Berteman Sepi

Rido Trisandi Rambe
Karya Rido Trisandi Rambe Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Agustus 2017
Berteman Sepi

Berteman Sepi

Dibalik jendela, hujan tak kunjung reda. Gerimis tidak lagi merdu. Suaranya membuat telinga berdengung. Tetesannya merambat kedalam rumah ingin segera menyelinap masuk.  Deras sekali diluar sana hingga tak jelas orang berkata apa. Angin seperti mengerti suasana, berhembus pelan hingga mengantarkan lamunan yang terbang melayang. Rasanya pagi ini begitu redup, cahaya mentari tak kunjung tiba. Sepertinya akan absen hingga petang datang. Hingga saat ini tak ada satupun orang yang kulihat muncul di hadapanku, semua bersembunyi dibalik selimut hangatnya.

Tak lagi terdengar gelak canda anak-anak bermain dijalan berkejaran berangkat menuju sekolahan, hujan  ini menghapus semuanya. Biasanya hari-hariku ramai bertabur senyuman, lambaian tangan teman-temanku mengantarku pulang dari kantor.
Jalanan penuh orang berkendara, kendaran saling salip mendahului. Tapi sekarang aku merasa sendiri, menatap hujan dari balik jendela. Semua lenyap bagai langit petang termakan gelap. Tapi bukan berarti aku terjebak dalam kesyunyian sendiri saja, ada seorang yang menemaniku  sekarang.

 Aku kehadiran seorang teman baru. Baru saja aku mengenalnya dan memecah sunyiku. Sepi itulah nama yang dia perkenalkan kepadaku.  Saat itu aku duduk di sebuah bangku rotan didepan rumahku sambil menatap bulir-bulir air hujan dihalaman.

Tiba-tiba dia datang menghampiriku dan berlindung dari derasnya air hujan saat itu. Tanpa permisi langsung duduk di sampingku lalu menatapku dengan tatapannya yang penasaran. Aku tak bergeming akan kehadirannya. Mulutnya yang kecil bertanya pelan kepadaku lalu di dekatkannya wajah polosnya kehadapanku. “Kenapa kau termenung?”berkata dia.

Aku sekarang sendiri, tiada yang menemaniku saat ini”  Kujawab sepintas tanpa peduli hadirnya di sampingku.

Semakin dicondongkan wajahnya ke hadapanku lalu kembali bertanya kepadaku “Bolehkah aku menjadi temanmu? teman sejatimu? Bercerita denganmu?” .

Kepalaku tanpa sadar mengangguk tanda persetujuan dari diriku saat itu. Aku tak mengerti sama sekali kenapa Sepi hadir ditengah-tengah kegelisahanku  ini. Sementara hujan semakin deras menghayutkan lamunanku. Sepi berusaha mengalihkannya kini, perhatianku berusaha direbutnya dengan segala cara. Mulailah dia bercerita dengan penuh semangat. Berdiri dari tempat duduknya, suara kecilnya perlahan menjadi lantang terdengar seperti  menggunakan pembesar suara. Ceritalah dia bagai dongeng yang bernotasi naik turun menghanyutkan siapa saja yang mendengarkannya.

Sepi bercerita semasa dia dilahirkan, perjuangan ibunya melahirkannya sangat mencekam hingga aku merasa masuk kedalam kejadian tersebut. Ibunya yang kuat itu mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan seorang anak yang tampan ungkap dia. Seorang anak yang pemberani kelak, seorang anak pekerja keras dan memiliki banyak teman. Penggalan ceritanya membuat memoriku terusik. Hingga kemudian dia lanjutkan dengan perjuangan hidup seorang anak  tersebut. Anak itu mulai merangkak untuk berusaha berjalan lalu jatuh dan kembali jatuh. Ceritanya bukan hanya mengusik memoriku tapi juga membuat sesak di dadaku, haru mulai melandaku seketika, sepertinya aku  terbawa jauh oleh arus ceritanya saat itu.
Aku mencoba mengalihkan pandanganku kepadanya agar aku tak terlalu jauh terbawa ceritanya, namun tak dapat kutolak ceritanya begitu nyata dalam benakku.

Air mataku tak kuasa terbendung dan akhirnya tumpah membanjiri pipi bulatku. Kenapa hati ini begitu rapuh mendengar cerita Sepi yang sedari tadi tidak berhenti berkisah seperti seorang penyair. Kisahnya sungguh berbekas bagiku, aku seperti berkaca dalam kehidupanku, tak ada satupun kata yang terlontar dari bibirku. Kaku beku bercampur pilu.

Hatiku mulai berbisik menela’ah semuanya. Sepi  tak berhenti-berhenti bercerita, kini dia bercerita tentang kehidupannya yang diwarnai oleh suka cita pertemanan, dia sungguh memiliki banyak teman dengan segala aktivitas yang padat. Segala macam kegiatan dia ikuti hingga tak ada satupun kegiatan luput dari dirinya. Mendengarnya menggugah diriku, karena apa yang diceritakannya sangat serupa dengan kisah hidupku selama ini. Dentuman jantungku mengalir cepat berpacuan dengan aliran darahku. Hal itu membuatku terjatuh dalam kesedihan yang beralasan.

Tak bisakah kau berhenti bercerita SEPI? Aku tidak cukup kuat mendengar ceritamu! Kenapa ceritamu begitu nayata aku rasa?”. Teriakku dihadapannya saat itu. Aku mulai gelisah mendengar cerita-ceritanya itu, cerita itu terus saja menerobos relungku.

Sepi diam tak bergeming. Dia berdiri menatapku. Suasana kembali senyap tak bersuara. Tanganku mulai bergetar menahan dinginnya hujan yang tak juga surut. Mataku berkaca memandang lirih kehadapan Sepi. Kini dia berhadapan denganku, matanya dan mataku kini beradu bisu.

“Maafkan aku yang hadir mengaburkan lamunanmu. Jika kau merasa sendiri aku akan datang lagi dalam kesendirianmu”. Lalu pergi ditengah derasnya hujan.

“Kemana dia menghilang?” Nafasku masih setengah berpacu terlecut emosiku. Kini aku sendiri lagi. Hanya hujan yang setia menemaniku hingga kini. Ada yang berbeda bagiku, cerita itu seperti kenangan yang terkubur sangat dalam di memoriku, begitu sama dengan alur kisah perjalanan diriku.  

Aku sepertinya salah, membiarkan Sepi berteman denganku, membiarkannya duduk dan bercerita denganku. Hadirnya hanya memberi bekas pada hatiku. Seperti oase ceritanya menumbuhkan kenangan kesedihan yang bertahun-tahun terpupuk dan tumbuh. Semua sekarang berhamburan bagai badai menghantamku. Sepi pasti selalu mengikutiku hingga dia mengetahui semua kisahku dan berusaha menceritakan kisahku seolah-olah mampu menghiburku. Mungkin sudah menjadi takdirku bertemu denganmu sepi. Aku rindu langit biru, dari tadi aku hanya melihat hujan yang menderu, membuat  semua menjadi kelabu.

Hari semakin gelap mengurung.

Lamunanku semakin pudar, tak mampu aku menahan rasa berat yang bersender dimataku. Kenapa semakin gelap yang kurasakan, apa teman-temanku tak kunjung tiba, keluargaku kemana. Hatiku mulai risau. Badanku semakin brku. Lidahku mulai kelu. Pikiranku terlalu lelah menerawang segala kejadian hari ini. Bolehkan aku beristirahat sejenak.

***

Mataku begitu berat untuk terbuka, ada yang berbeda sekarang di sekilingku begitu ramai sampai aku tak dapat mengenali satu-persatu orang yang berdiri mengitariku. Rasanya badanku begitu remuk, tak bisa aku mengangkat kedua tanganku. Wajah-wajah senyum ini kembali menghiasi diriku, aku tidak benar-benar kehilangan senyuman ini kan? Suana ini asing bagiku, tidak di rumahku, tidak juga di kantorku.

Silih terdengar dari arah luar, “Syukurlah dia sudah sadar”.

" Aduh kenapa aku disini? apa ini rumah sakit? "bibirku pelan berbisik didengar seorang temanku.

“Iya, kamu baru saja sadar setelah terbaring hampir seminggu dirumah sakit. Sepulang kantor kamu tertabarak kendaran dijalanan, lalu tak sadarkan diri hingga sekarang. Apa kamu ingat?”ucap salah seorang perawat.

Aku tidak ingat sama sekali kejadian itu, yang aku ingat aku bercerita sepanjang hari dengan teman baruku Sepi. Tak aku lihat dia diantara orang-orang disekelilingku. “Sepi dimana dia?” bisiku pelan. Mereka heran memandangku seperti orang kebingungan  mencari dan mengingat-ingat sesuatu.

Kenapa denganmu? Siapa yang kau cari?  Kami semua disini. Mereka saling berpandangan dan berkata-kata. Nafasku kembali terpacu,  pendengaranku mulai kabur. Mataku menatap liar langit-langit. Sementara jantungku kembali menghentak kencang tak beraturan. Bibir kecilku bergumam, “Sepi temani aku sekali lagi”.
-Hening-

Hening mengantarkanya bertemankan Sepi yang abadi.

Berteman Sepi  2017

 

  • view 29