Dari Aku yang (masih) Mengagumi Dirimu

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Februari 2016
Dari Aku yang (masih) Mengagumi Dirimu

Aku rindu kamu. Kamu yang ku jumpa di Yogyakarta setahun yang lalu. Kamu yang bisa dikatakan jauh dari tipe lelaki kesukaanku. Aku suka lelaki yang chubby dengan rambut rapi. Tapi kamu? Kurus, pipi yang tirus dan kamu pecinta alam. Sering mendaki, juga seorang seniman. Mungkin itu yang membuatku menaruh hati padamu. Meskipun sahabatku sendiri mengatakan bahwa kita tidak cocok.

Aku mulai mengagumimu ketika kita berteman di salah satu media sosial dan aku menengok isi dari linimasa akunmu. Status yang kamu tulis, foto-foto yang kamu publikasikan, dan kenyataan bahwa kamu lulusan pesantren. Ditambah kita juga berteman di aplikasi untuk chatting. Kita pernah berbincang. Kamu ingat? Di bulan februari, di tengah malam, kamu mendadak mengirimkan pesan dan mengajakku untuk mengobrol. Sepertinya kamu tidak ingat akan hal itu. Kamu kan pelupa. Handphone dan dompet saja kamu bisa lupa untuk menaruhnya.

Satu April, tengah malam. Kamu mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Walaupun pesan darimu kubaca ketika pagi mejelang. Namun, aku terkejut ketika ada sticker bergambar pelukan. Bukannya aku ingin sok suci, tapi aku tidak biasa berkirim sticker atau emoticon bergambar pelukan denganmu atau teman-teman dari wilayah 4. Aku kaget dan seketika terbawa emosi.

Aku semakin sering berkunjung ke akun media sosial milikmu. Diam-diam menyimpan foto-fotomu ke dalam laptopku. Terkadang ku pajang sebagai wallpaper di smartphone-ku. ?Dan di setiap malam aku memikirkanmu sebelum dibuai bunga tidur. Kamu yang tidak tampan karena jerawatan. Namun, tak perlu alasan untuk menyukai seseorang bukan?

Katanya, menyukai seseorang akan berlangsung selama empat bulan. Jika lebih dari itu, bisa dipastikan bahwa kita benar jatuh cinta. Aku, menyukaimu, mengagumimu sudah lebih dari empat bulan. Apa itu artinya aku memang jatuh cinta kepadamu?

Tapi apa itu cinta? Ah, aku masih terlalu awam untuk mengenal cinta yang sesungguhnya. Walaupun aku pernah berpacaran. Tiga kali aku menjalin hubungan, ketiga kali itu pula aku memutuskannya. Aku orang yang mudah jatuh cinta dan tidak suka dikekang. Tapi anehnya, semenjak mengenal dirimu, aku menjadi pribadi yang tidak lagi mudah mengagumi seseorang. Dan aku menikmati sensasi ketika pikiranku dikekang untuk memikirkan dirimu.

Kamu tahu? Beberapa malam yang lalu aku mendadak tersedak. Entah mengapa aku langsung terpikirkan dirimu. Ada sebersit harap bahwa kamu memikirkanku. Karena kata orang Banjar, jika kita mendadak tersedak, ada seseorang yang sedang memikirkan kita.

Dan harapan itu semakin besar ketika melihat lini masa di salah satu akun media sosial milik teman kita. Ia mengejekmu, mengatakan bahwa kamu sedang merindu. Bolehkah aku berharap bahwa kamu tengah merindukanku?

Kamu tahu? Aku seolah mengalami deja vu. Sewaktu masih kelas sepuluh, aku pernah jatuh cinta dengan seorang kakak kelas. Dari ekskul teater. Dan dia adalah cinta pertamaku. Namun aku tidak berani mendekatinya. Karena ketika itu, ia telah memiliki kekasih. Ah ya, cinta bertepuk sebelah tangan.

Tapi aku yang sekarang, jauh lebih penakut ketimbang diriku ketika aku masih SMA. Sewaktu masih berstatus sebagai siswa sekolah menengah atas, aku adalah seorang yang berani untuk melakukan pendekatan terlebih dulu. Berbagai modus kugunakan. Seringnya aku menggunakan modus curhat.

Dan denganmu, aku ?tidak berani untuk memulai pendekatan. Aku takut?untuk memulai curhat. Bahkan untuk sekedar berkata ?Aku kangen. Hahaha.?, aku tidak memiliki keberanian. Aku hanya bisa bercerita melalui temanmu. Hingga kamu tahu bahwa aku mengagumimu.

Namun, tetap saja aku menyangkal. Aku tidak ingin pertemanan kita rusak. Aku tidak mau kamu memiliki pandangan berbeda kepada diriku. Biarkan aku mengagumi dalam diam. Menuliskan puisi, cerpen, atau sekedar pemikiran tentangmu yang aku sendiri tidak menginginkan engkau membacanya.

Aku patut berterima kasih padamu. Karenamu, hobi menulis kembali ku tekuni. Karenamu, banyak karya yang ku hasilkan. Tak sedikit yang aku publikasikan di media sosial. Semacam kode, mungkin. Tapi lucunya, kamu tidak pernah merespon. Malah orang lain yang berkomentar.?

Ah, aku memang tidak berharap kamu akan membaca tulisanku ini. Terlebih ada fotomu. Kamu pasti akan langsung menyadarinya. Dan aku terlalu takut untuk membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.

???????????

?

Izinkan aku memikirkanmu, sembari membiarkan angin malam menusuk tulangku

Biarkan aku menikmati rindu ini, seperti tetes air hujan yang tak dapat ku hitung jumlahnya.

Izinkan aku menuliskan semua tentang dirimu, sepanjang dan seluas yang kumampu.

Seperti sungai yang akan bermuara ke samudera, membentang jauh tak berbatas.

?

Dariku, yang (masih) mengagumimu

  • view 1.4 K