Asap

Rian Widagdo
Karya Rian Widagdo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Mei 2017
Asap

HADIAH ulang tahun ke dua puluh tujuhku yang paling ajaib adalah asap. Hadiah itu diberikan  oleh rekan kerjaku di kantor, terbungkus dalam kotak plastik transparan. Katanya asap itu bisa berubah menjadi apa saja yang kita inginkan. Tapi hanya untuk satu kali, setelah bungkusnya dibuka. Saat aku tanya darimana dia mendapatkan asap itu. Dia bilang itu tidak penting, yang penting aku bisa bahagia dengan asap itu. Aku hanya bisa tertawa dan berucap terima kasih. Orang dewasa mana yang akan percaya dengan lelucon seperti itu?

Aku pulang dengan perasaan lelah, tapi cukup bahagia dengan beberapa hadiah penuh perhatian dari rekan-rekan sekantor di jok belakang. Ada cokelat, ada miniature F1, ada parfum, dan yang paling tidak lumrah, adalah asap dalam kotak plastik itu.

Jalanan macet parah, padahal aku sudah janji mau menjemput kekasihku, Tina,  untuk makan malam spesial dalam rangka merayakan ulang tahunku. Sebenarnya aku tidak terlalu ambil pusing dengan perayaan ulang tahun. Hanya saja kalau itu bisa menjadi alasanku untuk makan malam spesial bersama kekasihku, kenapa tidak?

Aku lirik jam tanganku. 18.30, dan macet sepertinya masih berkilo-kilo meter di depan. Brengsek, kalau begini aku tidak bakalan bisa mandi dan merapikan diri, umpatku kesal. Jangankan mandi, acara makan malam ini saja bisa-bisa terancam batal.

Makan malam dengan kekasih bisa menjadi hal yang sangat penting mana kala sang kekasih berada ribuan mil dari sini dan hanya bisa ditemui satu semester sekali saat libur kuliah. Ya, Tina sedang menempuh pendidikan magisternya di salah satu universitas di Amerika. Aku tidak tahu pasti nama universitasnya, yang aku tahu pasti bahwa hari ini Tina akan pulang, spesial hanya untuk makan malam bersamaku. Sialnya, acara itu terancam batal lantaran macet keparat ini.

Sekali lagi aku lirik jam tanganku, berharap waktu belum berlalu begitu lama. Namun nyatanya jarum jam sudah hampir menyentuh angka tujuh. Benar-benar bangsat, makan malam ini sudah pasti batal.

Aku lihat di atas dasbor ada kotak biru kecil. Sebuah cincin meringkuk di dalamnya. Malam ini aku berencana melamar Tina kekasihku. Aku sudah tidak sabar bertemu dengannya.

Tiba-tiba mataku tertumbuk ke arah kotak plastik sebesar genggaman tangan di sebelah kotak cincin itu. Asap kelabu di dalamnya terombang-ambing membentuk gulungan kecil. Sejenak terbersit di kepalaku untuk percaya pada omong kosong rekan kerja yang memberikan hadiah spesial itu, namun segera aku tepiskan. Calon penerima gelar magister dari kampus ternama sepertiku tidak seharusnya mempercayai takhayul yang tidak punya landasan ilmiah seperti itu.

Asap itu membawa pikiranku memanjang ke arah Tina. Apa yang sedang gadis jelita itu lakukan sekarang? Mungkin sedang menungguku dengan gelisah di depan rumahnya. Dengan gaun malam berwarna ungu tua, warna kesukaannya. Rambutnya yang hitam panjang digelung ke atas, menampakkan leher putihnya yang jenjang. Kakinya dihias gelang yang selalu berbunyi ringan saat dia berjalan. Dan mungkin mulutnya tak henti-hentinya memanjatkan doa dengan suaranya yang merdu, semoga tidak terjadi apa-apa denganku. Dia tahu aku bukan tipe orang yang suka terlambat, apalagi ingkar janji.

Bunyi klakson dari mobil belakangku membangunkan lamunanku, memintaku segera maju. Keparat tua itu tidak tau ya kalau masih ada ribuan kendaraan di depan sana yang berhenti! Ingin aku keluar dan memotong tangannya supaya tidak bisa membunyikan klaksonnya lagi. Tapi aku urungkan karena di luar hujan mulai turun dengan deras.

Oh, Tina, apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Kenapa tidak kau balas pesan dan teleponku? Aku bisa mati tertikam rindu dan darah tinggi di sini.

Klakson masih berdengung meningkahi bunyi hujan. Dari suara-suara itu aku tangkap sebuah suara benda jatuh. Kotak plastik berisi asap itu. Aku ambil dan aku kembalikan ke tempatnya semula. Sesaat yang terasa lama, entah kenapa aku tertarik untuk mengambilnya lagi dan mengamati setiap detilnya. Mungkin karena tercengkeram kebosanan menunggu macet terurai, atau karena Tina tak kunjung membalas puluhan SMS ku.

Tina, apa yang sedang kamu lakukan sekarang. Jangan marah pada kekasihmu ini sayang, marahlah pada kemacetan terkutuk ini.

Asap kelabu itu bergulung, menyapu setiap sisi kotak plastik yang mengurungnya, seperti sedang memberontak ingin keluar.

Sebenarnya asap apa ini? Tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di benakku, diikuti dengan beberapa hipotesis paling masuk akal yang bisa kutemukan. Mungkin hanya asap rokok yang dimasukkan oleh si Wandi ke dalam kotak plastik yang entah ia dapat darimana. Atau bisa juga itu hanya mainan anak-anak.

TET! TET! TET!

Mobil di belakangku melayangkan klakson lagi. Aku abaikan. Kalau punya mata dipakailah. Lihat kondisinya, macet parah begini, gerutuku dalam hati.

Aku kembali melihat ngeri ke arah jam tanganku. Pukul 19.25. Aku janji kepada Tina untuk menjemputnya pukul 19.30. Pasti sekarang Tina sedang khawatir. Atau mungkin malah marah. Ah, tidak mungkin gadis sebaik itu bisa marah-marah. Sejauh hubungan kami yang sudah berjalan hampir dua tahun, aku belum pernah melihatnya marah. Parasnya terlalu cantik untuk dihiasi amarah. Senyuman adalah ekspresi yang paling pas berada di sana. Terakhir kali kami bertemu, sekitar tiga bulan yang lalu, senyumnya begitu manis sampai tidak bisa aku lupakan hingga detik ini.

Ah, Tina, sedang apa gerangan engkau di sana?

Hujan turun semakin deras. Orang-orang mungkin sudah capek memainkan klaksonnya dan lebih memilih menikmati irama hujan di atap mobil mereka. Aku sendiri lebih memilih memanjakan ingatan-ingatanku bersama Tina, terlebih pertemuan pertamaku dengan gadis sunda itu.

Waktu itu hujan juga turun dengan deras seperti ini, dan kami sama-sama sedang kedinginan di halte Trans Jakarta. Waktu itu kami sama-sama baru pulang rapat. Kami adalah teman satu organisasi di kampus. Jadi kami sudah cukup kenal walaupun belum terlalu akrab. Dengan lagak seperti pria sejati aku angsurkan jaketku ke pundaknya. Dan saat itulah aku baru menyadari Tina memiliki mata yang sangat indah.

Sejak saat itu kami baru mulai benar-benar akrab. Berawal dari Tina yang mengembalikan jaketku, hingga berakhir pada makan malam yang cukup menggairahkan di salah satu restoran di bilangan sudirman. Dan di meja makan itulah aku menyatakan perasaanku. Awalnya Tina ragu karena dia bilang setelah lulus kuliah dia akan langsung meneruskan S2 di Amerika. Aku bilang aku sanggup berkasih-kasih jarak jauh dengannya. Dan terbukti, hubungan kami langgeng-langgeng saja selama hampir dua tahun ini.

Pukul 20.00, aku lebih sering menatap HPku dan menghubungi nomor kekasihku. Tapi sambungan selalu terhalang oleh suara operator. Brengsek. Ada apa denganmu Tinaku sayangku?

Aku nyalakan radio mobil, berharap bisa menemaniku melalui kegilaan ini. Hampir semua stasiun memutar lagu sedih. Aku tidak peduli lagu apa yang mereka putar, yang penting ada suara selain bunyi klakson dan suara hujan.

Pukul 20.30 Tina belum juga membalas pesanku atau menghubungiku balik. Kemacetan mulai terurai, tapi pikiranku sebaliknya, semakin ruwet saja. Tidak biasanya Tina berbuat begini. Dia adalah orang terdidik yang akan marah dengan cara terdidik juga. Tapi mendiamkanku seperti ini sama sekali bukan gayanya. Tapi entahlah, dia kan belum pernah marah, siapa tahu memang beginilah gaya ngambeknya.

Aku coba hubungi nomornya lagi, sekali lagi, dan terus berlanjut sampai aku benar-benar terbebas dari kemacetan brengsek itu. Aku tidak kepikiran untuk mandi dan berdandan lagi. Aku langsung tancap gas menuju rumah Tina.

Aku kaget saat di depan rumahnya banyak orang, mengenakan pakaian serba hitam. Aku segera memarkirkan mobilku di dekat bendera putih kecil. Firasatku tidak enak. Sepertinya aku tahu bagaimana sekenarionya. Kenapa Tina tak kunjung membalas pesan singkatku, atau mengangkat teleponku.

Aku turun dari mobil, merayap perlahan ke arah rumah. Pertama-tama yang kutemui adalah Ibu Tina. Dia langsung memelukku penuh simpatik, di susul kemudian suaminya. Berjalan ke dalam aku temukan jazad yang aku cari. Terbaring kaku di dalam peti. Itu Tinaku. Tina yang aku rindukan. Tina yang sebentar lagi bakal jadi istriku. Tapi sekarang dia pucat seperti kafan yang membungkusnya.

Aku menangis dan kembali ke mobil, belum siap menerima kejutan ulang tahun seperti ini. Aku melajukan mobilku tak tentu arah. Yang ada di dalam otakku hanya bagaimana caranya supaya aku bisa bertemu dengan Tinaku lagi. Berbincang lagi. Makan malam bersama, kemudian melamarnya.

Aku lihat calon cincin pertunanganku dengan dramatis. Sekonyong-konyong sisi warasku terjungkal menyadari bahwa semua itu tidak akan pernah terjadi. Kotak plastik di sebelahnya membiarkan asap yang dikandungnya menggeliat merayuku, lalu sekonyong-konyong sisi otakku yang paling logis seperti terpuntir. Aku ambil kotak itu dengan sebelah tanganku yang tidak memegang kemudi, aku campakkan tutupnya bersama dengan kewarasanku, lalu segumpal asap keluar meliuk di depan hidungku. Aku abaikan suara klakson di belakang dan mulai merapalkan keinginanku.

Asap kelabu itu menari-nari perlahan, memburamkan pandanganku sebelum akhirnya berubah bentuk. Perlahan namun pasti, Tinaku duduk di sana, di sebelahku, lengkap dengan senyumnya. Takut Tina akan menghilang dan meninggalkanku lagi, dengan tidak sabar aku segera memeluknya, mencumbunya mesra, tidak mau ambil pusing dengan truk di depan yang mengklakson dengan kesetanan.

Ah Tina, sekarang kita bisa bersama selamanya. . .

  • view 119