Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Lainnya 22 Juli 2018   14:03 WIB
Persona, Topeng Dunia Maya dan Dunia Nyata

Ada dua reaksi yang diperlihatkan oleh penonton ketika menyaksikan sebuah pertunjukkan. “Wah!” dan “Hah?”

Hal itu yang terpintas dalam pikiranku ketika menyaksikan sebuah pertunjukkan tari di Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan, Selasa (17/7/2018) malam. Pertunjukkan tari yang diberi nama Lalube (dibaca lalubi). Diambil dari kata “Lalu” dan “Be”. Lalu yang berarti telah terjadi, masa lampau. Be diambil dari bahasa Inggris yang berarti menjadi.

            Istilah Lalube dimaknai sebagai manusia di masa yang akan datang. Manusia yang mengalami distorsi dalam bentuk perilaku, gesture dan sikap. Hal ini dikarenakan penggunaan gagdet dan media sosial yang berlebihan.

            Jadi? Mengapa reaksiku “Wah!” dan “Hah?”

            Well, di awal pertunjukkan, bisa dikatakan aku cukup terpukau dengan penampilan para penari di atas panggung. Maksud dari gerakan tarinya dapat aku pahami. Tentang jempol yang selalu bekerja ketika membuka media sosial. Memberikan likes, menekan share atau mungkin menuliskan kalimat kasar.

            Menjelang akhir pertunjukkan, rasa bosan mulai mendekat. Mungkin karena malam yang semakin larut. Sehingga, aku mulai sulit untuk menikmati penampilan di atas panggung. Ada beberapa gerakan yang membuatku menggumam, “Ini apaan sih?” Kesannya seperti dipaksakan. Apalagi saat bagian seorang pemain biola yang bermain diiringi empat orang penari. Menurut aku, tanpa ada pemain biola dan tari tambahan itu pun, pertunjukkan tari sudah cukup baik.

            But hey¸ aku bukan penari. Aku bukan penggiat kesenian. Jadi, itu hanya sekedar opini pribadi yah. Opini dari seorang perempuan yang senang menonton pertunjukkan kesenian tradisional. Hahaha…        Iya, jadi aku tuh lebih suka tari tradisi, musik tradisi, teater tradisi. Lebih seru, lebih menenangkan, lebih menghibur buat aku pribadi. Tapi bukan berarti aku gak suka dengan pertunjukkan tari, musik, ataupun teater modern ya. Suka kok. Tapi tidak secinta pertunjukkan tradisi.

            Anyway, seperti yang aku tuliskan di atas dan sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh sang koreografer, Ari Ersandi, bahwa Lalube ini adalah istilah untuk memberikan label kepada manusia yang terlalu sering menghabiskan waktu di media sosial. Yang lebih sering menunduk menatap layar gawai, sehingga—dalam bayangan Bang Ari—manusia-manusia seperti itu akan mengalami perubahan dalam bentuk tubuhnya. Seperti mata, hidung, mulut yang memanjang ke bawah karena ditarik oleh gravitasi. Mereka yang sering menatap gawai cenderung mengabaikan keadaan sekitarnya karena terlalu asyik dengan dunia yang disajikan layar di hadapannya. Mereka selalu menggunakan topeng ketika berada di dunia maya. Yang membangun branding melalui media sosial, namun berbanding terbalik dengan kenyataan.

            Bang Ari merasa resah, miris dengan perilaku manusia sekarang yang lebih peduli dengan followers’ ketimbang berkarya. Ngomong-ngomong soal berkarya, jadi ingat bit Pandji Pragiwaksono di Juru Bicara World Tour. Satu hal yang belum dilakukan oleh negara kita, tetapi sudah dilakukan oleh negara lain, sehingga negara tersebut lebih maju adalah, negara lain sudah berkarya, sementara negara kita masih sibuk bekerja. Mengerjakan karya orang lain. Hmm…

            Tapi, berbicara soal topeng di dunia maya, bukankah di interaksi dunia nyata pun kita selalu menggunakan topeng? I mean, kita semua punya topeng kan? Topeng yang selalu kita gunakan saat bertemu dengan orang lain, saat berada di keramaian. Topeng yang berbeda setiap harinya. Tidak ada yang tahu siapa diri kita sebenarnya kecuali diri sendiri dan Tuhan.

            Kalau kata Carl G Jung sih, topeng itu sebutannya Persona. Topeng yang digunakan oleh manusia sebagai respon atas tuntutan masyarakat di sekelilingnya. Dengan kata lain, persona memainkan peran yang diinginkan orang-orang sekitarnya. Tujuan dari persona untuk menciptakan kesan tertentu pada orang-orang lain. Contohnya nih, ketika kita di rumah, kita menggunakan topeng anak atau suami atau istri atau orangtua. Ketika di lingkungan kerja, kita menggunakan topeng sebagai karyawan atau sebagai pimpinan.

            Persona muncul sebagai bentuk respon kita atas tuntutan masyarakat. Artinya persona ini—kalau dalam bahasa aku—merupakan cara kita untuk menampilkan diri kepada lingkungan kita yang seringkali diiringi dengan perbuatan yang sesuai. Misalnya, seorang pria yang tinggal di suatu kampung, dianggap sebagai pemuka agama. Maka beliau harus berperilaku dan bersikap layaknya seorang pemuka agama yang baik dalam kehidupannya sehari-hari.

            Atau contoh lainnya nih. Aku yang kuliah psikologi, harus selalu mengenakan topeng seorang mahasiswa psikologi, karena dalam persepsi masyarakat, seseorang yang kuliah atau mendalami ilmu psikologi, selalu dianggap tahu, pendengar yang baik, tempat curhat yang nyaman, bisa baca pikiran dll.

            Padahal mah enggak juga. Aku mana bisa baca pikiran. Aku juga gak bisa segampang membalik telapak tangan kalau mau profiling orang lain. Tapi kalau sebagai tempat curhat yang nyaman, ya masih dan selalu berusaha kok.

Aku pernah diingatkan oleh dosen. Beliau berkata, bahwa seorang psikolog itu memang hanya manusia biasa, yang punya emosi, yang bisa menangis, bisa marah, bisa sedih, bisa tertawa, bisa usil. Tapi ketika kita mulai mengenakan topeng psikolog kita, mengenakan mantel seorang konselor / terapis, ya kita harus bersikap dan berperilaku layaknya seorang psikolog / konselor. Berat ya? Makanya, jangan kuliah di psikologi. Berat. Kamu tidak akan kuat, biar aku saja. \

Artinya apa nih? Artinya adalah, persona juga bertindak sebagai kontrol dalam perilaku keseharian kita. Ketika kita mengenakan topeng A, berarti kita harus bersikap dan bertindak sebagai A.

Jadi, kalau maksud dari Bang Ari dengan adanya media sosial membuat manusia selalu memakai topeng, sebenarnya enggak juga. Dalam keseharian di dunia nyata pun kita selalu menggunakan topeng.

            Aku setuju dengan rasa miris yang diungkpkan oleh Bang Ari. Bahwa manusia zaman sekarang itu lebih mementingkan dunia maya. Seolah-olah mereka rela untuk melakukan apapun, asalkan likes, loves dan followers mereka terus bertambah. Belum lagi stres, depresi yang disebabkan oleh komentar-komentar di media sosial. Juga munculnya adiksi. Yang membuat para pengguna media sosial ini sulit untuk berinteraksi di dunia nyata. Ditambah lagi dengan munculnya berbagai macam syndrome atau gangguan-gangguan baru yang konon diakibatkan dari penggunaan media sosial yang berlebihan.

            Sebut saja perasaan iri, rendah diri. Iri dengan kehidupan orang lain yang kita lihat di media sosial, jadinya membandingkan dengan kehidupan diri sendiri terus jadi rendah diri. Perasaan cemas ketika tidak bisa mengakses media sosial, cemas karena takut ketinggalan berita terbaru, dan perilaku agresif ketika jaringan internet mulai lemot. Sering kan menemukan manusia-manusia yang entah kenapa tiba-tiba ngomel gak jelas sambil megang gawai? Hehe…

            Oh iya, karena media sosial, kadang manusia bisa bertindak gila lho. Seperti yang terjadi di New York (https://www.usatoday.com/story/news/nation/2014/07/19/social-media-munchausen-by-proxy/12895583/) , seorang ibu tega meracuni anaknya sendiri, memberitahukan anaknya sakit di media sosial agar mendapatkan simpati dari netizen. Nah, hal ini disebut dengan Munchausen by Internet. Sindrom ini menyebabkan seseorang rela melakukan sebuah kebohongan hanya untuk menarik simpati orang-orang di media sosial dengan bermacam-macam tujuan. Kalau pengertian awalnya, sindrom ini disebut dengan Munchausen Syndrome. Munchausen Syndrome ini merupakan gangguan tiruan, yang membuat seseorang berulang-ulang dan dengan segaja bertingkah bahwa dia memiliki penyakit fisik atau gangguan kejiwaan.

            Segala hal yang ada di dunia ini, selalu ada sisi positif dan negatif. Media sosial memang memberikan kita begitu banyak kemudahan. Kemudahan untuk berinteraksi dengan orang lain yang berada ratusan bahkan ribuan kilometer dari rumah kita, menyambungkan kembali silaturahmi, menjadi wadah untuk memperlihatkan karya-karya kita kepada dunia.

            Tapi, karena kemudahan-kemudahan itu seringkali membuat kita lupa, kalau di sekitar kita ada banyak manusia yang perlu kita sapa. Interaksi di kehidupan nyata seringkali terabaikan oleh interaksi dunia maya. Kayanya pemandangan orang-orang yang nunduk natap layar gawai padahal di depannya ada manusia sering kita jumpai. Entah di kafe, entah di rumah makan. Bilangnya mau meet up, mau ketemuan karena kangen, eh malahan keasikan sama gawai masing-masing.

            Karena keinginan untuk diperhatikan, biar viral di dunia maya, orang-orang suka melakukan hal-hal yang konyol, demi likes, loves dan followers. Memang sih, sedikit lebih beda lebih baik daripada sedikit lebih baik. Tapi ya jangan mempermalukan orang lain atau membahayakan lingkungan yah, Kak.

            Kadang-kadang lebih mudah bagi seseorang untuk mengungkapkan perasaannya, pemikirannya melalui media sosial. Karena kan gak bakalan ketahuan orangnya seperti apa. Dengan menggunakan akun anonim, seseorang bisa dengan mudah meraih ribuan penggemar melalui kalimat-kalimat atau foto yang dia unggah. Pernah kan mengalami, ketika membaca cuitan di twitter, kita merasa kagum dengan pemilik akun tersebut. Eh, pas ketemu, ternyata aslinya kaya anak-anak. Pengalaman aku sendiri nih. Walaupun sebenarnya, isi otak orangnya memang sama dengan cuitannya, tapi penampilannya yang bikin geli. Ya… mungkin karena definisi keren bagi setiap orang itu berbeda.

            Hati-hati kalau mau mengenal orang melalui media sosialnya. Tulisan-tulisannya mungkin saja mengagumkan, tapi pas ketemu bisa menurunkan ekspektasi sampai 50%. Hahahaha….

Jadi, jangan dikira topeng itu hanya berlaku di dunia maya. Jangan kira caption bijak itu hanya ada di instagram. Di kehidupan nyata pun ada orang-orang yang menggunakan topeng bijaksana, topeng peduli, topeng sosok yang tegas, topeng yang tidak segan-segan untuk terjun langsung ke lapangan padahal ada perwakilannya, yang ujung-ujungnya disebut dengan pencitraan. Ehm.

Tepuk tangan, pujian dan apresiasi untuk Ari Ersandi. Sebuah kepedulian nyata untuk seniman-seniman yang Bang Ari tampilkan dalam bentuk komposisi tari yang keren. Semoga keresahannya dapat segera teratasi dan Lalube bisa menginspirasi seniman lain maupun masyrakat yang menyaksikannya.


Salam,
Ria Setiani Hayatunnufus

*sumber foto diambil dari Google*

Karya : Ria Setiani Hayatunnufus