Kisah di Kedai Kopi

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 September 2018
Kisah di Kedai Kopi

            “Selain minumannya, apa lagi yang membuatmu suka sekali menghabiskan waktu di kedai kopi?” tanyamu.

            Aku menggumam. “Suasananya. Apalagi pas masih sepi. Ah, heaven,” ucapku.

            Kamu mencebik. “Lebay.”

            “Dih, suka-suka aku lah,” sahutku membela diri.

            “Emang gak berasa aneh, duduk sendirian di kedai kopi?”

            “Siapa bilang aku sendirian?”

            Kamu terkesiap. “Eh? Kamu… sejak kapan kamu punya kemampuan… itu?”

            Aku tertawa melihat ekspresi di wajahmu. “Maksudnya, aku di kedai kopi gak pernah sendirian. Kan ada baristanya.”

            Kamu mendengus. “Dasar! Maksud aku bukan sendirian, literally sendirian di dalam kedai kopi ini, Non. Kamu itu, emangnya gak merasa aneh, atau awkward kalau datang ke kedai kopi sendirian, terus duduk di kursi sendirian sementara di samping kamu ada pasangan atau beberapa remaja yang ngobrol?”

            Aku menggeleng. “Gak tuh. Biasa aja.”

            Kamu memiringkan kepala. Menuntut penjelasan.

            Aku menarik napas. “Memangnya ada peraturan yang melarang kita datang ke kedai kopi sendirian ya? Enggak kan? Ya kenapa aku harus merasa aneh?”

            “Kamu gak risih dengan pandangan orang lain?”

            “Ngapain mikirin pandangan orang lain sih? Kan itu hak mereka untuk memandang apapun. Toh mereka punya mata. Sama kaya kamu yang sering mandangin dada perempuan seksi,” ucapku.

            “Kok malah ngomongin dada perempuan seksi?” protesmu.

            Aku menjulurkan lidah.

            “Eh, aku serius lho. Kamu itu perempuan yang paling ajaib yang pernah aku temui.”

            “Ajaib? Emangnya aku penyihir?”

            “Iya, kamu itu sudah menyihir aku untuk terpesona sama kamu,” sahutmu seraya tersenyum.

            “Dih, gombalan kamu bikin jijik.”

            Kamu tergelak. “Habisnya kamu itu satu-satunya perempuan yang pernah aku temui selama ini yang suka minum kopi dan suka menghabiskan waktu di kedai kopi sendirian. Biasanya kan cewek itu selalu minta ditemenin. Orang ke toilet aja mereka barengan,” katamu sambil menggeleng-gelengkan kepala.

            “Yaa… gimana ya? Kadang suka ribet menyesuaikan jadwal kalau mau hang out bareng temen-temen aku. Soalnya kan sekarang udah pada punya kesibukan masing-masing, Makanya aku lebih suka pergi sendiri. Simpel, tinggal pergi. Gak perlu tunggu-tungguan. Semisal mau nonton juga, suka-suka aku mau nonton apa atau duduk di mana. Gak perlu diskusi ini-itu yang bikin antrian makin panjang,” jawabku.

            “Lagipula kalau ke kedai kopi sendirian, kan sering bawa laptop atau bawa novel. Karena biar lebih fokus aja buat kerja atau baca. Selain itu,” aku memelankan suara, “Bisa curi-curi dengar obrolan orang yang duduk di dekat aku atau curi-curi pandang sama cowok ganteng yang juga kebetulan datang sendiri.”

            “Memangnya apa yang sering kamu dengar dari percakapan orang yang duduk di sekitar kamu?”
            “Macam-macam. Ada yang sekedar gosip-gosip artis, gosip teman mereka yang gak aku kenal, obrolan pasangan yang masih dimabuk cinta, pasangan yang berantem terus ngambek-ngambekkan, soal bisnis, soal sepakbola, soal hal yang viral di internet. Pertemuan, perpisahan, tawa, tangis, curahan hati. Banyak lah. Dan bisa aku jadiin buat pelajaran juga.”

            Kamu mengangguk-angguk. “Kamu mau tau sebuah rahasia?”

            Aku mengedip. Menatap matamu yang tampak bersungguh-sungguh. Lalu aku mencondongkan badanku dan mengangguk.

            “Kedai kopi menjadi tempat favoritku setelah aku mengenalmu.”

            Sejak hari itu, aku berhenti curi-curi pandang dengan pria yang sering datang sendirian ke kedai kopi.

*

  • view 21