Versi Singkat Cerita Menjadi Enumerator

Ria Setiani Hayatunnufus
Karya Ria Setiani Hayatunnufus Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Desember 2016
Versi Singkat Cerita Menjadi Enumerator

Alhamdulillah, puji syukur kepada Tuhan YME. Mungkin yang terjadi kepadaku, merupakan jawaban dari-Nya. Jawaban atas doa yang pernah aku panjatkan. Keinginan untuk berkumpul dengan orang-orang yang selalu berpikir positif, menyebarkan manfaat dan saling berbagi energi positif.

1-7 Desember 2016. Benar-benar hari yang bersejarah dan mengesankan buat aku. Keputusan yang akan selalu aku syukuri sepanjang hidup. Menceburkan diri untuk menyelami lebih dalam kehidupan masyarakat di Banjarbaru. Mungkin tulisan ini sederhana. Terkesan tidak puitis apalagi romantis. Tapi sungguh, aku menuliskan ini dengan semangat yang tak pernah menipis.

            Selama lebih kurang 4 tahun menjalani kehidupan di Banjarbaru—walaupun masih sering pulang saat weekend ke Banjarmasin—aku pikir, aku sudah mengenal dengan baik kota ini. Aku sudah tahu seluk beluk dan gambaran kehidupan masyarakat di sini. Namun, pilihanku untuk terlibat dalam penelitian dari pihak pusat, ternyata memberikan cerita tersendiri yang akan selalu dikenang.

            Lelah? Itu pasti. Dari tanggal 2-6 Desember, berangkat sejak pukul 7 atau 8 pagi. Pulang selepas magrib. Itupun terkadang keluar lagi untuk bertemu dengan kawan-kawan sesama enumerator. Berkeliling untuk mencari responden dari satu kelurahan ke kelurahan lain. Bertanya ke ketua RT setempat. Kehujanan, kepanasan, menggigil, hingga kulit yang jadi belang. Tidak jarang kami mengeluh, namun kami selalu kembali menyuntikkan semangat kepada diri sendiri dan teman-teman yang lain. Dari yang dikira calo, sales, sampai karyawan Adira Finance yang menawarkan kredit.

            Lucu dan seru ketika menemukan beragam reaksi dari masyarakat yang kami datangi. Selalu memasang senyum ketika orang yang ditanyai ternyata tidak masuk kriteria responden. Selalu mengucap syukur ketika menjumpai orang yang sesuai dengan kriteria. Terlebih jika disuguhi minuman maupun makanan ringan.

            Dengan pengalaman ini, kita jadi lebih tahu bahwa masih banyak masyarakat kota ini yang memerlukan bantuan. Mereka yang mengeluh namun tidak tahu harus kepada siapa, akhirnya memilih untuk curhat kepada kami. Seringkali curhatan itu kami dengarkan selesai menanyakan hal-hal yang dijadikan tujuan penelitian. Dan kebanyakan curhatan itu berkaitan dengan keseharian mereka, yang tidak berkaitan dengan pertanyaan kami sebelumnya.

            Dari curhatan itu, aku tersadar. Betapa beruntungnya hidupku selama ini. Betapa banyak rejeki dari Tuhan yang terkadang aku lupa untuk syukuri.

            Kami, para enumerator yang terjun langsung ke masyarakat memang tidak bisa membantu langsung masalah dalam kehidupan para responden yang kami jumpai. Namun, semoga penelitian yang kami bantu dalam pelaksanaannya dapat menolong masyarakat di kota ini. Semoga dengan mendengarkan keluh kesah masyarakat, bisa membantu meringankan beban hidup mereka. Dan semoga semua pengalaman ini dapat menjadikan pribadi yang lebih baik lagi. Yang selalu bersyukur dan menebar manfaat untuk lingkungan.

            Teruntuk kawan-kawan enumerator, peneliti, asisten peneliti dan asisten lokasi, terima kasih telah berbagi energi positif. Terima kasih karena telah menyebarkan hal-hal yang bermanfaat untuk aku.

 

Salam,

Ria Setiani Hayatunnufus

  • view 201