Kepercayaan itu mahal harganya

Ratririani Sekar Palupi
Karya Ratririani Sekar Palupi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Agustus 2016
Kepercayaan itu mahal harganya

Yang sering terjadi dalam kehidupan manusia, ketika hari ini kamu bahagia rasa duka sedang mengintip kita dari kejauhan dan memastikan bahwa kita sedang  tidak sombong dan tidak lupa bersyukur, dan ketika kita sedang bersedih penuh luka dan berdarah, si bahagia pun bersiap menghampiri kita untuk mengajak tersenyum. Ini yang namanya kemungkinan hidup. Sedih dan bahagia sangat berdekatan, seolah-olah kita tak boleh hanya mementingkan salah satu dari mereka yang biasanya kita sebut bahagia.

Bulan ini menjadi bulan yang kurang menyenangkan bagi kepercayaan, karena kepercayaan tiba-tiba datang dengan wajah gelisah dan hilang harapan, seakan dia ingin bicara bahwa dia kecewa dan terluka. 

 "Seperti sebuah gelas yang jatuh dan hacur berkeping-keping, kemudian manusia berusaha menyatukannya kembali dengan menempelkan bagian-bagian yang hancur dengan lem, namun hal yang kita temui, gelas tak kembali kewujudnya semua, dia tetap retak berantakan."

Kepercayaan pun ragu untuk kembali dan meluapkan kekecewaannya dengan amarah, melukai balik dan tidak memberikan maaf. Lalu pantaskah manusia menerima maaf karena perbuatannya? Kadang itu yang menjadikan aku bertanya-tanya, kita selalu tidak ingin dikecewaan oleh siapapun, namun kenapa kita selalu sengaja ataupun tidak sengaja melukai mereka ((Kepercayaan)). Mungkin hal sama akan kita lakukan ketika terluka, antara segera memaafkan kemudian melupakannya atau sebaliknya, tak akan ada kata maaf.

Sadar bahwa menjaga sesuatu itu sangatlah tidak mudah seperti hal nya dnegan bertahan, lallu kenapa kit aharus saling melukai hanya untuk menjaga sesuatu atau bertahan. Keliru karena luka dan hilang karena percaya. Maka maafkan saya kepercayaan, seharusnya aku ikut menjaga mu, tapi aku malah menjadi bagian yang melukaimu, yang kemudian karma bersahabat denganku dan tak bisa dilepaskan. 

 

-jie