Pesantren dan Full Day School

Ridha Intifadha
Karya Ridha Intifadha Kategori Renungan
dipublikasikan 12 Agustus 2016
Pesantren dan Full Day School

Terlepas dari apa yang melatarbelakangi wacana full day school oleh kemendikbud, Indonesia sebenarnya sudah mengenal konsep tersebut melalui model pendidikan pesantren. Model ini secara umum memperlihatkan bahwa ilmu itu tidak sekadar diajarkan atau dihapalkan, namun lebih mengarah kepada transfer, hingga bisa memberikan kebermanfaatan dengan mengajarkan. Santri-santri yang dianggap telah mampu mengajarkan seringkali menggantikan guru (ustadz) dalam memberikan transfer ilu kepada yang lainnya. Pemahaman menjadi salah satu kunci penting bagaimana suatu kelas terbentuk.  Beberapa kali kelas diisi oleh mereka yang memang berminat dalam suatu pelajaran atau berdasarkan indikator tingkat pemahaman itu tadi. Pesantren barangkali salah satu model pendidikan yang tidak terlalu memandang umur: "umur sekian harus bisa menguasai a, b, c, dst". Saya bisa saja duduk bersama dengan senior di salah satu pelajaran yang saya pahami, tapi di pelajaran yang lain saya harus berada dalam kelas yang mayoritas diisi oleh mereka yang lebih muda dari saya.

Berdasarkan pengalaman empiris saya, tentu saja ini tidak bisa digeneralisir, terdapat beberapa poin menarik yang bisa dilihat dari model pendidikan pesantren.

***

Pertama, ada konsep yang memperlihatkan bahwa kejelasan sanad (warisan dari guru) itu penting, dibandingkan matan (isi). Dalam kaidah ilmu hadist misalnya, kita pasti mengenal suatu periwayatan dari Abu hurairah, dari Aisyah, dari imam bukhari, imam muslim dsb. Yang pasti mereka menguji kualitas dari sanadnya: apakah sampai ke Rasul, dilihat periwayatannya apakah cacat atau terputus. Barulah kemudian dilihat lebih lanjut dari segi isi: apakah tidak bertentangan  dengan sumber lainnya (alquran atau hadits lain). Secara tidak langsung, metode verifikasi (triangulasi) sudah dikenal dalam dunia pendidikan islam ala pesantren. Di dunia pesantren, seringkali seorang ustadz/kyai seringkali bercerita bagaimana pengalaman dia menjadi murid, bagaimana proses pewarisan itu tidak hanya lewat teks-teks buku yang kaku dan seolah harus dihafalkan.

Kedua, dalam hal kurikulum, setiap pesantren pada umumnya sudah memiliki kitab wajib dalam mempelajari suatu ilmu beserta tingkatannya. Dalam tingkat awal, kita mengenal ta'lim muta'alim (tuntunan pembelajaran bagi para pencari ilmu) sebagai sarana kita mengetahui hakikat belajar dan pembelajaran. Dalam ilmu fiqh, kita barangkali belajar hal sesederhana safitanun najah, fathul qarib, hingga mempelajari ushul fiqh (dasar). Dalam ilmu nahwu, kita mengenal imrithi, alfiyah dan masih banyak lagi. Intinya, seperti saya sebutkan di awal tulisan, kita harus tahu berada di mana: apakah tingkatan awam hingga mahir, sampai bisa ke tingkat mengajarkan. Kurikulum inilah yang membentuk kultur pesantren yang unik, di mana ilmu tidak hanya dalam buku namun juga menjalani kematangan pikiran (dan syukur-syukur berbuah menjadi perbuatan).  Ah ya, sepertinya pengalaman ini pun terjadi dalam dunia perkuliahan. Kita mengenal adanya matkul pengantar sebelum ke arah matkul lanjutan, atau berlanjut pada spesifikasi peminatan. Ada pula matkul yang harus diwajibkan lulus terlebih dahulu baru bisa mengambil matkul lainnya (latihan dan metode penelitian misalnya sebelum mengambil sidang atau skripsi). Hal berbeda terjadi di pendidikan formal pra perguruan tinggi: keilmuan seseorang hampir selalu diukur berdasarkan umurnya dan berapa banyak latihan, hafalan jua ujian yang dilaluinya.

Ketiga, multikultural sangat diakui dalam pesantren. Kita sudah mafhum bahwa islam memiliki banyak cabang dan tidak seharusnya saling dipertentangkan. Di dunia pesantren, seseorang lebih dimuliakan karena ilmunya atau bahkan kemampuan khususnya.. bukan karena latar belakang sosial-kulturalnya. Mereka yang pernah belajar di pesantren tidak mudah mengkafirkan apalagi menghalal-haramkan. ada proses pengenalan yang lebih dalam di sana atas konteks-konteks tertentu. ada juga pembelajaran secara komparatif antar mazhab yang berbeda dan tak harus diertemtangkan-diperselisihkan. Di dunia pesantren, kita dihadapkan pada kondisi terbatas namun dituntut pula secara tidak langsung bertahan secara bersama-sama.

Keempat, pesantren sendiri bisa dianggap sebagai proses kaderisasi atau bisa dimasukkan dalam gerakan strategis atas suatu perubahan. Ada nilai perjuangan yang sangat begitu terasa dalam suasana kota santri. Secara historis, pesantren memang dikenal bisa berdampak bukan hanya secara individu dan masyarakat secara horizontal (sosiokultural), namun juga bisa berdampak pada ranah vertikal (struktural). Mulai dari kemerdekaan hingga terorisme. Mulai dari pertentangan ideologi hingga konsestansi politik. Mulai dari penyatuan hingga perpecahan. Intinya pesantren memiliki power-nya sendiri yang berpotensi melakukan perubahan, entah di ranah positif maupun negatif.

Kelima, bagi saya, waktu sekolah adalah soal efektivitas dan menciptakan kondisi positif dalam pengembangan diri. Ada konsep humanisasi di sana. Ada konsep berpikir kritis jua praktis yang harusnya diajarkan. Model sekolah seperti ini bisa dilihat juga di beberapa negara. Jepang misalnya, sedari dini, pembekalan moral tentang rasa malu dan kejujuran sudah ditanamkan. Begitupun perihal kontekstual seperti penyelamatan diri ketika terjadi bencana alam misalnya.  Di belahan bumi lain, sekolah menjadi tempat berekspresi juga bereksperimen atas kehidupan. Bukan menjadi tempat menyalahkan dan membenarkan, tapi upaya untuk mencari kebenaran. Bukan ruang bagi pikiran menjadi terkotak-kotakkan dan tubuh bagaikan robot yang harus diisi ulang. Nah, dalam dunia pesantren, hal ini diperlihatkan melalui ruang diskusi terbuka antara kyai/ustadz dengan para muridnya. Mereka bebas bertanya tanpa harus takut disalahkan dan dipermasalahkan. Kekhilafan dan kekurangan ilmu bisa sjaa diakui oleh sang guru. Dan muridpun tidak serta merta mengutuk apalagi merendahkan karena masih merasa takzim (menghormati) luasnya samudera ilmu-pengetahuan sang guru. Hukuman yang kadang diberikan tidak pernah dimasukkan ke dalam ranah hukum negara, melainkan upaya pencarian hikmah jua memetik keberkahan. Di sisi lain, dengan keterbatasannya, para santri kadang dituntut untuk lebih kreatif dalam segala hal, sekali lagi, baik dari kutub positif maupun negatif. Kreatifitas inilah yang cenderung menimbulkan inovasi agar waktu sekolah yang dihabiskan menjadi lebih efisien juga lebih bermanfaat.

***

Pada intinya, tulisan ini berusaha mengantarkan pesan bahwa full day school memang pasti menuai kritik. Adanya tekanan, efektifitas, signifikansi, dan lain sebagainya pasti mewarnai diskursus ini. Belum lagi soal biaya/anggaran yang akan membengkak, guru yang berkurang besar potensinya, dan masih banyak lagi. Usulan kebijakan ini sebenarnya tidak akan berarti bila tidak menyelesaikan PR-PR masalah yang selalu menjadi diskursus dari era sebelumnya. Aliran dana BOS, sertifikasi guru, penyamarataan kualitas, peningkatan mutu, penguatan kurikulum yang jelas, keterlibatan lebih komite dalam kebijakan sekolah, transparansi anggaran dan masih banyak lagi.

Tulisan singkat ini berupaya membuka perspektif bahwa full day school tidaklah seburuk yang dikhawatirkan, juga tidak sebaik yang direncanakan. Sayapun tidak berupaya memperlihatkan bahwa model pesantren adalah model yang lebih baik dibandingkan institusi sekolah pada umumnya. Bukankah setiap hal selalu memiliki potensi kebaikan dan keburukannya masing-masing? Akan tetapi, berdasarkan pengalaman saya, pesantren setidaknya hadir dengan membawa model alternatif yang menunjukkan bahwa institusi pendidikan merupakan pelengkap dari proses pembelajaran abadi seorang manusia untuk menjadi manusia. lebih manusia. sejatinya. seutuhnya.

  • view 275