Oh my Giebran

Ridhayani Purba
Karya Ridhayani Purba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Juni 2016
Oh my Giebran

Syair pertama.

Syair yang yang pernah mengawali kehancuran istana mimpiku. Kini syair ini menempel seperti menghantui diriku. Siapa, bagaimana, mengapa dan apa tujuan syair ini ditempel di mading???

Hatiku berdebar. Syair ini ya syair yang sangat kelam menyelimuti setiap saraf otakku. Mengapa inisialnya yang tertulis Giebran??? Aku tidak peduli. Aku harus menemukan siapa pengarangnya”ucapku dalam hati

 Sungguh syair yang mengiris-ngiris hati. selain aku tiada seorangpun juga yang mengetahui  siapa pengarangnya. Tetapi, sungguh semenjak kehadiran syair dengan inisial Giebran di mading sekolah, aku selalu hadir menanti-nanti karya besarnya. Padahal semasa aku belajar di sekolah ini, tidak ada yang bernama Giebran. Kini sudah ditingkat dua sekolah lanjut atas baru muncul sosok Giebran dan memberikan gebrakan baru. Bisa dikatakan kaau aku seorang ABG dengan nama Elisa sangat menganguminya. Aku kembali lagi tidak peduli apakah dia seorang cewek atau cowok,berkulit hitam ataupun putih, bertubuh pendek atau tinggi sekalipun yang penting satu hal aku sungguh mengaguminya.

Giebran misterius...

∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞∞

 

Syair kedua ~~~~~~

Bulan kedua dengan syair kedua. Giebran sungguh hidup di hatiku. Syairnya kali ini mengatakan dia sungguh memerlukan sahabat yang siap berbagi suka dan duka. Hingga  saat ini dia masih bagaikan hantu disiang bolong. Entah siapa sebenarnya dirinya. Aku selalu datang ke ruang Osis hanya untuk menanyakan siapakah makhluk berinisial Giebran. Tetapi, hasilnya tetap saja nihil.

 

“Syair ini selalu ada di atas meja setiap kali akan menempelkan bahan mading ,” ujar Elan si ketua Osis

“ sebuan sekali kami menerima hasil karya untu ditempel dan setiap kali selesai seleksi penyair Giebran selalu terpilih dengan rangkaian kata manisnya,” ujar Onit sang sekretaris dengan mata kagumnya

Apakah kalian tidak mau berusaha mencari tahu siapa sebenarnya si Giebran ini”, kataku

Kami bertugas hanya menyalurkan bukan menyelidi si pembuat karya”, jawab Tomi

Lagian untuk apa sih nona ingin tahu suapa Giebran”, tambah Onit dengan wajah penuh tanya

Iya...penasaran saja”, jawabku tandas

Aku selalu dihakimi atas jawaban-jawaban yang tidak membuat diriku puas.

Giebran...Who are you????

 

Sebelum tidur Aku ambil buku diary di lemari yang terletak di sudut kamar. Kupegang erat dan lembut karena kertas-kertasnya telah lepas dari pinggiran yang merekatkan antara dua sisi kertas. Giebran yang misterius telah mengingatkan ku kembali kepada memori diary ini. Butiran debu menutupi indahnya warna diary ditanganku. Diary ini telah kusam seiring perjalanan waktu di mana aku masih duduk di sekolah menengah pertama.

El....diary ini hadiah untukmu. Di dalamnya aku menulis masa-masa kita tertawa maupun menangis bersama. Harapanku bahwa buku ini bisa mengurangi rasa sedihmu ketika aku telah meninggalkanmu “ujar Kiki saat itu

Itulah terakhir kali aku bertemu dengannya. Sahabat dalam gelap juga terang. Kiki pindah ke Australia karena orang tuang pindah tugas ke negeri tersebut. perpisahan ini telah lama dan aku malas untuk mengenangnya kembali. Kiki tidak pernah sekalipun membalas email dariku. Dia sengaja menghindar dariku. Hal yang paling membuatku bertambah sedih adalah kenyatakan bahwa alasan kepergiannya adalah untuk menjalani perawatan disana. Kiki mengidap kanker darah. Aku sedih bercampur kesal kenapa aku begitu percaya akan alasan-alasan Kiki. Aku menyalahkan diriku sendiri. Sahabat sejatiku berperang melawan sakitnya sedang aku tak berada disisinya. Kiranya aku mengetahui alamat kiki disana, aku pasti menyusulnya. Tetapi Kiki memang pintar. Kiki tidak meninggalkan alamat maupun nomor telefon yang dapat kuhubungi. Bahkan email dariku tidak pernah ia balas.

Isi diary ini banyak sekali syair hasil karya Kiki. Aku bahkan baru saja mengambil kesimpulan bahwa Kiki senang menulis kata-kata. Aku semakin larut dalam lembar-lembar kertas ditanganku dan terhentak tak bergeming ketika lembar di tanganku adalah syair yang dalam dua bulan ini ada di mading sekolahku.

Semangat hidupku kembali karena aku yakin Kiki telah sembuh dari sakitnya dan kembali ke Indonesia. Sebagai hadiah suprise dia menempelkan syair-syairnya di mading. Kiki mengajaku bermain teka-teki. Aku harus menemukan Kiki. Inisial Giebran hanyalah rencana Kiki.

Kiki..Aku merindukanmu!

 bersambung...

 

dha

 

sumber gambar : https://img.okezone.com

  • view 106