1 2 3

Rian Widagdo
Karya Rian Widagdo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 19 Desember 2017
1 2 3

Satu. . .

Dua. . .

Tiga. . .

Semua tamu di ruangan itu ditembak mati oleh tuan rumahnya kecuali tiga orang: tunangannya, asisten pribadinya, dan sahabatnya.

Pria muda kaya raya itu menimang-nimang senjata laras panjang di tangannya sambil tersenyum simpul menatap sisa tamunya.

 “Aku akan menghitung sampai sepuluh, silahkan kalian bersembunyi di mana pun di rumah ini,” tangannya membentang, menunjukkan betapa megahnya rumahnya.

“Jangan sampai aku menemukan kalian, atau kalian akan aku. . .” Pria berstelan rapi itu menembakkan pistolnya ke langit-langit dengan bunyi “door” keras dan berhasil menjatuhkan kandelar di tengah ruangan pesta.

“Tapi jika kalian tidak bisa aku temukan sampai matahari terbit, nyawa kalian akan aku ampuni,” ujarnya sambil membetulkan kerah bajunya yang begitu licin. Sejam yang lalu asisten pribadinya, yang sekarang turut menjadi binatang buruannya, berhasil menyingkirkan semua kerutan dari kerahnya itu.

“Tuan, jangan. . .”

DOOOR!

“AAAAAAAARGH!”

Selongsong peluru meluncur menerobos lengan kiri asisten pribadinya yang langsung teruduk dengan darah melumuri lengan baju putihnya yang langsung memerah.

“Jangan berbicara kalau tidak aku ijinkan, Anjing!” bentak si tuan rumah.

“Sayang, apa-apaan. . .”

DOR!

“AAAAAAAAAAAAAAAAA”

Kali ini lengan kanan tunangannya yang menjadi sasaran tembak, membuat perempuan molek dan jelita itu tersungkur, terisak.

“Kamu gila.!”

DOR!

Terdengar lolongan lagi dari tunangannya, yang sangat mungkin sekali mati saat itu juga karena kehabisan darah.

“DIAM PEREK!”

Satu tembakan lagi mengenai lengan kiri perempuan yang malam ini baru saja resmi menjadi tunangannya. Tapi itu tidak seberapa bila dibandingkan dengan kehilangan kewarasannya setelah mengetahui bahwa tunangannya ternyata bukanlah orang yang waras.

Si sahabat tidak tahu harus berbuat apa dengan kegilaan yang tiba-tiba menyergapnya di ruang pesta pertuangan sahabat karibnya itu. Tadi pagi dia masih membantu sahabatnya itu menyiapkan segalanya untuk pesta. Mengatur desain interior dan eksetrior, memilihkan jas dan dasi, bahkan sejam yang lalu dia membantu membeli bunga untuk diserahkan ke tunangannya. Sahabatnya buta warna, dan dia tidak ingin membuat tunangannya yang membenci warna merah mendapatkan apa yang dibencinya dimalam pertunangan. Semuanya begitu akrab, tidak ada tanda-tanda bahwa malam hari ini sahabat yang sudah ia kenal sejak SD itu bakal menodongkan sepucuk senjata tepat di pelipisnya hanya untuk tetap membuatnya mengikuti aturan sebuah permainan gila ciptaannya yang ternyata beneran gila itu.

“Ada pertanyaan, anjing-anjingku tersayang?” seulas senyum jahat tersungging di bibir si tuan rumah  yang sudah mengambil tempat duduk di atas bangkai ayahnya sendiri.

Si asisten pribadi hanya menelan ludah menahan sakit dan kenyataan pahit. Si tunangan hanya bisa meratapi nasib. Sementara itu, si sahabat masih mengangkat tangannya, mencoba mencerna apa yang sebenarnya terjadi, namun sia-sia belaka.

“Tidak ada?” seloroh tuan rumah seraya bangkit dari duduknya, membuat bangkai koruptor itu sedikit menggelinding ke bawah dari undakan tempatnya meregang nyawa dengan nista ditangan putranya sendiri.

“Bagus kalau begitu, kita bisa memulai permainannya lebih cepat,” katanya santai, tersenyum senang.

“Aku tidak mau!” teriak tuangannya dari seberang meja, seperti serigala kehilangan giginya.

“Bagus, kalau begitu kamu keluar dari permaian,”

DOR!

Hanya dengan satu tembakan tepat di tengah alisnya yang saling bertaut, gadis malang itu langsung ambruk tertelungkup di atas ingkung bakar yang seharusnya ia santap bersama saus mangga kesukaannya. Ingkung itu langsung memerah seperti dilumuri saus pendampingnya.

“Kau bedebah sialan!”

Baru maju dua langkah, asisten pribadi itu langsung menyusul si gadis tunangan ke alam baka dengan dua tembakan di dada kirinya, telak mengenai jantung dan limpanya.

“Sekarang kalian bisa bercinta sepuasnya di neraka!” dengus tuan rumah ditambah dengan siulan kemenangan, sembari merapikan rambutnya yang sudah perlente berkat tatanan asisten pribadinya yang baru saja turut menjadi bangkai.

“Nah, sekarang tinggal kita berdua,” kata tuan rumah itu dengan dingin. Kakinya mulai berjalan dengan anggun mendekati sahabatnya, seperti angsa yang berenang di danau darah. Sesekali keanggunan langkahnya terganggu oleh mayat-mayat yang telantar menutupi kilauan lantai marmer ruangan itu.

“Hari ini kamu tidak banyak bicara, heh?” Tuan rumah itu memainkan moncong senapannya mengikuti alur alis sahabatnya yang tebal. Dari dulu dia begitu mengagumi alis itu. Alis selalu berhasil menarik perhatiannya. Alis selalu menjadi petimbangan pertama baginya untuk berhubungan dengan orang. Baginya alis adalah aset. Meskipun begitu, Alisnya sendiri tampak diciptakan sekenanya oleh Tuhan. Bahkan mungkin bukan hanya alisnya, tapi juga seluruh jati dirinya.

“Kenapa?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih lembut, cenderung terdengar bagai desahan. Selembut senandung kematian.

Sahabatnya masih diam.

“Takut?” tanya si tuan rumah lagi, diiringi cekikikan gila.

“Sebenarnya apa yang terjadi, Wan?” si sahabat, meskipun dengan suara bergetar karena takut, akhirnya membuka suara, balik bertanya sambil mengukur kemampuanya untuk merebut senjata itu dari si orang gila, yang sialnya adalah sahabatnya sendiri, yang sialnya lagi memiliki postur tubuh lebih besar dari dirinya, dan yang paling sial dari dua kesialan sebelumnya adalah si gila itu memiliki kemampuan bela diri yang jauh melampaui dirinya.

“Hm. . .Apa ya? Sepertinya tidak ada. Aku hanya ingin main-main aja sama kamu. Udah lama kan, kita nggak main tembak-tembakan?” kelekar si tuan rumah.

“Tapi kenapa Wan?”

“Oke, aku akan mulai menghitung.” Si tuan rumah yang dipanggil Wan itu tidak mengacuhkan pertanyaan sahabat karibnya.

“Wan?!”

“SATU!”

“Ini gila Wan!”

“DUA!!”

Si Wan menarik kursi di sebelahnya, duduk, kemudian menikmati secuil daging ingkung setelah berhasil menyingkirkan gundukan rambut tunangannya yang bergelung menimbuni daging kesukaanya itu.

“Tiga,” hitungnya lagi disela-sela kunyahan daging panggangnya yang sudah bercampur rambut dan darah.

Merasa tidak ada pilihan lain selain mengikuti aturan main sahabatnya yang entah kenapa bisa berubah menjadi gila betulan seperti itu, si sahabat mulai meninggalkan ruangan dengan kecepatan seekor cheetah. Dia masih bisa mendengar sahabatnya menyerukan angka empat ketika dirinya memutuskan untuk segera keluar dari rumah mewah itu melalui pintu belakang.

Dia tahu betul rumah itu. Sejak kecil dia sudah bermain di sana. Namun, saat hitungan ke tujuh, dia masih sering lupa seperti dulu, bahwa semua pintu di rumah itu dikunci dengan password.

“Berengsek!” umpatnya sambil menendang pintu itu dengan  keras, berharap keajaiban dari kakinya mampu membukanya. Nyatanya sia-sia belaka. Malah membuat kakinya sakit saja.

“Sembilan!” Samar-samar suara itu terdengar dari ruangan pesta, membuat jantung si sahabat berdetak jauh melebihi kemampuannya.

Aku harus bagaimana? Pikirnya getir. Ada banyak hal yang sempat terlintas di pikirannya. Bersembunyi sesuai perintahnya sambil menunggu matahari terbit, yang itu baru akan terjadi sekira sepuluh jam lagi. Tapi dia tidak akan sudi menggantungkan hidupnya dalam 10 jam itu hanya dengan menunggu saat-saat kematiannya tiba tanpa ada jaminan tidak akan ditemukan oleh sahabatnya yang gila.

Atau berbalik memburu pemburunya?!

“Siap atau tidak aku datang, sahabatku sayang!” seru si Wan dari lantai atas. Dia bangkit dari kursinya, memetik sebiji anggur hijau di atas meja, kemudian memulai perburuannya. Pistolnya ia elus-elus seperti serif ulung di film-film koboi.

Ruang depan dan ruang tamu kosong melompong.

Begitu pun ruang bersantai. Hanya ada televisi yang sedang menyiarkan berita tentang korupsi yang sedang diselidiki pihak berwajib. Tapi tidak lama, karena televisi itu langsung meledak berkat kepiawaiannya menggunakan senjata. Lagipula dia sudah tahu siapa koruptorya.

“Wah, kamu jago sembunyi juga ya. Tidak heran dari dulu aku selalu kalah kalau main sama kamu,” seruannya bergaung di ruang bersantai itu. Tangannya menekan tuts piano di sudut ruangan dengan sembarangan. “Bagus begitu, karena kalau keliatan sedikit saja belangmu, aku bakal membuatmu menyusul kekasih pujaanmu.”

Tidak ada tanda-tanda makhluk hidup di ruangan itu. Bahkan cicak pun enggan menampakkan diri, khawatir terkena salah sasaran.

Dua jam sudah berlalu, namun si tuan rumah belum berhasil menemukan buruannya di kandangnya sendiri. Hal itu membuatnya agak frustasi dan mulai mencari-cari dengan kasar. Meja dibalikkan. Lemari ditembaki. Semuanya diobrak-abrik sampai membuatnya terengah-engah kelelahan.

Tidak jauh dari dapur tempatnya sedang berburu, sahabatnya meringkuk sedemikian kecil di bawah volks wagen Papanya yang berplat nomor merah, berharap tidak ditemukan.

Lima jam. . .

Tujuh jam. . .

Baru pukul tiga dini hari.

Si sahabat bertekad untuk tetap bersembunyi setidaknya sampai pukul tujuh pagi, meskipun harus terus-terusan ngompol setiap kali hasrat buang air kecil, yang sialnya datang lebih sering, menyerang. Setiap kali ngompol dia juga harus bersusah payah menjaga cairan urea itu tidak meluber keluar dari bayangan mobil. Berkali-kali dia melihat ke arah arlojinya yang berpendar di kegelapan. Ada dua kali dalam hidupnya ketika dia merasa waktu berputar begitu lama. Saat ini dan saat dulu ketika dia harus menunggu sahabatnya itu menjalani amputasi penis.

   Pukul tujuh pagi akhirnya tiba. Si sahabat memutuskan untuk keluar dari bawah mobil setelah berkali-kali memastikan jamnya tidak keliru. Namun belum ada dua inci kepalanya keluar, tiga buah peluru panas sudah melubangi ubun-ubunnya. Darah segera meluber bercamur kencing.

“Maaf, sayang, hari ini matahari tidak terbit,” kata si tuan rumah dengan bengis dari jendela mobil mewahnya. Rupanya sejak semalam dia sudah mengendap-endap ke sana tanpa sepengetahuan sahabatnya, seperti rubah licik mengelabui kelinci buruannya.

Ia tarik mayat sahabatnya keluar dari kegelapan bawah mobil, kemudian ia pandangi wajah yang pernah menghiasi hari-harinya itu untuk terakhir kalinya karena sebentar lagi dia harus membakar habis rumahnya beserta seluruh mayat dan kenangan yang menyertainya.

Melihat wajah rupawan sahabatnya yang penuh darah, tiba-tiba matanya begitu basah, sebasah atap rumahnya yang terguyur hujan sejak semalam. Selapis kenangan manis tiba-tiba mengiris ingatannya. Kenangan tentang kebersamaannya dengan kekasih tercintanya yang sekarang sudah tidak bernyawa lagi di kolong mobil birunya itu.

“Sekarang kamu bisa bercinta sepuasnya dengan kekasihmu di neraka, sayang!”

  • view 103