tentang biodata dan foto dirinya. Sehari kemudian sepucuk surat datang menghampiri gadis itu. Surat dari si santri, sejak itulah santri itu masuk ke dalam kehidupannya.

Aku tahu secara utuh cerita mereka, santri itu kelas 3 aliyah dan ia 2 tsnawiyah. Bukankah itu adalah jarak yang jauh? Perasaan mereka dipaksakan, namun gadis itu selalu berdalih bahwa cinta tak mengenal jarak.

Dan aku juga tahu bahwa santri itu hanya menganggapnya sabagai teman, sebagai adik kelas. Tak lebih dan tak kurang. Itu kutahu dari seorang temanku yang juga teman dekat santri itu di asramanya.

"Kau seharusnya tak seperti ini, Puspa. Jika memang jodoh, meski kini kau melepaskannya. Membiarkannya pergi jauh, jika ia memang jodohmu, tak peduli sekarang kau menjalin hubungan atau tidak. Di saat yang tepat, waktu yang tepat, ia sendiri yang akan datang menemuimu dengan cara terbaik. Kau tak usah khawatir, Puspa!" ucapku di suatu malam saat hatinya karam oleh kerinduan yang menyayat dan mengadukan semua pecahan hatinya kepadaku.

"Aku masih ada untukmu."

***

Akhir-Akhir ini ia sering dijerat kesedihan. Itu bermula ketika santri itu jarang membalas suratnya. Terlebih di antara surat yang ia terima, santri itu menuliskan bahwa ia akan pergi ke Pulau Jawa untuk mengikuti tes beasiswa kuliahnya.

Dan esok harinya ia langsung pergi ke Ponpes Al Falah Putera untuk menemuinya. Untuk mengatakan ucapan perpisahan dan selamat tinggal sambil merangkul novel bersampul coklat pemberian santri itu. Ia sendirian pergi ke sana, sempat aku menawarkan diri untuk menemani, tetapi ditolaknya.

Ia tampaknya sangat menyukai santri itu. Namun, bagaimana bisa aku melihat orang yang selama ini kusayangi ditampar babak belur oleh rindu yang menggentayangi hatinya.

"Doakan aku saja, Ratih!" katanya sebelum pergi.

Aku tersenyum.

Aku masih ada untukmu, Puspa.

***

"Bagaimana?" tanya Ratih saat aku pulang dengan perasaan lesu.

"Mungkin ia telah pergi," jawabku sambil menikam hati agar tak menangis.

Namun begitu aku melihat wajahnya, kesedihan yang sempat meresap di hatiku mendadak berubah mendidih. Aku sedih begini kok Ratih malah senang? Tertawa? Gerutuku membatin.

"Hei, kenapa tertawa, kau senang melihat sahabatmu menderita seperti ini!"

Lalu ia dengan santainya memelukku dan mendekatkan bibirnya ke telingaku.

"Sekarang aku tak ada lagi saingan, Puspa. Aku mencintaimu."

Aku menelan ludah, merinding mendengarnya. Novel bersampul coklat yang kupegang terjatuh. Sekarang pelukannya terasa berbeda, bukan lagi seperti pelukan seorang sahabat.

Kumohon, hentikan Ratih!

Maibelopah, Selasa, 2 Agustus 2016

  • view 190