Bulan Mei, di Pantai Itu

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Bulan Mei, di Pantai Itu

??????????? Aku memikirkanmu lagi. Malam ini, detik ini. Entah sudah berapa malam ku habiskan untuk mengingatmu. Mengenang perjumpaan kita, di Yogyakarta bulan Januari yang lalu. Senyumanmu, wajahmu, dan rambutmu yang acak-acakan. Sejujurnya, kamu itu jauh dari tipe lelaki kesukaanku. Aku menyukai pDira berisi yang pipinya chubby, terlebih jika ia mengenakan kacamata, rambut cepak yang rapi dan berpakaian secara elegan. Ya seperti Kakak dokter itu.

??????????? Tapi kamu? Cenderung kurus, pipimu tirus, tak berkacamata, rambut gondrong berantakan. Kamu tau? Malam itu di Terminal Yogyakarta, saat aku baru saja tiba dari Purwokerto, bersama Mas Edrik, kamu ikut menjemputku, tidak ada rasa di hatiku. Semua biasa saja. Jantungku, berdetak dengan normal, mataku hanya menatapmu sekilas.

??????????? Sesaat ketika kamu menanyakan namaku, baru aku menyadari keberadaanmu. Mendengar suaramu yang cukup memesona, meski tidak mengagumkan seperti Abang dari Ibukota. Di mobil itu, kita saling memperkenalkan diri tanpa berjabat tangan.

??????????? Sebulan berlalu, aku berada di rumahku di Banjarmasin dan kita sering berbincang melalui media sosial. Tidak ada percakapan melalui telepon karena aku tidak mempunyai nomor handphone-mu dan kamupun sepertinya tidak ada inisiatif untuk meminta.

??????????? Rasa itu muncul perlahan ketika kita mulai akrab menghabiskan malam membicarakan hal-hal konyol di chat room, hingga pelukan virtual yang kamu kirimkan di jam satu malam di hari ulang tahunku dua bulan kemudian. Detik itu, aku mulai menyukaimu. Walaupun aku berharap kamu akan menelponku karena aku tahu kamu telah menyimpannya. Sahabatku mengatakan bahwa aku hanya terbawa emosi. Ah ya, baper istilah kekiniannya. Entahlah, yang jelas aku sering memikirkanmu, menceritakan tentang dirimu kepada sahabatku.

??????????? Pun diri ini tak sanggup untuk berkata sejujurnya. Sering kita berbincang dan betapa kuat inginku untuk mengatakan bahwa aku rindu kamu. Meski harus diakhiri dengan tawa pura-pura,? namun aku tak mampu. Aku tak ingin kamu salah paham sehingga menjauhiku. Biarlah aku simpan rasa ini dalam diam. Kamu tidak perlu tahu agar aku bisa selalu bercanda bersamamu.

***

??????????? Jepara, Mei 2015

??????????? Rasanya tidak sia-sia aku berangkat menghadiri makrab organisasi ini. Organisasi yang terpisah pulau, berbeda bahasa dan budaya, tapi terikat lebih dari keluarga. Aku tersenyum sendiri. Akhirnya aku menjadi pengurus organisasi ini. Meski tingkat wilayah, namun aku tetap bangga dan akan selalu mengerahkan kemampuan terbaikku.

??????????? Apa kabar kamu? Kamu yang sekarang menjadi Pengurus Harian Nasional organisasi ini, semakin sibuk saja. Kabar terakhir handphone-mu rusak atau hilang. Entah, aku pun tak tahu apa yang terjadi dengan handphone milikmu. Karena yang aku tahu, kamu bingung ketika menerima pesan singkat dariku dan segera menelponku.

??????????? Rasanya tak percaya waktu mendapati namamu muncul di layar handphone-ku. Awalnya kamu mengira, aku adalah salah satu anggotamu di organisasi. Namun setelah aku mengatakan siapa diriku, nada suaramu seperti berubah. Mungkin memang berubah atau hanya pendengaranku saja. Yang jelas, semenjak telepon itu, aku kecewa. Perasaanku berkata bahwa aku harus mengikis dan mengubur rasaku kepadamu.

??????????? Sekarang aku disini, di Jepara. Di pantai wisata yang berjarak enam jam dari Yogyakarta. Sempat aku berharap kamu akan datang, bersama teman-teman PHN lainnya.

?Kak Dira.? Aku menoleh. April, gadis manis dari Cilacap duduk di sampingku. ?Kakak tadi malam tidak tidur lagi?? tanyanya. Bisa dikatakan, aku termasuk golongan senior di antara pengurus lainnya.

??????????? ?Aku tadi malam tidur kok,? jawabku.

??????????? ?Oh... kirain gak tidur lagi,? ucap April seraya tersenyum manis.

??????????? Lama kami terdiam menikmati hembusan angin pagi yang menerpa wajah. Cahaya lembut matahari yang mulai terbit, menyinari pantai, menyuguhkan pemandangan pantai yang sangat cantik.

??????????? ?Main air yuk!? ajak April. Aku tertawa lantas mengangguk setuju. Setengah berlari kami menuruni anak tangga, melintasi rerumputan hingga kaki-kaki kami mennginjak pasir yang lembut.

??????????? ?Airnya masih dingin kaya kemarin pagi!? seruku ketika ombak menjilat kakiku.

??????????? ?Lebih dingin deh, Kak,? ucap April lalu ia melompat-lompat membuat percikan-percikan air mengenai wajah dan pakaianku.

??????????? ?Eh, April!? ucapku lalu ikut melompat. Kemudian kami tertawa bersama. Jika bukan karena panggilan Riski, aku dan April mungkin masih asyik di pantai. Melompat, berlarian, membuat istana pasir.

??????????? Seusai mandi, aku beserta April dan beberapa perempuan lainnya berinisiatif untuk membereskan peralatan bekas bakar-bakaran dan menyapu lantai villa. Selesai bersih-bersih, kami duduk santai di sofa ruang tengah tempat para pengurus organisasi menginap selama mengikuti kegiatan makrab ini. Sebagian masih tertidur. Mungkin kelelahan karena tadi malam kami tidur larut. Seusai melakukan outbond kecil di sore hari, lantas dilanjutkan bakar ikan sekaligus makan malam dan ditutup dengan mengelilingi api unggun sambil berderai air mata. Saling jujur dan terbuka mengenai kontribusi serta semangat selama menjalankan tiga bulan amanah di organisasi.

??????????? Saat itu, ketika yang lain sedang sibuk membaca buku mengenai pantai wisata, terdengar suara Bang Dito, Sang Sekretaris Jendral dan detik berikutnya kamu berjalan melewati ruang tengah menuju pelataran yang menghadap langsung ke pantai. Aku terpaku, tak menyangka kamu akan datang.

??????????? ?Hei, Dira!?

??????????? Aku mengangkat kepala yang tadinya bersandar di sofa. ?Hei, Mas Edrik!?

??????????? ?Apa kabar??

??????????? ?Alhamdulillah, baik. Mas Edrik sendiri apa kabar?? tanyaku.

??????????? Mas Edrik tersenyum sebelum menjawab bahwa kabarnya juga baik-baik saja. Lalu ia berjalan keluar, ke pelataran duduk di dekatmu menikmati angin pantai.

??????????? Aku beranjak. Mendekati Zahra dan lainnya yang tengah menikmati sarapan di pelataran. Lantas aku menanyakan menu makan pagi itu.

??????????? ?Ikan bandeng nih. Gak tau dimasak apa,? jawab Zahra.

??????????? ?Pedas ya?? tanyaku seraya mengernyitkan dahi. Zahra mengangguk. Aku mengeluh, aku tidak suka rasa pedas masakan Jawa. ?Aku minta punya kamu aja, Zah ,? ucapku akhirnya.

??????????? Zahra menyuapiku kemudian aku mengambil air mineral. Ku teguk air sebelum membalikkan badan untuk menyapamu. Entah ini benar atau tidak, yang jelas aku merasa kamu memperhatikanku dari belakang. Tepat saat aku berbalik, mataku langsung bertemu dengan matamu yang sepertinya sudah menatap punggungku sedari tadi.

??????????? ?Hai!? sapamu seraya tersenyum. Ah, senyuman itu yang selalu menghiasi malam-malamku selama tiga bulan ini.

??????????? ?Hai!? balasku singkat.

??????????? Ekspresi wajahmu berubah. Seakan menyadari perubahan pada sikapku. Seperti orang yang tidak pernah kenal sebelumnya. Kamu berdiri dan menghampiriku.

??????????? ?Ke pantai yuk!? ajakmu.

??????????? Aku berpikir sejenak. Mengatur napas lantas mengangguk.

??????????? ?Woy! Mau kemana tuh?? Terdengar suara Bang Dito ketika kita melintasi rerumputan. Kamu menoleh lalu melambaikan tangan sambil tertawa. Aku hanya fokus pada langkahku. Berusaha mengatur detak jantungku yang kini kecepatannya di atas rata-rata.

??????????? Tiba di pantai, kamu mendekati air, merasakan jilatan ombak menerpa kedua kakimu.

??????????? ?Pantainya keren ya?? ucapmu pada diriku yang berdiri di belakangmu.

??????????? Aku mengangguk. Sudah dua malam aku habiskan di pantai ini. Bahkan kemarin sore, aku menikmati sunset yang menakjubkan.

??????????? ?Pas sunset pasti lebih keren,? katamu seolah membaca pikiranku.

??????????? ?Iya. Kemarin sunset-nya bagus banget,? sahutku.

??????????? Kamu menoleh. ?Iya? Wah sayang banget aku belum bisa datang pas sore kemarin,? katamu.

??????????? ?Memangnya Mas Ridwan sampai sini jam berapa?? tanyaku basa-basi. Aku sudah tahu bahwa kamu bersama teman-teman PHN tiba di villa pukul tiga dini hari. Aku menanyakan hal itu kepada Mbak Nisa.

??????????? ?Jam dua atau jam tiga ya? Lupa,? jawabmu.

??????????? Aku mengangguk-anggukkan kepala lalu diam. Memandang air laut yang tampak berkilau terkena sinar matahari. Sebuah percikan air menyadarkanku. Aku menoleh kepadamu yang sedang tersenyum jahil.

??????????? ?Kok diem aja? Sini dong main air sama-sama!? ajakmu.

??????????? Aku menggeleng. ?Udah puas kemarin siang sampai maghrib main air bareng pengurus lain. Ditambah pagi tadi bareng April,? jawabku seraya tersenyum.

??????????? ?Tapi kan sama aku belum,? katamu. Aku menatapmu, bertanya-tanya apa maksud ucapanmu barusan.

??????????? Kamu menjauhi air lalu meraih tanganku. Aku terkejut bukan main. Tidak menyangka kamu adalah sosok yang ?ringan tangan?.

??????????? ?Yuk, duduk!? katamu. Aku ikut duduk di sampingmu beralaskan pasir. Berada sedekat ini denganmu, membuatku khawatir kamu akan mendengar suara degup jantungku yang semakin kencang.

??????????? ?Apa kabar, Dira??

?Alhamdulillah, baik, Mas,? jawabku pelan. ?Mas Ridwan gimana kabarnya??

?Alhamdulillah, kabarku juga baik, Dira. Lagi pusing sih karena empat bulan lagi Rakornas dan Temilnas di Malang. Aku jadi SC,? ucapmu bercerita.

Aku mengangguk-anggukkan kepala sok mengerti.

Kamu mengambil rumah keong yang telah kosong ditinggalkan penghuninya lalu melemparkannya ke laut. ?Gimana naskah teaternya? Udah dapat yang Mahabarata itu?? tanyamu. Ah, gara-gara aku mengirimkan pesan singkat bertanya mengenai naskah teater itu, kamu menelponku dan aku menjadi kecewa.

??????????? ?Hm... kata temanku yang jadi sutradaranya sih, mereka sudah pentas.?

??????????? ?Oh ya? Kapan?? tanyamu seakan tak percaya.

??????????? ?Eh, hari Rabu kemarin. Untuk perpisahan di SMP,? jawabku.

??????????? Kamu mengangguk-anggukkan kepalamu. Lantas diam. Membiarkan angin pantai meniup rambutmu. Aku baru sadar rambutmu lebih pendek dari waktu kita bertemu Januari lalu. Kamu terlihat lebih tampan.

??????????? ?Udah lama ya kita gak ngobrol bareng,? ucapmu memecah kesunyian selama lima menit.

Aku hanya diam.

??????????? ?Kamu gak kangen ya sama aku?? godamu seraya menatapku.

??????????? Aku menunduk tak kuasa menatap matamu. ?Ehm, aku takut ganggu Mas Ridwan. Kan Mas Ridwan sekarang PHN, pasti sibuk. Lagipula, di kampus udah dekat UAS, tugas dari dosen lagi banyak-banyaknya,? jawabku memberi alasan.

??????????? ?Oh... lagi banyak tugas toh,? katamu. Lalu kamu mendekatkan mulutmu ke telingaku. ?Semangat ya!? bisikmu. Aku tersenyum tipis.

??????????? Lalu kamu memperhatikanku. Menatap wajahku cukup lama. ?Kamu kurusan ya?? tanyamu.

?Masa sih?? Aku bertanya balik.

Kamu mengangguk. ?Keliatan dari pipi kamu. Lebih tirus, gak setembam waktu di Yogya,? katamu lagi memuji.

Aku tersenyum lagi.

Kamu mengerutkan kening. ?Dira, kok kamu jadi pendiam ya sekarang? Gak heboh kaya di Yogya bulan Januari kemarin,? tegurmu.

??????????? Aku hanya mengangkat bahu.

??????????? Kamu menarik napas. Seperti seseorang yang sedang gugup atau cemas akan sesuatu. ?Kamu tahu gak, Dira? Aku lagi jatuh cinta, lho,? katamu seraya menatap kumpulan awan di langit biru.

??????????? Aku menatapmu. Kamu membalas tatapanku lalu mengangguk.

??????????? ?Dia gadis yang lucu. Manis, heboh, cerewet, cepat akrab sama orang, bahkan baru kenal aja udah berani-berani ngatain orang,? kenangmu sambil tersenyum. ?Dan sekarang aku lagi kangen banget sama dia. Udah empat bulan aku gak ketemu sama dia.?

??????????? Aku menunduk. Pandanganku menjadi buram dan tanpa bisa aku tahan, bulir airmata menyusuri pipiku.

??????????? ?Kamu nangis?? tanyamu. Dari nada suaramu, aku yakin kamu khawatir.

??????????? Aku menggeleng lalu mengusap kedua mataku. ?Cuma kelilipan kok,? jawabku berdusta. ?Dan...?

??????????? ?Dan??

??????????? ?Rasanya sakit jadi secret admirer.? Aku mengucapkan itu di depanmu. Di depan seseorang yang kagumi, yang aku suka.

??????????? ?Maksud kamu, Dira?? tanyamu.

??????????? Aku menggelengkan kepalaku lagi. ?Aku balik ke villa dulu ya, Mas. Disuruh kumpul,? kataku, beranjak dan berjalan dengan cepat setengah berlari meninggalkanmu. Bukannya berbelok menuju villa, kedua kakiku membawaku menuju pohon besar yang tidak terlihat dari pelataran villa.

??????????? Aku menangis di bawah pohon itu. Sakit, sungguh sakit. Terbayang kembali pertemuan pertama kita di Yogyakarta, kita yang tertawa bersama di Alun-alun Selatan dan Bukit Bintang, semua obrolan kita.

??????????? Namun tiba-tiba, seseorang memegang kedua bahuku dari belakang.

??????????? ?Kamu kenapa malah berdiri di bawah pohon ini?? Suaramu mengagetkanku. ?Nangis kok di bawah pohon? Hati-hati lho, konon di sini ada penunggunya,? godamu.

??????????? Aku hanya diam. Masih ada isakan dari diriku.

??????????? Kamu menghapus airmataku. Lalu berdiri di depanku. Dengan kedua tanganmu, memegang pipiku, dan berkata, ?Secret admirer kok bilang-bilang? Kan secret. Harusnya rahasia.?

??????????? Aku masih diam, menunduk.

??????????? Terdengar suara tawa kecilmu. ?Aku jadi pengen ngasih tahu kamu rahasia juga,? ucapmu.

??????????? Aku menggeleng. Aku tidak ingin mendengar apapun tentang cintamu itu.

??????????? ?Dengerin dulu dong!? paksamu.

??????????? Aku menarik napas. Tangisku sudah berhenti. Kuangkat wajahku dan memberanikan diri menatapmu.

??????????? Kamu tersenyum manis. ?Aku jatuh cinta sama gadis dari Banjarmasin, yang aku temui Januari lalu di Yogyakarta, yang baru kenal sama aku sudah berani ngatain aku kerempeng, yang ternyata dia juga anak teater dan penampilannya memukau banget waktu baca puisi.?

??????????? Aku terpaku.

??????????? ?Aku kangen kamu, Dira. Kangen banget. Aku minta maaf kalau sikapku selama ini bikin kamu kurang nyaman.dan bikin kamu seolah menjauhi aku,? ucapmu. Lalu kamu menarik napas. ?Aku sadar, Yogya-Banjarmasin itu gak dekat. Harus ditempuh dengan pesawat terbang. Tapi aku akan ke Banjarmasin, Dira. Dua tahun lagi untuk menemui kedua orangtua kamu.?

??????????? Aku tersenyum. Airmataku mengalir kembali. Kali ini airmata bahagia. Aku mengangguk. ?Okay. Dua tahun lagi. Selama itu kita sama-sama perbaiki diri,? ucapku.

??????????? Kamu mengangguk lantas memelukku. Hembusan angin pantai membuat suasana menjadi sangat tenang dan nyaman. Pantai itu menjadi saksi janji kita untuk menjalani hubungan dekat yang terpisahkan laut Jawa.

  • view 112