Makalah wanita

Ratririani Sekar Palupi
Karya Ratririani Sekar Palupi Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Juli 2016
Makalah wanita

Maka aku memutuskan menjadi seorang pemimpi...

Ketika aku terbangun dari tidur nyenyak hari ini, aku masih bertanya apakah pantas menjadi bagian yang indah untukmu. Kemudian hanyalku terbang dan aku pun tersadar ini mimpi. Kulanjutkan hari ku seperti biasanya. Sarapan pagi dan bersiap kekantor tepat jam 08.30. Selama perjalanan dari rumah menuju tempat yang penuh narasi, ku selipkan mimpiku dalam perjalanan 30 menit. Seakan ingin menyampaikan pada langit bahwa aku sedang ingin bermimpi.

Selama waktu berlalu yang terlintas adalah mimpi mimpi indah dan banyangan tentang masa depan, iya... masa depan yang indah dan harapan bagi semua wanita di dunia ketika beranjak diusia matangnya menikah, menurut catatan adat istiadat dan tradisi. Seorang bapak tua pernah berbagi pandanngan padaku, tentang bagaimana "aku"... dan beliau mengatakan aku seorang yang kurang percaya diri dalam berhubungan atau menjalin hubungan. 

Habis kataku ketika seseorang tak sengaja  ataupun sengaja membaca naskah Tuhan untukku. Yang melayang dalam fikirku adalah tentang dia yang selama beberapa waktu ini begitu istimewa, menurut catatan harian di ponsel, yang pastinya 24 jam selalu berbalas pesan dan berbagi cerita tentang kegiatan yang kami lakukan seharian. Kemudian aku bertanya dalam hati, seperti apa hubungan kami? Bahkan keraguan pun semakin bertebangan dalam hati. Akankah menjadi masa yang baik. Terkadang saat kita merasa sangat bahagia, saat-saat itulah kesedihan sedang bergelayut dan mengintip kebahagiaan kita. Sebaliknya saat kita bersedih sebenarnya Tuhan sedang menyiapkan kebahagiaan yang indah untuk kita. Namun apakah kita tahu kapan akan bahagia dan kapan akan berduka.

Memutuskan menjadi seorang pemimpi bukan berarti tak memiliki bagian dari kenyataan, hanya saja mempersiapkan diri untuk menerima hal yang tidak bisa menjadi nyata pada akhirnya nanti dan kemudian menikmatinya. Bukan berarti hanya berhayal dan tak mengabulkannya. Aku menertawai setiap mimpiku agar aku berani untuk mewujudkannya. Mencoba menjadi bagian berharga dari kehidupan seseorang dan mengisi kekosongannya, tanpa takut jika suatu saat nanti "mungkin" bukan kita yang menjadi pilihan utama, setidaknya sudah menemani sebagian proses terbaik dalam hidupnya. Maka tulisan ini menjadi sebuah kenangan pada akhirnya.

-jie-

  • view 176