Hilang

Rifdah Qotrunnada
Karya Rifdah Qotrunnada Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Hilang

    Semua itu berubah sejak ada kata hilang. Kehilangan. Menghilangkan. Dihilangkan. Terhilangkan. Tentang segalanya. Mulai dari yang tidak pasti hingga yang pasti.

Ada seorang penjelajah waktu bercerita kepadaku, ‘’dahulu kala tersebutlah seorang gadis desa yang ceroboh. Ia hidup bersama keluarga yang beranggotakan 6 orang—termasuk dirinya -- yang berkecukupan dan ia merasa bahagia dengan itu. Ia adalah anak ketiga. Suatu hari saat ia sedang dalam perjalanan ke sekolahnya dengan berjalan kaki, ia sadar ia berangkat terlalu siang, ia kayuhkan kakinya lebih cepat dan berlari dipadang rumput yang hijau. Disana ia melihat dua orang laki-laki sebayanya yang sepertinya juga berangkat terlalu siang sepertinya, tapi mereka ap berjalan santai. Gadis itu menyipitkan matanya dan tersenyum masam. Ternyata itu adalah teman sekelasnya disekolah.

Selain disekolah, gadis itu pun pergi ke kota untuk belajar lebih. Ia tidak masuk ruang les melukis, memasak, menjahit, menyulam, atau yang semua pelajaran disekolah ia pelajari. Ia hanya sembunyi-sembunyi mendengarkan dan mengintip dengan hati-hati tiap kelas yang ia datangi.

Tiba-tiba, saat ia sedang mengintip kelas musik. Seseorang menubruk dirinya pelan. Sontak mereka berdua saling ber ‘’ssshhttt’’ mengingatkan. Tapi setelah sekian detik mereka baru tersadar bahwa ada orang lain selain diri mereka sendiri. Mereka pun menutup mulut mereka dengan ekspresi terkejut. Seorang anak laki-laki dengan kulit coklat dan rambut lurus hitam.

Mereka pun terdiam untuk beberapa menit, lantas membuka mulut dan menanyakan ‘’sedang apa kau disini?’’, itu pertanyaan bodoh. Mereka jelas-jelas sedang mengintip kelas les musik disitu. Mereka pun menanyakan nama dan rumah. Setelah malam itu, mereka pun berjanji dan sering bertemu diluar kelas musik itu.

Mereka malah berjanji untuk bertemu dilain waktu selain saat mengintip kelas les musik itu. Saat sedang duduk dipadang bunga –setelah lelah berlarian karena akhirnya mereka berdua ketahuan oleh si pemilik kels les musik--  si gadis berkata pada teman laki-lakinya itu.

            ‘’kau tau? Sebenarnya aku tidak menyukai musik’’, si gadis tersenyum menatap langit  jingga sore itu.

            ‘’e? benarkah?’’, jawab teman laki-lakinya.

            ‘’Uhuh, karena dari keturunan keluargaku tidak ada pecinta musik atau yang berbau-bau tentang musik sama sekali’’

            ‘’tapi kenapa kamu sering sekali mengintip kelas les musik ditempat itu?’’

            ‘’ada alasan lain… aku pernah menyukai seseorang yang menyukai musik. Ia selalu bernyanyi dikelas. Ia selalu belajar memainkan alat musik dan aku selalu memperhatikannya. Tapi, tiba-tiba perasaanku hilang. Hilang bersamaan dengan kepergianku ke desa ini. Aku.. tidak tau mengapa.. berharap aku bisa menemukan remahan-remahan perasaan yang tersisa dengan mengintip kelas les musik’’

Senyap menggantung.

            ‘’kau tidak ingin mengenangnya?’’

            ‘’buat apa? Tidak perlu. Semua itu hilang tak berbekas. Begitu saja menguap tanpa terlihat asap-asap tipisnya..’’

            Teman laki-lakinya pun tersenyum, ‘’kau tidak perlu khawatir.. aku akan selalu mensupportmu!’’

            Si gadis tersenyum getir. ‘’kamu tidak perlu melakukan itu. Sekarang aku sudah menemukanlagi orang yang baru. Dan ternyata.. ia juga menyukai musik’’

            ‘’benarkah? Ia juga menyukai musik seperti kita? Kalau begitu ajaklah ia untuk mengintip kelas les musik kapan-kapan’’

            ‘’hmmm… baiklah, aku akan mengajaknya kapan-kapan’’

Lepas dari percakapan sore itu, suatu hari si gadis tidak sengaja bertemu dengan teman laki-lakinya saat sedang mengambil air di sungai. Gadis itu mengajak teman laki-lakinya untuk bertemu di luar kelas musik. Teman laki-lakinya pun berkata bahwa ia tidak bisa lagi datang ke kelas les musik itu lagi. Ia tidak berkata mengapa ia tidak bisa. Gadis itu tesenyum kecut dan mengiyakan saja.

Alhasil gadis itu selalu sendirian datang mengintip kelas les musik. Bukannya melihat dan memperhatikan, ia malah sibuk dengan pikirannya. Ia menerawang jauh. Tentang seseorang. Ia meneguhkan diri, meyakinkan diri dan berkata dalam hati ‘’aku tidak mau lagi kehilangan’’. Ia pun pulang ke rumahnya sambil berlari kencang. Membiarkan angin memainkan rambut pirang ikalnya. Ia berucap ‘’aku tidak mau kehilangan’’ berulang-ulang kali.

Tiba-tiba ia menubruk seseorang dan terjatuh. Hidungnya berdarah. Ia pun mendongakkan kepalanya ke atas. Matanya membulat.

            ‘’hei? Kenapa kau berlari kencang sekali? Ada apa?’’, Tanya seseorang.

            Gadis itu berdiri dan mencengkram erat baju seseorang itu dan berkata pelan, ‘’aku tidak mau lagi kehilangan…’’

            ‘’e? kehilangan? Apa? Siapa?’’, Tanya seseorang itu lagi dengan terkejut.

            ‘’temanku… perasaanku…’’, gadis itu akhirnya melihat kea rah seseorang itu. Teman laki-lakinya yang sedang membawa satu buket bunga daisy.

            ‘’aku tidak mau kehilangan kamu.. aku tidak mengerti kenapa perasaanku semakin berwujud. Padahal dari awal aku sudah meneguhkan hati untuk tidak menumbuhkannya. Aku ingin menghentikannya, menginjak tiap tunas yang tumbuh… tapi aku tidak bisa. Dan sekarang aku sudah meneguhkan hati untuk mengatakannya, aku tidak mau kehilangan kamu seperti saat aku kehilangan perasaanku dulu’’, si gadis berkata sambil terisak pelan.

            Teman laki-lakinya pun tersenyum, ‘’aku pun berniat ingin mengatakan hal sama kepada seseorang hari ini, makanya aku membawakannya satu buket bunga daisy, yang berarti cinta tersembunyi. Dan ternyata… orang itu telah mengatakan hal itu lebih dulu dibandingkan aku.’’

Si gadis terpana dan menangis, tapi ia menangis terisak bahagia.

            Teman laki-lakinya pun berkata lagi, ‘’kau tau kenapa aku menghilang sementara dari kegiatan kita mengintip di kelas les musik? Karena orang yang aku sukai telah kehilangan orang yang dia seseorang dulu. Aku tidak ingin membuatnya teringat lagi akan orang itu, tapi aku juga ingin bertemu dengannya.. jadi aku bertahan beberapa hari dan kemudian memutuskan untuk tidak datang lagi. Tapi aku juga tidak ingin masuk dalam catatan hidupnya seperti orang yang ia sukai dulu, jadi aku memutuskan untuk jujur padanya tentang perasaanku bahwa aku juga tidak ingin kehilangan dia. Kehilangan kamu.’’, ia pun tersenyum melonggarkan cengkraman gadis itu dan merengkuhnya.

            Gadis itu terdiam kemudian tersenyum. Merengkuh lebih erat lagi teman laki-lakinya.’’

Penjelajah waktu itu berkata bahwa kehilangan itu milik setiap orang. Jadi mulai sekarang aku akan terus meneguhkan hati. Tapi tidak ingin membual dan mengumbar janji kepada seseorang yang aku tidak ingin dia hilang. Kehilangannya. Menghilangkannya. Dihilangkan olehnya. Dan terhilangkan begitu saja dari kehidupannya.

 

        

  • view 85