Aku, Si Pedophobia

Rifa Mahmudah
Karya Rifa Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 November 2017
Aku, Si Pedophobia

“Mama…kenapa mama membuangku? Kenapa ma? Kenapa?!” seorang gadis kecil lugu berkepang dua menarik-narik tanganku sambil menangis sesegukan. Wajahnya mengekspresikan kekecewaan yang begitu dalam. Aku terdiam, kaku. Tak bisa berkata apa-apa. Kupalingkan wajahku meski ingin sekali kuraih dalam peluk, tangisnya semakin menjadi, bahkan berteriak memekakkan telinga. Aku berlari, menjauh darinya namun seketika ia berada tepat didepanku, berkacak pinggang dengan ekspresi wajah marah. Aku berlari dalam gelap, menghindar darinya namun ia lagi-lagi muncul dihadapanku.
Aku frustasi dan jatuh terduduk, “iyaaaaa… maafkan mama nak, maaf…mama salah, mama tidak bisa menyelamatkan kamu” Tiba-tiba dihadapanku muncul sosok bayi dengan wujud yang belum sempurna, tangan dan kakinya bergerak perlahan, kudekati bayi itu dan ingin meraihnya, “aaaaaakkkkk..” wajah bayi tersebut berdarah-darah lalu secara spontan aku menjauh darinya. Dari belakang kurasakan cairan dingin mengalir mendekati tanganku, kulihat ke belakang oh tidak… darah dimana-mana! Seketika itu pula tempat tersebut berubah menjadi lautan darah dan hendak menenggelamkanku. Aku menggapai-gapai sampai akhirnya benar-benar tenggelam didasar lautan darah, kurasakan debar jantungku melemah dan semua hanya tinggal gelap.

“Tidakkkkk…” aku terbangun dengan terengah-engah. Oh tidak mimpi buruk itu lagi. Aku menutup muka dan membaca istighfar berkali-kali. Kulihat suamiku ikut terbangun.

“Kamu mimpi buruk lagi yank?” ujarnya seraya mengelus kepalaku. Aku tak bisa lagi menahan, tangisku pecah dipelukannya. “Aku capek dikejar mimpi itu terus yank, aku capek…” kataku terisak. Ia hanya diam dan menenangkan dengan mengelus punggungku, cara itulah yang biasa ia lakukan jika melihatku gelisah ataupun menangis seperti ini hingga aku terlelap dipelukannya.

Kulihat jam dinding, pukul 06.30 wib. Aku bergegas menuju kamar mandi karena sehabis subuh tadi aku tertidur lagi, kuhampiri suamiku yang sedang asik memilih baju, sepertinya ia mau keluar meski hari ini libur, “mau kemana sih kok pagi-pagi begini udah wangi?” godaku sambil memeluknya dari belakang.

“Eh udah bangun sayang, kamu buruan mandi, kita jalan-jalan kesuatu tempat yang seru pokoknya.”

“Serius?” Ia hanya menjawab dengan senyum merekah dan mengacak rambutku.

Sepanjang perjalanan aku tidak hendak bertanya apapun, biarkan saja ia bebas membawaku kemanapun ia mau. Aku istrinya. Setidaknya status itu untukku. Kami bergulat dengan pikiran masing-masing. Masih terbayang jelas mimpi semalam dan aku benar-benar semakin takut sekarang.

“Aku boleh minta sesuatu? Tutup mata kamu dong…”

“Iya nih aku merem”

“Jangan ngintip ya..”

Entah mengapa perasaanku mulai curiga, aku berjalan dituntun suamiku meski mataku tertutup namun perasaanku mulai berkata lain. Aku merasa berada ditempat yang sedikit ramai dan...oh my God! Aku tau suara-suara itu! Aku terpaksa membuka mataku dan benar saja didepan sana ramai sekali anak-anak kecil berlarian, wajah-wajah tak berdosa yang riang kesana kemari. Tubuhku lemas seketika. Langsung saja kulepas tangan suamiku dan segera berlari dari sana sebelum sampai ketempat tujuan yang sudah kutebak sebelumnya. Aku menangis sejadi-jadinya. Dia mengejarku namun aku terus berlari sampai kurasakan dia menggenggam lenganku kuat.

Shira…Shira tunggu…! Shira sayang dengarkan aku, kamu harus kuat, kamu harus berusaha melawan semua rasa takut itu.”

ENGGAK!! Lepas!” aku berusaha melepaskan diri dari cengkramannya yang sedikit membuat lenganku sakit. “Aku gak bisa Bara! Aku gak bisa…” aku menutup wajahku agar tangisanku tak terdengar menyedihkan. Dia beralih memelukku “Kamu bisa sayang, sampai kapan kamu disiksa oleh ketakutanmu sendiri? Aku cuma ingin bantu kamu lepas dari semua ini, aku juga tersiksa ngeliat kamu kayak gini setiap malam, terlebih setiap bertemu anak-anak.”

“Aku belum siap Bara, tolong jangan paksa aku sekarang.”

“Baiklah ya sudah kita pulang ya..”

sepanjang perjalanan di mobil aku hanya berdiam diri saja. “Maafin aku Shira, aku gak bermaksud bikin kamu takut” aku tetap diam tak menanggapi. Dirumah, aku tetap diam, badanku mulai panas dingin. Suamiku dengan setia menemaniku, membuatkan teh hangat dan bubur kacang hijau favoritku. Ia memang suami yang baik.

“Sayang aku mau berobat ke psikiater, aku juga capek yank kayak gini teru kamu mau kan temenin aku?” kataku tiba-tiba. Ia tersenyum dan menjawab, “ah…akhirnya kamu mau berobat juga yank, oh iya aku punya teman yang punya kenalan psikiater, nanti aku kontek dia dulu ya semoga dia bisa membantu. Udah malem, tidurlah..” katanya kemudian.

“Jadi, bisa kita mulai terapinya?”

“Ya dok, kita mulai saja.”

“Kalau nanti tidak kuat, tidak usah dipaksakan ya bu, pak.. karena hasilnya juga tidak akan baik bagi psikologi ibu, jadi teriak saja luapkan semua ketakutan yang melanda diri ibu jangan ditahan, oke?”

“Baik dok..”

Lalu, sang dokter mulai menghipnotheraphyku, ia memulai wawancaranya dan tanpa sadar aku terus menceritakan kejadian demi kejadian yang membuatku semakin takut bertemu dengan mereka.

Berawal dari mimpi saat kehamilan pertama pada trimester kedua sembilan tahun lalu, kulihat sosok gadis kecil nan cantik berjalan disisiku, aku bahagia. Mungkin ia adalah perwujudan dari bakal gadisku kelak. Namun tiba-tiba gadis itu mulai pudar dari pandangan sambil memperlihatkan wajah takut dan kesakitan. Entah apa maksud dari mimpi itu aku tak mengerti. Awalnya, kukira hanya sebatas mimpi dan aku mulai melupakannya. Tapi sebulan kemudian tragedi memilukan itupun terjadilah.

            Sore itu aku dan suamiku berjalan-jalan ditaman kota, bercengkrama ria sambil menikmati perutku yang semakin membesar, diseberang jalan tampak seorang gadis kecil berkepang dua yang sedang membeli es krim, imut sekali, pikirku. Anakku kelak pasti akan secantik dia. Tapi ketika dia akan kembali kepada ibunya yang berdiri tak jauh dariku, sebuah mobil bak terbuka melaju dengan kecepatan agak tinggi sehingga membuatku spontan berlari untuk menyelamatkan gadis kecil tersebut. Aku berhasil menangkap gadis itu namun malang, sebelum kami sempat menghindari mobil tersebut kehilangan keseimbangan dan langsung menubruk apapun yang ada didepannya termasuk aku dan gadis kecil itu. Tapi, mana dia? Oh tidak.. ia terpelanting sejauh 2 meter dari tempatku dengan wajah memar, darah segar mengalir dari hidung dan pelipisnya. Orang-orang disekelilingku berhamburan, aku ingin beranjak menghampiri gadis tersebut. Tapi perutku sakit sekali sakit….sekali.

            Ya Tuhan..seuatu yang dingin merembes dari pangkal pahaku. Kurasakan tubuhku lemas seketika, detik selanjutnya aku hanya mendengar bunyi sirine bersahut-sahutan. Dan ketika tersadar, kupegang perutku mengecil. Dimana bayiku? Kulihat sekeliling tidak ada siapa-siapa, “Bara…Baraaaa…awwww....”

“Sayang, kamu gak apa-apa?”

“Dimana anak kita Bara?” kulihat ekspresi wajahnya yang tak seperti biasa. Aku mulai tau maksud dari air mukanya itu. Aku tau.

“Gak mungkin, Gak mungkin!! Aku mau liat anakku, aku mau liatttt! Aku meronta-ronta, mencabut selang infus ditanganku dengan paksa hingga darah merembes keluar, kurasakan sakit dibawah perutku namun tetap tidak aku rasakan, suamiku memelukku berusaha menenangkan, tapi hatiku terlanjur hancur.

“LEPAS!! Aku mau liat anak kita Bara!! Ku dorong ia dengan sekuat tenaga hingga telepas dari pelukannya, berhasil. Aku berusaha bangkit dari ranjang namun terjatuh, aku terseok-seok menggapai ranjang untuk bangkit kembali, namun sia-sia, tenagaku tidak cukup menopang tubuhku sendiri, bahkan juga emosiku. Aku berteriak seperti tidak waras lagi, kulempar semua barang yang ada dimeja dekat tempat tidurku, ia berusaha menenangkanku. Prangggg Pranggg…!! piring dan gelas sibuk berbicara satu sama lain, “Gak mungkin…..!!!” Aku hanya bisa menggila dalam tangis. Pupus sudah harapku.

“Assalamualaikum sayang..mama papa datang, kami rindu sekali denganmu nak, bahagiakah kamu disana? Kamu tau nak, betapa sampai hari ini mama masih terus saja terbayang rasa bersalah itu, mama selalu dihantui mimpi-mimpi buruk tentangmu, padahal seharusnya kamu sudah bahagia disurgaNya. Maafkan mama nak, mama tidak seharusnya membiarkanmu diambil mereka. Mama tidak dapat berbuat apa-apa saat itu nak, dan kamu tau? Mama mengabaikan papamu, hanya karena belum berani mencari penggantimu, mama terlampau takut, takut kehilangan untuk kesekian kalinya. Dokter bilang mama harus berusaha melawan ketakutan itu, tapi mama rasa mama tidak sanggup, mama merasa berdosa pada papamu.

Mama sudah berusaha nak, meski gagal dan gagal lagi, tapi Tuhan selalu baik pada mama dan papa, mama akhirnya berhasil melewati itu semua melawan mimpi-mimpi buruk yang selalu hadir setiap malam, menerjang ketakutan yang menyerang setiap kali melihat anak-anak kecil bermain riang, mama berhasil nak.. itu sebuah kabar baik bukan? Kebahagiaan mama dan papa tak terbendung lagi. Tapi nak, dengan mencari penggantimu bukan berarti mama dan papa melupakanmu, tidak sama sekali sayang, kami hanya ingin kamu tau bahwa masih ada cinta yang tertanam di jiwa kami untuk adik-adikmu kelak. Kamu baik-baik disurga ya nak.. jaga kedua pintunya untuk mama dan papa, kami berdua mencintaimu sayang..”

            Kusiram air bunga pada gundukan kecil tersebut dengan hati lapang, dan untuk pertama kalinya setelah sembilan tahun berlalu perutku kembali merasakan sesuatu yang berat bersarang disana, sesuatu yang berharga untuk hidupku juga suamiku.

  • view 157