Bunga Ilalang

riesti wardani
Karya riesti wardani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 20 September 2016
Bunga Ilalang

Apakah kabarmu hari ini mentari?
Masih setiakah kau dengan janjimu untuk terus bersinar setiap hari menerangi bumi?
Ataukah hari ini awan mendung menggelayutimu...

Engkau mungkin tegar mentari, tidak rapuh sepertiku....
Mungkin juga kau tidak mengenalku setelah aku memutuskan melangkah pergi dari cahayamu

Kau tahu siapa aku?
Ahh, kau mungkin juga tidak terlalu mengenalku, Aku satu dari ribuan bunga yang engkau sinari setiap hari...
Yang hanya dapat memandangmu setiap hari dari kejauhan
Yang hanya dapat merasakan sinarmu...terpancar dengan kehangatan
Saat aku buka mataku dan kau bersinar hangat dengan senyummu, aku tahu dan sangat yakin aman di sisimu.

Mentari....ternyata bukan hanya aku saja yang kagum padamu dan berharap sinarmu tak terbagi untuk terus menyinariku sepanjang hari. Aku egois.

Bunga-bunga disini yang jauh lebih cantik dariku ternyata menyimpan kekaguman yang sama.
Kekaguman dengan harapan....
Kekaguman yang setiap hari semakin bertambah dan berharap kau pilih salah satu dari kami untuk dapat merebut simpatimu.

Gladiol dengan tangkai jenjangnya yang indah. Anggrek dengan warna bunganya yang terang. Tulip dengan kuncupnya yang malu-malu. Amanda dengan kelopaknya yang merekah. Mawar dengan harum dan warna bunga yang siapapun dapat menoleh untuk berdecak kagum Melati dengan warna putih sucinya.

Kau tahu aku siapa Mentari?
Perkenalkan namaku, aku bunga ilalang...aku tumbuh saat ilalang mulai menjulang di waktu itu ia perkenalkan engkau kepadaku

Saat itu, kekagumanku masih belum bertambah, masih merasa bahwa itu memang tugas utamamu...menyinari.

Mentari maafkan aku, kalau kekagumanku semakin lama semakin bertambah, hingga kemudian aku memutuskan untuk pergi.

Sekarang, aku berada disini, di ruangan gua yang gelap, sulit untukku menghilangkan kebiasaan di pagi hari terhangatkan oleh sinarmu. Sangat sulit...

Tapi kau tahu mentari?, aku sering mengintipmu dari celah kecil di gua ini dan bersyukur menghela nafas saat setiap pagi kau hadir terbit di ufuk timur..

Aku sangat mengkhawatirkanmu, khawatir dengan datangnya awan gelap yang mengungkungmu dan memaksamu untuk pergi sehingga kami tak dapat merasakan hangatmu.
Sampai akupun tidak peduli akan diriku yang semakin kering mengerontang.

Mentari, Saat masa itu tiba....aku kemudian tiada lagi di sini...., menjemput takdirku di tempat tanahku bertumbuh, menghadapi takdir Illahi
menjalani kepergian yang abadi.
Lalu aku menjadi tahu dan menyadari..... Cinta, Setia dan Janjimu hanya satu...

Menerangi bumi......

  • view 203