Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Renungan 14 Oktober 2016   10:41 WIB
Odong - odong kota

G ada yang bisa memilih mau terlahir menjadi apa nantinya kamu. Pada masa kita masih di alam sebelum dunia, kita tidak bisa menentukan lahir dimana kita, siapa orang tua kita, apakah terlahir menjadi anak orang kaya, anak orang tidak mampu, atau bahkan saat akan lahir kita langsung menghadap Tuhan kembali. Ada yang tau itu?? Saya rasa sama jawaban kita "tidak".

Aku terlahir di kota penuh kenangan, angkringan dan rindu. Aahh pasti sudah bisa ditebak, iya Jogjakarta... Kota Gudeg, Kota pelajar, Kota Pendidikan, Kota Kenangan, mesti kalian punya sebutan masing masing untuk kota ini. Aku lahir dan besar di kota ini, tanpa embel embel pindah pindah kota. Dari sekolah dasar sampai dengan kuliah dan bekerja pun aku nikmati di Jogja. Ngrasain Jogja yang masih asri kemana-mana masih lengang dan adanya becak, bis kota, andong, sama sepeda, yaa maksudnya mobil dan motor taun itu belum sebanyak sekarang, dan hotel belum semeriah sekarang (banyak dan dimana-mana). Mall waktu itu adanya Malioboro Mall, Galeria Mall, Gardena Jl. Solo. Udah itu aja mall nya... hehehe

Masa dimana film kartun g pake acara di blur, soalnya g ada tuh kepikiran yang aneh-aneh kaya sekarang. Eh maaf malah ngelantur nya makin panjang. Itu kelepasan curcol. Oiya balik lagi tentang aku yang murni anak jawa. Bapak dan Ibu sebenarnya asli Semarang dan Temanggung atau bisa disebut Jawa Tengah, tapi keduanya memilih membangun rumah tangga di Jogja, jadi dari kakakku sampai dengan si adek kami lahir dan besar di Jogja.

Sempat kepikiran untuk menikmati dan besar di kota lain, tapi rasanya lebih kuat di tarik sama Jogja ya. G setangguh teman-teman yang lain yang bisa banget merantau dalam waktu yang lama. Aku tidak akan menolak pernyataan banyak orang tentang apa yang berubah atau apa yang terjadi di Jogja, karena kota ini pun berkembang, dan semakin banyak orang yang menikmati tinggal disini. Berubah pasti iya. Tapi aku kurang setuju dengan penghakiman tentang satu daerah dan menghakimi orang penduduk asli.

Setauku "dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung" atau kalo g salah dimana kamu berdiri saat ini kamu harus menghormati aturan yang ada didaerah itu. Memang aturan itu bermacam-macam dan membandingkan dengan daerah asal juga boleh, karena pasti setiap daerah punya kelebihan dan kekurangan masing-masing kan ya... Yang beberapa waktu lalu aku alami mungkin isu rasis ... duh terlalu berat kata-katanya, mungkin toleransi. Ketika seorang teman tiba-tiba mengomentari pengguna jalan yang nyalip dia, dengan emosi dia pukul rata komentarnya bahwa semua yang berplat itu g punya aturan kalo naik kendaraan dan semaunya sendiri g mau ngalah.

Seketika aku merasa tidak nyaman dengan ucapannya, karena aku rasa tidak semuanya seperti itu, bahkan mungkin itu hanya plat no saja dan yang mengemudi bukan penduduk asli. Miris kan ya atribut akhirnya menjadi bahan utama emosi seseorang. Ini ujian toleransi kayak nya jadi seperti itu.

"Aku dilahirkan tanpa meminta Tuhan kapan dan dimana aku akan lahir nanti, dengan agama, atau budaya apa nanti aku terlahir, hanya fitrah yang aku bawa dari rahim ibu ku kemudian aku bersyukur menjadi anaknya."

Bisakah kita meminta kepada Tuhan dimana kita akan terlahir?

Karena tidak bisa maka yang bisa kita lakukan adalah toleransi, menghargai, dan bersikap bijaksana, oke klise... Tapi apa untungnya hanya mengumpati mereka yang semaunya sendiri, kenapa tidak memperbaiki diri sebelum mengomentari orang yang dirasa salah. Kadang memang terganggu dengan orang-orang yang g mau ngalah sama jalan, udah jelas agak padet tapi tetep klakson-klakson, udah pasang lampu send tapi tetep kena salip, atau suka potong jaln padahal kita lurus dianya selip potong jalan. Itu  tabiat orang dan kebiasaan kok.

Oiya, silahkan mengumpati, marah, tidak suka, dan lain sebagainya tapi jangan bawa dari mana dia berasal, agama apa dia, keturunan siapa dia, aku rasa itu penghakiman. Bawa diri masing-masing lebih adil.

 

 

Karya : Ratririani Sekar Palupi