Bukan Bulan Biasa (1)

Rifa Mahmudah
Karya Rifa Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 27 Mei 2017
Bukan Bulan Biasa (1)

Sore itu seperti biasa, aku dan suamiku melewati senja dengan minum teh dan mengobrol bersama. Apapun. Segala hal kami ceritakan dari yang sepele, masalah pekerjaan, pendidikan, bisnis kami, atau apalah itu namanya yang pasti setiap weekend kami melakukannya. Itu komitmen​. Karena di hari-hari biasa kami sangat sulit untuk duduk berdua. Saling mendengarkan, mencurahkan isi kepala yang sudah 5 hari tidak dikeluarkan.

"Kamu tau hal yang selalu aku rindu dari bulan suci Ramadhan?" Tanyaku memulai obrolan.
Namun sebelum ia sempat menjawab aku langsung menyela, "tidak tidak, bukan bunyi beduk yang selalu menyebut kata "sahurrrr sahurrrr..." Dengan nada khas yang dilagukan turun temurun itu. Bukan pula kumandang adzan Maghrib yang membuat kita bisa melepas seluruh dahaga hari itu."

"So....?" Katanya sambil tetap memandang senja dan menikmati kue kering nya.

"Aku selalu rindu kembalinya dekapan Nya. Rindu belaian kasih Nya dalam uraian air mata pada sepertiga malam."

"Memangnya kamu lakukan itu cuma dibukan Ramadhan aja? Harusnya setiap hari dong.."

"Kesibukan akan dunia yang selalu membuat aku lupa, bahkan sepertinya bukan lupa, bisa dibilang malas. Makanya aku selalu berharap ketemu lagi dengan Ramadan berikutnya, meskipun aku selalu kecewa setiap kali datang bulan suci ini, katamu bulan ini adalah bulan paling diijabahnya seluruh doa-doa dan aku selalu berharap aku bisa menghadiahi kamu......" Aku tercekat dan tiba-tiba saja hatiku teriris.

Ia melirikku sejenak untuk tersenyum seperti tau apa yang membuat kalimatku terputus lalu berkata "Sayang .. Ini bukan bulan biasa, kamu harus merubah mindset, dibulan ini apa yang sebenarnya kamu ingin? Kalau kamu hanya ingin seluruh doa-doa mu dikabulkan. Itu namanya tidak tulus. Sama saja dengan kamu mengharapkan imbalan atas apa yang kamu kerjakan, memang tidak salah kita berharap permintaan dan hajat kita di kabulkan. Tapi... Kamu harus ingat juga, kalau semua hajat dan keinginan manusia Allah kabulkan, maka dunia ini akan berantakan, betapa banyak manusia2 yang meminta hal2 yang tidak baik kan? Ia juga akan kehilangan hamba-hambaNya yang selalu merayu dibalik sajadah nya pada sepertiga malam. Bener gak?"

Aku semakin tercekat..

"Sayangku.. manusia cuma aktor dan aktris yang hanya bisa menerima seluruh skenario yang sudah ditentukan oleh sang sutradara. Nah untuk menghibur kamu, gimana kalau kita melewati bulan Ramadhan ini disuatu tempat yang beda. Kamu pasti suka tempat nya, nyaman, aman, asri, dan yang terpenting kamu bisa fokus sama ibadah kamu. Gimana? Mau?"

Meskipun agak ragu, akhirnya aku mengangguk dan mengiyakan ajakannya.

"Lusa kan kita sudah puasa insya Allah, jadi besok pagi kita udah harus berangkat ya sayang. Jangan telat."

"Allahu Akbar Allah....u Akbar..." Sayup-sayup​ lantunan azan magrib berkumandang.

Aku dan suamiku pun bergegas ke masjid untuk sholat magrib.

Pagi-pagi sekali aku dan suamiku sudah bersiap untuk pergi mengunjungi tempat yang belum sama sekali aku tau dimana, dan suamiku memang sengaja tidak memberitahu ku, surprise katanya, entahlah.. Aku menurut saja.

Setelah kurang lebih 12 jam perjalanan yang kami lewati dengan keheningan, sampailah kami di pelataran sebuah bangunan yang didepan gerbangnya tertulis nama "Pondok Pesantren Darul Fikri" memang asri nan elok. Sunyi dan tentram, 100 meter dari pintu gerbang utama terlihat kubah masjid yang begitu megah. Dengan pelataran taman yang sempurna. 50 meter disisi kiri langsung terlihag gedung 2 tingkat yang didepannya bertuliskan "Ruang Informasi". Suamiku langsung saja menarik tanganku dan mengajakku keruangan itu.

Setelah berbincang sedikit dengan pemberi informasi, kami diajak menuju kantor DKM masjid oleh orang tersebut dan sepertinya kami diminta untuk menunggu seseorang. Aku tetap diam dan tidak banyak bertanya. Hanya menikmati kue kering yang disuguhkan oleh sang pemberi informasi.

To be continued.....

  • view 39