Membunuh Rindu

Marisa Jambak
Karya Marisa Jambak Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 08 Mei 2017
Membunuh Rindu

MEMBUNUH RINDU

Aku tahu dan sangat paham sekali jika hati telah menjatuhkan pilihannya, apapun tidak akan berarti dan bisa untuk mnghentikannya. Seperti aku yang sangat yakin dengan perasaanku kepadamu. Aku tidak menginginkannya. Sudah terlalu sering aku melakukan kesalahan ini.

Hanya saja bagaimana mungkin aku bisa tidak jatuh hati padamu, kau begitu indah. Senyum simpul yang selalu menghiasi sudut bibirmu, menggodaku. Cukup kuat untuk menarik hati yang rapuh jatuh dalam hangatnya.

“ Uni, bagi makanan dulu..” dan kamu memberikan  senyum termanis yang kamu miliki. Bagaimana mungkin aku akan menolaknya. Terlalu terhipnotis aku didalamnya. Bagai pelangi sehabis hujan yang aku tau selalu jadi favouritemu.

Telah sengaja aku bangun tembok yang tinggi di sekeliling hati ketika pertama kali berjumpa dengan mu. Aku tau tidak akan ada aku dan kamu, kita dimasa yang akan datang. Jalan kita sudah berbeda dari semula. Aku tidak pernah punya rencana untuk jatuh cinta padamu. Hanya saja terkadang hidup begitu lucu. Tidak peduli seberapa kuat dan besar usahaku untuk menceganya. Aku jatuh cinta padamu, pada akhir nya. Entah siapa yang bisa aku salahkan sekarang. Senyummu ataukah hati yang kadang suka bertindak tanpa logika?.

“Aku jatuh cinta padamu”. Aku  menyatakannya dengan lantang. Tapi aku hanya seorang pengecut. Aku hanya bisa meneriakan pengakuanku kepada senja. Entah senja akan menyampaikan kepadamu. Didalam hati tentu saja aku sangat berharap  sampai kepadamu.

Aku yakin engkau tidak tahu betapa beratnya bagiku untuk melawan perasaan ini. Setiap kali harus menikam hatiku ketika rindu padamu memuncak. Malam menjelang, senja dengan angkuhnya memamerkan pendarnya tahu bahwa bersamanya aku berharap rinduku tersampaikan padamu. Seperti padamu, aku pun jatuh dalam sihirnya.

I’ll watch the night turn light blue

But its not the same without you

Because it take two to whisper quietly

Till i look at my hand and feel sad

Cause the spaces between my finger

Are right where yours fit perfectly

                                    (Vanilla Twilight)

Aku telah membaca ribuan puisi dan kata-kata mutiara tentang cinta. Hanya saja itu tidak cukup . Kau adalah puisi terindah yang pernah tercipta. Dengan syair yang tersusun sempurna. Kau adalah melodi dari lagu cinta yang sayup selalu terdengar dari seberang.

                                    ************************

“ Heii Rei, bukannya itu cowok pujaanmu si Raka?” Aku yang  sedang asyik dengan laptop langsung menoleh mengikuti arah yang ditunjuk  Ana, sahabatku. Deg, seperti biasa hati ini akan langsung berdegub tidak karuan walaupun hanya melihatmu dari jauh. What have you done to me? Seakan tau ada yang memperhatikan kau pun menoleh dan menatap langsung kemataku. Seperti biasa dengan senyummu  kemudian melambaikan tangan.

“Annn gimana ini? Duuuh, kenapa dia harus ada disini juga sih, padahal ini kan kafenya nggak terlalu terkenal”. Aku sadar sesadar-sadarnya kalau telapak tanganku mulai mengeluarkan keringat ketika kamu berjalan kearahku.

“Mungkin karena kalian memang berjodoh...” Ana menjawab dengan wajah dan nada tanpa dosa yang membuat deg-deganku makin parah. “Biasa aja , nggak usah gugup banget gitu kali..” Kali ini Ana sukses mendapatkan pelototanku.

“ Boleh gabung? Aku nggak tau kalo Uni dan mba Ana suka nongkrong disini juga..” Dan kamupun duduk dengan santainya  disebelahku. Aku hanya berharap kamu tidak mendengar suara degub jantungku yang semakin kencang.  Aku berusaha memberikan senyum termanis yang aku punya dan berusaha agar gugupku tidak kentara.

“Aku sering nongkrong disini, kopinya enak plus banyak buku yang bisa dibaca. Kalian sering kesini juga?” Aku hanya mengangguk seperti orang bodoh yang lidah nya tiba tiba di makan kucing.

“ Minimal 2 kali seminggu kita datang kesini dengan alasan yang hampir sama ama kamu..” Ana menjadi pahlawanku hari ini. Mungkin aku mulai terjangkit penyakit mengira- ngira. Dalam diam aku mencuri pandang padamu. Aku seperti merasa bahwa kau juga memperhatikanku. Walaupun aku tidak terlalu yakin.

“Oh yaa, kok kita nggak pernah ketemu? Baru ini kayak nya ya..” Kau bertanya kepada Ana tapi matamu tertuju kepadaku, semakin membuatku salah tingkah. Ana tidak membantu sama sekali dengan senyum-senyum simpulnya. Aku menemukan kembali lidah ku yang kelu dan menjawab.

“Mungkin kita tidak pernah datang di hari yang sama atau waktu yang sama..”

“Kayaknya sih gitu, eh kapan- kapan kita nongkrong bareng disini lagi ya” Ajakanmu  bagai alunan semilir angin lembut menyentuh hati ku. Senyumku mengambang sekian persen.

“Boleeeh, ntar kamu kasih tau aja kapan, ya kan an?” Aku menoleh kearah Ana yang memperhatikan gerak gerikku dengan senyum simpul, membuat ku ingin mencubit nya. Sebagai seorang sahabat yang tau gimana perasaanku pada Raka, terkadang dia benar- benar memanfaatkan nya untuk menggoda ku.

“Emang aku di ajak juga?”

“Ya iyalah, ya kan Raka?” Yang di sambut anggukan semangat olehmu. Entah kenapa aku merasakan sedikit kekecewaan jauh di dasar hati  yang dengan cepat aku usir. Aku tidak boleh memupuk perasaan ini lebih jauh lagi. Nikmati aja apa yang ada didepan mata. Karena seperti kata mereka ‘jika memang jodoh apapun yang tejadi pasti dia akan menjadi milikmu’.

Resiko mencintaimu dalam diam adalah aku tidak punya hak untuk merasa cemburu walau bagaimanapun. Ketika kau tersenyum kepada yang lain dengan senyum yang seharusnya menjadi milikku. Hanya untukku!! Terasa ada ribuan jarum yang menusuk jantung. Menyesakkan dada. Mencoba mempertahankan seulas senyum yang bahkan tidak menyentuh mata. Mencintai seseorang yang begitu dekat,  cinta yang terus bertumbuh tapi tak bisa digapai, itu sakit. 

“What  hurts the most

Was being so close

And having so much to say

And watching you walk away

And never knowing

What could have been

And not seeing that loving you

Is what i was trying to do”

                                    (What hurts the most)   

“ Raka kita duluan ya, masih harus ke supermarket dulu..”

“ Ooo ya udah aku ikut sekalian, ada yang mau aku cari juga..” Aku dan Ana saling memandang satu sama lain. Ana tau persis apa arti tatapanku. Aku tau sebagian hatiku bersorak kegirangan sedangkan sebagian yang lain rasanya tidak sanggup lagi menahan perasaan ku sendiri.

Malam itu, malam yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang usiaku nanti. Senyum tak pernah meninggalkan bibirku. Aku tidak peduli dengan Ana yang dengan sabar nya menemaniku. Cinta kadang memang bisa membuat kita menjadi seseorang yang bukan diri kita. Tak pernah dalam hidupku sesemangat ini menyusuri lorong demi lorong untuk mencari apa yang ada dalam daftar belanja. Kamu di sampingku memberikan pengaruh yang luar biasa.

Entah bagaimana lagi aku harus menuliskannya untukmu. Seperti padang yang rindu akan tetesan hujan, seperti itu juga aku kepadamu. Jika ada kamu di dekatku, aku seperti berada dalam ruang hampa yang mana hanya ada aku, kamu dan perasaanku kepadamu. Rindu yang semakin memuncak setiap waktu nya.

Nothing  brings me down

When you are around

Its like zero gravity

The world just disappear

When you are here

When things get messed up

I lift my head up

I get lost in the clouds

There is no sense of time with you and i

(Zero gravity)

Aku tidak mau terlalu lama memeluk kaktus  ini. Semakin lama aku memeluknya maka semakin besar juga luka yang nantinya aku rasakan. Hidup berteman atau malah terkadang melawan rindu, dalam diam hanya bisa menikmati indahmu dari jauh. Di sebabkan aku seorang perempuan aku tidak bisa menyatakan perasaanku padamu terlebih dahulu. Call me old fashioned. Aku hanya bisa memberikan tanda-tanda dan berharap kamu bisa membaca dan mengerti.

Aku tau kata-kata itu. Itu urusanku untuk jatuh cinta padamu, membayangkan, mereka-reka masa depan denganmu. Dan urusanmu juga apakah kamu membalas perasaanku atau tidak. But its killing me. I need a sign!!! Jikalau kamu bukan untukku walaupun berat aku akan membunuh lagi rindu ini seperti sebelumnya. Aku sudah pernah melakukannya sebelumnya. Berat kawan!  Berdarah-darah dan meninggalkan bekas yang mendalam. Tapi jika perlu, maka aku akan melakukannya lagi.

Kamu masih memperlakukan aku seperti biasanya. Berat untukku membaca bagaimana sebenarnya perasaanmu kepadaku. Kamu adalah kamu dengan segala hal yang membuatku jatuh cinta padamu. Layaknya orang yang sedang kasmaran, Ana adalah pelampiasanku untuk menceritakan segala sesuatu tentangmu. Kejadian hari ini yang berhubungan denganmu atau hanya sekedar aku yang terlalu lama mencuri pandang padamu.

                                    *********************

“Uni ntar nongkrong yuk, ada yang mau aku omongin sama uni..”

“Haah?” Aku mendongak untuk mendapatimu berdiri di depan mejaku. Mungkin aku yang terlalu larut didalam lamunan ku sehingga tidak melihat kamu datang menghampiri.

“Ayuuk nanti sore kita ke kafe yang kemaren itu, ada yang mau aku tanyain ke uni..”  tanpa sengaja aku menghembuskan nafas yang tanpa sengaja aku tahan. Mungkin kah? Mungkin saja, bunga itu pada akhirnya mekar dan bertemu sang kumbang. Senja telah melepas rindu berlabuh. Secercah senyum muncul di sudut bibir.

“Ayuuk, mau jam berapa? Balik dari kantor langsung?”

“Boleh, ntar uni tungguin aku bentar ya, mas agus butuh laporan nya” Aku hanya mengangguk.  Kamu pasti bisa membayangkan bagaimana hatiku saat itu. Membuncah seperti baru saja mendapatkan hadiah yang telah lama aku idam-idam kan. Jadilah, sampai jam pulang datang aku tak henti bersenandung yang tentu saja membuat beberapa orang temanku merasa geli sendiri. Aku tidak pernah bersenandung.

“ Jadi...?”

“Jadi...?” Ah, kamu membuatku gugup, aku tidak tau kalau ternyata aku masih bisa lebih gugup seperti ini. Aku rasa mungkin muka ku sudah memerah seperti kepiting rebus.

“Yaa kan katanya ada yang mau ditanyain ke uni, mau nanya apa musti sampai harus kesini segala? Nggak bisa lewat wa aja gitu?” dan aku juga baru tau kalau aku ternyata bisa cerewet sendiri ketika gugup.

“Ooooo itu, nyantai aja uni tarik nafas dulu pesen dulu...” Aduuuuh tuhan. It was criminal, kamu begitu sempurna.

“....uni mau pesen apa?”

“Uni masih agak kenyang sih, jadi juice aja deh..”

“Okeh...” Aku tak bisa menahan senyum ku walau hanya melihat punggungmu. Cinta memang  seaneh itu.

“Uni aku mau nanya tapi jangan diketawain ya, Ana itu orang nya gimana sih?”

 Deg! Kenapa kamu bertanya tentang Ana? Hati ku pun mulai terasa tidak enak. Aku tahu perasaan ini. Aku pernah mengalami ini sebelum nya. Oh nooooo, not again. Berusaha menahan perasaan dan nada bicara aku menjawab.

“ Ana haa, dia baik, sahabat terbaik yang pernah uni punya. Uni nggak akan mau menukar dia dengan apapun, kenapa emang?” Aku memaksakan diri bertanya meskipun aku sudah tau pasti kemana arah pembicaraan ini. Get a grip Reii! Kamu udah pernah melalui nya.

“Ehhhh.....errrrrr.....udah punya pacar belum ya?” Entah cuma perasaanku tapi sepertinya kamu tersipu. Blasss, jelas sudah. Dalam hati dan pikiran aku tidak bisa lagi konsentrasi tapi aku tetap aku yang walau bagaimana pun beratnya menerima ini tapi tidak akan pernah memperlihatkan perasaan yang sebenarnya.

“Belum, tapi setahu uni ada sih beberapa orang yang lagi pdkt ama dia...”

“ Serius?

“Hooh, kenapa? Kamu suka sama Ana?” Kenapa juga coba aku harus mengajukan pertanyaan bodoh itu. Tanpa sadar aku menahan nafas. Kamu benar-benar tersipu.

“Hehehe gimana ya? iya sih dia itu cantik banget. Beberapa kali kita jalan bareng belakangan aku suka memperhatikan dia tapi nggak berani terlalu mendekat. Sebenarnya aku udah lama mau minta tolong uni tapi nggak enak, takut uni ngetawain...” Aku tidak yakin aku dapat kekuatan darimana untuk menjawab. Aku seperti melayang. Tak terasa aku menggenggam erat gelas juice yang belum separuh aku minum.

“Boleh aja, nantu uni bantu deh kamu biar bisa dekat sama Ana. Apa sih yang nggak  buat kamu”

Ilusi itu!!!! Hati yang selalu mengira-ngira. Menyimpulkan dari apa yang selalu aku harap menjadi sebuah kenyataan. Aku sempurna merasa tertikam oleh hatiku sendiri yang telah melanggar kesepakatan yang dibuat sendiri. Sempurna merasa tertipu oleh hati yang sibuk menguntai ilusi yang membuat aku terbuai didalam nya.

Sekali lagi aku harus membunuh rindu ini.

  • view 159