Aku Melihat Naga Menari Kemudian Mati

Rian Widagdo
Karya Rian Widagdo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Desember 2017
Aku Melihat Naga Menari Kemudian Mati

DI ujung desa kami ada sungai besar bernama Kali Amba. Dulu sungai itu merupakan sumber penghidupan bagi desa kami. Ibu-ibu mencuci dan memasak menggunakan air dari Kali Amba. Bapak-bapak memandikan kebau dan ternak mereka yang lain di sana pula. Pun kami menggunakan airnya yang jernih untuk mandi dua kali sehari. Akan tetapi sejak beton-beton kota mulai merambah desa, sungai itu tidak lagi berair. Kering bagai bibir-bibir penduduk desa kami. Retak-retak. Dan sejak itu pula muncul berita mengenai ular naga yang menunggu Kali Amba.
          
Memang, sudah sejak dulu kisah mengenai ular naga itu ada. Ular itu besarnya sedepa, panjangnya sepohon kelapa. Hanya saja ular itu tidak pernah menampakkan diri, bersembunyi dalam-dalam di dasar Kali Amba. Baru setelah Kali Amba kering, naga itu menampakkan diri. Katanya murka tempat bersemayamnya rusak. Setidaknya begitulah kata orang yang mengaku pernah melihatnya. Sayangnya kami tidak pernah bisa mengorek informasi lebih dalam lagi mengenai naga itu, seperti apa bentuknya, seberapa panjang tubuhnya, dan lain-lainnya, karena orang yang mengaku melihat naga itu tak lama kemudian langsung mati.

Awalnya kami menganggap kematian orang-orang malang itu sebagai kejadian kematian yang biasanya saja. Semua makhluk hidup akan mengalami hilang nyawa. Namun ketika kematian itu semakin sering menghampiri desa, kami jadi mulai berpikir juga. Benarkah keberadaan naga itu memang nyata? Kami pun berbondong-bondong menuju ujung desa pada suatu senja, berharap sang naga ada di sana, tengkurap menikmati sisa surya.

Kaum tua-muda, perjaka-duda, kaya-nelangsa, semua berbondong-bondong ke Kali Amba. Nyala obor membentuk sepetak-sepetak cahaya temaram di sepanjang jalan menuju kali. Aku ada di antara kerumunan itu, berjalan lambat-lambat saja asal tidak tertinggal. Aku sendiri percaya tentang naga itu, jadi masih enggan kalau harus bertemu dengan naga pembawa petaka. Rasa percayaku ini bukan tanpa alasan. Di keluargaku, dan kebanyakan keluarga yang tinggal di desa ini, cerita mengenai naga ini sudah mendarah daging. Pun pada akhirnya kelima anakku yang masih hidup aku dongengi juga dengan kisah ini. Anggapku untuk kewaspadaan semata seperti buyut-buyut kami mewanti-wanti. Selain itu, saudara kembarku juga mati dalam pertemuannya dengan naga ini.

Kisahnya begini.

Naga ini namanya Ijon, berkaitan dengan kepercayaan masyarakat dahulu yang mendongengkan bahwasanya si naga berwarna hijau karena tertutup lumut dalam pertapaannya. Ijon akan muncul kepada seseorang yang akan meregang nyawa jika orang tersebut sempat melintas di sungai sebelum ajalnya. Dan, jika hanya jika, orang tersebut adalah orang yang tidak baik budinya, atau memiliki dosa tak termaafkan.

Saudara kembarku namanya Kamil. Waktu itu umurnya masih 24 tahun. Dia rajin sembahyang di surau. Dia juga rajin mengaji. Selain itu Kamil juga pandai. Orang-orang di kampung kami yang kebanyakan hanya tamatan sekolah dasar sering menanyakan banyak hal padanya. Mulai dari masalah belajar anak-anak mereka, sampai masalah perkawinan. Semua hal Kamil bisa. Kecuali satu itu, yang semua orang tidak tahu kecuali aku. Kamil tidak pernah bisa menepati janjinya kepadaku, sejak kecil, bahkan sejak terakhir kali kami bersapa. Dia sering, bahkan cenderung selalu meremehkan janjinya kepadaku. Mulai dari ingkar kecil seperti ingkar mengajariku membaca dan menulis, ingkar membelikanku kopi, sampai ingkar besar yang bahkan beberapa belum bisa aku maafkan sampai sekarang. Contohnya ingkarnya yang terjadi pada hari itu.

Rabu itu hujan turun seharian. Aku meminta Kamil yang hari itu libur kerja untuk menjaga Andong, anak pertamaku yang masih 5 tahun, karena aku harus menjaga bendungan Kali Amba. Aku mendapat upah dari situ. Istriku jadi tenaga kerja di desa tepi hutan jauh, entah kapan pulang. Biasanya aku titipkan anakku ke Mbok Ijem, tetangga sebelah. Namun karena hari itu Kamil yang masih bujang sedang libur kerja di proyek bangunan, aku menitipkan putraku padanya. Aku mewanti-wanti Kamil agar mengawasi Andong dengan benar, karena Andong akan kejang-kejang bila terkena sinar matahari. Aku sedikit tenang menitipkan Andong kepada Kamil si tukang ingkar karena hari itu hujan sepagian, jadi aku tidak perlu khawatir akan terjadi hal yang macam-macam.

Ternyata hari itu hujan segera berhenti dan langit mendadak cerah tak lama setelah aku tiba di bendungan. Dan tanpa firasat aku mengerjakan pekerjaanku seperti biasanya saja. Saat aku sedang mengecek ketinggian bendungan, Mbok Ijem berlari tergopoh-gopoh sembari berteriak-teriak memanggil namaku.

 “Andong, Jo. Andong!”

 “Ada apa Mbok?” aku segera menghampiri perempuan usia senja itu.

“Andong kejang-kejang!”

Aku segera berlari pulang ke rumah dan tidak menghiraukan luapan air yang semakin meninggi. Satu-satunya yang ada dalam pikiranku adalah kondisi Andong, dan kemana si brengsek Kamil?

Setiba di rumah Andong sudah tidak bernyawa, disusul dengan Kamil yang ternyata baru pulang dari surau. Aku langsung menghajarnya dan hampir membunuhnya kalau tidak dihentikan dengan teriakan warga yang melihat bendungan jebol.

Jadi saat orang-orang heran kenapa Kamil bisa mati di pinggir Kali Amba pada suatu senja kala, aku sendiri sudah tahu takdirnya memang demikian harusnya. Dosanya terlalu banyak untuk membiarkannya mati secara wajar. Dan sejak itu aku tidak lagi bekerja di bendungan. Sekarang aku, meskipun mendapat pertentangan dari warga dan dikucilkan, memilih bekerja sebagai kuli bangunan di proyek-proyek pembangunan gedung baru di dekat-dekat sini, daripada harus mburuh tani yang hasilnya tidak seberapa. Itung-itung untuk bekal kawin lagi.

Bunyi gemerisik ranting-ranting kering yang tertiup angin muson menyadarkanku dari pikiran tentang anakku, Andong, bahwa kalau masih hidup harusnya dia sudah menikah dan punya cucu. Kami tiba di pinggir Kali Amba. Goresan-goresan obor kami hanya menimpa pasir yang bergelung-gelung di pinggir kali, atau juga sampah-sampah bekas buangan dari gedung-gedung yang baru di bangun, yang bisa jadi terbawa angin seperti kenanganku barusan. Tapi di sana tidak ada tanda-tanda Ijon, si naga penunggu kali. Meskipun begitu kami memutuskan untuk menunggu hingga tengah malam. Siapa tahu memang kebiasaan si Ijon keluar pada tengah malam, seperti mitos-mitos tentang roh zaman dulu kala.

Namun dugaan kami semua mengerucut pada satu hal, bahwa si naga sudah tidak akan muncul lagi karena zaman sudah berganti. Sama halnya dengan berbagai mitos-mitos yang dulu kuat mengakar, namun kini sudah tidak lagi terdengar sekalipun samar-samar.

“Pulang saja, ayo. Naga itu tidak akan muncul,” kataku yang mulai meradang berkutat dengan puluhan nyamuk hutan. Tidak ada yang menanggapi dengan statusku sebagai orang proyek, yang menurut mereka menjadi penyebab keringnya Kali Amba dan murka naga penjaganya. Meskipun begitu mereka sepakat untuk pulang karena udara dingin mulai membuat kami tergigil.

Mereka mulai meninggalkan tepian Kali Amba yang sudah tidak berair lagi itu dengan obor-obor yang mulai meredup layaknya keyakinan mereka akan keberadaan naga penunggu Kali Amba.
Akan tetapi tidak dengan ku, yang mendadak membeku menyaksikan apa yang muncul di seberang.

Aku masih berdiri mematung di sana, menatap kepala ular naga bermahkota rubi merah delima yang menyembul dari semak-semak di seberang sungai. Matanya yang hijau zamrud menatapku dalam-dalam, membuatku tidak bisa berbuat apa-apa. Tubuhnya yang melingkar di pohon dedalu, dan memang sebesar pohon kelapa, tampak berkilau terkena sinar rembulan. Aku hendak berteriak memberitahu yang lain, namun suaraku tak mampu keluar dari leher, walaupun mulutku terus menganga seperti kuda nil menguap. Lantas aku lihat naga itu keluar dari rerimbunan, melayang di atas Kali Amba, dan tubuhnya mulai meliuk-liuk, bak penari jaipong sedang menunjukkan kebolehannya.

Tidak lama kemudian tubuhku benar-benar kaku menjadi patung. Lalu, dengan suara gedebug benda jatuh, tubuhku yang masih bisa merasakan sakit ini terguling masuk ke dasar Kali Amba yang sudah keras mengering. Barulah setelah jasadku mendarat di dasar kali, aku sadar tidak akan bernyawa lagi.

  • view 22