Inovasi dalam Seni

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 23 April 2018
Inovasi dalam Seni

           Mosaic-mo.sa.ic /mo’zaik/ (n) a picture or pattern produced by arranging together small colored pieces of hard material, such as stone, tile, or glass.

            Mozaik-mo.za.ik (n) 1 seni dekorasi bidang dengan kepingan bahan keras berwarna yang disusun dan ditempelkan dengan perekat; 2 susunan foto udara yang telah disambung satu dan lain sedemikian rupa sehingga membentuk gambaran yang mencakup suatu daerah tertentu.

 

            It’s been so long since my last post in this platform. Kangen nulis pakai banget. (Iya, lebay, tau kok. Terima kasih sudah mengingatkan).

            So, tulisan kali ini tentang sebuah pertunjukkan lima dimensi seni yang dipersembahkan dalam rangka Hari Jadi Kota Banjarbaru yang ke 19. Horeeeee…. (tembakkan confetti-terus berantakan). Pertunjukkan lima dimensi seni ini—atau yang dalam rangkaian kegiatan disebut sebagai Pertunjukkan Drama Musikal—berjudul Mozaik Banjarbaru. Kenapa Mozaik Banjarbaru? Karena Kota Banjarbaru itu seperti sebuah mozaik yang terdiri dari perca-perca seni, tradisi, masyarakat, dan pemerintahan. There is no Banjarbaru without all of them.

            Pertunjukkan lima dimensi seni yang dilaksanakan pada Sabtu (21/4/2018) malam ini, terdiri dari seni musik, seni tari, seni teater, seni rupa dan film. Keren, bikin bahagia, dan mind blowing. Kenapa mind blowing? Karena menurut aku, pertunjukkan ini benar-benar kombinasi dari tradisi-modern, tua-muda dan merupakan hal yang baru—buat aku pribadi ya. Seni musiknya gabungan antara musik etnik dengan musik semacam orkestra. Ada biola, cello, terompet, gambus, gong, jimbe, dan lain-lain (sorry for my lack of music knowledge :’D).

            Kemudian juga ada beberapa adegan di atas panggung yang menampilkan kombinasi tari tradisi dengan tari modern—short of dances at the ball or maybe ballet? Itu keren banget cuy. Ada adegan anak muda selfie dan wefie di tempat-tempat wisata yang ditampilkan dalam bentuk film. Iya, jadi untuk setiap adegan di atas panggung, saling terkait dengan scene di dalam film. Semua hal yang ada di Banjarbaru ditampilkan di film-nya. Tata kota, kebersihan, masyarakatnya, destinasi wisata, kearifan lokal. Keren ‘kan? Keren ‘kan?

Eh, Kak, kalau keren mana dokumentasinya? No pict, hoax.

        Ehehehe… dokumentasinya ada kok, Kak. Tapi aku hanya sedikit mengambil foto dan videonya. Karena aku berpikiran seperti ini. Aku datang untuk menikmati pertunjukkan. Benar-benar menikmati pertunjukkan. Kalau sambil merekam atau foto-foto, kan fokus aku jadi terpecah. Kan aku jadi gak bisa menikmati pertunjukkan dan memandangi wajah si abang yang juga ada di atas panggung (ehmmmm….).

           Jadi, untuk dokumentasi silakan saja cari di media sosial ya, Kak. Facebook atau instagram. Cari saja Mozaik Banjarbaru, InsyaAllah ada foto-foto dan video di sana. Bahkan ada juga foto atau cuplikan video BTS nya loh (Note: Bukan Bangtan Sonyeondan—kemudian terdengar lagu Boy In Love, seketika ingat sekretaris Kim).

            Nah, kembali lagi nih ke Mozaik Banjarbaru.

        Btw, btw, pada gak pengen tahu alasan aku bela-belain malam mingguan di Banjarbaru, padahal paginya harus ke Banjarmasin karena ada kawinan dan waktu aku nulis review ini sudah memasuki dini hari?

           Well, alasan aku nonton Mozaik Banjarbaru karena yang pertama, aku pernah hadir waktu para aktor, aktris, penari, pemusik dan pelukis sedang latihan. Sekali aja sih, tapi bikin penasaran. Karena musik yang dimainkan itu terus terngiang-ngiang. Dan aku tu paling suka dengar musik yang dimainkan dengan alat musik tradisional. It has a power to reduce my stress and it also helps me to relax. Kan sudah banyak tuh jurnal-jurnal penelitian yang membuktikan bahwa musik itu meningkatkan konsentrasi, membantu untuk relaksasi, menurunkan tingkat stres dan memperbaiki mood.

       Yang kedua, karena ingin memandangi seseorang yang juga berada di atas panggung sambil senyum-senyum sendiri. I’ll be honest. A chubby, good looking, with an athletic caesar haircut man is my weakness. Mau lihat aku senyum-senyum sendiri dan jadi norak? Sodorkan saja laki-laki dengan tipe seperti yang sudah aku sebutkan di atas.

            So, apa kesan aku setelah menyaksikan pertunjukkan Mozaik Banjarbaru?

        Well, aku akan bilang, pertunjukkan itu sesuai dengan cara berpikir sang sutradara, Bang Novyandi Saputra. Kenapa? Karena pertunjukkannya benar-benar baru, beda, dan menggebrak. Yang jelas sih gak bikin bosen—walaupun ada seorang penonton yang berdiri di samping aku ngomong ke orang di sampingnya, “Kada rami.” (Gak seru).

      Kalau orang yang tidak mengenal Bang Novy, yang belum pernah ngobrol sama beliau, mungkin akan memiliki ekspektasi berbeda terhadap perunjukkan Mozaik Banjarbaru. Mungkin saja penonton tersebut beranggapan bahwa perunjukkan yang akan dipersembahkan adalah literally drama musikal, semacam broadway, mamanda atau japin cerita. Ada juga penonton yang berdiri di belakang aku, ketika ada seni rupa berada di atas panggung. Jadi pelukisnya itu melukis di enam buah kanvas, diiringi musik dan juga tarian. Penonton itu bilang, “Apaan sih? Cuma coret-coret gak jelas gini doang.”

           Padahal, momen yang lukis-melukis ini yang bikin aku penasaran saat mereka latihan. Karena waktu itu, pelukisnya cuma melukis pura-pura. Jadi belum ada hasilnya. Tapi ya itu, manusia cenderung menilai sesuatu tanpa melihat bagaimana prosesnya. Pernah gak sih mikir gimana rasanya jadi pelukis di atas panggung yang harus melukis diiringi musik—yang ketika musik selesai, lukisan juga harus selesai? It takes focus and full concetration. Jujur ya, waktu momen ini, aku sempat deg-degan loh. Kalau dalam Bahasa Banjar sih, istilahnya itu meharit akan. Jadi, seperti ikut tegang, khawatir kalau-kalau lukisannya gak selesai begitu musiknya habis.

          Oh iya, ada special performance dari Bapak Walikota dan Wakil Walikota Banjarbaru. Beliau berdua juga ikut berakting di atas panggung. Aku gak akan menilai akting beliau, tapi yang jelas aku salut banget sama beliau berdua karena mau ikut berpartisipasi dalam pementasan yang diadakan oleh warga kotanya—tidak hanya duduk menikmati dari bangku penonton lalu pulang sebelum acara benar-benar selesai. (Uhuk, nyindir siapa nih, Kak?)

            Sebuah contoh yang baik bagi warga kotanya yang menyaksikan pertunjukkan malam itu. Karena pesan yang aku tangkap dari keikutsertaan Pak Nadjmi dan Pak Jaya adalah, bahwa pemimpin itu bukan mereka yang duduk santai dalam ruangan sejuk dengan kursi yang empuk, namun pemimpin itu ialah mereka yang ikut terlibat dalam kegiatan-kegiatan bersama warganya. Coba deh bayangin, bagaimana perasaan Pak Nadjmi dan Pak Jaya untuk berakting—meskipun menjadi diri beliau sendiri—di depan warga kota yang menyaksikan? Gugup, excited mungkin. Tapi beliau berdua tetap naik ke atas panggung, berakting, untuk memberikan hiburan kepada warganya.

     Menjelang akhir pementasan ada sebuah kejutan yang tidak diduga-duga. Bapak Walikota menyerahkan sebuah penghargaan untuk seseorang yang berada di belakang akun Banjarbaru Dalam Lensa, Om Adul. Karena berkat dedikasi beliau mengabadikan setiap sudut Kota Banjarbaru, kini Banjarbaru dikenal memiliki begitu banyak objek wisata yang mengundang wisatawan. Sebut saja Danau Seran, Rumah Pohon, Kebun Raya Banua, dan lainnya. Sehingga terdapat 22 objek di dalam peta destinasi wisata Kota Banjarbaru. Oh, jangan lupakan Mingguraya dengan tradisi membaca puisinya. Yes, lo belum sah ke Banjarbaru kalau belum baca puisi di Mingguraya. (Sok-sokan ah, Kak. Sendirinya baru baca puisi di Mingguraya setelah lima tahun menjadi warga sementara di sana).

          Mozaik Banjarbaru sesuai dengan tagline Kota Banjarbaru, Inovasi. Pertunjukkan Mozaik Banjarbaru merupakan inovasi dalam dunia panggung. Sebuah ide baru yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Sebuah gebrakan dari seorang Novyandi Saputra yang dalam pendapat pribadiku adalah seorang yang memiliki cara berpikir tak terduga, selalu mencari hal baru, berani bereksperimen untuk mengetahui akan seperti apa hasilnya tidak hanya berandai-andai. There will be pros and cons, tapi seperti halnya sebuah mozaik yang terdiri atas kepingan-kepingan dengan ragam bentuk, selalu menghasilkan sesuatu yang berbeda, yang menakjubkan.

           Seperti itu juga Kota Banjarbaru. Terdiri dari masyarakat yang beragam, bermacam-macam ide, inovasi, tradisi, seni, adat istiadat, destinasi wisata, yang membentuk suatu kota yang nyaman untuk dihuni. Karena dari nyaman, akan bertumbuh cinta. Ketika sudah cinta, masyarakat akan dengan senang hati untuk menjaganya.

         Dan yang namanya pertunjukkan pasti bertujuan untuk menghibur ‘kan? Malam itu Mozaik Banjarbaru aku rasa berhasil menghibur para penontonnya. Terlebih ada seorang anak perempuan, mungkin usianya sekitar 2-3 tahun yang menari, menggoyangkan badan mengikuti irama musik dan gerakan para penari di atas panggung. Duduk dengan tenang, terpana menatap layar yang menampilkan film dokumentasi mengenai kota tempat tinggalnya seraya dimanjakan dengan musik yang menyenangkan dan disiram energi positif yang ditebarkan oleh para pelaku pementasan. In my humble opinion, a kid who truly enjoy the performance is a measure of a succesful show, isn’t it?

 "The noblest art is that of making others happy" - P. T. Barnum.

 

 

Ria Setiani Hayatunnufus

 

*sumber foto : Novyandi Saputra

  • view 36