Tentang Kenangan

Rifdah Qotrunnada
Karya Rifdah Qotrunnada Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 April 2016
Tentang Kenangan

            Apakah kamu pernah merindukan masa lalu? Dimana kamu adalah pemeran utama dari semua cerita itu? Entah itu sedih, atu bahagia, atu bahkan memalukan? Pernahkah kamu terpikir untuk mengulangnya kembali? Menyisakan sedikit detik untuk tenggelam kedalam pusarannya? Menikmati setiap moment yang dulu terjadi dan tanpa sadar  ada yang terlewatkan begitu saja?

            Putih merah. Putih biru. Putih abu-abu. Semuanya menyenangkan… mengguratkan tiap goresan yang bermacam rasa. Pernahkah kamu membayangkan kamu takkan lagi melewati masa-masa seperti itu? Masa dimana pertemanan menjadi hal yang paling berarti. Makian yang penuh makna bahwa pertemananmu dengan dia tidak hanya sebatas teman. Candaan yang kadang terlewat batas yang menyebalkan namun membuat tawa tak berhenti. Teguran guru yang kadang kamu lewatkan begitu saja. Kisah cinta antara sepasang remaja yang rumit. Perasaan-perasaan bodoh yang tiba-tiba sering muncul dan mengganggu pikiran. Dan banyak hal terlewatkan lainnya.

            Apakah kamu tidak tertarik untuk mengulasnya dalam catatanmu? Mereka semua itu berharga. Tiap detailnya memberitahu kamu untuk menjadi seseorang. Tiap detailnya membuatmu untuk menyadari bahwa hidup ini menyenangkan, bahwa kamu masih hidup, bahwa kamu masih punya ruang dimana kamu pernah tertawa lepas tanpa banyak beban yang seperti sekarang menindih bahumu.

            Aku terus berpikir bahwa masa putih biru adalah masa yang paling indah. Karna disitu aku menemukan diriku yang sangat bodoh dalam segala urusan. Terjatuh pada tempat yang itu-itu saja. Tertawa untuk sesuatu yang konyol bagiku sekarang. Lamunan-lamunan bodoh dan tulisan-tulisan norak di diary, di meja kelas, di pintu kelas, dipapan tulis. Kisah cinta yang jika aku pikirkan lagi sekarang adalah kisah yang sungguh tidak ingin aku ulang. Tundukan yang sampai sekarang belum bisa hilang saat bertemu dengan orang didalam kotak bernama hati. Bungkam yang membingungkan orang lain saat aku berada didepan laki-laki yang aku sukai. Padahal aku bukan seorang pendiam yang seperti itu.

            Ingatan terus berputar… tentang diriku dimasa putih biru yang mulai menyongsong putih abu-abu. Aku berniat menyatukan lagi hati yang terlanjur tergores luka-luka yang tidak penting itu, merapihkan lagi hati yang terlanjur berantakan. Tapi.. berpisah dengan orang-orang yang mewarnai dua warna seragamku. Putih biru, menjadi berwarna-warni. Aku tidak ingin kehilangan. Tapi hidup harus terus berlanjut bukan? Mereka masih tetap sama. Mereka tetap teman-teman baikku.

            Atmosfir putih abu-abu kembali kuhirup saat menulis catatan ini. Setumpuk tugas dari minggu lalu yang mungkin terlupa dan terlewatkan. Segelas air bening dan semangkuk mie yang menemani. Post-it post-it yang kutempelkan didinding dihadapanku menyapa. Sejenak aku berpikir, ‘’apakah masa putih abu-abu akan seindah putih biru?’’, karna kebanyakan orang selalu berkata bahwa masa yang paling indah adalah masa-masa SMA.

            Ini sudah menginjak akhir semester duaku dikelas sebelas. Melihat diriku yang terus mencari jati diri. Melihat diriku yang terus terjun dalam hal-hal yang lebih penting dibanding dulu. Melihat diriku yang terus tumbuh menjadi seorang gadis yang tidak tomboy seperti dulu. Melihat diriku yang menjadi semakin sering berkhayal. Dan melihat diriku yang jatuh cinta untuk pertama kalinya di putih abu-abu. Semakin kesini, aku menyadari bahwa perasaanku terkadang menjadi begiru rumit dan menyebalkan. Entah itu tentang apapun.

            Aku semakin memiliki banyak teman yang baik. Teman yang tidak hanya teman. Meskipun, aku masih sering berpikir seperti tadi. Karna terkadang terlalu banyak kemunafikan yang terjadi karna bertambah usia. Semakin lama aku juga takut untuk kehilangan mereka. Tidak, bukan mereka maksudku. Tapi kenangan. Ya.. tiap keping kenangan yang kami ciptakan, entah itu sengaja ataupun tidak sengaja.

            Jam siang yang membuatku sering tertidur dikelas. Hembusan angin dari pohon-pohon didekat kelas. Keran-keran air yang kadang saat siang tidak mengeluarkan air. Lantai-lantai kotor saat jam pelajaran akan berakhir. Kulit-kulit kuaci yang berserakan. Matematika dan fisika yang seakan-akan membunuh secara halus pikiran-pikiran yang bebal itu. Biologi yang kadang entah membicarakan apa. Bahasa inggris dan gurunya yang terlalu jujur. Kimia dan gurunya yang kadang membuat tertawa karna mengesalkan. Bahasa Indonesia yang selalu menegangkan. PPKN yang terlalu sering menonton film. 2 jam kosong yang menjadi pelipur lara karna selain hari itu kemungkinan kecil untuk ada jam kosong.

            Kantin-kantin istirahat yang selalu sesak. Dan terlalu sering untuk menjadi tempat bermodus ria para pengagum rahasia. Koperasi yang selalu ditempati oleh para kakak kelas laki-laki. Perpustakaan yang tenang. Pohon bunga Flamboyan yang cantik seperti terbakar karna bunga merahnya. Pot-pot gantung yang kadang kurang terawat.

            Apakah aku akan merindukan itu?

            Kepalaku sekarang sesak dengan pikiran-pikiran tidak jelas yang kadang hanya membuang-buang waktu tidur malamku. Tentang hati yang sedang bermekar. Tentang esok hari yang kadang menjadi menakutkan untuk dibayangkan. Tentang orang tua tercinta, kakak-kakak yang menginspirasi, tentang adik-adik yang selalu cerewet dan menungguku saat aku pulang kerumah. Selalu cerewet untuk membangunkanku saat mereka bangun pagi duluan, saat sehabis sholat subuh untuk mengajakku maraton, saat sore hari membujukku untuk jalan-jalan memakai motor. Aku merindukan keluargaku.. aku merindukan rumah dimana aku benar-benar bisa menjadi diriku sendiri.

            Buku-buku di rak ku sedang berbicara. Mereka sedang kasak-kusuk dengan pertanyaan-pertanyaan, seperti, ‘’Hei, kenapa Rifdah malah mengetik hal tidak penting seperti itu dan bukan mengerjakan tugasnya?’’, ‘’mengapa ia tidak mencoba menghafal hafalan agamanya?’’, ‘’mengapa ia tidak belajar fisika terus ya, padahal ia kan tidak bisa fisika?’’, ‘’mengapa ia tidak ingat janjinya kepada orang tuanya supaya belajar dengan benar?’’.

            Berhentilah bicara dasar buku-buku! Kalian ingin lihat aku seperti yang kalian harapkan? Maafkan aku, itu bukan diriku. Aku memang kadang suka berpura-pura, bukankah semua orang didunia seperti itu? Aku hanya mencoba menjadi diriku. Aku sedang banyak pikiran, kau tau?! Jadi biarkan catatan-catatan seperti ini menjadi pelampiasan, dimana tak orang yang bisa memahami dan mau mendengarkan ocehan yang tidak berguna seperti ini. Biarkan kenangan yang mampir secara tiba-tiba ini singgah.. karna ia berharga untukku…

  • view 207