Sekuntum Sabda untuk Bunda

Rian Gusman Widagdo
Karya Rian Gusman Widagdo Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 September 2016
Sekuntum Sabda untuk Bunda

kasihnya tak pernah lekang oleh waktu
cintanya tak pernah hilang oleh zaman
kesabarannya tak pernah terputus oleh asa
hatinya tak pernah kalah oleh emas
senyumnya tak pernah kalah oleh madu
doanya tak pernah putus oleh dengki
langkahnya tak pernah lelah oleh usia
dan dirinya tak pernah dilebihi oleh apapun
kecuali penciptanya dan panutannya
dialah sang pahlawan yang tak pernah kalah oleh dunia

KAKI langit sudah menghitam dan seruan Tuhan sudah memanggil-manggil dari menara-menara berkubah ketika cairan itu baru saja menyerbu sel-sel darahku. Sensasi yang sudah amat kukenall mulai membius setiap sel saraf dalam tubuhku, menjangkau setiap sudutnya.

Ya, aku merasakannya. Sentuhan-sentuhan tangan iblis itu kembali membelai-belai kesadaranku, menawarkan sejuta kenikmatan yang sudah tak asing lagi bagiku.

Panggilan suci yang sama sekali tak berniat kupenuhi itu sudah berakhir di ujung senja bersamaan dengan tetes terakhir dari zat setan yang baru saja menunaikan tugasnya. Kucabut suntikan itu dari lipatan dalam tanganku dan kulemparkan begitu saja ke lantai.

Aku mulai merasakan kenikmatan yang tak terkira dari setiap partikel setan yang menjajah imajinasiku, yang berhasil menyamarkan bau pesing ruangan lantaran kekacauan saraf yang sedang kuderita.

Aku tahu bahwa ini hanya kenikmatan semu. Aku tahu betul itu. Tapi tak dapat kupungkiri lagi bahwa aku menyukai hal yang semu ini. Aku ketagihan. Bagaimana tidak jika aku tak pernah menolak ajakan dansa darinya. Yah, mungkin karena bagiku dia adalah sosok teman sejati sekaligus orangtuaku yang sebenarnya. Tentu saja wanita penjual kue berwajah buruk, miskin dan selalu tampak memprihatinkan itu tak layak kupanggil ibu. Bagaimana mungkin aku mau memanggilnya ibu kalau bisanya hanya memberiku doa saja. Apalagi kebanyakan doanya tidak mungkin dikabulkan. Masakan dia berdoa agar suatu saat, walau hanya sekali saja, dia ingin mendengar lantunan ayat suci Al-Qur’an dari mulut anaknya ini. Mana mungkin. Itu muskil namanya. Orang huruf hijaiyah saja aku tidak tahu. Lagian kenapa juga bapak mesti mati tanpa meninggalkan secuil barang berharga apapun kecuali rumah reyot itu, yang jelas tidak bisa dikatakan berharga sama sekali. Sering aku berpikir kalau Tuhan benar-benar tidak adil. Tak salah, kan, jika aku menjauhinya?

Maka dari itu aku memilih para ibu yang selalu memanjakanku setiap malam dengan aroma-aroma kenikmatan yang membutakan saraf ini. Tak ada urusan jika efeknya juga bisa membutakan mata hati.

Malam semakin larut. Jangkrikpun sepertinya sudah terlalu mengantuk untuk mendendangkan lagu-lagu rohani mereka. Hanya kelelawar dan burung hantu yang masih sibuk dengan urusan perut mereka. Namun sepertinya setan belum mau berhenti memanjakan diriku. Wanita dengan dada setengah terbuka di sebelahku menawarkan seteguk kenikmatan yang lain. Begitupun dengan botol-botol anggur yang tampak tersenyum menggoda di atas meja di sebelahku.
Bersama dengan gerombolan pecundang yang lain, malam inipun aku isi dengan gelegak kenikmatan yang disuguhkan oleh makhluk-makhluk bertanduk yang baru keluar dari neraka Jahanam.

Rangkaian asma Allah jelas bukan termasuk prioritas di sini, apalagi tumpukan PR yang mengarat di atas meja belajar yang sudah tersemir dengan jalinan pita sarang labah-labah. Terbengkalai, tak terjamah sama sekali, seperti arsip rahasia bernilai jutaan dolar.

Bergumpal-gumpal asap nikotin dan ganja masih menyaput seisi ruangan bekas gudang pabrik tembakau itu, beradu dengan bau amis dan pesing. Mungkin bagi orang lain baunya memuakan. Tapi bagi kami ini suatu kenikmatan. Baru setelah terdengar sirine petugas patroli malam kami memutuskan, dengan sangat terpaksa, untuk menyudahi undangan dari para penghasut ulung itu. Dalam sergapan itu beberapa kawanku tertangkap. Yah, karena kondisi kami yang sedang mabuk, jelas bukan hal yang sulit untuk membekuk cecunguk macam kami. Untungnya aku berhasil melarikan diri, lagi. Tentu saja dewi fortuna sangat berperan dalam keberhasilanku melarikan diri kali ini, mengingat aku juga dalam keadaan mabuk berat. malahan aku pikir akulah yang paling mabuk malam ini.

Terima kasih Tuhan, Kau sudah memberiku kesempatan untuk merasakan lagi kenikmatan yang sempat terputus ini, walau aku baru bias merasakannya lagi di lain waktu.

***
AKU menggeliat malas ketika seberkas sinar mentari pagi yang menerobos lewat tirai jendela kamarku menerpa sisi-sisi bulu mataku. Berat rasanya untuk pergi ke sekolah kalau tidak ingat sore ini ada jadwal adu jotos dengan SMA sebelah.

Jam weker penyokku sudah menunjukkan pukul sembilan lebih. Tapi apa peduliku. Tidak ada kata terlambat dalam kamus kependidikanku. Bukankah aku pergi ke sekolah bukan berpatokan pada waktu? Tapi berpatokan pada kemauan.

“Di sekolah jangan berbuat macam-macam, ya, Nak. Belajar yang rajin,” kata ibu sambil merogoh dompetnya untuk memberiku uang saku. Disodorkannya lembaran uang kertas bergambar Imam Bonjol itu kepadaku.

“Apaan, nih?! Uang segini bisa dapat apaan?!” sergahku ketus sembari merebut dompet dari tangan ibuku dengan kasar. Ternyata di sana ada beberapa lembar uang puluhan. Apa aku bilang. Dia memang tidak sayang denganku. Tanpa basa-basi kupindahkan lembaran-lembaran rupiah berbau apak itu ke kantung bajuku dan kucampakan dompetnya begitu saja ke lantai.

“Jangan, Nak. Itu untuk modal ibu jualan kue besok,” ratap ibuku.

“Alah, dagang kue nggak enak juga,” mulutku menyembur dengan buas. “Memangnya apa, sih, yang sudah ibu kasih buat Aldo?! Nggak ada, bu, selain penderitaan!”

Ibu mengelus dada sembari mengucapkan istighfar pelan.

“Sadar, nak! Sadar!” kata ibu lagi, mencoba menasehati.

“Udah, deh, nggak usah sok-sok ngatur Aldo! Urus aja kue-kue ibu yang nggak laku itu,” tandasku mengakhiri perdebatan rutin kami pagi itu dengan menendang kue-kue dagangan ibu hingga tumpah, tersebar merata ke lantai tanah rumah kami.

Selanjutnya, seperti yang sering terjadi, tak kuhiraukan lagi isak tangisnya.

Dasar. Sudah buruk rupa, miskin, pakai sok-sokan ceramah lagi. Dosa apa aku keluar dari rahim wanita senahas dia.

***
ANISA. Sejuta pesona hanya dalam satu senyuman. Berwawasan luas, cantik, dan yang paling jelas dari sosoknya adalah adalah kesan berbeda dari remaja yang lainnya. Tidak neko-neko, berjilbab rapat, dan taat beribadah. Hanya satu yang menurutku menyebalkan darinya. Dia jago beladiri. Menggoda saja sudah kena karate. Namun sampai sekarang dari lubuk hatiku yang terdalam aku mencintainya. Getar-getar ini merambat liar di hatiku yang gelap, menusuk-nusuk alam bawah sadarku. Sugesti untuk memilikinya begitu kuat. Tapi apalah artinya punguk bila dibandingkan dengan rembulan. Dia ketua OSIS, peraih rangking satu paralel berturut-tuirut selama masa baktinya di sekolah ini. Sholehah pula. Sementara aku? Pembuat onar, tukang bolos, pecinta tawuran, dan pecandu narkoba. Pecandu berat malah.

Ah, masa bodoh. Marijuana dan teman-temannya jauh lebih cantik daripada seluruh wanita manapun di dunia ini, termasuk kamu, Nis. Walaupun jujur, rasa ini takkan pernah bisa mengalahkan rasa cintaku padamu, sampai kapanpun.

***
KUGELEDAH seisi rumah demi mencari rupiah atau barang-barang yang bisa kurupiahkan. Kalung dan cincin pertunangan ibu sudah kubabat demi memenuhi gejolak yang menggelegak dalam setiap sel darahku. Sementara kali ini, saat perasaan yang meremas-remas saraf itu datang lagi, aku sudah tak punya apa-apa lagi untuk kutukarkan dengan barang yang sekiranya dapat menenangkan tekanan ini. Tapi tak kutemukan barang sesenpun di rumah reyot ini kecuali kue-kue sialan yang seolah-olah tertawa mengejekku dari atas rak-raknya di sisi seberang ruangan. Tak pelak lagi makanan bulat-bulat itu langsung mendapat sapaan dari tanganku.

“Ya Tuhan,” seperti yang sudah disekenariokan oleh Tuhan, ibuku masuk sambil meratap dan mencoba meredakan amukanku dengan sia-sia. “Insyaf, nak! Insyaf!”

“Di mana ibu menyembunyikan uang?!” tuntutku kesetanan.
“Ibu betul-betul sudah tidak punya uang lagi, nak,” rintih ibu dengan setitik air mata yang mulai menggenangi sudut matanya yang miring sebelah. Tapi apa peduliku dengan air mata itu. Aku sedang sangat butuh uang untuk membeli barang itu, sore ini juga. Jadi tak ada waktu untuk mendengar keluh-kesah janda ini.

Tubuhku sudah menggigil hebat. Pandanganku mulai tidak dapat fokus lagi. Keringat dingin berhasil membasahi kaos oblong biru mudaku. Sakaw kali ini benar-benar menyiksaku, membelengguku dengan rasa ngilunya yang tak nyaman.
Aku harus mendapatkan barang itu segera! Pikirku kalut.

Kalau ibu benar-benar tidak punya uang, hanya satu jalan yang bisa kutempuh. Terpaksa aku harus menjual surat-surat rumah ini.
Itu dia. Ada di laci nomor dua, tergeletak tak jauh dariku. Surat-surat tanah yang sudah menjamur.

Tanpa banyak cingcong lagi kugasak lembaran-lembaran kusam itu dari laci meja. Tak kuacuhkan protes dan derai air mata ibuku. Bahkan dengan ringan kuhentakkan tengan-tengan keriput itu dari bahuku hingga pemiliknya jatuh terjengkang membentur meja. Samar kulihat kepalanya berdarah-darah. Tapi urusanku dengan gejolak dalam darah ini lebih penting dari wanita tua yang memang sudah sepantasnya tidak merasakan kejamnya dunia lagi.

Kulangkahkan kaki bersandal jepitku menuju pintu dimana aku akan segera memenuhi jeritan hasrat yang sudah tak dapat terbendung lagi ini. Tak memikirkan lagi di mana esok kami akan tinggal.

***
SEKARANG kami menggelandang. Maksudku ibuku. Sementara aku sendiri lebih sering menumpang secara bergiliran ke tempat teman-teman dekatku, atau terkadang tidur di tempat biasanya, bekas gudang pabrik sembako, dengan ditemani kehangatan berbotol-botol cairan beraroma alkohol.

Sialnya, saat malam semakin larut, dan perasaan tak mengenakan yang biasanya datang saat aku sudah kehilangan zat didalam darahku kembali memukul-mukul sekujur tubuhku, tak ada obat sekarat ini lagi di tanganku. Ditambah dengan tak adanya uang serupiahpun yang masih tersisa di sakuku, sepertinya keadaannya bakal lebih buruk dari yang kuperkirakan. Sisa pemborongan narkoba kemarin sudah aku habiskan untuk lima botol topi miring ini.

Kunyalakan batangan nikotin dan kembali kureguk cairan ‘manis’ dalam botol keempatku, berharap semua ini sanggup mengusir hujaman rasa pahit di tubuhku.

Namun sepertinya serangan ini tak dapat kubendung lagi. Kembali aku terjun ke dunia gersang yang tak pernah kuinginkan kedatangannya. Sesegera mungkin aku harus mendapatkan penawarnya. Meskipun bandarnya adalah temanku sendiri, tapi dia sudah tak mau lagi memberiku cuma-cuma seperti waktu pertama dulu saat dia memperkenalkan permen-permen cantik itu padaku.

Kuhempaskan gumpalan tar dan nikotin itu dalam perjalananku mencari ide. Jelas bukan hal mudah bagiku untuk mendapatkan ide dalam keadaan sekarat seperti ini—orang dalam keadaan sehat saja sulit. Sungguh suatu keajaiban besar kalau aku sampai bisa menemukan ide untuk memecahkan permasalahan pelik ini. Untungnya dewi keberuntungan masih mau mengulurkan tangannya padaku.

Ok. Mencuri memang bukan keahlianku. Tapi aku bisa mencobanya. Apa, sih, yang tidak bisa aku lakukan demi narkotikku tersayang. Lagipula sepertinya keadaan cukup mendukung. Sudah lewat tengah malam. Tinggal mencari sasaran empuk.

Lagi-lagi aku beruntung. Sepertinya dewi fortuna mulai mencintaiku. Tempat itu langsung aku temukan dalam beberapa langkah saja. Sebuah toko yang buka dua puluh empat jam tanpa penjaga. Mungkin penjaganya baru ke kamar mandi.

Kulihat di emperannya duduk tertidur seorang wanita paruh baya dengan sebuah tas rotan teronggok di sampingnya. Wajahnya tertutupi oleh kerudungnya yang terpasang miring. Kuduga dia adalah seorang gelandangan.

Ah, tak ada waktu untuk menilai gelandangan itu. Langsung saja kurengguk sebanak-banyaknya barang dagangan di took itu. Bahkan saking tergesa-gesanya tanpa sadar aku juga meraup pembalut wanita yang terpajang di rak di dekatku. Apa peduliku.

Yang penting aku bisa mendapatkan uang.

Tiba-tiba si pemilik toko keluar. Aku langusng menghentikan kerja tanganku dan segera mengambil langkah seribu sebelum si pemilik toko memergokiku. Namun tak lama kemudian aku mendapatkan ide brilian untuk mengalihkan tuduhan pencurian ini kepada seseorang. Dan gelandangan di emperan toko ini merupakan sasaran empuk bagiku. Aku segera meletakkan beberapa barang, termasuk pembalut wanita di dekat gelandangan tadi. Tak lupa kubangunkan si gelandangan wanita—masakan orang tidur bisa mencuri. Tidak lucu, kan, kalau ketahuan hanya gara-gara sedikit keteledoran?—untuk mendukung alibiku.
Alangkah kagetnya aku setelah melihat wajah gelandangan itu. Tak salah lagi. Mata miring sebelah, hidung pesek, dan mulut tak simetris itu jelas milik seseorang yang sudah amat kukenal. Ku rasa hanya ada satu orang di dunia ini yang memiliki bentuk wajah seburuk itu.

Teriakan pemilik toko menyadarkanku untuk segera menghentikan tatap muka yang canggung ini. Aku langsung beringsut meninggalkan seruan memanggil-manggil namaku dari mulut si wanita gelandangan itu.

Tak lama kemudian, dari kejauhan kulihat bergerombol-gerombol orang mulai mendatangi ibuku. Dan dengan prolog cerita dari si pemilik toko yang peranakan orang Cina itu, ibukupun mulai dipukuli dengan sadis. Kudengar teriakan melolong yang menyayat hati dari dalam kerumunan, meningkahi bunyi gedebuk kesakitan, meyebut-nyebut nama Sang Maha Pencipta.

“Dasar pencuri tua!!!:” kudengar kecaman-kecaman semacam ini mengiringi kepergian ibuku ke alam yang lain. Ke alam di mana mungkin dia bias mendapatkan secuil kebahagiaannya.

Selamat tinggal ibu.

Anehnya, kulihat wajah ibuku tampak pasrah saja sewaktu menggandeng tangan malaikat pencabut nyawa. Bahkan dia terkesan bahagia dalam keadaan berdarah-darah seperti itu. Apa karena dia tahu kalau sebenarnya yang mencuri itu adalah aku? Atau karena dia tahu betul bahwa setiap ibu diciptakan untuk melindungi anaknya?!

Ah, masa bodoh dengan perkara ini. Bukankah dia sendiri yang memaksaku melakukan semua ini? Coba kalau dia lebih kaya, aku pasti tidak akan melakukan hal ini

Aku melenggang dengan membawa sebongkah batu dalam rongga dadaku.

***
KENAPA rasanya sudah tidak senikmat dulu lagi? Kenapa buaiannya sudah tidak selembut dulu lagi? Kenapa bisikannya sudah tidak semerdu dulu lagi? Kenapa jamuannya sudah tidak semegah dulu lagi? Kenapa? Apa karena peristiwa itu?

Ah, bukankah kamu sudah tidak mengakuinya sebagai ibumu, Di. Barang-barang inilah ibumu yang sejati. Nikmatilah, Di. Ayo, jangan ragu-ragu. Aku mencoba memaksimalkan perasaan nikmat dari candu yang merasuki tubuhku. Tapi tetap saja tidak bisa. Seolah-olah kejadian malam itu menjadi tembok yang membatasi setiap dinding-dinding sel sarafku.

SIALAN!!!

Kubanting botol miras ke tembok seberang hingga hancur berkeping-keping.

Kucoba menambahkan dosisnya. Mungkin ini sudah saatnya bagiku untuk merasakan kadar yang lebih tinggi lagi.

Lebih sialnya lagi, karena terlalu terbuai dalam kecamuk perasaan yang seperti itu aku samapi tidak menyadari langkah-langkah kaki para petugas yang menerobos masuk tanpa permisi terlebih dahulu.

Dan saat itu juga aku resmi ditangkap, bertepatan dengan adzan subuh pertama di bulan Ramadhan.

***
LAGI dan lagi. Sepertinya ancamanku hanya dijadikan angin lalu saja olehnya. Sudah setahun ini dia membuat telingaku tuli dengan lantunan ayat-ayat dari kitab suci mungilnya. Sampai-samapi aku mengajukan pada sipir untuk pindah sel karena aku tidak mau satu kurungan lagi dengan penjahat yang sok alim itu. Masakan kerjaannya cuma tadarus terus. Udah, deh, penjahat-penjahat aja. Sok-sokan mau jadi ustadz. Apa kulukai pipi dan dadanya lagi saja, ya?

Tapi jujur. Setelah lima tahun berlalu aku sudah tidak menutup telingaku lagi setiap mendengar nyanyianya. Bahkan kerap kali dengan lancang air mataku meleleh tanpa aku minta. Apakah ini tanda bahwa program rehabku berhasil?

Baru sekarang kurasakan ada nada yang hilang dalam simfoni kehidupanku.

Dan siang itu baru kurasakan sebuah perasaan kehilangan.

Nugroho, teman satu tahananku yang dengan sabar sudah membimbingku belajar membaca Al-Qur’an, siang ini dibebaskan. Aku tidak perlu tahu dia punya masalah apa. Tapi jahat rasanya bila aku mengharapkannya tetap menemaniku di dalam sel. Hanya saja bagaimanapun dia telah berjasa dalam merubah kemudi kapalku.

Sekarang setiap malam tahananku terasa bisu. Tidak ada yang menghiasinya dengan lantunan nada-nada surga seperti dulu. Ada sedikit rasa menyesal atas perlakuanku terhadap lelaki yang giat mengaji itu.

Sendirian aku merenung. Kerap aku menangisi perbuatanku di masa lalu. Bahkan pukulan yang paling berat lebih sering kurasakan setiap ingatanku akan malam yang naas itu bangkit kembali, menyegar di dalam otakku yang telah layu.

Masa hukuman yang kulalui dengan keadaan seperti itu membuat hatiku terkuliti.

Dia mati gara-gara aku. Itulah yang kupikirkan, yang membuatku lebih sering terpuruk, menyalahkan diriku sendiri atas kepergian ibuku. Padahal dulu sangat tidak mungkin perasaan seperti ini muncul di benakku.

Apakah aku sudah insyaf? Mungkin. Karena aku tahu cahaya itu bisa datang menghampiri siapa saja, termasuk aku, orang yang dulu mungkin akan pernah mencium panasnya neraka.

***
SINAR sang raja siang menusuk ubun-ubun setiap insan, menjatuhkan mental mereka dalam hitungan detik. Aku berteduh di sebuah emperan sebuah toko buku. Selalu aku mendatangi tempat itu. Meskipun hanya toko buku bekas, namun suasananya begitu baru bagiku. Dingin dan nyaman. Lama-lama aku tergoda juga dengan Al-Qur’an yang terpajang di display sederhana itu.

Al-Qur’an itu seolah menantang hati nuraniku dan mentalku.

Jelas hanya ada satu jalan bagiku yang pengangguran, yang hanya bisa makan dari mengais keranjang sampah ini, untuk memiliki sebuah kitab suci. Kerena hanya dengan memiliki kitab suci aku bisa mewujudkan do’a ibuku yang ingin mendengarkan bait-bait suci itu keluar dari mulutku yang menghitam dimakan dosa. Mungkin ini sudah terlambat. Tapi aku yakin ibuku bisa mendengarnya dari surga. Bukankah di hari terakhirku dalam kurungan aku sudah membuat kesepakatan dengan diriku sendiri untuk belajar membaca Al-Qur’an lebih giat lagi. Bahkan aku berniat untuk mendalaminya.

Akhirnya di siang yang terik itu aku memberanikan diri untuk mengutil Al-Qur’an di toko buku bekas AN-NUR. Kebetulan saat itu pemiliknya baru menunaikan sholat dhuhur.

Tanpa pikir panjang aku memerintahkan tanganku untuk menjalankan rencana.

Tenang, kamu pernah melakukannya dengan hati ringan. Lagipula bukankah ini untuk kebaikan? Aku mencoba memotivasi diri.

Dengan berbekal niat, dalam sekejap mata Al-Qur’an itu sudah berpindah tempat. Sialnya, ternyata ada yang memergoki aksiku.

Langsung saja kepalan-kepalan bogem mentah itu merubah warna dan bentuk tubuhku menjadi biru lebam dan benjol-benjol.

“Ada apa ini?” seorang pria yang sudah berada di penghujung usia tergopoh-gopoh menyeruak di antara kerumunan. Samar-samar kukenali dia sebagai pemilik toko buku bekas AN-NUR.

“Dia sudah mencuri di toko buku bapak,” salah satu hakim dadakan itu bersaksi, dan yang lain membenarkan.

Pak Abdulah, nama pemilik toko buku itu menatapku sekilas kemudian berujar lirih.

“Kalian salah sangka,” katanya dengan suara renta,” aku sendiri yang menyuruhnya mengambil Al-Qur’an itu. Jadi lebih baik sekarang kalian bubar.”

Kudengar dengungan dari masa yang membubarkan diri, sementara aku, yang juga berusaha bangkit, tampak tercengang dengan penuturan Pak Abdulah barusan.

Pak Abdulah membantuku bangun dan membawaku ke toko buku bekasnya, kemudian dibawakannya aku segelas teh hangat dan air untuk membersihkan luka-lukaku.

Aku sangat malu duduk sedekat ini dengan Pak Abdulah. Ingin rasanya kurobok-robek mukaku dan kulelehkan diriku lalu meresap ke pori-pori tanah. Tapi itu terlalu mustahil untuk terjadi. Akhirnya kuputuskan untuk menghadapi ini secara jantan.

“Maafkan saya, pak. Saya tidak bermaksud…” kataku di sela derai air mata yang tiba-tiba menganak sungai di kedua belah pipiku.

Ku sodorkan barang curianku itu pada pemiliknya yang sah.

“Sudahlah. Ambilah Al-Qur’an itu. Lagipula, paling-paling Al-Qur’an setua itu sudah tidak ada yang minat lagi,” kata Pak Abdulah lembut. Pecinya yang miring tampak pas betul di keplanya yang bulat telur. Wajahnya yang penuh goresan waktu menunjukkan keikhlasan batinnya.

“Begini saja, pak. Boleh saya bekerja di toko buku bapak? Hitung-hitung untuk membayar Al-Qur’an ini,” kataku bahagia akhirnya bisa mendapatkan ide yang lurus.

“Oh, boleh-boleh. Kebetulan sekali. Sebenarnya bapak berencana menutup toko buku ini. Bapak ingin mengurus cucu saja di rumah,” kata Pak Abdulah ceria.

Aku mengambil tangan renta itu dan menciumnya. Segera air mataku berpindah ke lekukan-lekukan di tangan Pak Abdulah.
Terima kasih Tuhan. Kau memberiku kesempatan untuk menangis lagi.

***
BIDADARI yang telah lama terselip di hatiku itu sore ini tiba-tiba muncul lagi di hadapanku, dengan sejuta pesonanya yang tak pernah pudar. Getar-getar itu kembali menjalar liar di setiap sel liverku.

“Lho, kamu….” Aku geragapan. Segera kuberesi Al-Qur’an yang baru saja kukaji. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu gadis semenawan ini lagi. Tapi aku tak heran jika rasa malu juga turut tersulam bersama getar-getar liar itu. Banyak tingkah lakuku dulu yang melecehkan gadis yang sama sekali tak pantas untuk mendapatkan penghinaan ini.

Anisa juga tampak terkejut.

“Lho, Aldi? Jadi kamu, to, yang jaga toko buku bapak. Kok…” dia tidak melanjutkan kata-katanya, mungkin takut menyinggung perasaanku. Tapi dari matanya aku tahu bahwa dia heran dengan perubahanku. Rambut bercat dan punk banget itu kini hitam rapi tertutup peci. Rokok dan botol minuman keras yang sering kusandang itu kini berganti dengan Al-Qur’an. Dan baju metal bersemat rantai dan tetekbengek lainnya itu kini berganti baju gamis rapi jali.

Aku juga merasakan sambaran itu. Namun bukan pada penampilan Anisa, tapi pada penuturannya.

“Anisa, jadi kamu putri Pak Abdulah?” geragapku menyadari sesuatu yang boleh dibilang ajaib ini.

Anisa mengiyakan sembari menyerahkan rantang berisi makanan berbuka kepadaku.

Aku langsung teringat dengan penawaran Pak Abdulah minggu lalu dalam kunjungan rutinnya, yang sampai detik ini masih bisa mengoyak jantungku. Beliau memintaku untuk menjadi menantunya. Jelas aku tidak langsung mengiyakan begitu saja. Bahkan aku terkesan menolaknya. Aku tahu betul siapa aku dan siapa putri beliau. Kurasa wanita paling lacur di dunia-pun tidak pantas kudapatkan.

Tapi sore ini segalanya terasa semakin berat. Jadi yang Pak Abdulah maksud ingin dinikahkan denganku itu si Anisa ini. Sebegitu percayakah Allah pada hamba-Nya yang telah menghianati-Nya ini?

“Jadi, kamu yang…” aku menduga Anisa juga sudah tahu tentang berita perjodohan ini dari bapaknya. Dan aku juga tahu betul bahwa sebenarnya Anisa juga ragu dengan pilihan bapaknya, mengingat dia pernah tahu riwayat hidupku semasa SMA dulu. Tapi ternyata sore itu Allah masih ingin menunjukkan kasih sayang-Nya kepadaku.

Surat dari Departemen Agama itu jelas memberitahukan bahwa aku telah memenangkan lomba baca Al-Qur’an tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Depag bulan lalu. Dan saat itu juga aku langsung tahu bahwa surat ini juga telah menghapus keraguan di hati Anisa, yang itu bisa berarti segalanya dalam hidupku.

Ups. Maksudku hampir segalanya, karena yang segalanya itu hanya untuk Allah semata.

Terima kasih ibu atas do’a-do’amu. Maafkanlah anakmu yang telah banyak menyakiti hatimu ini. Aku sangat mencintaimu lebih dari apapun. Tapi aku tahu engkau tidak menginginkan cinta ini. Karena engkau hanya ingin agar cinta terbesar dari putramu ini aku berikan hanya untuk Allah dan Rasul-Nya saja, melebihi cintaku pada siapapun di jagad raya ini.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    10 bulan yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan yang seolah tiada henti mengejutkan pembacanya. Perubahan dari seorang pengguna narkoba, dosanya sebagai anak durhaka terhadap sang ibu lalu insyaf mengalir secara runut, lugas dan beberapa bagian terasa sangat kasar. Rian secara jujur menuangkan gelapnya hidup seorang pecandu hingga ia sampai tega menyiksa ibunya sendiri. Selain sukses mengangkat sisi sadis Aldi baik sebagai penikmat narkoba dan anak yang kurang ajar, Rian juga menampilkan bagian paling menyayat hati, sekaligus inti karya ini, yaitu sikapnya yang sangat buruk terhadap ibunya.

    Bagian paling sedih yang paling ‘ngena’ adalah membayangkan adegan sang ibu dipukuli oleh massa akibat dituduh mencuri sedangkan sebenarnya Aldi lah pelakunya. Tetapi sang anak malah memilih kabur. Tak mengherankan bila setelah Aldi bisa bersih bahkan bekerja dan mendapatkan cinta Annisa, ia tetap tak bisa merasakan kebahagiaan seutuhnya mengingat rasa penyesalan yang tak sempat ia utarakan untuk sang ibu. Karya yang tuntas dengan sepenggal rasa pilu yang membekas. Bagus sekali, Rian!