Ketika aku mencoba Cafe Latte

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Februari 2016
Ketika aku mencoba Cafe Latte

Aku menguatkan hati sebelum menentukan pilihan. Cafe latte.

??????????? Kasir yang biasa mencatat pesananku terdiam sejenak. Ia menatapku seolah meyakinkan diri bahwa pendengarannya tidak salah. Aku mengangguk mengiyakan. Lalu kasir itu mencatat pesananku.

??????????? Setelah menerima uang kembalian, aku duduk di sudut kafe. Tempat favoritku. Sudah beberapa kali aku mampir ke kafe ini. Kafe dengan nuansa biru laut, warna kesukaanku. Serta di salah satu pojok ruangan terdapat rak buku yang penuh dengan novel. Penghuni rak tersebut bebas untuk dibaca di kafe ini.

??????????? Biasanya aku selalu memesan cappucino. Namun hari ini aku ingin mencoba rasa baru.

??????????? Tak berapa lama, cafe latte tiba di mejaku. Aku menurunkan novel yang tengah ku baca lalu memandangi cangkir di atas meja cukup lama. Aku meraihnya, mendekatkannya ke mulutku. Aroma kopi menguar. Aku menghirupnya dalam. Lantas, ku sesap kopi itu. Sedikit. Dahiku mengernyit. Pahit.

??????????? Ku sobek sebungkus gula dan ku tuangkan ke dalam cangkir kopi. Ku aduk lalu ku cicipi. Tidak sepahit yang pertama. Aku mengembuskan napas. Rasanya enak. Perlahan aku menikmati cafe latte ini.

??????????? Ternyata tidak seburuk dugaanku. Aku selalu mengira, bahwa cafe latte pastilah pahit dan tidak enak. Sering aku bertanya dalam hati. Bagaimana bisa seseorang begitu menikmati kopi, seperti espresso, latte, lebih-lebih kopi hitam.

??????????? Rasa penasaran mendorongku untuk mencobanya. Dan aku bisa menikmatinya. Walau tidak seperti aku menikmati cappucino.

??????????? Ternyata kita tidak perlu berpikir banyak, tidak perlu terlalu khawatir. Lakukan saja, jalani, dan nikmati. Seperti halnya ketika kita memutuskan untuk keluar dari zona nyaman kita. Kita seringnya terlalu banyak berpikir dan terlalu khawatir. Menduga-duga hal buruk yang sesungguhnya tidak kita ketahui. Kita hanya terlalu takut. Takut untuk memulai. Takut keluar dari rasa nyaman. Takut untuk beraksi.

??????????? Padahal, di luar zona nyaman itu, banyak sekali kesempatan yang akan kita dapatkan. Kesempatan yang tidak pernah kita duga. Kita perlu sedikit keberanian. Berani untuk mencoba. Seperti meminum kopi. Menyesap sedikit demi sedikit, namun akan kita habiskan. Tak usah kau memikirkan bagaimana rasanya. Tak perlu khawatir berlebihan akan pahit yang dimilikinya. Teguk sedikit demi sedikit dan nikmati saja. Karena rasa pahitnya mengingatkan kita pada hal manis yang masih ada di luar sana.

  • view 153