An Ordinary Friend

riesti wardani
Karya riesti wardani Kategori Inspiratif
dipublikasikan 23 Juli 2016
An Ordinary Friend

Hai Teman....Apa kabarmu?

Dulu, aku tak pernah mengira bahwa kenangan kecil akan memantik kembali hari-hari itu..... seperti percikan api.

Masih?, masih ingatkah teman?...aku tidak tahu awalnya seperti apa pertemenan kita, yang aku tahu kemudian saat SMA di kelas 2, kamu dan aku duduk dalam satu meja dengan segala macam perbedaan yang ada.

Kamu cerewet, lucu, gaul, pintar.

Aku pendiam, biasa saja dan cenderung tertutup

Kamu hebat ....dalam hal bernyanyi,aku tidak,  yang terkadang saat kita bersenandung bersama, aku harus menghentikan suaraku pelan, karena suaramu lebih merdu..

Kamu hebat....pada saat aku menceritakan persoalanku sambil mengutuki hari ini yang menurutku tak baik, saat itu.... kamu dalam masalah yang lebih besar, dan memilih untuk tak menceritakannya sebelum aku selesai bercerita.

Mungkin benar pepatah itu bahwa persahabatan  diawali dengan argumentasi yang panjang sebelumnya.

Ingat ini? Aku sering beradu pendapat denganmu dalam segala hal, kita bertengkar...lalu kemudian kau menangis terduduk di kursi menelungkupkan wajahmu diatas meja dan memilih untuk pulang karena kekesalan dan kesedihanmu. Padahal jam pelajaran belum selesai dan kamu memilih untuk kabur.

Kita berdua adalah perempuan yang keras kepala.

Atau kau masih ingat?, menjelang  istirahat saat uang sakuku hanya cukup untuk membeli dua buah gorengan , kamu berkata....Ayo beli bakso di depan sekolah, aku menunduk dan berkata "tidak punya uang, dan harganya cukup mahal", sambil tersenyum kamu berseru" aku baru mendapatkan kiriman uang dari ibuku tapi jangan bilang-bilang yang lain ya, cuma kamu yang aku traktir...lalu mata kita berbinar dan bergegas  menuju tempat itu.

Menyesakkan saat kamu berkata selepas SMA kamu akan menikah...kamu masih terlalu muda, memikul tanggung jawab sebagai seorang ibu karena calon pasanganmumu usianya sudah tidak muda lagi, yaa... kamu sering bercerita tentang pangeranmu  guru SMPmu...aku dan teman- teman lain hadir dalam pesta itu dan kamu dengan wajah polosmu bergembira menyambut kedatangan kami, lalu keluar dari pelaminanmu meninggalkan pasanganmu yang duduk sendiri, sementara ibumu berteriak- teriak sepanjang pesta mengingatkanmu duduk kembali di pelaminan karena banyak orang datang yang akan menyalami, kami terkekeh melihat perangaimu.

Sudah lewat 18 tahun kita berpisah dan terakhir bertemu saat pesta pernikahanmu,  aku bertanya pada teman yang lain bagaimana kabar dan dimana kamu tinggal,sudah ratusan kali pula aku mengetikkan namamu di google search, berharap kamu masuk ke dalam satu aplikasi media sosial,  setidaknya aku menemukan secuil berita tentangmu.

Hari ini aku terlonjak dan  berteriak memekik kegirangan, tiba-tiba kamu muncul di media facebook dengan foto berjilbabmu yang mungkin sebagian orang sudah menutup accountnya,dan dengan polosnya berkomentar rindu dengan teman-teman lama,  yang membuatkan account facebookmu adalah  anakmu yang pertama, ... 

Sederhana....kamu telah menjelma menjadi seorang ibu dengan 3 orang anak, mungkin kesibukan itu yang membuatmu terputus dengan dunia luar.

Tahukah teman...aku hanya ingin bertemu dan bercerita denganmu mengenai kehidupan yang sudah kita jalani, tanpa harus membandingkan dan menyombongkan keunggulan kita masing-masing, lalu bertukar air mata, memberi doa dan semangat.

Yaa...aku suka dengan kesederhanaanmu, tetapi pertanyaannya Masihkah kau sesederhana itu teman?

  • view 277