Ajari Aku Mengatakan Bahwa ''Aku Teramat Rindu''

Rifdah Qotrunnada
Karya Rifdah Qotrunnada Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 16 Juli 2016
Ajari Aku  Mengatakan Bahwa ''Aku Teramat Rindu''

Embun menumpuk dipelupuk mata. Kerinduan itu datang lagi, pikirku. Tidak terlalu banyak memang yang kurindukan. Hanya saja, beberapa dari mereka kadang sungguh menyesakkan untuk diingat.

Kadang aku pun bingung. Seolah ada yang salah denganku. Merasa menjadi sendu setiap hal-hal kasat mata yang kulakukan. Tidak penting memang untuk dipikirkan. Tapi, sering aku rindu diriku dalam sisi ini.

Aku rindu rumah. Aku rindu suasananya. Rindu dinginnya lantai keramik saat tiba saat kepulanganku. Rindu kamar-kamar yang kadang berantakan. Rindu aroma setiap ruang disana. Rindu teriakan-teriakan Ayah, Ibu, kakak-kakak, dan adik-adikku. Rindu bunga-bunga yang sampai sekarang aku tidak tau namanya meskipun sudah bermekaran tiap bulannya. Rindu pekarangan belakang rumah. Rindu memanjat tower untuk melihat bintang atau melamun tidak penting. Rindu suara-suara mengaji. Rindu gurauan-gurauan tidak penting dan tidak jelas itu. Rindu masakan Ibu dan kejahilan serta nasehat Ayah.

Saat lebaran ditempat lain, jauh dari semua itu, melihat kue pun pikiranku terbang melayang. Memakankue ibu seperti memakan kenangan yang terciptakan. Lucu memang. Karena setiap kunyahannya kadang mengundang air mata.

‘’Mam, kenapa ya aku pasti takut dihari pertama sekolah sehabis liburan?’’

‘’kenapa? Bukannya malah seneng? Ummi dulu kalau masuk hari pertama pasti nanti bagi-bagi kue’’

‘’Hmm.. entahlah.. baru waktu di SMA ini kaya gitu’’

‘’takut sama gurunya? Pelajarannya?’’

‘’Entah Mam, rasanya itu takut, cemas-cemas kaya gitu’’

‘’Kadang, bayang-bayang itu lebih menakutkan daripada kenyataan’’

Apakah salah jika menjadi orang yang terlalu sering merindu? Aku memang jarang mengatakan bahwa aku teramat rindu, tidak pernah malah. Tapi sungguh, aku ingin sekali mengatakannya.

  • view 236