Fathul Makkah: Bentuk Kemenangan Sejati Umat Islam

Ridha Intifadha
Karya Ridha Intifadha Kategori Agama
dipublikasikan 11 Agustus 2016
Fathul Makkah: Bentuk Kemenangan Sejati Umat Islam

Dalam diskusi dengan pak Ipik Ernaka (guru sejarah SMA-ku), beliau menjelaskan konsep 4G-S. Aku menyimak perkembangan konsep 3G yang selalu diajarkan di buku-buku sejarah ketika membicarakan penjajahan. Ah ya, Pak Ipik sendiri yang mengembangkan konsep tersebut.

Bagi pak Ipik, 3G yang kita kenal sebagai gold, glory dan gospel sebenarnya bisa ditambahkan dua konsep lainnya. Yaitu genocide dan slavery. Begitulah, selain emas (sumber daya alam), kemenangan (penaklukan), dan penyebaran agama. Terdapat genosida (penumpasan bangsa) ataupun perbudakan. Itulah yang terjadi di (hampir) semua penaklukan.

****

Aku tertawa dan menanggapi bahwa dalam sejarah Islam, konsep itu semua tidak terjadi. Sekarang suasana berganti, Pak Ipik yang menyimak.

Dalam fathul makkah (the conquest of mecca), tidak ada motif ekonomi, tidak ada pertempuran berdarah, tidak ada “pemaksaan” ajaran, tidak ada genosida apalagi perbudakan. Sebaliknya, kesenjangan ekonomi diperkecil, adanya jaminan keamanan, kebebasan beragama ditegakkan, tidak ada orang tercatat mati atau kekerasaan saat itu dan budak-budak dimerdekakan.

****

Di titik itulah, sejarah mencatat sebuah penaklukan yang fantastis dan tentu saja, unik. Rasul mengucapkan kembali apa yang dikatakan Yusuf (QS 12:92): “tidak ada kekerasan untukmu dan yang akan terlukai hari ini”. Tidak ada parade kemenangan. Seruan perayaan adalah lantunan azan. Semua ini memperlihatkan hasil apapun dikembalikan karenaNya bukan atas usaha diri sendiri. Alquran sendiri melukiskan kondisi saat itu pada surat anNasr:

“Ketika telah datang pertolongan dari Allah dan sebuah kemenangan.”

****

Tahun itupun dikenal sebagai amul wufud atau tahun para duta (the year of ambassadors). Banyak orang-orang berdatangan dari berbagai tempat untuk mendatangi Nabi, lalu menyiarkan islam saat kembali ke daerahnya masing-masing. Kondisi ini tentu jauh berbeda ketika Muhammad ditertawakan, dianggap remeh dan hanya menjadi angin lalu saat berdakwah.

Begitulah. Pada ayat kedua anNasr, Allah menggambarkan:

“Dan engkau wahai Muhammad, akan melihat bagaimana manusia memasuki din Allah secara berbondong-bondong”

****

Fathul Makkah pun memperlihatkan bahwa kemenangan dalam Islam adalah ajakan untuk tasbih, tahmid, istighfar bahkan bertaubat. Bahwa kemenangan itu adalah waktu yang baik untuk membersihkan hati.

Maka inilah kemenangan sejati. Ketika kemenangan bukan hanya apa-apa yang dilihat, tapi juga apa-apa yang tersembunyi dalam hati. Kemenangan untuk mengendalikan ego, arogansi, atau sifat sombong yang berpotensi muncul kembali. Kemenangan yang bermana

Dan begitulah Allah akhirnya menutup gambaran kemenangan dalam Islam di surat anNasr:

“Maka bertasbih-lah dengan memuji nama Rabb-mu dan mohon ampunlah kepadaNya. Sungguh, Dia adalah Maha Penerima Taubat”

Wallahu alam bish shawab

  • view 344