Lampu Lalu Lintas

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 Februari 2016
Lampu Lalu Lintas

Merah, kuning, hijau. Bukan di langit yang biru, melainkan berdiri tegak sepanjang hari di perempatan atau pertigaan jalan besar. Tidak berlari, berjalan, juga berpindah barang satu senti. Tak pernah mengeluh meski harus terpapar sinar matahari nan terik, diguyur hujan Bulan November, terkena debu dan asap kendaraan yang dengan wajah tanpa dosa memuntahkannya ke sembarang tempat.

??????????? Lampu lalu lintas selalu memiliki tiga warna. Merah, kuning dan hijau. Tak pernah ada warna jingga dan biru. Atau bahkan ungu. Sesekali ada warna hitam. Warna itu disebabkan ia tidak dialiri listrik atau karena mengalami kerusakan.

??????????? Lampu lalu lintas bertugas untuk menahan laju kendaraan. Membantu kerja dari Pak Polisi yang bahkan tidak tahu bedanya berhenti dan parkir. Tanpa digaji namun ia tidak pernah berhenti bahkan tak pernah berpikir untuk mengajukan surat pengunduran diri.

??????????? Ia juga memiliki kewajiban untuk mengatur lalu lintas. Sehingga polisi tidak perlu berdiri panas-panasan di tengah jalan. Basah karena keringat hingga perut buncitnya menyusut secara drastis.

??????????? Karena lampu lalu lintas, kecelakaan atau tabrakan tidak terjadi. Sebab pengguna jalan, motor, mobil, sepeda, angkutan umum bahkan pejalan kaki tahu makna dari ketiga warnanya. Merah artinya berhenti, kuning hati-hati/perlahan dan hijau berarti jalan. Ketika lampu merah menyala, semua pengendara akan menghentikan laju kendaraannya. Menunggu ratusan detik dengan sabar demi kesempatan jalan yang kadang-kadang hanya 20 detik.

Pernahkah ia merajuk karena sering menjadi objek sasaran sumpah serapah pengendara yang tak sabar diri? Hingga ia berhenti menyala? Tidak. Ia tetap berdiri gagah di tempatnya. Walau engkau menambah laju kendaraanmu saat lampu kuning menyala, toh ia tidak pernah melotot kepadamu.

Meski terkadang ia menjadi kambing hitam dalam insiden kecelakaan, namun ia tetap setia menyalakan lampu merah kuning hijau-nya. Mungkin ia memang benda tak bernyawa, namun jasanya dalam mengatur dan menertibkan pengguna jalan raya tak bisa kita remehkan. Mungkin ia dipandang sebelah mata, dianggap tak penting. Namun, terkadang, ketidakhadirannya sangatlah membuat masyarakat susah. Tak berfungsi barang sehari saja, duh, kacaulah jalan raya. Walaupun ia dicemooh orang, namun ia tidak peduli dan terus saja melaksanakan tugasnya dengan baik. Karena itu, ia jadi bermanfaat untuk orang lain.

??????????? Kamu, siapapun yang membaca tulisan ini. Belajarlah dari lampu lalu lintas. Tetaplah berdiri dengan tegak dan gagah, meskipun orang-orang di sekitarmu mencemooh, bahkan mengeluarkan sumpah serapah karena tak menyukaimu.

??????????? Walaupun panas terik, hujan badai, tetaplah menyala, untuk membantu sesama. Menyebarkan energi positif untuk lingkungan. Walau kehadiranmu dianggap tak penting, tetap yakin dan percaya, kamu diciptakan untuk bermanfaat kepada sesama. Suatu saat, kehadiranmu di muka bumi ini, akan disadari oleh orang lain. Hanya tinggal kita yang memilih. Ingin seperti lampu lalu lintas yang menyala, berfungsi dengan baik dan menyelamatkan pengguna jalan, atau lampu lalu lintas yang tak berfungsi hingga menyebabkan resiko kecelakaan semakin tinggi?

??????????? Itu pilihanmu.

?

Salam,

Ria Setiani Hayatunnufus

  • view 143