Bahagia Itu Sederhana

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Mei 2017
Bahagia Itu Sederhana

Bahagia itu sederhana. Mengembangkan senyuman di bibir pun tak perlu upaya yang keras.

            Kita bertemu dengan orang lain tak pernah dengan sengaja. Selalu ada alasan yang tersembunyi di baliknya.

            Pagi ini, aku bertemu dengan seseorang. Seorang wanita tua, tidak terlalu tua, mungkin sekitar 40 atau 50-an. Setelah menyerahkan donasi buku di Menara Pandang, aku berjalan menyusuri di sepanjang siring. Suasana ramai, karena hari ini hari Minggu. Banyak orangtua yang membawa anak-anaknya, remaja-remaja yang bersama dengan teman-temannya, para pedagang, dan para street performers.

            Di antara semua itu, tanpa sengaja aku bertemu dengan beliau. Wanita yang membawa karung bekas dan mengaduk-aduk bak sampah untuk mencari gelas plastik ataupun botol kosong. Dengan membawa botol kosong—yang aku pungut dari jalan—aku menghampiri beliau.

            Beliau tersenyum seraya mengucapkan terima kasih. Aku lantas berbincang dengan beliau. Namanya Rohana, asli Purwokerto. Tiba di Banjarmasin karena ditipu orang yang mengajak beliau untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit. Tidak ada raut kesedihan ketika beliau bercerita. Senyuman tidak lepas dari bibirnya. Ibu Rohana, menganggap ini semua cobaan yang harus beliau hadapi.

            Nada suara beliau berubah ketika berucap, “Yang terpenting,  masih waras, sehat, kuat, selalu sholat dan berdoa kepada Allah.”

            Mata beliau sedikit berkaca-kaca saat mendoakanku. Ada haru yang menyusup. Bukankah seharusnya aku yang mendoakan beliau? Aku pun hanya bisa mengaminkan dan memberikan semangat kepada Bu Rohana.

            Bahagia itu sederhana. Ketika kita bertemu dengan sosok yang begitu kuat dan menginspirasi.

 

Banjarmasin, 14 Mei 2017

Ria Setiani Hayatunnufus

 

*Sumber foto dokumentasi pribadi

  • view 83