Dua Sisi Ritual

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Lainnya
dipublikasikan 27 November 2017
Dua Sisi Ritual

Seni ritual dan perkembangannya. Itu tema diskusi yang diadakan oleh NSA Project Movement pada Sabtu malam (25 November 2017) di taman Budaya Kalimantan Selatan. Dengan narasumber Drs. Hairiyadi, M.Hum dan Drs. Mukhlis Maman atau yang akrab disapa Julak Larau.

Malam itu, aku datang sedikit terlambat sehingga tidak sempat mendengarkan materi dari narasumber pertama dan sedikit tertinggal untuk mendengarkan materi dari narasumber yang kedua. Walaupun sesekali saat tanya jawab, beliau menyinggung kembali paparan materi yang telah disampaikan. Bahwa kesenian itu beranjak dari ritual. Kesenian itu bersifat ritual dan hiburan.

Kata ritual sendiri bermakna hal yang berkenaan dengan ritus (KBBI). Sementara menurut wikipedia, ritual merupakan serangkaian kegiatan yang mencakup gerakan, kata, dan objek, berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu yang pelaksanaannya sudah diatur dan ditentukan.

Sebagai masyarakat yang lahir dari sebuah tradisi, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri dari yang namanya ritual. Bukan ritual yang ada di pedalaman. Menurut Julak Larau, di dalam keseharian kita pun selalu ada ritual. Terutama ritual yang berkaitan dengan agama.

            Sejujurnya, aku mengakui jika berbicara soal ritual tidak terlepas dengan agama. Sigmund Freud memandang agama sebagai pemuasan keinginan kekanak-kanakan. Sebagai sesuatu yang melindungi mental ketika ada bencana. Selain itu, bagi Freud, ritual-ritual atau upacara yang ada di agama merupakan gejala neurosis (gangguan mental yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan medis biasa, hanya bisa ditolong dengan bantuan psikoanalisis) karena menentang kebebasan seorang manusia. Adanya agama, membuat manusia menjadi makhluk yang terbatas. Sedangkan dalam psikologi, istilah ritual kadang-kadang digunakan secara teknis untuk perilaku berulang yang secara sistematis digunakan oleh seseorang untuk menetralkan atau mencegah kecemasan.  Ketika seseorang atau suatu komunitas melaksanakan ritual secara tidak sempurna, maka akan ada perasaan bersalah dan tidak tenang.

            Kita, masyarakat yang hidup dari tradisi, yang tumbuh dengan ‘pepadahan urang tuha’. Seperti apabila tidak melaksanakan suatu ritual, maka kata orang tua dulu, kita akan kena sial. Padahal itu hanya sugesti. Karena sudah berlangsung sangat lama, turun temurun, sehingga masuk ke alam bawah sadar dan menciptakan keyakinan yang keliru. Masih ada beberapa individu yang mengalami kecemasan akan hal yang sebenarnya tidak masuk akal karena keyakinan tersebut. Sudah menjadi sifat manusia yang cenderung akan lebih mentaati dan meyakini kalimat yang diucapkan oleh seseorang yang dihormati, memiliki pengaruh dan dianggap ahli di bidangnya. Jadi, segala hal yang diucapkan oleh orang-orang tersebut akan menjadi sugesti yang masuk ke dalam alam bawah sadar tanpa disaring oleh critical area.

Sebuah tantangan bagiku, yang kuliah psikologi, karena masih banyak masyarakat yang terkekang dalam pusaran ritual agama. Sebagian masyarakat menolak untuk mengakui dirinya mengalami masalah kejiwaan, memerlukan pertolongan dengan menemui seorang psikolog atau konselor karena merasa malu dianggap gila. Beberapa masyarakat masih ada yang beranggapan bahwa mereka yang mengalami penyakit jiwa, dikarenakan gangguan makhluk halus. Karena hal tersebut sudah tertanam lama dan diyakini oleh komunitasnya.

            Tidak mengherankan jika masih banyak perlakuan tidak manusiawi yang dialami oleh orang dengan gangguan jiwa seperti pemasungan, dianggap kerasukan roh jahat sampai diasingkan. Seringkali solusi dari masyarakat setempat adalah mengadakan ritual-ritual tertentu yang dipercaya dapat mengusir roh-roh jahat tersebut.

            Pernah suatu ketika, berdasarkan cerita dari senior aku di kampus, mahasiswa-mahasiswi psikologi datang mengunjungi korban musibah kebakaran. Selain membawa bantuan logistik, mereka juga bermaksud untuk mengadakan konseling. Namun, tanggapan dari masyarakat justru dingin bahkan terkesan ketus.

            Masyarakat korban musibah kebakaran tersebut menganggap dirinya baik-baik saja. Mereka tidak memerlukan bantuan psikologis dari orang lain di luar komunitas mereka. Selain itu, karena kita adalah masyarakat yang religius, taat beragama, maka seringkali lebih memilih untuk mengadukan tekanan yang sedang dialami langsung kepada Tuhan dengan berdoa atau sembahyang, menghadiri majelis agama untuk mencari ketenangan batin.

Di sisi lain, hal ini aku pandang sebagai sesuatu yang postif dari ritual. Karena masyarakat memiliki cara tersendiri untuk mengatasi stres dan tekanan yang dialami. Seorang teman pernah berkata kepadaku, kalau orang Banjar ini adalah orang yang seraba untung.

            Maksudnya adalah, semisal ketika ada orang yang mengalami musibah kecelakaan. Si pengendara tidak terluka, hanya sepeda motornya yang rusak. Maka orang-orang akan berkata, “Untung sepeda motornya aja yang rusak, orangnya baik-baik aja.” Atau ketika ada yang mengalami kecopetan, orang-orang akan berkata, “Untung duit aja yang hilang bukan nyawa. Duit masih bisa dicari.”

            Hal ini menggambarkan bahwa masyarakat kita, adalah masyarakat yang sering bersyukur. Adanya ritual, agama, membuat masyarakat memiliki suatu pegangan, memberikan rasa aman, kebahagiaan dan kesejahteraan secara psikologis. Oleh sebab itu--sepengetahuan aku pribadi--di daerah kita kasus-kasus bunuh diri karena depresi hampir tidak pernah terjadi. Berbeda dengan negara-negara maju yang kebanyakan masyarakatnya tidak percaya dengan agama.

            Berbicara tentang sesuatu hal, selalu ada sisi positif dan negatifinya. Kita tidak bisa memandang sesuatu hanya dari satu arah. Aku tidak bisa mengatakan bahwa ritual itu negatif dan merugikan bagi praktisi psikologi, karena ternyata ritual mampu menjadi strategi untuk mengatasi stres bagi masyarakat. Hanya saja seiring berkembangnya zaman, teknologi dan ilmu pengetahuan, sudah banyak sekali bukti-bukti ilmiah yang mampu menjelaskan hal-hal yang dulunya dianggap mistis oleh masyarakat. Beberapa ritual pun sudah mulai ditinggalkan.

            Terima kasih aku ucapkan kepada NSA Project Movement yang sudah memprakarsai sebuah diskusi yang menyenangkan, membuka pikiran dan tentunya menambah wawasan. Tidak ada perdebatan yang panas hanya ilmu dan energi positif yang dibagikan secara gratis di tengah rinai hujan romantis. Membuat suasana menjadi hangat ditemani secangkir teh dan juga kopi.

Keterangan gambar : Diambil dari Media Sosial NSA Project Movement.

  • view 126