Senja Selepas Hujan

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Januari 2017
Senja Selepas Hujan

Hujan dan Desember. Dua hal yang selalu berdampingan, identik, ibarat dua sisi mata uang. Dua hal yang menjadi musuh besar dalam hidup Nara.

            Bukan tanpa alasan Nara membenci keduanya. Hujan, adalah penyebab kecelakaan yang merenggut hidup sahabatnya, Bintang, dan itu terjadi di bulan Desember. Dan ketika hujan turun, Nara selalu dihantui oleh kecelakaan itu. Masih jelas dalam ingatannya. Ketika mereka berdua berboncengan di tengah hujan yang turun dengan derasnya. Nara memeluk erat pinggang Bintang. Sementara cowok itu mengendarai sepeda motor.

            Hujan, seringkali dijadikan dalih bagi sebagian orang untuk mengendarai sepeda motor atau mobil dengan kecepatan tinggi dan itu yang menyebabkan kecelakaan setahun lalu. Sepeda motor yang dikendarai Bintang tergelincir saat ia mengerem secara mendadak karena pengendara lain yang menerobos lampu merah.

            Nara menghela napas. Ia masih menatap ke luar jendela kafe. Pikirannya terbang mengingat kenangannya bersama Bintang. Perkenalan pertama kali waktu MOS di SMP, berburu diskon di toko buku, sampai bercerita di kafe hingga lupa waktu. Tapi satu hal yang masih diingat Nara, Bintang suka warna jingga. Dan setiap kali melihat warna itu, pikirannya selalu mengingat Bintang.

            Mata Nara menangkap sosok anak kecil yang sedang berdiri di taman yang terletak di seberang kafe. Melihat anak kecil yang berdiri di tengah hujan gerimis yang cukup deras, mendorong Nara segera keluar dari kafe, menuju mobilnya dan mengambil payung. Setengah berlari, ia menghampiri anak lelaki itu.

            “Dik, kamu ngapain di sini? Hujan-hujanan lagi,” tanya Nara setelah berdiri di sebelah anak lelaki itu.

            Anak lelaki itu menoleh, menatap Nara dengan matanya yang bulat. Sorot matanya hangat dan penuh kepolosan.

            “Aku nunggu sunset, Kak,” jawab anak lelaki itu.

            Sunset? “Tapi kan sekarang lagi hujan. Mana ada sunset?” ucap Nara. Ia mulai merasa tidak nyaman dengan tetesan air hujan yang sedikit-sedikit membasahinya.

            “Hujannya cuma sebentar kok, Kak,” kata anak lelaki itu. “Namaku Awan. Nama Kakak siapa?”

            Nara terdiam sesaat sebelum menjawab, “Nama Kakak Dinara. Panggil aja Kak Nara.”

            Awan tersenyum. “Kak Nara mau kan nemenin aku nunggu sunset di sini?” tanyanya.

            Nara menelan ludah. Ia ingin menolak, namun demi melihat wajah Awan yang penuh harap, sorot matanya yang polos dan senyumnya yang menggemaskan, Nara akhirnya mengangguk.

            “Asyik!” sorak Awan riang. “Kak, payungnya dilipat aja. Hujannya udah mulai reda.”

            Nara menghela napas. Lalu dengan perlahan ia melipat payungnya. Tetesan hujan mengenai kepala Nara, membuat gadis itu memejamkan mata.

            “Aku suka hujan-hujanan. Dingin, sejuk. Hujan gak pernah bermaksud buat nyakitin kita. Karena hujan hanya mengikuti perintah Tuhan untuk turun membasahi bumi,” kata Awan.

            Nara menatap Awan, takjub karena kata-kata itu meluncur dari mulut seorang anak yang mungkin baru berusia delapan atau sembilan tahun.

            “Kakak suka hujan?” tanya Awan.

            “Dulu kakak suka hujan,” jawab Nara.

            “Kalau sekarang?”

            Nara tersenyum pahit lalu menggeleng pelan.

            Awalnya Nara mengira, Awan akan kecewa. Namun, sorot mata anak itu hanya memancarkan tanda tanya.

            “Kenapa?”

            “Kakak... ehm... ada kejadian buruk yang pernah kakak alami di waktu hujan,” ucap Nara.

            “Mama aku meninggal juga pas hujan, Kak,” kata Awan tiba-tiba.

            Nara menoleh. Tidak ada nada sedih atau muram terdengar dari ucapan Awan.

            “Awalnya setiap hujan turun, aku sedih, ingat Mama. Tapi kata Papa, justru pada saat hujan ini, Mama datang dan menemani aku. Makanya aku sekarang tambah suka hujan.”

            Nara tertegun. Ia memikirkan kembali ucapan Awan. Seketika ia teringat lagi dengan Bintang. Ada hawa hangat yang menyusuri dirinya.

            Hujan pun reda dan matahari mulai muncul kembali di balik awan hitam yang perlahan menyingkir dari langit. Sinarnya memancar berwarna jingga. Pertanda senja telah tiba.

            “Kak Nara, lihat deh! Sunset!” Awan kembali bersorak seraya menunjuk matahari yang mulai condong ke barat.

            Nara terkagum-kagum. Sinar senja kali ini berwarna jingga cerah dihiasi gradasi warna biru, ungu dan magenta. Indah sekali.

            “Kata Mama, sunset paling indah adalah sunset setelah hujan.”

            Nara mengangguk setuju dengan perkataan Awan.

            “Dan kata Mama lagi, setelah kelam selalu ada bahagia.”

            Senja kali ini berwarna jingga. Dan setiap kali melihat warna jingga, Nara selalu teringat Bintang. Samar-samar, Nara melihat kumpulan awan membentuk wajah Bintang yang tersenyum kepadanya. Nara ikut tersenyum. Ia berterima kasih pada Tuhan karena telah mempertemukannya dengan Awan. Di tengah hujan yang mulai dinikmatinya dan di bulan Desember yang perlahan dicintainya.

 

*Sumber gambar : Milik Pribadi

*Lokasi : Siring Sungai Martapura, Banjarmasin, Kalimantan Selatan

  • view 126