Ayo ke Luar Negeri!

Rifka Amalia
Karya Rifka Amalia Kategori Motivasi
dipublikasikan 16 November 2016
Ayo ke Luar Negeri!

Mungkin sebagian kalian ada yang ingin ke luar negeri. Tapi sebagiannya tidak.

Mungkin sebagian kalian ke luar negeri itu mengasyikan. Tapi sebagiannya tidak.

Mungkin sebagian kalian rela untuk mengeluarkan sejumlah uang untuk ke luar negeri. Tapi sebagiannya tidak.

Mungkin sebagian kalian menganggap ke luar negeri untuk mencari pengalaman. Tapi sebagiannya tidak.

Dari semua kemungkinan itu, kamu yang mana?

Aku pribadi sih, aku yang menggangap ke luar negeri itu adalah keinginan, mengasyikan, rela mengeluarkan sejumlah uang, dan mencari pengalaman.

Ya, ke luar negeri adalah keinginanku dari kecil. Bapak selalu berkata kalau aku harus bisa lebih dari bapak, which is ke luar negeri. Memang bapak pernah ke luar negeri, untuk berhaji atau umroh. Tapi maksud bapak di sini adalah beliau ingin aku bisa terbang jauh dari satu negara ke negara lainnya, menjelajah dunia. Entah dengan alasan apapun, sekedar jalan-jalan, mengejar pendidikan, mengejar karir, atau mengikuti pasangan hidupku nantinya. Intinya, aku ke menjelajahi dunia ini.

Aku selalu membayangkan diriku berada di bandara, menunggu keberangkatan pesawat yang akan membawaku ke negara tujuan. Membayangkan bagaimana tegangnya saat take off, landing, atau terjadi turbulensi di dalam pesawat. Membayangkan bagaimana bosan dan pegalnya badan selama perjalanan. Dan membayangkan bagaimana tersenyum lebar ketika sampai di negara tujuan dan memulai petualangan. Untuk beberapa tahun kebelakang, aku hanya mampu untuk membayangkannya. Tuhan belum mengizinkan aku untuk merealisasikannya.

Aku selalu menceritakan keinginanku ini ke orang-orang terdekatku. Responnya? Sama seperti di atas : ada yang mendukung aku ke luar negeri namun ada juga yang mencoba menghalangi aku ke luar negeri.

Terkadang aku terhasut dengan omongan mereka yang menghalangiku pergi ke luar negeri. Alasan yang mereka pakai biasanya seperti ini :

"Ngapain ke luar negeri? Buang-buang uang tau. Mending uangnya ditabung buat beli sesuatu yang berguna"
"Kalo mau jalan-jalan doang mah Indonesia banyak tempat wisata yang lebih bagus kali. Ngapain jauh-jauh ke luar?"
"Sini praktek bahasa inggrisnya sama aku aja. Gausa ke luar negeri"
"Gak kasian apa sama orang tua uangnya dihamburin gitu aja cuma buat ke luar negeri?"
"Mending uangnya dibuat modal bisnis aja"

Masuk di akal sih alasannya sampai untuk beberapa saat aku melupakan keinginanku untuk ke luar negeri. Aku tidak bersemangat lagi. Tepatnya, aku mencoba untuk tidak bersemangat untuk mengejar keinginanku itu.

Tapi selalu saja muncul kecemburuan jika temanku ada yang berhasil ke luar negeri. Aku iri dengan mereka. Terutama saat mereka menceritakan bagaimana serunya pengalaman mereka di sana. Pahit-manis-asam-suka-duka-sedih-senang mereka lalui sendirian di negara orang.Banyak hikmah yang mereka ambil dalam perjalanan ke luar negeri mereka. Ketika aku menanyai mereka masalah biaya kesana, jumlahnya memang cukup mengejutkan. Berjuta-juta rupiah mereka keluarkan.

Namun mereka bilang bahwa uang yang mereka keluarkan akan sebanding dengan pengalaman hidup yang mereka rasakan. Banyak hal yang mereka dapatkan di sana. Pengalaman, pelajaran hidup, pengetahuan, budaya, kebiasaan masyarakat setempat, dan keluarga baru. Banyak hal baru yang membuat mata mereka terbuka. Intinya, mereka mendapatkan manfaat positif bagi diri mereka untuk kehidupannya.

Mendengar hal itu, semangatku untuk ke luar negeri kembali muncul. Meskipun masih saja ada yang mencoba menghalangiku, ya...bodo amat. Aku tidak peduli yang mereka katakan lagi. Ini diriku. Ini hidupku. Ini yang aku inginkan dari dulu. Jika kamu tidak suka, ya silakan saja.

Dan aku pun pada akhirnya mendapatkan kesempatan untuk ke luar negeri.

Pengalaman ke luar negeriku yang pertama adalah ketika Kuliah Kerja Lapangan (KKL) bersama teman-teman seangkatan HI UNSOED 2013. Waktu itu kita memilih Thailand sebagai negara tujuan. Di sana aku benar-benar mendapatkan ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang berharga! Bertemu dengan mahasiswa Thailand (Burapha University) dan berdiskusi tentang MEA, berinteraksi dengan masyarakatnya, menghormati perbedaan budaya, merasakan bagaimana nasionalisme yang tinggi di Thailand, bertemu dan berdiskusi dengan bapak-bapak pejabat KBRI di Thailand, masuk ke UNESCO dan UNESCAP sekaligus berdiskusi dengan perwakilan mereka, duduk di kursi yang dipakai delegates negara-negara untuk membahas suatu isu internasional, mencoba microphone-nya juga hihihi, merasakan gimana mirisnya melihat tempat sholat di UNESCAP, serunya naik Tuk-Tuk rasa roller coaster, shopping sana sini, tawar-menawar harga sampai bingung karena pakai bahasa tarzan, dan masih banyak lagi.

Pengalaman keduaku ke luar negeri adalah ketika mengikuti kegiatan summer camp di Mokpo National University, Korea Selatan. Nah ini yang paling aku tunggu dari dulu. Ya, Korea Selatan merupakan negara tujuan saya dari dulu. Alhamdulillah setelah sekian lama menunggu, Tuhan memberikanku kesempatan untuk kesana. Apa yang aku dapatkan di sini? Banyaaaak sekali! Mulai dari belajar bahasa korea dan kebudayaannya, bertemu dengan teman-teman baru (Jepang, Tiongkok, Korea, Mongolia, Malaysia) yang rata-rata tidak bisa berbahasa inggris, satu kamar dengan orang jepang yang kalau mau komunikasi harus pakai google translate, dengerin suara ngoroknya roommate yang keras banget, toilet yang kadang mampet kotor dan tidak ada tisu, kemana-mana harus berjalan, dimodusin cowok korea dan ngemodusin cowok jepang haha, berteman baik dengan Keiko dan Ai dari Jepang, tidak sengaja makan pork, rela cuma makan nasi dan rumput laut atau kadang makan makanan yang dibawa dari indonesia (kaya kering tempe, kering kentang, abon), susahnya cari makanan halal, nongkrong di CU (semacam 7-11 punya korea), latihan di laundry room, order BBQ fried chicken, main kano di siang bolong yang panas banget, bangganya memperkenalkan Indonesia ke mahasiswa lainnya dan sedihnya berpisah sama mereka di bandara. Itu sepenggal pengalamanku ketika summer camp.

Setelah summer camp, aku dan beberapa temanku stay di Seoul untuk jalan-jalan. Ah...Akhirnya bisa juga berada di kota ini. Sepanjang perjalanan dari bandara ke hostel, senyum tak henti-hentinya terlepas dari wajahku. Aku benar-benar bahagia bisa berada di sini. Sungguh! Di Seoul, aku mengalami beberapa pengalaman unik. Mulai dari kepanasan dan kecapekan karena kemana-mana harus berjalan, salah baca peta, salah naik atau turun di stasiun KTX, ketemuan sama Ai dan Keiko di Namsan Tower, mencicipi street food, ke SM Entertainment dan JYP Entertainment, shopping di Namdaemun, dan masih banyak lagi!

Intinya adalah banyak sekali hal yang tak terbayangkan sebelumnya ketika aku berada di luar negeri. Memang aku harus mengeluarkan sejumlah uang untuk bisa berada di sana. Tapi! Ternyata benar apa yang teman-temanku katakan : uang yang dikeluarkan sebanding dengan pengalaman yang kita dapatkan selama di sana. Bahkan lebih!

Sejujurnya, saat aku mendapat kesempatan untuk summer camp di korea, aku sempat ragu karena permasalahan uang. Namun teman baikku, Nanda mengatakan hal yang sampai sekarang aku ingat jelas. Dia berkata seperti ini :

"Uang bisa dicari. Tapi kesempatan kaya gini nggak dateng dua kali. Yakin mau dilepas?"

Setelah aku pikir-pikir ulang, benar juga perkataannya. Uang atau rejeki bisa dicari. Namun kesempatan ini tidak akan terjadi dua kali. Belum tentu tahun depan ada kesempatan ini. Toh kalau memang sudah rejekinya, nggak akan kemana kan?

Setelah perjalananku ke dua negara tersebut, aku jadi ketagihan untuk ke luar negeri lagi. Aku ingin belajar, aku ingin mendapatkan pengalaman, aku ingin bertemu orang baru, aku ingin merasakan hal baru. Aku ingin mengeksplorasi diriku dan juga dunia.

Karena ini, yang aku inginkan :)

Kalau kamu, bagaimana? :)

  • view 231