Aku Normal

Muhammad Rifki
Karya Muhammad Rifki Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Aku Normal

 

            Kurasa  mereka tidak akan bisa menemukanku di sini. Di gelapnya malam, di bawah pohon beringin lengkap dengan semak-semak mengelilinginya, aku bersembunyi di sini. Masih bisa kudengar teriakan keji mereka, api-api yang menyala-nyala yang arahnya mulai mendekatiku.

            “Usir ia usir,” teriakseorang santri.

            “Jangan biarkan pesantren kita disamakan dengan umat Nabi Luth.”

            “Basmi bibit kemungkaran.’

            Jantungku berdebar kencang, sedari tadi aku mendengarkan ocehan mereka, juga tidak bisa menolaknya.

            “Sudah kubilang, aku ini normal,” langsung kuberujar saat api-api itu menghampiri.

            “Udah deh, jangan banyak omong.”Segera setelah kalimat itu, puluhan santri yang membawa obor tadi mengeroyokiku.Aku ingin melawan andai bisa, namun tidak sempat. “Aku normal…….” Sehabis-habis suara kuberteriak, tapi tetap tenggelam akibat amukan massa.

            Keringat membasahi dahiku, masih bisa kuingat adegan-adegan itu.Ternyata mimpi, pikirku. Jam baru menunjukkan waktu tengah malam. Begitu tenang, bisa pula kulihat teman-temanku yang terlelap dalam mimpinya masing-masing.Kembali kupejamkan mata, mencoba untuk kembali tidur dan berharap semoga mimpi kali ini lebih baik.

            Suara jangkrik bersahutan, juga detak jam yang terus berputar tanpa henti, bagai sebuah teror untukku.Sudah beberapa kali kuperamkan mata, namun belum juga bisa tidur.

            Sekedar untuk memecah kebosananku, kucoba untuk keluar asrama, merenung sambil menatap langit malam.Meski sering kali hembusan angin menerjang rambutku, kadang membuat takut.

            Bathinku terhenyak, ketika mendegar ada suara orang dari dalam asrama.Bukankah semuanya telah tertidur, pikirku.bisa saja itu suara orang yang mengigau, pikirku kembali.Tapi tidak lama kemudian, terdengar suara takbir mengiringi. Tidak, ini bukanlah suara orang mengigau, tapi orang yang shalat malam.

            Langkahku kian mendekatinya, mataku ikut pula mengintip dari balik sumber suara. Nampak seorang yang melakukan sujud. Sudah kutebak siapa ia, Kak Ramlan.Ia orang yang baik dan ramah tamah. Ia juga pintar dalam masalah ilmu agama,bahkan banyak santri yang mengaguminya, sebab itu pula orang-orang memanggilnya wali.

***

“Pak pak…’’Mungkin serupa itu bunyinya, suara langkah kaki berlarian, seiring kumandang azan hampir selesai.

Aku hanya mengamatinya dari balik jendela, berduyun-duyun santri berlari.Meski sedikit buram, tidak jelas kulihat mereka.

Akupun masih terbaring di atas ranjang, tidak kuhiraukan para staff yang berpatroli pagi ini, tetap saja kurebahkan tubuhku di sana.

“Rayhan, kamu sakit?” terdengar suara berat dari arah kananku, mataku memaksa menengoknya, bisa kudapati iadengan sajadah di bahunya, juga bajunya yang basah, mungkin karena  gerimis hujan yang tanpa kusadari merintik.

Lalu aku menganguk, mengiyakannya dan membiarkan tangannya jatuh kedahiku.

“Dahimu panas, biar Kak Ramlan ambilkan obat,” katanya.Kemudian menjauh dari hadapanku.Entah kenapa, dadaku tiba-tiba berdegup kencang, juga mukaku yang ikut memerah semangka.

***

            Matahari mulai meninggi, mengeringkan becek air jalanan yang kutapaki. Sekedarmencari udara segar, serta memulihkan tubuh lunglaiku dengan pancaran sinarnya. Aku berjalan menepi di ujung masjid, membawa gayung dan handuk di bahuku.Tampak sekelilingku terkesan kosong, sepi tidak ada orang. Kecuali ia, selalu saja ia yang menyepi, mengagungkan nama sang khalik sambil menengadahkan tangannya kelangit.

            Oh tuhan, kembali dadaku berdegup kencang, langkahku pun tidak karuan. Dan kini, ia menoleh kesamping, mendapati sosokku yang sedari tadi memperhatikannya. Ia hanya tersenyum tulus menanggapi, bagai senyuman lelaki untuk kekasihnya.

            Aku tersipuh, aku mencintaimu Kak Ramlan, lirihku.

 

***

            Hari-hari berjalan sempurna.Aku dan Kak Ramlan semakin akrab, apalagi setelah itu, tepat saat makan siang, seperti biasa, para santriberdesakan menuju dapur, serupa sekelompok pendemo, berjejalan.Tidak kenal arti teman ataupun lawan.Yang mereka incar hanya suguhan makanan dari petugas dapur. Aku juga di sana, terhimpit di antara santri-santri. Seringkali kurasakan pukulan mereka yang tidak ramah, serta wajah yang tidak bersahabat memenuhi tempat itu.

            Tibalah giliranku untuk maju, namun tetap tidak bisa. Sedang tubuhku mulai melemah, berpasrah saja di sana, hingga rebah di tengah amukan santri. Untunglah Kak Ramlan juga di sana, hanya ia yang menyadari keberadaanku. Perlahan ia masuk dan mendekapku, terasa tenang, meski ada di tengah amukan santri.

            “Rayhan, kau tidak apa-apa, bukan?”KakRamlan menatapku tajam.

            “I…iya, hanya pening sedikit,” aku menoleh ke kiri, membuang malu di wajahku yang memerah.

            “Ya sudah, istirahatlah dulu di sini!”

            “Iya, terimakasih, eh….Kak Ramlan mau kemana?”

            “Mengambilkan makanan,” lalu ia pergi, meninggalkanku sendiri di kamarnya.

***

            Bau yang bermacam-macam menyebar ke segala sudut ruangan.Juga santri-santri yang berjejalan, serupa semut yang berderet.Asap rokok penjaga mini market juga ikut memadukan bau ini,sesak untuk menghirup napas segar.

            Akupun harus rela mengantri di sana, hanya karena membeli mie instanuntuk makan malam.

            “Antriannya panjang banget, yaa?” kata Rahim sambil menepuk pundakku.

“Akhir-akhir ini, orang-orang banyak membicarakanmu.”

“Tentang apa?”

“Tentang kedekatanmu dengan Kak Ramlan.”

“Hah..!”

Aku terdiam mendengarnya, ada yang menyesak di dada saat ia mengatakan itu. Lalu, aku hanya berlalu tanpa menghiraukannya dan kembali kebarisan antrianku.

Hal inilah yang tidak pernah kuharapkan. Anggapan yang keliru, apa salah seandainya berteman akrab, pikirku.

Setumpuk anggapan itu menyesak dalam dada.Sukar untuk kutepis.Biarlah, hanya kuanggap angin lalu, sejenak kuterpenjara dalam diam, duduk di samping koperasi itu, desas-desus asin kudengar lagi, terasa panas di telinga.

Langkahku kian menjadi, menghindar dari mereka. Tepat saat itu, mataku melirik arloji di tangan kiri, diamnya seakan mengatakan waktu senja akan tiba.

“Brukk.....” pintu itu serupa mulut yang terbuka paksa karena tanganku.Bunyinya terdengar agak kasar, namun sedikit lembut kala terkantup.

Suasana benar gelap dengan hanya aku seorang. Pintu depan sengaja kukunci, agar bisa menyendiri. Kulirik kamar Kak Ramlan yang terang, namun kosong.

Kakiku berjalan pelan, menerobos ruangan yang agak gelap. Tampak lelaki di ujung sana, wajahnya memburam, tidak jelas terlihat, di tangannya menggenggam sebuah buku harian dan album dengan sampul biru, eh...bukankah itu milikku, tidak, tidak ada yang boleh membaca buku catatanku ataupun albumku.

“Apa ini?Apa semua ini benar?”

Gawat, aku sungguh binggung menjawabnya apa.

“Jawab Rayhan!”

Aku tertunduk, sambil mengangguk, mengiyakan pertanyaan Kak Ramlan.Perlahan bola mataku berair, hingga meneteskan butiran-butirannya.

“Maafkan Rayhan!” agak pelan aku menyuara.

Bisa kurasakan setelah itu, tangan Kaka Ramlan mengelus mesra pundakku, seolah menenangkanku, meredakan tetesan yang sedari tadi bergelinang.Lalu mengata, “Aku mencintaimu...” ujarnya pelan.

***

Sering sudah kurasakan rajutan kasihnya.Di antara pergantian malam yang telah lama berlalu, aku mendera ringis kalbu di kolong malam.Tepatnya, saat lampu berkelap-kelip menghiasi malam, serta taburan bintang yang juga ikut hadir.

Lelaki itu selau saja tersenyum, hampir tidak bisa kukenali bahwa ia Kak Ramlan. Kata-kata romantisnya, juga belaian mesranya yang kian merayapiku.Sepintas, lamat-lamat kuamati senyumannya, serupa tergambar rasa cemas.

“Apa benar malam ini akhir pejumpaan kita?” dahinya mengerut, membuatku ragu untuk menjawabnya.

“Rayhan.....mungkin kau sudah tau dan sering mendengar gosip panas tentang kita, bukan?” katanya,“Dengarkan Kak Ramlan!, mereka hanya ingin memisahkan kita, kuharap kau akan tetap tabah.”

Seketika, listrik pun padam.Hampir seisi pesantren tenggelam dalam gelap.Kak Ramlan lalu berdiri, berjalan ke ujung asrama. Bisa kuperhatikan gerak-geriknya yang ketakutan, sesaat kemudian, ia berlari menghampiriku.

“Rayhan....kau harus pergi!” tukas Kak Ramlan.

“Mengapa?”

“Orang-orang itu, mereka mencarimu, dan mungkin akan menganiayamu juga.”

“Apa?Apa salah Rayhan?”

Kak Ramlan hanya terdiam, tangannya memusut pelan pipiku.Aku lemah di peluknya, mulutku seakan terkunci dan tidak bisa menuturkan apa-apa.

“Bisa kau tutup matamu, dan dengarkan perlahan!”

Kuturuti saja perintahnya.Dan benar, suara itu, juga teriakan-teriakan itu mulai mendekat, serupa yang kumimpikan dulu.

‘‘Kak Ramlan, gimana nih?” ringisku ketakutan.

“Tenanglah, aku akan menahan mereka dari sini.”

 “Aku akan pergi..” tukasku, seraya berdiri dan menjauh pergi berlari. Tidak lupa kubawa ranselku dengan segala isinya yang kuperlukan.

“Rayhan, tunggu...” teriak  Kak Ramlan. Kakiku terasa tertahan untuk melangkah.Perlahan aku berpaling dan mendapati wajahnya yang galau persis saat kau lihat kain putih yang kusam.

“Aku akan menikahimu, tunggu aku delapan tahun lagi,” cakapnya sambil menyapu airmata.

“Iya , Rayhan tunggu,” jawabku.

Aku lalu berlari dan terus berlari di tengah bising malam, gelap, langkahku agak goyah saat menapaki jalanan yang penuh rerumputan tinggi.Kadang kali menghambat langkahku.Bisa kudengar celotihan mereka.Api-api yang seolah berterbangan, tidak kalah pula bunyi jangkrik yang sahut menyahut di sana-sini.Mirip seperti mimpi yang kualami.

Aku harap mereka tidak menemukanku.Ransel itu kuletakkan di samping pohon.Keluar baju dastar bercorak bunga dengan warna jingga saat kutarik itu dari ransel.Satu demi satu kulepaskan pakaian yang membalut tubuhku.Hawa dingin malam begitu terasa menusuk pori-pori tubuhku yang mulus, juga dadaku yang agak mirip batok kelapa yang bisa mengundang nafsu pria hidung belang.

Dastar itu menutupi tubuhku.Tidak lupa kupakai kerudung bermotif mawar.Sungguh, tidak mungkin ada seorang pun yang mengenaliku.

Di bawah pohon itu kuukir sebuah nama, tempat kumenancapkan janji cinta dengannya, “Annisa Ainor Rayhanah love Ramlan,” yaa, aku seorang wanita, aku normal.

Pengangguran belaka, senin 12 Jan 2015

 

 

  • view 235