Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 24 Mei 2018   21:39 WIB
Unexpected Love

 

            Malam beranjak semakin larut. Di saat semua orang di rumahnya terlelap, lampu di kamar Andira masih menyala. Gadis itu sedang mengerjakan sesuatu. Matanya tidak lepas dari layar laptop, jemarinya bergerak lincah di atas keyboard dan sesekali kepalanya mengangguk-angguk mengikuti irama musik yang diputarnya.

            “Ya Tuhan! Hamba kuat. Hamba kuat!” Andira meremas rambutnya. Matanya sudah terasa berat, namun tugas kuliah masih menanti untuk diselesaikan.

            “Fuuuhhh. Ni tugas beranak mulu ah. Pakai KB dong, dua anak cukup!” omelnya lagi. “Istirahat bentar deh. Buka fesbuk dulu.”

            Andira membuka laman facebook, log-in kemudian melihat-lihat lini masa. Hmm.... jam dua malam begini siapa ya yang lagi online?

            Ya ... Karena hidup bukan tujuan, tapi perjalanan maka nikmati dan maknai, bukan juga agar dicatat atau dikutuk sejarah... Cukup membuat senja menjadi lebih mesra dan menyenangkan lalu tersenyum saat dijemput.[1]

            Eh, statusnya Mas Ridwan. Andira tersenyum saat membacanya lalu meng-klik ikon jempol. Setelah 15 menit men-scroll beranda, Andira memutuskan untuk log out.

            Belum tidur, Dira?

            Andira terkejut ketika membaca sebuah pesan yang masuk. Pesan dari Ridwan. Dan entah mengapa, Andira merasa jantungnya berdetak lebih cepat.

            Belum, Mas. Lagi ngerjain tugas nih.

            Ngerjain tugasnya sambil online fesbuk?

            Ehehehe... maksudnya lagi rehat sebentar dari ngerjain tugas. Ini mau lanjut ngerjakan lagi.

            Andira mengela napasnya. Bersiap meng-klik log-out sebelum ia membaca pesan terakhir dari Ridwan.

            Boleh minta nomer hape kamu?

            Andira mengerjapkan matanya. Mas Ridwan minta nomor hape aku?

*

 

            Mas Ridwan, kamu tau? Semenjak malam itu, rasanya hidupku berubah. Menjadi lebih menyenangkan. Em... menjadi lebih membingungkan juga sih. Entahlah. Aku pun tidak mengerti. Yang jelas, aku mulai sering membuka akun media sosial milikmu. Melihat-lihat semua postingan-mu. Tulisan-tulisanmu. Foto-foto yang kamu unggah. Bahkan ada beberapa yang aku simpan dan aku jadikan wallpaper di smartphone-ku.

            Sepertinya aku jatuh cinta sama kamu. Oh, ya Tuhan! Kenapa bisa aku jatuh cinta sama kamu, Mas? Kita bertemu baru sekali. Ngobrol dan tertawa bersama teman-teman yang lain dalam waktu kurang dari sehari. Hanya beberapa jam. Tapi, sejak kamu minta nomer hapeku dan mulai sering menelponku, rasa itu perlahan datang. Ku kira aku hanya mengagumimu. Karena latar belakangmu yang membuatku terkejut dan tak menyangka. Kenyataan bahwa kamu lulusan pesantren, penggiat seni panggung dan senang membaca buku, membuat rasa itu semakin besar.

            Kata orang, rasa suka hanya bertahan dalam waktu empat bulan. Tapi kini, dua tahun telah berlalu sejak pertemuan kita yang pertama. Dan kamu tau, Mas? Rasaku kepadamu tidak berubah sedikitpun. Meski sekarang aku tahu kamu sudah memiliki kekasih, tapi aku masih tidak mampu menghilangkan bayang-bayang wajahmu dari kepalaku. Jantungku masih berdebar setiap kali melihat namamu di lini masa media sosial, walaupun foto yang kamu unggah adalah fotomu dengan kekasihmu. Jika lebih dari empat bulan rasa suka itu masih ada, artinya kita benar-benar jatuh cinta. Jadi? Apa aku benar-benar jatuh cinta kepadamu, Mas Ridwan?

            Selama dua tahun ini pula, aku hanya berani menengok media sosialmu. Menunggu kabar terbaru darimu hanya melalui tulisan atau foto yang kamu unggah. Ada rasa segan untuk memulai percakapan denganmu. Rasa malu, tidak ingin mengganggu dan ketakutan bahwa kamu bisa membaca pikiranku.

*

 

Andira masih menatap layar laptopnya. Ia masih betah untuk menuliskan semua perasaannya. Meski mungkin perasaan itu tidak akan pernah tersampaikan. Toh, tak apa. Andira menikmati sensasi mencintai dalam diam seperti yang sedang dialaminya.

Bunyi smartphone membuat Andira mengalihkan pandangannya. Panggilan masuk dari Ridwan.

DEG! Jantung Andira kembali berdetak cepat. Mas Ridwan nelpon aku?

“Ha... halo?”

“Halo? Dira?” terdengar suara Ridwan di seberang sana. Suara yang sudah dirindukan Andira begitu lama.

“I...iya, Mas Ridwan. Ada apa ya?”

“Kamu lagi sibuk? Aku ganggu ya?”

“Eh? Enggak kok, Mas.”

“Em... aku lihat di instagram stories kamu, kamu mau ke Yogya ya?”

Dia lihat instagram stories aku! Betapa inginnya Andira memekik kegirangan. Ternyata Ridwan memperhatikan media sosialnya.

“Iya, Mas. Aku mau pergi ke Yogya, acara peluncuran novel aku yang baru sekalian ada meet and greet,” jawab Andira.

“Wah! Serius? Selamat ya untuk novelnya. Oh iya, aku sudah baca lho novel kamu yang best seller itu. Keren banget.”

“Makasih, Mas.”

“Em... kamu kapan nyampe di Yogya?”

“Aku berangkat besok pagi, Mas. Sekitar jam setengah tujuh waktu Yogya aku nyampe.”

“Oh, oke. Aku jemput di bandara ya,” ucapan Ridwan membuat Andira terkejut.

“Eh?”

“Aku kangen sama kamu. Hehehe... pengen ngobrol-ngobrol sama kamu. Jadi? Boleh aku jemput?”

Andira merasakan pipinya panas. “Bo... boleh kok. Sampai ketemu besok ya.”

“Oke. Sampai ketemu besok.”

Telepon ditutup. Andira menatap layar laptopnya yang masih menyala. Ia mengetikkan beberapa kalimat lagi lalu mencetaknya. Andira berniat untuk menyerahkan kertas itu kepada Ridwan. Ia ingin menyampaikan perasaannya.

*

 

            Mas Ridwan, harusnya kita bertemu kan? Seharusnya kamu ada di depan pintu kedatangan. Menyambutku dengan senyumanmu yang selalu aku bayangkan setiap malam. Tapi hingga aku berdiri di depan pintu gerbang bandara kamu tidak ada di sana. Ku kira kamu akan membunyikan klakson vespamu. Memanggil namaku dengan suaramu yang selalu aku rindukan. Tapi ternyata yang ku dengar hanya raungan sirine ambulance yang melaju kencang.

            Rasanya aku masih tidak percaya ketika mendapat telepon dari rumah sakit. Salah seorang perawat yang menelpon berkata bahwa ia hanya menekan angka 1, panggilan cepat dan tersambung ke nomorku. Mas Ridwan, kamu menjadikan kontakku sebagai panggilan cepat di ponselmu.

            Bergegas aku menuju IGD. Di sana sudah ada teman-temanmu, yang juga mengenalku. Mereka bilang bahwa seharusnya kamu hari ini mengisi materi untuk diskusi, namun kamu minta izin untuk terlambat datang karena ingin menjemput kekasihmu di bandara. Mas, apakah itu benar? Kamu sudah menganggap aku sebagai kekasihmu?

            Tapi Tuhan tidak mengizinkan kita untuk menjadi sepasang kekasih. Bahkan Dia tidak mengizinkan aku untuk mendengarnya langsung darimu. Kamu pergi. Selamanya. Tanpa pamit padaku.

Semenjak kamu pergi, aku kira aku tidak akan pernah bisa untuk jatuh cinta lagi. Karena aku sudah menganggapmu sebagai kekasihku. Tapi setahun lalu, aku bertemu dengannya. Seorang dokter yang berusaha untuk menyelamatkan kamu. Yang meminta maaf kepadaku dengan wajah penuh rasa bersalah. Yang segera memelukku begitu aku tahu bahwa kamu sudah pergi untuk selamanya.

Aku bertemu lagi dengannya. Di sebuah acara talkshow. Ketika itu aku menjadi narasumber dan dia datang sebagai penonton. Di akhir acara dia menghampiriku, bertanya kabar juga meminta kontakku. Sejak itu kami sering berkomunikasi. Perlahan, hatiku mampu untuk menerima keberadaan orang lain. Karena kesabaran dan kegigihannya yang selalu ada untukku.

Mas Ridwan, ternyata perkiraanku salah. Aku jatuh cinta kepada dia. Dia, yang mengisi hari-hariku mulai saat ini dan seterusnya. Dia yang datang melamarku dan sekarang telah menjadi teman hidupku.

            Andira meletakkan sehelai kertas di atas sebuah batu nisan. Ia membelai lembut sebuah nama yang terukir di sana. Ridwan Cakra Baskara.

            “Sudah selesai, Sayang?” tanya seorang pria di samping Andira.

            “Sudah, Kak Rihan,” jawab Andira. Lantas ia menggenggam tangan Rihan, suaminya.

           

 

[1] Status facebook milik seorang teman penulis

Karya : Ria Setiani Hayatunnufus