Konter Puisi

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 24 Agustus 2017
Konter Puisi

Yap. You guys didn’t make a mistake when read the title. Konter Puisi? Masih asing di telinga kita ya. Beda kalau konter pulsa, sudah bertebaran di mana-mana. Iya, jadi ini adalah konter puisi. Tempat di mana kita bisa duduk, bercerita (atau dalam istilah yang lebih nyaman, curhat), tunggu beberapa menit (mungkin juga jam) dan tadaaaaa puisi siap difoto dan dibawa pulang.

            So? Apa itu Konter Puisi?

            Konter Puisi ini adalah tempat untuk menyalurkan, menumpahkan perasaan kita. Mungkin bagi beberapa orang, akan terasa sulit untuk mengungkapkan sendiri apa yang dirasakannya melalui media tulisan. Lebih mudah untuk menceritakannya langsung kepada orang lain secara lisan, namun ingin memiliki rekaman tentang hal yang diceritakan itu. Nah, Konter Puisi ini bisa jadi solusinya. Puisinya dijamin bikin baper.

            Sabtu kemarin, lebih tepatnya Sabtu malam menuju Minggu, aku ditemani seorang teman mendatangi Konter Puisi ini. Tempatnya di Mingguraya, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Niat awal sih ingin mencari tahu. Ingin tanya-tanya dengan penulisnya. Sejak Senin, aku sudah tahu tentang Konter Puisi ini, karena ada yang mengirimkan foto di grup komunitas yang aku ikuti.

            Senin pagi (14 Agustus 2017) aku ke Mingguraya, tapi aku belum berhasi menemukan konter ini. Aku cari-cari lagi di Facebook dan aku baru tahu kalau ternyata Konter Puisi bukanya dari sore sampai malam. Baru di hari Sabtu (19 Agustus 2017), aku ke sana lagi. Dan ketemu. Sempat aku mengira kalau Konter Puisi sudah tutup karena aku ke sana waktu tengah malam. Sekitar pukul 12. Yang awalnya hanya ingin bertanya, malah aku bercerita dan dibikinkan puisi.

            Aku sempat bertanya, mengenai ide pembuatan Konter Puisi ini. Jadi, para penggiat sastra di Mingguraya, mengungkapkan bahwa idenya sudah ada sejak lama. Namun baru sekarang dilaksanakan. Tujuannya adalah ingin menunjukkan bahwa puisi mampu menjadi media penyampaian, pengungkapan rasa, atau istilahnya adalah katarsis.

            Kebanyakan ‘klien’ di sini adalah remaja hingga dewasa awal yang galau karena cinta. Aku salah satunya. Ahahahaha...

            Selesai kita bercerita, Bang Sandy, akan meminta persetujuan kita terlebih dulu, akan membuatkan puisi yang seperti apa. Begitu kita setuju, beliau mulai membuatkan puisinya menggunakan mesin tik yang ada di hadapannya. Dan kita bisa menunggu dengan berbincang-bincang bersama penggiat sastra yang ada di sana. Kalau belum pernah, akan diminta untuk membaca puisi di Mingguraya. Btw, Najwa Shihab sudah pernah baca puisi di sana loh.

            Setelah beberapa waktu berlalu, puisi sudah selesai dan begitu membacanya, oh God, it goes straight through my heart. Tepat sasaran. Rasanya semua yang ingin aku ungkapkan tertuang ke dalam puisi ini.

            Puisinya memang tentang cinta. Tapi tidak cengeng dan tidak berlebihan. Sederhana, pas, dan ‘ngena’. Aku sempat speechless. Antara takjub, bahagia, terharu semua jadi satu. Menginsipirasi dan benar kata Bang Ben, puisi menjadi media untuk katarsis, menjadi obat untuk jiwa dan rasa.

            Jadi, bagi siapapun yang berkesempatan ke Banjarbaru, sempatkan mampir ke Konter Puisi ya. Pertama di Indonesia lho.

            Semoga mampu untuk menginspirasi para penulis dan penggiat sastra maupun seni yang ada di seluruh Indonesia. Bahwa seni, sastra merupakan terapi bagi jiwa. Daripada galau di media sosial, lebih baik bercerita dengan orang yang tepat, kemudian menerima rekaman dari curhatan kita yang dapat disimpan dan kembali dibaca kapan saja.


Salam,
Ria Setiani Hayatunnufus

  • view 40