Kejamnya Sang Waktu

Rifa Mahmudah
Karya Rifa Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 September 2016
Kejamnya Sang Waktu

Duhai hati..

Masihkah kau ingin menanyakan sesuatu?

Duhai hidup..

Akankah kau mengajariku sesuatu?

Duhai cinta..

Dimana lagi kau memintaku untuk mendambakan sesuatu?

Tiga hari lagi hari pernikahanku..

Seyogyanya aku berbahagia karena akan segera menyambut mimpi-mimpi yang selama ini terbayang dibenakku tentang indahnya hidup, cinta, dan pernikahan. Tapi tidak denganku, ah entahlah. Diberanda kamarku, aku termenung membayangkan bagaimana akan melanjutkan kisahku. Aku bertanya-tanya apakah aku yakin dengan keputusanku? Apa ini keputusan yang benar yang telah aku pilih untuk hidupku? Ah…. Bagaimana ini? Bagaimana aku meyakinkan hatiku?

“Hati-hati dengan hatiku.. Karena hatiku mudah layu,, jangan kamu bermain-main karena ku tak main-main, aku takkan rela bila kau tinggalkan…” ponselku berdering memainkan lagu favoritku, tetapi aku tetap tak beranjak dari lamunanku.

Dering ponsel terdengar lagi, “ahhh siapa sih? Ganggu aja..” gerutuku kesal karena membuyarkan lamunanku. Kulihat nama di layar ponselku dan tertera nama lelaki yang beberapa hari lagi akan segera menikahiku, aku mengangkat teleponnya dengan malas.

“Assalamualaikum…” sapaku.

“Waalaikumsalam…  Far, dokumen-dokumen kita sudah lengkap semua kan? Aku gak mau sampe ada yang terlewat ya” seperti biasa dia langsung to the point.

“Ya sudah lengkap semua insya Allah gak ada yang  tertinggal”

“Oke kalau begitu.. Assalamualaikum..” Ia mengakhiri percakapan singkat ini.

 “Waalaikumsalam warahmatullah...” jawabku.

Ya… seperti itulah kami biasa berkomunikasi seadanya, tidak ada sapaan sayang, kata-kata manis, tutur manja, atau apapun yang seharusnya biasa dilakukan oleh dua insan yang sedang jatuh cinta dan akan segera menuju pelaminan.

Dezan..

Kamu tau? Semakin dekat hari itu semakin aku ragu dengan pilihanku, bagaimana ini Zan? Dia tidak pernah sepertimu, tidak akan pernah. Aku ingat kala itu, saat kau memutuskan untuk menyerah pada takdir, saat kau memutuskan untuk menerima apa yang telah Tuhan gariskan pada kisah kita, saat aku tersadar bahwa ternyata semua yang telah kita lewati selama tiga tahun yang indah itu sia-sia.

“Farah,, kalau nanti kamu menikah denganku, kamu tidak akan bahagia, kamu hanya akan ngebatin menerima perlakuan keluargaku..” katanya berkaca-kaca, ia mendongakkan kepalanya menahan sesuatu yang akan jatuh dari pelupuk matanya.

“Tapi nanti kalau aku kangen gimana?” Ia tidak dapat membendungnya lagi, butiran-butiran itu akhirnya jatuh juga.

Aku hanya terdiam, tidak ada yang dapat aku lakukan, selanjutnya hanya kebisuan yang menemani pertemuan kita.

“Aku mau pulang..” kataku membuyarkan keheningan.

“Yuuk aku antar pulang..”

Sepanjang perjalanan menuju rumahku kita saling terdiam, tidak seperti biasanya, tidak ada canda, tidak ada tawa, tidak ada cerita seperti yang biasa kita lakukan selama ini. Kita sama-sama terbelenggu dalam pikiran kita masing-masing.

Dezan,

Ingatkah saat kamu berjanji untuk tidak akan membiarkanku berjuang sendiri? Katamu kita akan berjuang bersama menghadapi badai apapun yang menghadang cinta kita berdua. Katamu kita akan mendaki bukit bersama, menatap ribuan bintang pada malam yang sama dan jendela yang sama. Katamu… katamu… ah… terlalu banyak kata-katamu yang terlalu manis sekaligus terlalu pahit untuk aku ingat.

Tiga tahun yang lalu saat kamu memutuskan untuk meninggalkan aku ditengah-tengah keterpurukanku dengan keadaan kita, saat kamu menggantungkan hubungan kita selama hampir satu tahun lamanya, meninggalkan ku tanpa kata, tanpa bicara, lalu menghilang begitu saja, apa kamu tidak pernah memikirkan perasaanku saat itu? Apa kamu terlalu mudah untuk berlalu dan melupakanku?

Aku mencoba terus menghubungimu meski tidak pernah ada respon yang berarti darimu, hingga pada akhirnya aku letih, aku menyerah dengan semua ini, kamu benar-benar sudah tidak memperdulikanku lagi. Baiklah.. Aku memutuskan untuk menghubungimu untuk terakhir kalinya dan hanya untuk mendapatkan penjelasan apakah hubungan kita telah berakhir atau bagaimanalah sesukamu saja, aku sudah tidak aka berharap banyak padamu.

“Assalamualaikum Zan,,” sapaku saat aku tau teleponku diangkat.

“Waalaikumsalam Farah,,” jawabnya.

“Apa kabar?”

“Baik, Alhamdulillah…”

“Kamu kemana saja?” aku langsung to the point.

“Gak kemana-mana” jawabmu singkat.

“Tapi kamu gak pernah hubungin aku sekalipun, kamu menghilang begitu saja tanpa kabar, tanpa apapun, kenapa?”

Hening.

“Baiklah.. aku cuma mau tanya satu hal, kamu masih sayang aku atau gak? Apa kamu masih berharap pada hubungan kita?” tanyaku dengan suara bergetar.

Hening lagi.

“Jawab Zan,, jangan siksa aku dengan diam mu, beri aku kepastian, kamu tidak tau betapa letihnya menunggu..” aku mulai terisak.

Ku dengar ia menghela nafas sebelum akhirnya angkat bicara “Farah.. aku sudah tidak mencintaimu lagi, dulu dan sekarang berbeda, kamu akan bahagia dengan duniamu dan aku akan bahagia dengan duniaku kelak..”

“Jadi itu keputusanmu? Terima kasih Zan, aku memang menghubungi kamu hanya untuk tahu apakah aku harus tetap berjuang dan menunggu kamu atau aku harus menyerah dan mundur, sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum..” segera kututup teleponku tanpa perlu menunggu jawaban dari salamku.

Sejak saat itu Dezan, hidupku berubah, hari-hariku tidak lagi seperti dulu, aku sudah tidak bisa menangis, hanya termenung setiap harinya. Entahlah.. aku sudah tidak mau memikirkan apapun, bahkan aku sempat berfikir untuk tidak akan menjalin hubungan dengan siapapun lagi.

Oh hati…

Dalam sendu kupastikan kau

Setegar karang,

Sedingin antartika,

Sejahanam pulau neraka.

Dezan,

Hari-hari ku kosong tanpa cerita mu, tapi aku sadar bahwa hidup harus terus berjalan maju, mungkin boleh kita sekali-kali melirik ke belakang, hanya melirik bukan melihat apalagi berbalik arah. Ia hanya diperbolehkan untuk mengingatkan kita akan pelajaran yang pernah kita dapat terdahulu. Agar kelak kita tidak akan terjerembab kembali dilubang yang sama.

Aku selalu bertanya-tanya mengapa mereka membenciku? Mengapa mereka hanya melihatku dari satu sudut pandang saja? Hanya karena statusku yang bukan siapa-siapa, suku ku yang berbeda denganmu, adat itiadat mu yang jahanam itu yang tega menghancurkan harapan seorang muda mudi yang bercita-cita tinggi meraih kebahagiaan hakiki melalui sebuah ikatan suci.

Tidak, aku tidak membencimu, aku hanya membenci keadaan, aku membenci jurang yang memisahkan kita, aku membenci tebing yang tidak dapat kita daki bersama. Aku benci perpisahan yang tidak beralasan ini, Zan..

Malam ini, aku terduduk sepi diberanda kamarku (lagi). Sayup-sayup kudengar alunan musik pop yang sering kudengar dari penyanyi cantik Acha Septriasa.

“Aku tak mudah untuk mencintai

Aku tak mudah mengaku ku cinta

Aku tak mudah menyatakan aku jatuh cinta….."

 

Dan aku jadi ingat sebuah motivasi “Orang yang melukaimu adalah orang yang telah memberimu pelajaran paling berharga”. Ya… Memang benar, pelajaran paling berharga adalah rasa sakit. Sebesar apapun rasa sakitnya nikmatilah. Kata seorang sahabat.

Barangkali ada sesuatu yang ingin Tuhan tunjukkan pada kita Zan, bahwa hidup hanya perlu dua hal, yaitu menerima dan bersyukur. Menerima bahwa kamu memang tidak ditakdirkan untuk membersamaiku dan bersyukur bahwa inilah pilihan hidup yang tepat untuk kita berdua.

“Kamu tau apa itu masa depan?” ujarmu suatu sore

“Tau tapi susah ngejelasinnya, memang apa sih?” tanyaku

“Sini sini, aku mau jelasin ke kamu beberapa hal tentang masa depan”

Serta merta aku mendekat padanya. “Apa itu Zan?”

“Masa depan itu gak bisa digambarin dengan kata-kata Far, tapi yang jelas yang aku yakini adalah masa depanku itu kamu..” tersenyum tulus. Senyum yang ikhlas. Senyum yang menandakan kesungguhan cintanya. Aku rindu senyum itu.

“Aih… gombal” aku cubit lengannya dan ia tersenyum membelai kepalaku yang berbalut jilbab biru. Biru warna favoritnya. Kebiasaannya yang paling aku rindu adalah membelai kepalaku. Aku merasa amat dicintai dan dijaga dengan baik olehnya.

Dezan,

Ingin sekali aku teriakkan pada dunia bahwa aku masih mencintaimu, dan mungkin kamu pun masih mencintaiku, entahlah…

Sudah empat tahun sejak pembicaraan di telepon itu, aku sudah kembali menemukan seseorang yang berani menerimaku seutuhnya. Aku tidak pernah benar-benar jatuh cinta padanya. Aku hanya mengaguminya. Sebatas itu. Ia berbeda denganmu. amat berbeda, tapi aku tidak patut untuk membandingkannya denganmu.

Yang ku tau, hanya pernah ada satu nama yang sering aku sebutkan dalam doa-doa panjangku, dalam bait-bait sajakku, dalam sentuhan-sentuhan puisiku, juga dalam setiap tarian penaku. Kamu.

“Onde… Ini kawannya Dezan kah? Cantiknyaaa… Semoga cepat menyusul abang kau Zan..” seorang ibu paruh baya beserta teman-temannya berkata dalam bahasa daerahnya seraya memandangiku takjub.

“Enak saja, bukanlah bu… Dia hanya teman biasa, calonnya Dezan sekampung jauh  lebih rupawan dan pandai  pula darinya, siapa ini Zan? Jangan dekat-dekat kau Zan!!” jawab ibunya ketus dan menatap tajam ke arahku dan ke arah Dezan.

Serentak ibu-ibu yang sedari tadi tersenyum ramah padaku langsung berubah jadi acuh. Tuhan… ini sungguh menyakitkan.

Dihari itulah kejadian paling memalukan buatku sekaligus penghinaan terbesar dalam hidupku. Di hari pernikahan abangmu, kau ingat? Kau ingat saat ibumu memelototiku? Kau ingat saat ayahmu berpaling muka ketika aku menyalaminya?

Sejak hari itu keluarga besarmu melarang keras kamu berhubungan denganku apapun alasannya. Mereka beranggapan bahwa aku dan adat istiadatku sangat bertentangan dengan adat istiadatmu.

“Hati-hati dengan hatiku.. Karena hatiku mudah layu,, jangan kamu bermain-main karena ku tak main-main…” tiba-tiba ponselku berdering dua kali.

“Assalamualaikum…” aku sudah tau siapa yang menelepon diseberang sana.

“Waalaikumsalam Far,, aku sudah didepan rumahmu nih, yuuk kita berangkat” itu suara Aswin, tunanganku.

Aku bergegas turun dari kamarku dan bergegas menemui Aswin, kita memang sudah berencana untuk menghadiri seminar khusus pernikahan yang selalu diselenggarakan oleh pihak KUA semacam nasihat dan penyuluhan bagi para calon mempelai sebelum melangsungkan Ijab Qabulnya.

“Hai orang-orang yang beriman, tidak halal bagi kamu sekalian mempusakai wanita dengan jalan paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan pekerjaan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (Q.S Annisa ; 19)

Salah satu ayat Al-Qur’an yang disampaikan oleh ketua KUA kecamatan Senen tersebut agaknya memang tepat untuk kondisiku saat ini. Mungkin aku memang harus bersabar menghadapi pergulatan batin yang kian menderu-deru setiap harinya. Bagai pemburu yang bersiap menembakkah panah kearah mangsanya. Bagai nyanyian burung merpati yang semakin lama semakin parau terdengar.

Dua hari lagi hari pernikahanku, Zan,,,

Rumahku sudah ramai dengan kerabat dan sudara-saudara dari ayah dan ibuku, mereka turut serta mempersiapkan segalanya. Hiruk pikuk yang terjadi dirumah ini menambah kekhawatiranku. Semua bersuka cita, riang gemira. Hanya ada satu mata yang selalu terlihat redup. Hanya ada satu wajah yang terlihat naïf. Membohongi dirinya sendiri.

“Dia adalah pilihan terbaik Zan..” Gumamku

Dia bahkan mungkin lebih sempurna darimu, dia punya segala yang aku butuhkan. Dia benar-benar telah siap menjadi seorang suami, seorang ayah. Smart, finansialnya bagus, karirnya mulus, apalagi Zan?

Tetapi apakah dia mencintaiku sebesar aku mencintaimu?

Entahlah Zan…

Seandainya kamu datang hari ini dan mengajakku berlari meninggalkan semua ini aku bersedia, aku akan ikut kemanapun kamu pergi, aku akan menjadi bagian darimu lagi. Dan kamu tidak akan pernah pergi lagi dariku.

“Aku mau mengajakmu ke suatu tempat..”

“Kemana Zan?”

“Udah ikut aja…”

Setibanya ditujuan, kamu tertawa melihatku terheran-heran, ah.. aku selalu jatuh cinta dengan caramu tertawa.

“Kita ngapain ke kuburan?”

“Nanti kamu juga tau Far… Jangan bawel..” ujarnya seraya menarik tanganku

Lalu kita telah tiba ditujuan, kamu langsung berjongkok memberi salam. Aku ikut berjongkok dan memperhatikan. Disitu tertulis “Lastari Pilliang Binti Bahctiar” nama yang sudah sering aku dengar dari ceritamu. Jadi disini ia tinggal untuk terakhir kalinya. Nama yang selalu kamu sebut dalam setiap doa-doamu. Cinta pertamamu. Malaikat mu. Ibunda mu.

Setelah selesai membacakan yasin dan doa-doa, serta merta kamu mengenalkanku padanya.

“Ma… Dezan datang lagi, kali ini Dezan gak sendiri, Dezan ditemani kawan Dezan Ma… Kenalkan ma, ini Farah..” katanya berkaca-kaca

“Assalamualaikum tante… Kenalin aku Farah, semoga kebahagiaan selalu meliputi tante disurga Nya ya.. Terima kasih sudah melahirkan putra yang begitu hebat, begitu pintar. Seandainya tante masih ada, pasti kita sudah kenal lebih dekat lagi tante..”

“Ma… maaf baru sekarang Dezan kesini lagi jenguk mama, tapi Dezan gak pernah lupa doain mama tiap habis sholat atau dimanapun, Dezan selalu kangen mama, tapi sekarang lihat ma,, udah ada Farah disamping Dezan yang selalu nemenin Dezan, cantik kan ma? Dezan tau selera mama, kalau mama ada disini mama pasti suka dan anggap dia seperti anak mama sendiri.”

“Dezan minta restu ma… Semoga Dezan dan Farah bisa terus berbakti sama mama dan papa. Bisa merawat mama dan papa sampai tua, bisa mendoakan mama dan papa selamanya, Dezan mencintainya ma.. Dezan mau Farah yang gantiin posisi mama dihati Dezan, doakan Dezan agar bisa menaklukan hati papa dan mama Nia yang keras.” Air mata sudah tak terbendung lagi. Kamu tersungkur memeluk nisan ibunda tercintamu.

Dibelakangnya aku hanya bisa menghapus satu-dua tetes mutiara yang serta merta jatuh dipipiku. Dalam hatiku berkata, “Seandainya ia masih hidup, hubungan kita tidak akan serumit ini, beliau sosok yang bijak, baik hati, lembut, penyayang, seperti yang selama ini kamu ceritakan padaku. Dia pasti akan merestui kita. Tidak seperti ibu tirimu yang kejam. Sungguh. Aku pun tidak sudi memiliki ibu seperti dia.”

“Dezan dan Farah pulang dulu ma… Kita akan selalu jenguk mama, kalau mama kangen datang aja ke mimpi Dezan, Dezan akan langsung kesini ma..”

“Assalamualaikum ma..” pamitnya

“Assalamualaikum tante…” pamitku.

Dalam perjalanan pulang, aku ingat kamu masih termenung menyisakan kepedihan. Aku mengerti yang kamu rasakan. Katamu, aku perempuan pertama yang kamu kenalkan kepadanya. Meski pernah ada beberapa perempuan sebelum aku, tapi kau memilihku..

“Aku sayang kamu Zan.. Terima kasih sudah mengenalkan ku ke mama kamu..”

Ia tersenyum. Senyum yang akan selalu aku rindukan.

 Esok adalah hari pernikahanku, Zan..

Petang semakin beranjak, semakin ramai pula suasana kediamanku. Nanti malam akan ada pengajian syukuran pernikahan kami. Yang lain sibuk bantu-bantu didapur dan aku hanya terdiam dikamar. Konon calon pengantin tidak boleh melakukan apa-apa lagi, apalagi malam menjelang hari H. Pamali katanya. Entahlah, biarkan saja namanya juga orang tua turuti sajalah toh aku juga sedang tidak bersemangat melakukan apa-apa.

Apa kamu sedang melihat bintang favorit kita Zan?

Diantara sayup-sayup suara orang-orang membaca kalam Illahi, aku terduduk diatas loteng lantai tiga rumahku. Ada ruang kecil yang berfungis sebagai kamar adikku yang laki-laki. Hanya setengah bagian saja, setengahnya lagi adalah atap rumahku. Disinilah aku biasa terduduk dan melihat bintang favorit kita. Kamu di balkon mu dan aku di loteng ku.

“Aku mau nyanyiin kamu satu lagu, dengerin yah..” seraya mulai memainkan gitar kesayanganmu.

Reff :

Aku disini.. Diatas awan

Aku tertawan paras cantik rupawan

Tak jemu-jemu aku memandang

Inginku merayu dengarkan aku berlagu.. 

“Ih…. Dezan….” Hanya itu yang bisa aku katakan dan seketika mencubit lengannya.

“Awwww… sakit ih…” katanya meringis

“Suka gak?”

“Suka bangetttt ini lagunya Al-Ghazali kan? Jadi kamu ngasih lagu ini buat aku?”

“Kok kamu tau? Iya pas banget sama perasaan aku hehehe..” katanya terkekeh.

“Satu lagu lagi ya… Kalau yang ini beneran spesial. Yg ciptain aku sama Bang Puja. Buat kamu…”

Kamu pun mulai memainkan alunan gitar mu.

Reff :

Jika kita telah ditakdirkan untuk berpisah

Mungkin itulah yang terbaik untuk kita berdua

Bila malam datang ku akan berjuang untuk bisa memilikimu

Dan terus berharap kau kan kembali tuk bisa lagi mencintai aku

Apa adanya…. Ouwooooo…

“Sukaaaa…. Makasih Zan, bagus bgt sih karyanya. Kembangin dong..”

“Biasa aja kali Far, kalau orang lagi galau emang biasanya jadi kreatif hahaha” Bang Puja menimpali sambil terkekeh dari ruang tengah yang tak jauh dari tempatku dan Dezan berada. Di beranda rumahnya. Disinilah kami berbagi. Apapun. Tiada yang terkecuali.

“Farah… Kamu dimana nak?” Ibuku tergopoh-gopoh menaiki tangga sampai ke lantai tiga rumahku. Usianya sudah tidak muda lagi memang. Sudah sedikit kelelahan kalau harus menaiki tangga hingga ke lantai paling atas.

“Ya bu…”

“Dibawah ada Ibu dan Ayahnya Aswin, temui lah calon mertuamu calon orang tuamu juga kan..”

Dengan malas aku beranjak dari tempatku berkhayal “Iya bu…”

Tibalah hari ini, hari pernikahanku, Zan..

Seluruh keluargaku telah berkumpul dan bersiap sejak pukul 05.30 WIB untuk segera menuju tempatku akan melangsungkan “Ijab Qabul”. Masjid Arief Rahman Hakim Universitas Indonesia Jakarta Pusat menjadi pilihan terbaik karena ayahku salah satu pegawai terbaik disana.

Jantungku sudah tidak ingin berada di tempatnya lagi. Sepertinya ia akan memilih untuk berhenti saja memompakan darah ke tubuhku. Dingin dan pucat yg kurasakan, bukan karena grogi akan menjalani prosesi yang sakral itu, tetapi lebih kepada…. “ayo kita kabur saja!!” batinku berteriak.

Rombongan calon mempelai pria sudah mulai memenuhi pelataran masjid. Aku sudah ditempatkan khusus diruangan terpisah untuk tidak mendengar dan berdampingan langsung dengan calon suamiku. Calon imam hidupku. Aku sempat melihatnya tersenyum memandangku. Aku membalas senyumnya dengan hati teriris. Oh…. Inikah jalanku…

Waktu..

Aku berhenti berharap padamu

Kau terlalu kejam

Terlalu naïf

Dan aku membebaskanmu

Menelan seluruh harapku

Hingga mati….

Hinggga sunyi..

 Mulai hari ini aku telah SAH menjadi nyonya Aswin Munawwar, istri dari seorang pria sederhana yang selalu aku ragukan, akankah ia mencintaiku sebesar aku mencintai dirimu?

Farah yang baik,

Tiadalah pena-pena yang kumiliki dapat menarik memenuhi ruang kosong.

Pada secarik kertas putih nan polos ini

Tiadalah hati yang kumiliki jua

Dapat berucap dusta dan menodai

Kesucian cinta..

Namun apalah akal ku lagi

Nama yang selama ini telah aku hapus

Tetiba menyeruak muncul dalam sekelebat bayang semu

Ah… begitu indah masa lampau kita saat itu

Sungguh elok perjalanan kita..

 

Farah yang baik,

Semua pasti ada akhirnya

Sakit dan deritapun akan jua akan ada penyembuhnya

Maafkan orang yang telah menghancurkan benih-benih yang kau tanam

Yang takkan mungkin dapat tumbuh dengan sendirinya

Meski kini kita tak akan pernah lagi bersama

Dunia menyaksikan bahwa

Kita akan sama-sama bahagia dengan dunia kita yang baru

Salam untuk suami mu..

                        -Dezan Altiar-

 Kulipat kembali kertas kecil itu, kutemukan dalam tumpukan berisi kado-kado pernikahan dari semua kerabatku, ya.. termasuk kamu. Di hari itu aku tidak melihatmu dan mungkin sejak saat itu aku tidak akan pernah melihatmu lagi. 

“Yank… ngapain masih diluar aja? Nanti kamu masuk angin loh.. Petualangan kita besok masih panjang masih seminggu lagi. Sini masuk” suamiku mengingatkan. Mungkin benar, esok akan jadi petualangan kita yang menyenangkan. Setidaknya untuk dia.

“Iya… kalau kamu capek istirahat aja” jawabku pendek

“Gak mau ah aku mau ditemenin kamu..”

Aku masih betah berlama-lama terdiam melihat pemandangan kota Batu yang beserta sejuta bintangnya terlihat berseri-seri. Malam ini begitu dingin. Sedingin perasaanku. Entahlah… aku sudah menjadi istri orang lain sekarang. Dan bukan kamu Zan… Bukan nama yang selalu aku sebut dalam doaku. Buka nama yang selalu menjadi bagian dari cerita hidupku. Bukan nama yang selalu menjadi tokoh utama dalam setiap tarian penaku. Bagaimana perasaanmu Zan? Apa kau baik-baik saja? Kalau ya, mengapa kamu tidak hadir di acara ku? Apa kamu takut membuatku menangis dan mengingat semua kisah pilu kita? Apa kamu takut kamu justru kamu yang akan menangis dan meratapi kegagalanmu? Semua itu hanya hatimu yang tau.

Terima kasih Dezan Altiar…

Terima kasih..

Terima kasih..

Aku menutup pintu-pintu dan jendela balkon kamar hotel lalu menghampiri suamiku, melihatnya lebih dalam lagi, apa benar dia mencintaiku? Aku tersenyum tipis padanya. Ia membalasnya dengan pelukan mesra lalu terlelap.

Dezan,

Kamu tau? Malam ini indah… Aku lihat banyak bintang diatas sana. Seperti yang sering kita lakukan dahulu di balkon lantai dua rumahmu. Kali ini dengan pemandangan yang sama, aku melihatnya juga dari balkon lantai dua kamar hotelku. Bedanya hanya aku melihatnya sendiri. Tak mengapa… Setidaknya aku masih bisa menikmatinya. Meski tanpa kamu.

Semoga malam ini dan malam-malam selanjutnya aku masih tetap bisa melihat bintang favorit kita. Dan memandangnya bersamamu.

Meski tidak dalam satu bingkai jendela.

  • view 310