Aku Ingin Sakinah Bersamamu

Ridho Febri
Karya Ridho Febri Kategori Motivasi
dipublikasikan 06 Februari 2016
Aku Ingin Sakinah Bersamamu

Allah Jalla Jalaluh berfirman;
?????? ????? ?????? ????????? ?????????? ??????????? ????????????
?Dan segala sesuatu kami jadikan berpasang-pasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.? [Adz Dzariyaat (51):49].

Sebuah kecenderungan yang menjadi fitrah dari anak cucu adam adalah hasrat terhadap lawan jenis, namun akan menjdi sebuah kebaikan yang berlimpah keberkahan jika fitrah tersebut terburai indah dalam tuntunan syari'at yang telah Allah dan Rasul-Nya tetapkan, yakni melalui sebuah pintu indah yang bernama PERNIKAHAN. Dan hal mutlaq yang memang menjadi sebuah keharusan dalam berumah tangga adalah BAHAGIA, apapun keyakinannya sudah pasti sangat mendambakan kebahagiaan dan kelanggengan dalam pernikahannya, karena memang gak pernah ada kan orang yang bercita-cita menikah untuk gak bahagia.

Hanya saja, jalan berliku dalam titian Sakinah tidaklah selalu mudah, sebab sakinah adalah sebuah medan pembelajaran yang sifatnya terus menerus kita asah bersama, saling sinergi, saling membersamakan hati dan fikiran hingga kemudian Allah sempurnakan ke-sakinah-an kehidupan rumah tangga kita dengan Mawaddah Warrohmah. Sinergi yang memang sudah Allah syari'atkan dalam firman-Nya;

??????? ???????????? ???? ?????? ????? ????? ??????????? ??????????? ??????????????? ????????? ???????? ????????? ??????????? ?????????? ? ????? ??? ??????? ??????????? ?????????? ??????????????
?Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.? [Ar. Ruum (30):21].

Allaahuakbar walillaahilhamd

Namun pada kenyataannya tidak semua dapat merasakan kebahagiaan pernikahan itu dengan sempurna, sebab banyak kasus yang pernikahannya berakhir di meja persidangan perceraian. Fakta mencatat bahwa di negara kita terdapat 300ribuan pasangan cerai setiap tahunnya atau sebanyak 40 perceraian setiap jamnya dan angka itu selalu naik dari tahun-tahun sebelumnya. (sumber harian Republika Online 14 Sept 2014)

Nah, kita tentu tak mau hal tersebut terjadi di dalam rumah tangga yang kita jaga dengan sekuat tenaga walaupun mau jujur atau tidak, kuatnya ego pun masih sering menjadi warna dalam perjalanan rumah tangga kita. Saling menunjukkan diri tentang ke-aku-an dan hampir melupakan bahwa esensi sederhana dari pernikahan adalah KITA.

Ok, seandainya hal tersebut terjadi di dalam biduk rumah tangga kita, coba deh hal pertama yang menjadi sebuah keharusan yang kita segera lakukan adalah buat hati kita untuk TETAP DUDUK, fokuskan hati dan fikiran kita berdua hanya pada suami kita atau pada istri kita saja, kita pinggirkan dulu tentang anak, keluarga dari suami atau keluarga dari istri atau siapapun, tujuannya hanya satu agar terbentuk KEBERDUAAN yang semakin mengikat kuat diantara kita dengan suami kita atau istri kita.

Jika suasana indah keberduaan itu telah terbangun, maka kita telah siap untuk kembali membersamakan hati kita berdua yang pada akhirnya mampu menghidupkan kembali rasa SALING MENGHORMATI tentang perbedaan yang ada diantara suami atau istri kita. Sedikit coba kita saling melihat kebelakang, kita menikah sejatinya sebab KITA BEDA. Nah perbedaan inilah yang kemudian membuat kita padu seperti halnya dua lempengan magnet yang saling berbeda kutubnya maka akan saling kuat lekatnya. Dan sudah menjadi sunnatullah bahwa perbedaan ini harus terus lestari hingga akhir hayat dari pernikahan itu.

Proses selanjutnya adalah antara kita dan pasangan kita BISA SALING MEMPOSISIKAN DIRI sesuai dengan KAIDAH SYARI'AT. Suami tau dan paham tentang kewajibannya dan istri pun demikian. Dalam pengaturan syari'at, seorang istri memiliki 3 hak (ini sudah barang tentu menjadi kewajiban suami) yang terdiri dari NAFKAH yang terjamin kehalalannya dan bahkan tidak cukup halal tapi juga harus baik, lalu seorang suami pun harus MENGGAULI istri SECARA BAIK sebagaimana dahulu Rasulullah shallallahu 'alayhi wa sallam pun sangat senang bercanda, bercumbu dan bermain-main dengan istri tercinta Aisyah radhiyallaahu 'anha, dan kewajian suami selanjutnya adalah harus mampu membuat istrinya MENJADI SHALIHAT yang mampu membuat iri para bidadari surga sebab amalnya yang "sederhana" namun istiqomah.

Tidak cukup disitu, sinergi itu indah sebab terjadinya hubungan timbal balik diantara keduanya. Setelah tadi bicara tentang kewajiban suami, maka selanjutnya adalah tentang KEWAJIBAN ISTRI terhadap suami. Syari'at mengatur 2 hal yang menjadi kewajiban istri terhadap suami, yakni TAAT KEPADA SUAMI dalam kebaikan dan menjadikan ikhtiar untuk membahagiakan suaminya sebagai sebuah kesenangan (Hobby).

Tahap akhir dari proses keberduaan kita dengan pasangan kita adalah penyempurnaan dua proses yang kita lalukan sebelumnya dengan KOMUNIKASI. Tak hanya cukup dengan komunikasi yang biasa atau bahkan sekedar dan seperlunya, namun komunikasi yang jauh lebih SEHAT, EFEKTIF dan penuh EMPATI sebab bisa saling "membaca" kondisi masing-masing pasangan, tak hanya itu saja sebab komunikasi yang kita jalin pun harus mampu menjadi SOLUSI atas masalah-masalah yang timbul didalam rumah tangga kita, dan yang terpenting dari itu semua adalah tentang bagaimana kita mengemasnya menjadi sebuah dialog penuh cinta yang MENYENANGKAN.

Masya Allah.. Aah sungguh sangat indah pastinya rumah tangga kita sebab penuh dengan kerendahan hati, cinta, keceriaan dan kebahagiaan.

Benarlah bahwa; Sakinah itu ada bukan hanya karena tawa, tapi Sakinah tercipta setelah adanya ketegangan, gelisah, duka, dan tak sedikit airmata. Maka laluilah dengan bijak dan gagah, dan janganlah saling sombong, sebab yang berhak sombong hanya Allah Jalla Jalaluh.

Wallaahua'lam bishshawab
Saudaramu, Ridho Febry

  • view 266