The Power of Love

Rifa Mahmudah
Karya Rifa Mahmudah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 September 2016
The Power of Love

Selamat malam wahai Rembulan…

Biarkan aku berkisah, bukan tentang siapa-siapa, bukan tentang apa-apa pula.

Hanya sekelebat kisah hebat yang seringkali terjadi dalam suatu kumpulan keluarga hebat tentunya.

 -Ramadhan 1437 H-

Ini kali pertamaku melewati bulan suci Ramadhan dengan jabatan yang berbeda, ya… Istri.. itulah jabatan yang paling dinanti-nanti oleh setiap kaum wanita tak terkecuali aku tentunya. Betapa menyenangkan memiliki jabatan hebat itu. Meskipun jabatan itu memang belum lama ku emban, namun dimataku, keseluruhannya memiliki arti tersendiri bagi yang sudah memiliki jabatan yang sama sepertiku. Usia pernikahan kami baru akan menginjak 12 bulan, artinya belum genap satu tahun aku mengemban jabatan sebagai seorang “Istri”

Istri dari lelaki yang hebat, tangguh, dan pekerja keras tentunya. Jujur saja, hidup kami masih berkecukupan meskipun tidak berkelas seperti mereka-mereka yang memiliki Mercy, BMW, dsb. Setidaknya untuk makan sebulan kami tidak perlu bersusah susah. Dan selama hampir satu tahun kami bersama, kami masih tinggal dirumah orang tuaku.

Sebenarnya ini merupakan keinginan ayahku yang memang masih belum rela kehilangan buah hatinya yang tertua dan yang paling dicintainya. Bulan demi bulan kami lalui dengan baik, meskipun tidak jarang keributan-keributan kecil mewarnai. Dan di Ramadhan kali ini, terasa lengkap sudah keluarga inti ku dengan bertambahnya anggota baru, dialah suamiku.

Sahur, berbuka puasa, sholat tarawih berjamaah sudah menjadi rutinitas setiap manusia dibulan yang suci ini. Namun ada yang berbeda pada tahun ini. Aku menyiapkan sahur untuk anggota baru keluargaku. Bahagia rasanya melihatnya menyantap masakanku dengan lahapnya. Begitu pula ayah ibu dan adik-adikku.

Malam ini Rembulan,, aku melihat wajah letih suamiku setelah seharian bekerja dan ikut tarawih keliling dari kantornya. Aku usap lembut pipinya, ku cium harum rambutnya. Ini yang dinamakan cinta yang sebenar-benarnya cinta rupanya.. Berjuang menafkahiku, menafkahi calon buah hati kami.. Oh…

Sejak pertama kali menikah dengannya baru kali ini aku melihatnya seletih ini. Tidurnya sungguh menunjukkan ketentraman, aku semakin bertekad untuk selalu sehidup sesurga dengannya. Pasti. Jika Allah berkehendak.

-Syawal 1437 H-

Ramadhan telah terlewati,, begitupun kisah-kisah hebat didalamnya. Ini kali pertama pula aku berlebaran bersama sosok yang sudah dapat kugandeng tangannya, kukecup pipinya, dan kuajak ia ke tangga menuju surgaNya.. Keluargaku semakin lengkap dengan kehadirannya disisiku. Semua serba pertama kali ditahun ini. Berkunjung ke rumah keluarga suami pun pertama kalinya. Mudik bersama suami pertama kalinya pula.

Dan di suatu malam yang dingin diselimuti embun perkotaan, ayahku memanggil kami sekeluarga untuk berkumpul  diruang tamu. Biasanya hal ini memang rutin dilakukannya untuk menjaga keutuhan dan keharmonisan keluarga kecil kami. Namun kali ini berbeda, keluarga kami bertambah satu dan mungkin ini merupakan kali pertama pula baginya.

“Anak-anakku yang bapak cintai dan bapak sayangi…” Ayahku membuka kalimat dengan parau

Kulihat kerutan didahinya sudah semakin jelas dan termakan usia, meski begitu cahaya diwajahnya tetap terpancar indah dihiasi senyum tipisnya.

“Selama kurang lebih hampir satu tahun ini kita tidak berkumpul seperti ini lagi, bapak kangen… sangat kangen dengan rutinitas ini. Oleh karenanya sengaja bapak kumpulkan kita disini untuk kangen-kangenan dengan kalian anak-anak dan istriku tercinta..”

Kami hanya mendengarkan dengan seksama.

“Dan untuk melestarikan rutinitas ini, bapak berfikir untuk mengadakan pertemuan khusus setiap satu minggu sekali dihari Minggu malam, namun kita tidak sekedar kumpul biasa, ngobrol ngalor ngidul, tetapi disini kita adakan khataman Qur’an dan mengkaji tafsirnya. Dikarenakan kita selalu khataman maka disini bapak akan bagi kewajiban membaca al-qur’an minimal 1 juz perhari sesuai jadwal yang telah ditentukan.”

“Bapak berharap dengan adanya rutinitas ini, akan memperkuat jalinan cinta didalam keluarga kecil kita, keluarga yang barokah, sakinah mawaddah warrahmah dunia akhirat, sehidup sesurga..”

Tak terasa mataku telah dipenuhi butir-butir indah, aku tak kuasa untuk tidak memeluk cinta pertamaku itu, ayahku,, cintanya yang begitu besar terhadap keluarga membuatku semakin mengerti bahwa hidup tidak hanya melulu soal cinta. Cinta didunia tiada kekal. Tetapi dengan cintanya ia bertekad untuk mengajak seluruh keluarganya memasuki surgaNya bersama-sama kelak.

Sejak saat itulah aku, suamiku, dan seluruh keluargaku termasuk adik bungsuku semakin rajin dan bersemangat membaca kalam-kalam Illahi, karena selain target yang diberikan oleh ayahku, semakin lama kami menjadi terbiasa dan menjadi hal yang sangat menyenangkan. Bisa berkumpul setiap minggunya, bertilawah bersama-sama, mengkaji tafsir-tafsir dari ayat-ayat cintaNya yang indah, berbagi ilmu,berbagi cerita, apa saja kami lakukan asal dapat berkumpul bersama mereka yang aku cintai dan yang mencintaiku tentunya.

Peluk keluargamu,, ajak mereka semua menuju surgaNya bersamamu,, jangan sia-siakan kehidupan yang singkat ini bersama mereka yang mencintaimu..

Rembulan…

Malam ini ku peluk suamiku erat,, dan berjanji untuk selamanya berbakti kepadanya, serta menggapai tangga menuju surga bersamanya, sehidup sesurga, Insya Allah…

  • view 256