Surat untuk Bapak yang Berseragam Satpol PP

Ria Setia
Karya Ria Setia Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 Oktober 2017
Surat untuk Bapak yang Berseragam Satpol PP

Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

            Maafkan kita yang mungkin kurang mengetahui peraturan yang ada. Maafkan kita yang mungkin merepotkan dan mengganggu seperti yang orang lain laporkan ke Bapak. Maafkan kita yang tidak membaca koran. Maklum Pak, anak kosan kan tidak langganan koran. Kita juga sebenarnya tahu kok, Pak, kalau ada spanduk mengenai larangan untuk berjualan di sepanjang kawasan Pasar Terapung Siring Piere Tendean. Tapi kan itu orang jualan, Pak. Kita mah gak jualan sama sekali.

Pak, kita sudah menggelar lapak baca selama lebih dari setahun. Bahkan masyarakat sudah mengenal kita. Dan kita tidak pernah menjual buku-buku hasil donasi yang selalu kita gelar. Kita mengadakan lapak baca gratis, semua orang dipersilakan untuk membaca di lapak kita.

            Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

            Tujuan kita menggelar lapak baca gratis, untuk meningkatkan minat baca masyarakat. Apa bapak tahu? Minat baca di Indonesia sangatlah rendah. Studi ‘Most Literate Nation in the World’ yang dirilis oleh Central Connecticut State University, menyebutkan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara.  Minat baca di Indonesia cuma 0,001 persen. Artinya diantara 1000 orang hanya ada satu yang gemar membaca.

Kita merasa prihatin dan harus berbuat sesuatu. Kids zaman now, seringnya malas kalau ke perpustakaan. Kedengarannya perpustakaan itu tempat yang sepi, bikin ngantuk dan membosankan. Oleh karena itu, kita mengadakan lapak baca. Coba deh, Bapak cari di internet, sudah banyak lho komunitas-komunitas literasi lain yang mengadakan lapak baca. Kita ingin memberikan gambaran kepada masyarakat, kalau membaca itu bisa di mana saja dan kapan saja. Termasuk di kala istirahat setelah joging pagi, sekedar melepaskan penat sehabis berjalan sepanjang siring, mengenalkan buku bacaan kepada anak-anak disela jalan santai.

            Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

            Bukannya saya bermaksud lancang, tapi ketika Bapak datang, dengan kumis melintang, seragam yang membuat Bapak tampak garang, langsung meradang, membuat rasa hormat saya hilang. Jujur, Pak, saya terkejut. Kaget, tiba-tiba Bapak datang rombongan, langsung mengatakan kalau kita jualan. Pak, apakah waktu itu Bapak tidak melihat kalau banyak anak-anak yang sedang asyik membaca buku? Bapak datang dengan nada suara yang tidak bersahabat, tentu saja membuat mereka ketakutan. Jangankan mereka, saya juga agak takut, Pak. Makanya saya segera mengajak teman-teman saya untuk menutup lapak baca. Malas, Pak, kalau berdebat. Takut saya salah bicara, takut saya kelepasan dan jadinya tidak hormat dengan yang lebih tua.

Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

            Saya mengerti kalau saat itu Bapak sedang menjalankan tugas. Tapi apa harus seperti itu caranya? Datang tiba-tiba langsung ‘semprot’? Bapak boleh kok bertanya baik-baik. Karena begini Pak, kalau Bapak datang dan langsung meradang, orang yang Bapak ajak bicara akan ikut meradang. Satu sih pertanyaan saya, apakah setiap kali Bapak bertugas, selalu seperti itu, Pak? Pantas saja setiap kali ada berita tentang penertiban selalu ada kerusuhan, ricuh, dan tangis yang pecah dari masyarakat.

            Bapak tidak takut kalau salah satu dari masyarakat itu  mendoakan hal yang buruk terhadap Bapak? Mereka tidak rela dengan perlakuan Bapak dan akhirnya malah mengeluarkan sumpah serapah yang ditujukan untuk Bapak.

            Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

Pak, kalau boleh saya kasih saran, lain kali, Bapak datang dan bertanya dengan baik-baik. Sebab kemarin itu, kita ingat, kita meletakkan kertas yang bertuliskan “Membaca Gratis.” Bapak bisa tanya sama masyarakat yang sudah tahu dan mengenal kita. Apakah kita pernah, menjual buku-buku tersebut?

Tolong Pak, lihat sekitar. Kemarin itu, hari Minggu, 15 Oktober 2017, kita lagi di tempat terbuka. Banyak masyarakat dan anak-anak. Mereka sedang asyik membaca dan Bapak tiba-tiba ‘memaksa’ kita untuk menutup lapak. Pak, apa tidak terpikirkan kalau kejadian seperti itu bisa memberikan pengalaman buruk terhadap anak-anak, Pak? Yang saya takutkan adalah, anak-anak yang sedang asyik membaca dan dengan terpaksa harus menjauh, akan trauma untuk membaca setiap kali ada lapak baca. Padahal dengan adanya lapak baca, bisa mendorong minat mereka.

            Dear Bapak yang berseragam Satpol PP,

            Saya mengucapkan terima kasih karena Bapak sudah melaksanakan tugas untuk menertibkan kota Banjarmasin tercinta. Saya mengerti kalau Bapak seringkali berurusan dengan orang-orang yang keras kepala, sehingga Bapak juga menjadi tegas dan harus menunjukkan kalau Bapak memiliki otoritas. Tapi Pak, bisa kan Pak, saat Bapak bertugas yang tidak mengharuskan untuk melakukan pembongkaran paksa, atau ketika Bapak hendak mencari tahu, Bapak bertanya baik-baik. Supaya semuanya berjalan dengan damai, lancar dan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Supaya citra Satpol PP di mata masyarakat bukan sekedar ‘tukang gusur’, tapi aparat yang membantu untuk menertibkan kota yang sama-sama kita cinta. Dan dengan seperti itu, masyarakat juga pasti akan dengan senang hati untuk ikut serta menjaga ketertiban kota. Bapak tidak perlu lagi semprot sana-sini. Cukup diajak bicara baik-baik. Dengan begitu, Bapak juga jadi tidak terlalu lelah bekerja kan?

            Sekian Pak surat dari saya. Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih.

 

Banjarmasin, 17 Oktober 2017

Hormat saya,

 

Ria Setiani Hayatunnufus

Anggota Komunitas Literasi di Banjarmasin

  • view 149