Karena Sakinah Adalah Tujuan

Ridha Intifadha
Karya Ridha Intifadha Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 14 Agustus 2016
Karena Sakinah Adalah Tujuan

Sebuah Surat kepada Dua Sahabat di Penghujung Agustus

Semalam aku senang sekali. Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, hatiku meletup-letup. Kabar tentang pernikahan dua orang sahabatku menjadi sebabnya: Wandra dan Dilla. Pagi ini, aku kembali mengecup secangkir kenangan tentang kalian. Semesta telah berbaik hati mengenalkanku kepada dua orang luar biasa yang bersiap menjadi sepasang keluarga.

Aku mengenal seorang Wandra sejak ia duduk di bangku putih abu. Sedangkan aku mengenal sosok Dilla menjelang penghujung masa kuliahku. Pertama kali aku mengenal hubungan dua orang ini adalah ketika nama Wandra tertulis di media ask.fm Dilla. Sedangkan nama Dilla pernah diceritakan Wandra pada suatu malam di kontrakan para alumni IC. Setelahnya, aku selalu melihat ada pesan tersirat dari tulisan-tulisan Dilla di media tumblr-nya. Setiap itu pula, Wandra tersenyum malu setiap aku menceritakannya.

Mengamati itu semua, aku hanya bisa berdoa agar hikmah pertemuan mereka berujung pada keberkahan. Wandra saat itu memilih berjuang sebagai seorang pengusaha yang menjadi mandiri sekaligus tumpuan keluarga. Sedangkan Dilla memilih untuk memegang amanah politis di belantara dunia kampus. Ah ya, aku sendiri akhirnya dipertemukan dengan Dilla dalam suatu aksi mahasiswa di jalanan ibukota. Sedangkan Wandra sepertinya makin mengangkasa dalam pengembangan dirinya.

***

Kaliah tahu? Aku selalu merasa bahwa dua orang yang jatuh cinta bagaikan sebuah sampan yang mengarungi jeram. Ada rasa berdebar dan tantangan untuk terus mengikuti arus. Ada adrenalin yang terpacu juga desiran hingga dorongan untuk menuruti hawa nafsu. Barangkali itulah salah satu alasan agama ini untuk menahan pandangan jua anjuran melakukan puasa selain di bulan alquran bagi mereka yang dimabuk asmara.

Namun, pada akhirnya sampan itu akan mencapai muara. Sebuah hilir berujung samudera. Di titik itulah, sebuah kendaraan berbentuk sampan tiada lagi berguna. Air lautan memang begitu tenang, tidak seperti jeram yang telah dilaluinya. Namun, hujan badai, batuan karang maupun kekurangan makanan-minuman adalah beberapa resiko dari perjalanan mengarungi samudera.

Dalam perjalanannya pun, kita perlu menentukan pulau tujuan dengan rutenya masing-masing. Dibutuhkan kerja sama setiap pihak di dalamnya agar terus bertahan, terus berlayar. Ada beberapa pulau yang barangkali menjadi tempat transit dan membuat kita terlupa akan pulau tujuan terakhir yang sebelumnya telah ditentukan. Mungkin karena itulah rumah tangga menggunakan kata bahtera dalam penggambarannya.

Maka, atas nama semesta dan Dia yang berkuasa atasnya, aku berdoa semoga bahtera kalian istiqamah menggunakan kompas yang mengarah ke pulau terakhir bernama jannah.

***

Tentang pernikahan (penyatuan), aku selalu teringat salah satu firmanNya dalam surat arRum ayat 21

"Dan di antara ayat-ayat-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa nyaman (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu mawadah dan rahmah. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir"

Aku seringkali berpikir mengapa hampir semua orang selalu berdoa agar setiap rumah tangga dihiasi dengan 3 nilai, yaitu sakinah (ketenangan), mawaddah (kelapangan) dan rahmah (kasih sayang). Padahal sakinah dalam ayat tersebut terpisah tersendiri dengan mawaddah dan rahmah. Sakinah menggunakan kata "ila" yang berarti kepada. Sedangkan mawaddah dan rahmah menggunakan kata "baina" yang bermakna "di antara". Alquran tidak memakai kata "fi" yang berarti "di dalam" untuk sakinah. Sebaliknya mawaddah dan rahmah tidak menjadi tujuan, seolah ia telah ada dalam suatu hubungan antara dua insan. Di sisi lain pada ayat di atas pun sakinah seolah menjadi proses karena menggunakan kata kerja, sedangkan mawaddah dan rahmah tetap sebagai kata benda.

Karena itulah, aku merasa bahwa hubungan dua orang insan memang telah dilandasi oleh mawaddah dan rahmah. Ada usaha untuk melapangkan serta penerimaan (mawaddah): bersyukur atas segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Jua ada sisi ketertarikan atas dasar kasih sayang (rahmah). Sedangkan ketenangan dan rasa nyaman (sakinah) adalah sesuatu yang dicari dan menjadi tujuan.

Akan tiba masanya, kita akan menemui titik-titik ketidaknyamanan, konflik yang kadang irrasional jua kegelisahan-ketakutan akan hal yang tidak pasti dan harapan yang terlampau tinggi atas orang yang kita sayangi. Ketika salah satu dari kalian menemui titik-titik tersebut, yakinlah bahwa itu adalah ujian dari mawaddah dan rahmah yang kalian bangun. Titik-titik itu merupakan badai sebelum ketenangan (sakinah) samudera kembali hadir di bahtera kalian. Titik-titik yang akan menjadi pengalaman berharga dan berbuah ikatan saling menguatkan, lebih kuat lagi. Dan barangkali di titik-titik itulah, kalian akan menyadari bahwa terdapat seseorang yang begitu berharga, yang bersamanya kenyamanan dan ketenangan (sakinah) tidak akan tertolak.

Maka sungguh melalui tulisan sederhana ini, aku mendoakan: "dengan berbekal mawaddah dan rahmah, semoga perjalanan bahtera kalian senantiasa menemui sakinah, baik di dunia maupun akhirat.

***

Kepada Wandra dan Dilla

Barakallah lakuma. Wa baraka 'alaykuma, wa jama'a baynakuma fi khayr

May Allah bless everything for you two. And shower His blessings upon the two of you. And may he bring you together in everything that is good

Amiin amiin Allahumma Amiin :)

***

kisah wandra dan dilla dapat dilihat melalui blog mereka di sini

  • view 310